MASK- SEMBILAN BELAS




Jullian PoV.

"Hei apa yang terjadi? Kenapa kemarin tiba- tiba kau mengatakan ingin membatalkan kerjasama kita dengan Bernadett?"

Kadang kala aku merasa sangat membenci sikap Dane yang seperti ini. Tidak tahukah dia, apa yang ingin pria itu lakukan ketika menatap Lea seperti kemarin? Beruntung aku tidak langsung mencongkel matanya dengan pisau dan garpu kemarin.

"Hey jelaskan. Kau tidak mungkin ingin membatalkan proyek besar ini jika tidak ada yang terjadi." Ucap Dane lagi.

"Kau sudah mengirimkan proposal pembatalannya?"

Dia menggeleng. "Belum. Aku perlu mendengar penjelasanmu dulu."

"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kirimkan saja pembatalan itu. Katakan kalau kita tidak membutuhkannya lagi."

"Apa? Kau gila!"

"Tidak. Tidak jika dia tidak dapat menjaga matanya."

"Hah? Tunggu.... dia mencoba merayumu?"

Aku yang tadinya marah seketika melonggo. Apa yang baru saja dia katakan? Sial. "Memang kau pikir aku seperti pria apa?"

Dane menggeleng ragu tapi juga tersenyum. "Well, kau tiba- tiba mengatakan menjaga matanya. Jadi yah, kupikir sesuatu terjadi pada acara makan malam kalian."

Terkutuklah semua otak dan pemikiran sepupuku satu ini.

"Apa yang terjadi? Ceritakan supaya aku bisa mengerti." Desaknya lagi.

Jadi kuceritakan semua bagaimana Klaus berusaha untuk menggoda Lea bahkan ketika aku berada didekatnya. Aku bahkan sudah terang- terangan memperlihatkan pada pria itu kalau wanita yang sedang digodanya itu adalah istriku yang berarti juga adalah milikku tapi sepertinya itu tidak menjadi soal buatnya. Kalau aku tidak menahan Lea, mungkin dia sudah mencium wanitaku dihadapanku sendiri tapi yang semakin membuatku marah adalah Lea sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Apa dia sama sekali tidak melihatku?

"Jadi dia menyukai Lea?"

"Sekali lagi kau mengatakan kata suka untuk istriku. Akan kubuat mulutmu terkunci selamanya." Ucapku sungguh- sungguh tapi justru membuat si kunyuk ini semakin tertawa.

"Kau cemburu?"

Kuangkat sebelah alisku. Aku cemburu?

"Kau terlihat seperti pria posesif yang berusaha mempertahankan mati- matian mainan miliknya."

Begitukah?

"Aku mau dengar pendapat Lea. Apa yang dia katakan ketika itu?"

"Tidak ada. Sepertinya itu tidak membawa dampak yang berarti." Atau dia sudah terbiasa menghadapinya. Pemikiran tentang dia yang terbiasa dipangkuan lelaki lain membuatku merasa marah.

"Bagus. Kalau begitu kerjasama ini akan tetap terlaksana."

"Apa?" Kutatap Dane tidak percaya. "Aku tidak mau bekerja sama dengan orang yang melihat istriku dengan tatapan ingin menelanjanginya, okey?"

"Lea tidak akan telanjang semudah itu."

"Dan apa maksudnya itu?"

"Karena aku melihat kau seperti sudah sangat siap mencabik- cabik siapapun yang berniat melakukannya." Jawabnya yang langsung membuatku seketika terdiam. "Aku akan pergi dulu untuk melanjutkan kerjasama kita. Tenangkan dirimu."

Dalam hati aku mengutuk ucapan Dane yang hampir benar. Aku seperti ingin menghancurkan siapapun yang mendekati Lea. Aku baru saja berbalik hendak kembali ke kursiku ketika mendengar suara pintu dibuka dan mengira kalau Dane kembali lagi ketika tubuhku mendadak membeku.

"Hai J, aku sangat merindukanmu."

"Carol." Aku tidak pernah menyangka kalau akan bertemu dengannya disini. Di kantorku dan di ruanganku pula. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku seraya melepaskan pelukannya dari tubuhku.

"Aku merindukanmu, J. Kita hampir tidak pernah berduaan." Jawabnya sambil mengelayut manja didepanku.

"Oh maaf. Aku terlalu sibuk mengurus perusahaan."

"Tidak apa- apa." Balasnya tersenyum. "Kalau kau terlalu sibuk. Aku bisa menemanimu."

"Carol sayang, bukan itu maksudku tapi aku benar- benar sibuk belakangan ini. Akan ada proyek yang ingin aku kembangkan di Prancis. Aku minta maaf."

"Tidak bisakah kau meluangkan waktumu sejam saja untukku?"

Kuusap rambut di pipinya dengan lembut. "Maafkan aku sayang tapi proyek ini benar- benar penting untukku."

"Aku sebenarnya tidak suka melihatmu yang berjauhan denganku tapi sudahlah. Mungkin aku akan menagih waktumu di lain hari."

Aku tertawa. "Tentu. Apapun untukmu sayang."

Caroline ikut tertawa. "Kalau begitu cium aku."

Aku tidak perlu berpikir dua kali untuknya jadi kupegang dagunya dan membawa bibirku ke bibirnya. Awalnya ciuman kami hanya ciuman ringan hingga kemudian menuntut dan saling menuntut hingga aku mendengar suara pintu kembali dibuka tapi tidak mendengar suara ditutup. Kuhentikan ciumanku dan mendongak ketika mendapatinya sedang menatapku dengan ekspresi yang sama sekali sulit kuartikan.

"Aku membawa mapmu yang ikut terbawa di mapku pagi tadi."

Lea memperlihatkan map berwarna biru dengan logo perusahaan kearahku. Aku pasti tidak sengaja mencampurnya dengan map miliknya ketika mengantarnya tadi ke kantornya.

"Maaf sudah menganggu aktivitas pagi kalian. Lanjutkan. Aku akan pulang."
Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku sangat terkejut melihatnya tiba- tiba berada disini.

"J, kau tidak apa- apa?"

"Tunggu disini sebentar." Tanpa mendengar teriakan Caroline, aku berlari keluar untuk menyusulnya dan mendapati dia berdiri di lobi bersama Dane.

"Lho Lea, apa yang kau lakukan disini?"

"Aku baru saja mengantarkan map Jullian yang ikut terbawa denganku."

"Kau kesini dengan siapa?"

"Taksi. Baiklah Dane, aku sudah harus kembali ke kantor. Sampai nanti."

Ini kesempatanku. Kulangkahkan kakiku dan langsung memegang tangan kanannya. Dia tampak terkejut tapi langsung diubahnya dengan tatapan dingin khas miliknya.

"Akan kuantar." Ucapku dan langsung mendapat tepisan darinya.

"Tidak perlu. Sudah ada taksi yang menungguku." Jawabnya.

"Ada yang perlu kubicarakan denganmu." Kataku berusaha meraih tangannya lagi tapi kembali dia menolaknya.

"Kalau kau ingin menjelaskan kejadian tadi. Itu bukanlah urusanku. Kau berhak melakukan apapun yang kau sukai. Sampai jumpa lagi, Dane." Lalu dia pergi tanpa menoleh lagi.

"Sebenarnya apa lagi yang terjadi?" Dane menanyaiku seakan frustrasi.

"Dia melihatku dengan Carol di ruanganku." Kujambak rambutku ikut frustrasi. Sebenarnya apa yang sudah kulakukan tadi.

"Carol ada disini?"

Aku tidak menjawab. Tidak lama kemudian aku mendengar suara decak putus asa dari bibir Dane.

"Kau benar- benar parah, sepupu."

Ya. Sepertinya aku memang parah. Sangat parah.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS