MASK- TIGA




Faktanya moodku benar- benar rusak setibanya aku di kantor. Klien yang kupikir bisa kutangani ternyata meminta hal- hal yang tidak masuk akal. Harus inilah, itulah. What the hell!

Tok tok...

Dua buah ketukan di pintu membuatku harus mendonggak dan menemukan Mia yang sedang menatapku dengan pandangan ragu.

"Kau baik- baik saja?"

Kutatap dirinya dengan dingin berharap dia mengerti kalau yang dia maksudkan mengenai perasaanku maka dia salah besar.

"Maafkan aku Lea. Aku tidak tahu kalau klien itu banyak maunya." Ujarnya yang langsung membuatku memutar mata.

"Bukan salahmu. Masuklah." Balasku lalu kembali menatap designku. Dari sudut mataku dia menatapku ragu, entah apa yang dipikirkannya hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk menuruti kataku.

"Kudengar kau akan mengunjungi orang tuamu. Benarkah?" Tanyaku membuka suara. Awalnya dia cukup terkejut dengan pertanyaanku tapi akhirnya dia mengangguk.

"Sebenarnya aku belum memutuskannya."

"Kenapa?"

"Well, aku tidak mau meninggalkanmu mengurus ini sendirian."

Dia benar. Hanya ada sepuluh orang yang kupekerjakan di kantor ini dan Mia adalah asisten yang ku percayai. Aku adalah seorang designer yang baru satu setengah tahun merintis jadi kami masih dalam situasi penjajakan tapi meskipun begitu beberapa sosialita mulai mengenal karya- karya yang ku keluarkan meskipun masih ada beberapa orang yang masih menganggap kalau aku masih anak bawang dan lebih sering menguji kemampuan baik itu fisik maupun batin.

"Tidak apa- apa. Pergilah. Kapan rencanamu?"

"Minggu depan."

Kuangkat bahuku, cuek. "Okey, tidak masalah. Apa seminggu cukup?"
Seketika kulihat kedua mata Mia membelalak, "apa kau yakin aku bisa pergi selama itu?"

"Kita akan mulai sibuk bulan depan jadi ya, anggap saja kau sekalian liburan."

"Oh."

Lama kami terdiam hingga kemudian aku mendengarnya berdehem. "Lea?"

"Hm?"

"Apa minggu ini kau akan kesana lagi?" Aku tahu apa maksudnya jadi aku mengangguk.

"Ya. Bukankah kau tahu kalau setiap bulan aku akan kesana?"

Mia mengangguk menimpali. "Hm aku juga mendengar kalau kau akan menghadiri pesta pernikahan mertuamu, benarkah?"

"Kau ini banyak tahu ya?"

"Eh? Oh bukan itu maksudku. Maaf."

Aku tersenyum. "Tidak apa- apa. Itulah sebabnya aku menyuruhmu mengunjungi orang tuamu sekarang supaya kau bisa membantuku nanti."

"Baiklah. Aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaanku sebelum berangkat."
Aku mengangguk. Baru sesaat Mia menjelaskan padaku ketika kembali terdengar suara ketukan di pintu.

"Hai Lea."

Keningku seketika mengernyit. "Apa yang kau lakukan disini?" Aku bertanya ketus pada si pendatang baru yang rupanya lebih memilih untuk tidak mengubrisku dan masuk tanpa kupersilahkan lebih dahulu.

"Hai Mia, apa kabar?" Tanya Dane kemudian.

"Baik, Dane. Bagaimana denganmu?"

"Baik."

"Kalau yang ingin kau temui Mia maka sebaiknya kalian keluar. Aku masih punya banyak pekerjaan yang perlu kuselesaikan sekarang."
Baik Mia dan Dane sama- sama melihat kearahku lalu Dane kembali melihat Mia.

"Apa dia juga sedingin ini di kantor?" Tanya Dane pada Mia.

"Apa kau perlu mengecoki asistenku sekarang?" Tanyaku tidak kalah sinis. "Pergilah Mia." Perintahku pada Mia yang dibalas anggukan oleh wanita itu.

"Ckckck... aku jadi kasian padanya."

"Kalau kasian jangan kemari. Kau bisa menganggu para pekerjaku."

Dane Clark. Sepupu merangkap sebagai asisten Jullian dan tentu saja tampan. Entah apa yang keluarga mereka lakukan hingga memiliki paras sesempurna itu.

"Jangan menatapku seperti itu, sayang. Aku tahu kalau aku tampan." Ujar Dane kemudian.

"Apa yang kau inginkan, Dane?" Tanyaku malas.

"Kau sudah makan?"

"Apa urusan jadwal makanku sekarang menjadi urusanmu?"

"Well, aku lapar."

Hah? Ada apa dengan keluarga ini?. "Ya. Aku sudah makan."

"Bohong."

Gezz. "Kau tidak punya kerjaan lain ya?"

"Ya dan aku ingin kau menemaniku, sepupu."

"Sepupu?" Keningku serta merta mengernyit.

"Ya." Dianggukkannya kepalanya penuh hikmat. "Kau menikah dengan sepupuku dan otomatis itu juga membuatmu menjadi sepupuku."

Kuputar mataku. Entah kenapa ini selalu membuatku merasa jengah mengulang pernyataan yang sama. "Apa kau lupa kenapa kami menikah?"

"Tidak. Tentu saja aku tahu tapi apa kau tidak menyukainya? Aku yakin diluar sana banyak wanita yang menginginkannya."

Pertanyaan Dane barusan sontak membuatku tertawa. "Oh Dane, apa kau memang selalu seperti ini?" Tanyaku di sela tawa.

"Memang aku seperti apa?"

"Seperti wanita- wanita penghasut perebut suami orang?" Aku sengaja mengatakannya dengan nada pertanyaan tapi tidak bisa menyembunyikan senyumku. Sekilas aku melihat Dane yang mengerjapkan mata beberapa saat sebelum ia kembali mengembalikan ke ekspresi semula.

"Kau cantik kalau tersenyum." Ujarnya.

Eh?

"Dibandingkan dengan wajah dingin dan datarmu yang terlihat mengerikan. Kau jadi terlebih manusiawi jika tersenyum dan tertawa tadi." Lanjutnya.

"Manusiawi atau tidaknya diriku bukanlah urusanmu"dengusku jengkel.

"Ayo kita pergi."

"Aku tidak pernah mengatakan kalau aku setuju pergi denganmu."

"Kau ini." Dan tanpa menunggu lagi, Dane meraih tanganku dan menyeretku keluar dari ruangan.

"Hei." Sergahku marah berusaha melepaskan diri darinya.

"Aku lapar dan aku ingin kau menemaniku."

"Apa kau selalu seperti ini?" Tanyaku jengkel tapi tidak lagi memberontak. Percuma.

"Tidak." Kuangkat keningku ragu. "Karena semua gadis yang kuajak selalu mengiyakan keinginanku." Lanjutnya yang langsung membuatku semakin mendengus kesal.

Aku tidak peduli dia akan membawaku kemana. Yang kupikirkan saat ini adalah semoga hari ini cepat berakhir dan Dane yang pergi. Simple.
Dane berhenti di depan sebuah restoran entahlah mungkin lebih mirip kafe dibandingkan restoran jika dilihat dari tampilannya. Setelah Dane memarkirkan mobilnya, ia kembali meraih tanganku dan menyeretku masuk ke dalam kafe tersebut.

"Aku menyukai tempat ini. Menurutku tempatnya nyaman dan bersifat privasi..."

Aku tidak mendengarkan apa yang dikatakannya. Satu- satunya fokusku adalah seluruh gambar pada kafe ini dan harus kuakui selera Dane lumayan bagus dengan kayu mahoni berwarna coklat dan ornamen- ornamen berwarna senada membuatnya tampak sederhana tapi juga terkesan mewah.

"Kau mau pesan apa?" Tanyanya setelah pelayan datang menghampiri kami.

"Samakan saja denganmu. Aku pemakan segala." Jawabku sekenanya masih tetap mengagumi interior kafe ini.

Dane terkekeh. "Kami memesan ini."

Dari sudut mataku aku bisa melihat tatapan pelayan itu pada Dane. Pelayan wanita itu tampak salah tingkah ketika Dane menyebutkan pesanan kami dan hampir saja menabrak meja sebelah ketika berbalik.

Gadis malang.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Dane tiba- tiba.

Eh?

"Keningmu tadi seperti ini." Ucapnya seraya menirukan keningku yang naik- turun.

"Aku tidak seperti itu." Ujarku jengkel. Kenapa dia harus membuat moodku semakin buruk saja sih?

"Kalau begitu katakan apa yang tadi kau pikirkan?"

"Kenapa kau ingin tahu?"

"Karena aku ingin mengenal dirimu."

Sejenak aku tertegun berusaha mencerna ucapannya lalu kemudian mataku menyipit curiga.

"Apa sekarang kau sedang melakukan flirting denganku?" Tanyaku teras terang yang tanpa kuduga langsung membuatnya tertawa terbahak- bahak.

Dasar orang aneh.

"Kau lucu."

"Ya. Aku tahu. Terima kasih." Sarkasmeku tidak lagi bisa kubendung di depannya.

"Ya Tuhan, " ujarnya disela tawanya. Aku heran kenapa dia harus tertawa seperti ini akan menjadi tawanya yang paling akhir. "Aku... hahahaha aku tidak pernah bertemu gadis yang seterus- terang dirimu, apa kau tahu itu?" Tanyanya sambil menatapku.

"Sekarang kau mengatakannya jadi ya, aku tahu." Jawabku yang semakin membuatnya tertawa.

"Lho Dane, apa yang...?" Aku mendongak dan langsung bertatapan mata dengan si pendatang baru. Aku mengernyit bingung ketika entah kenapa ada ekpresi tidak suka yang tersirat di wajahnya.

Apa lagi ini?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS