MASK- DUA SATU



Lea PoV...

Sebut aku gila... sebut aku tidak punya otak... atau kau bisa menyebutku pemberani tapi inilah caraku satu- satunya melampiaskan segala apa yang didalam otak dan hatiku, dengan olahraga ekstrim.

Kuupayakan tanganku untuk mencari pijakan sementara kakiku juga melakukan hal serupa. Hari ini hari minggu dan sudah lama aku tidak melakukan wall climbing. Sebenarnya aku harus pergi menemui ibuku tapi aku tidak sanggup jika harus menemuinya dalam keadaan kalut seperti ini dan untungnya Mia bersedia menggantikanku untuk sementara waktu. Aku tidak akan melepaskan pengawasanku darinya. Tidak semenitpun, tidak sejak kejadian itu. Tidak akan.

Flashback.

"Perusahaan membutuhkan sokongan dana."

Aku menatap wajah- wajah tanpa ekpresi dihadapanku. Wajah keluarga tiriku beserta ayah biologisku. Mereka semua menatapku seakan akulah penyebab mereka mengalami kekalahan dalam tender yang mereka ikuti. Jujur, semenjak aku menikah dengan Jullian, tidak sedikitpun aku pernah menginjakkan kakiku lagi di rumah ini. Lagipula kehadiranku di rumah ini hanya dianggap seperti boneka yang bisa mereka pergunakan seenaknya karena suatu alasan. Alasan yang menyatakan kalau akulah si perusak rumah tangga dan aib.

"Itukah sebabnya kalian memanggilku oh, biar kuralat memaksaku datang kemari? Bukankah aku sudah melakukan seperti apa yang kalian minta? Urusan apakah perusahaanmu akan bangkrut atau tidak bukanlah tanggung jawabku." Dari sudut mataku kulihat Collin bersiul rendah meremehkanku.

"Sudah kubilang, dia tidak akan mau." Sahut Carla, adik tiriku dengan malas sambil mengecat kuku kakinya dengan warna merah pekat. Jangan tertipu dengan tampilan dewasa yang dia perlihatkan karena faktanya dia masih berusia 16 tahun."Dia sudah memiliki suami yang kaya raya. Tidak mungkin dia mau mengakui keluarga ini lagi." Cemoohnya.

Aku tertawa membalas cemohannya. "Kau benar. Kenapa aku harus kembali lagi ke rumah ini setelah aku mendapatkan kebebasan setelah sekian lama?"

Plakkk. Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipiku.

"Dasar anak tidak tahu diuntung! Apa kau pikir setelah menikah kau akan lepas tanggung jawab seperti itu, hah?! Tidak. Kau masih punya banyak utang dalam keluarga ini. Kau pikir siapa yang membuatmu seperti sekarang ini, hah?! Kalau bukan keluarga ini kau sudah mati dari dulu." Ucap Bertha, ibu tirikuAkan lebih baik kalau aku mati daripada diperlakukan seperti ini. Kalau aku tahu hidupku akan seperti ini, aku lebih baik tinggal di panti sosial. Aku tidak memerlukan pendidikan tinggi juga nama besar jika pada akhirnya aku harus membayar semuanya.

"Sudahlah Bertha, tidak ada gunanya kau memukulnya seperti itu. Sejak dulu kau sering memukulnya."

Kupandangi sosok separuh baya didepanku. Oliver Smith, Pria yang dengan baik hati mendonorkan spermanya ke rahim ibuku. Pria yang dengan tega... memperkosa ibuku hingga melahirkan aku. Pria yang....

"Perusahaan sedang dalam masa krisis." Lanjutnya. "Dan membutuhkan bantuan finansial."

"Kalau yang kau inginkan adalah uang maka aku tidak memilikinya." Balasku dingin.

"Tapi Jullian punya." Sontak aku berpaling kearah Collin yang sedang melihatku dengan seringainya.

"Kalian tidak mungkin menyuruhku untuk meminta darinya kan?"

"Kau memang pintar. Tidak sia- sia kami menyekolahkanmu tinggi- tinggi. Ya. Kau harus meminta uang itu darinya." Sahut Bertha.

"Dia tidak akan mau." Balasku.

"Oh jelas dia tidak akan mau jika secara cuma- cuma."

Kali ini aku berpaling ke Carla. "Apa maksudmu?" Tanyaku membuatnya tertawa.

"Oh kudengar dia punya pacar sebelum pernikahan kalian dan masih berhubungan sampai sekarang. Menurutmu, apa yang akan dilakukan paparazzi jika mengetahui skandal keluarga Anderson?"

Brengsek.

"Sekarang kau mengerti kan?"

"Jadi ini sebuah ancaman?" Tanyaku menahan rasa geram ingin menghancurkan wajahnya yang terlihat polos itu.

"Tidak. Hanya sebuah peringatan untukmu." Sahut Collin. "Dan jika kau tetap menolak, bukan tidak mungkin kejadian tentang ibumu yang menghilang tempo hari akan terulang kembali."

Kedua mataku terbelalak tidak percaya. "Kalau. Kau. Sampai. Melakukannya. Lagi. Maka. Aku. Tidak. Akan. Segan- segan. Menghancurkanmu." Kataku memberi Collin tatapan paling mematikan yang aku punya.

"Hahaha tidak kusangka kalau adik kecilku ini sudah bisa mengancam."

"Sudahlah kalian berdua. Yang jelas Lea, kau harus menstabilkan kondisi perusahaan."

Aku merasa ingin meneriakkan kata- kata Perusahaan Tidak Ada Hubungannya Denganku. Aku Bahkan TIDAK Punya Andil Di Dalamnya tapi lidahku kelu apalagi memikirkan nasib ibuku, belum lagi bagaimana hangatnya perlakuan Laura padaku selama ini membuatku tidak tega.

"Berapa dana yang dibutuhkan perusahaan?" Tanyaku merasa lelah dengan ini semua.

Aku bisa melihat sudut bibir Collin melengkung. "Tidak banyak. Hanya 300 juta US Dollar." Jawabnya enteng.

Aku membelalak." Dimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Bahkan jika aku bekerja siang-malam. Itu tidak bisa mencapai 300 juta."

"Bukankah sudah kubilang..."

"Jullian tidak ada hubungannya dengan ini semua." Potongku. "Apa tidak ada cara lain?"

Lama tidak ada yang bersuara hingga kemudian Bertha kembali bersuara.

"Ada satu cara." Ucapnya. "Perlihatkan ke orang- orang kalau pernikahan kalian baik- baik saja."

Kukernyitkan keningku, tidak mengerti.

"Kau harus hamil. Dengan begitu klien yang dulu menolak kerjasama kami akan kembali dengan adanya berita tentang kehamilanmu."

Flashback ends.

Aku mengerang mencari pijakan disetiap sisi. Matahari sudah nyaris tenggelam, membuatku silau. Aku tidak peduli sudah berapa lama aku berada diatas dan memanjat. Aku bisa merasakan kalau aku mulai merasa kelelahan hingga beberapa kali jari- jariku tergelincir belum lagi dengan peluh yang membasahi membuatnya licin. Kalaupun aku jatuh maka tidak akan mengalami luka yang sangat serius, mungkin hanya mengalami lecet disetiap sisi dan kalau kait dipinggangku tidak kuat menahan tubuhku, mungkin hanya sedikit mengalami patah tulang. Entahlah, aku belum pernah merasakan patah tulang. Aku baru akan mencapai pijakan terdekat ketika jariku tergelincir dan tidak sempat untuk bertahan dan jatuh dengan cepat kebawah.

Brukkk.

Tamat sudah!. Aku menunggu hingga aku bisa merasakan rasa sakit tapi tidak ada yang terjadi. Alih- alih aku yang mengerang, yang ada adalah telingaku menangkap suara yang tidak asing dibawahku.
Beberapa orang disekitar berusaha menolongku juga penyelamatku ketika kedua mataku melihat sosoknya. Aku sontak mengerjap tidak percaya juga terkejut.

"Kau tidak apa- apa? Apa kau terluka?" Tanyanya penuh rasa khawatir seraya menyentuh wajahku, mencari adanya luka disana.

Apa yang dilakukannya disini?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS