MASK- SATU




Jullian PoV....

Prangggg...

Memang dia pikir dia siapa hah tidak melihatku ketika aku sedang berbaik hati bicara dengannya secara baik- baik. Sejenak dia melihatku lalu kearah gelasnya yang baru saja kulempar.

"Apa katamu? Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" Hardikku sangat marah.

Setelah sekian lama tidak mengeluarkan amarah kecuali dihadapan para karyawan yang kuanggap tidak becus, aku bahkan tidak pernah bersuara keras dihadapan wanita kecuali ya itu tadi, dihadapan karyawan dan berjenis kelamin... well, perempuan tapi wanita ini dengan gampangnya membuatku emosi.

Aku lebih senang mendengar mereka menjerit ditempat tidur dan hey, aku bukan santo, orang suci. okey? Dan sebagai seorang pria normal, seks adalah kebutuhan paling mendasar yang dibutuhkan oleh semua manusia dalam kehidupannya.

Ingat kebutuhan, okey? Hanya kebutuhan.

"Dengar Jullian, kau dan aku tahu. Sangat tahu tanpa kita perlu mengatakannya lagi tapi tidak ada perjanjian dalam hubungan kita kalau kita akan ikut campur dalam urusan kita masing- masing jadi apapun yang..."

Wanita dingin ini betul- betul membuatku muak!

Kupegang kedua lengannya dengan erat. Aku tahu dia merasa kesakitan tapi kesakitan itu hanya bisa kulihat selama dua detik. Bayangkan hanya dua detik sebelum dia kembali menampilkan wajah dinginya lagi dihadapanku.

"Apa kau pikir aku menikahimu karena aku ingin?" Tanyaku tidak kalah dinginnya sedingin wajahnya. Aku bahkan yakin seyakin- yakinnya kalau wanita ini tidak punya hati mengingat tidak sekalipun dia menyunggingkan senyum di hari pernikahan kami. Itupun hanya senyum simpul yang tidak mengenai matanya dan kado pernikahan yang dia berikan padaku sangat unik bahkan tidak ada duanya. Kadonya adalah dia pergi, ya. Dia benar pergi meninggalkan resepsi pernikahan tanpa sama sekali memberitahukan kepergiannya pada siapapun, membuatku harus mengurusi masalah karena dirinya baik itu dihadapan orang tuaku, orang tuanya bahkan kakek kandungku sendiri justru lebih menyalahkan diriku dibandingkan dirinya yang hanya orang baru. Belakangan aku tahu kalau dia pergi ke Maladewa, mengurus pekerjaannya disana dan baru kembali dua minggu kemudian. "Aku menikahimu karena menginginkanmu untuk tunduk dihadapanku. Aku bahkan tidak peduli jika kau merangkak dibawah kakiku dan menjilatnya." Kutambahkan senyum mematikanku yang bisa membuat orang lain yang punya otak untuk segera menyingkir dan lebih memilih untuk mengikuti apapun yang kuminta. Berharap membuatnya mengerti apa isi perjanjian pernikahan bisnis ini.

"Sudah selesai?"

Apa?

"Kalau kau sudah selesai, lepaskan tanganmu dariku sekarang. Aku sudah telat berangkat ke kantor."

Dan tanpa membiarkan aku membalasnya, ia menyentakkan lengannya hingga terpaksa aku melepaskan dirinya. Kulihat dia masuk ke dalam kamar yang memang sejak awal pernikahan kami sudah pisah dan keluar beberapa saat sambil menenteng tas chanel limited edition yang bulan ini keluar. Aku tahu karena Caroline pernah menghiba- hiba dan menunjukkan padaku gambar yang mirip dengan tas itu serta mengatakan hanya ada lima di dunia.
Dia bahkan punya uang untuk membeli itu. Dasar wanita murahan!

Kulihat dia berjalan menuju ketika ia berbalik, menatapku.
"Aku melakukan ini bukan karena aku takut dengan ancamanmu tapi karena kemarin sore kakekmu datang dan memintaku untuk menjadi partner pestanya bulan depan. Jadi jangan sia- siakan suaramu untuk berteriak juga..."ia melirik kedua tanganku yang mengepal menahan amarah. "Kekuatanmu." Lanjutnya tanpa menoleh lagi

Brengsek!

Aku tiba di kantor tiga puluh menit dan langsung menuju lift yang dikhususkan oleh pemimpin perusahaan. Sepertinya sisa- sisa aura kemarahan itu masih membekas karena ketika berjalan, semua orang yang kebetulan sedang jalan seketika menyingkir, menghindar. Dalam hati aku mengakui kecerdasan mereka yang segera menyingkir karena aku tidak tahu apa yang akan kulakukan pada mereka dan begitupun sebaliknya, mereka tidak akan tahu apa yang kulakukan untuk mereka. Hanya satu orang yang sepertinya tidak terpengaruh dan dialah orang yang mengakibatkan hal ini. Sial!

Lift berdenting lembut ketika tiba di lantai paling atas menuju ruang CEO dan Dane, asisten sekaligus orang yang sangat dekat denganku sudah menunggu dengan kening yang saling bertaut.

Aku berjalan melewatinya dan dari sudut mataku dan bisa kulihat dia melarang Sophia, sekertaris yang baru kurekrut tiga bulan yang lalu untuk mengikutiku.
Ya. Ikuti saja apa katanya jika kau tidak mau mendapatkan masalah. Ucapku dalam hati meskipun disisi yang lain aku mengharapkan dia mengindahkan ucapan Dane dan mengikutiku. Aku butuh pelampiasan untuk menyerang orang lain atas ketidakpekaan dan ketololan mereka.

"Jadi apa yang terjadi?" Tanya Dane seraya menyerahkan sebotol air mineral yang memang telah diambilnya dalam mini kulkas di ruanganku dan langsung kuterima dan kuteguk hingga dipertengahan botol. "Lebih baik?"

Aku mengangguk.

"Jadi bisa kau ceritakan kenapa tiba- tiba kau berubah menjadi medusa dan siap membekukan orang- orang yang tidak sengaja melihatmu?"

"Kau tidak akan percaya."

"Ya. Aku akan percaya karena tidak sekalipun aku pernah melihatmu semarah ini bahkan mungkin jika kukatakan, kau jauh lebih marah hari ini dibandingkan ketika Caroline digosipkan punya affair dengan teman sesama artisnya. Kau seperti ingin membakar gedung ini dengan tatapanmu."

Sial. Ini semua karena wanita jalang itu.

"Jadi?"

"Dia mempermainkanku?"

"Hah? Siapa?"

"Kau tahu siapa yang kumaksud." Ah, dalam hati aku beruntung menunjuk Dane sebagai asistenku meskipun sebenarnya dia bisa mengelolah perusahannya sendiri tapi ya, dia lebih memilih bekerja denganku. Dasar sepupu yang bodoh!.

"Lea?"

Bahkan mendengar namanya disebut saja sudah membuatku muak.

"Memang kenapa dengan dia? Seingatku kalian tidak pernah bermasalah kecuali jika kau menghitung acara pernikahan kalian dua bulan yang lalu." Lalu kemudian wajahnya berubah menjadi seringaian. "Atau jangan- jangan kau sudah menyentuhnya dan mengataimu brengsek, mungkin lebih ekstrimnya dia menamparmu?"

Kulempari dia pulpen yang bisa kuraih dimeja kerjaku yang dengan mudah dihindarinya.

"Baiklah. Aku menyerah. Aku tidak mau membangunkan kembali singa yang sudah tenang dan membahayakan populasi kantor ini. Jadi, permainan apa yang sudah dia permainkan?"

"Dia sudah menyetujui akan datang ke pesta pernikahan orang tuaku bulan depan."

"Ah, aku hampir melupakan hal itu juga. Eh? Tunggu. Apa maksud semua ini dengannya?"

"Dia mengatakan kalau dia tidak akan datang karena sama sekali tidak punya kepentingan di sana."

"Wow. Ajak saja Caroline."

Aku menggeleng. "Sekalipun aku sangat mau tapi itu tidak mungkin. Akan banyak rekan bisnis ayahku yang akan datang termasuk orang tua wanita jalang itu dan kau tahu bagaimana mewahnya pemberitaan yang meliput pernikahan kami."

"Ya. Dan membuat kami kelimpungan karena seringnya menghalau reporter yang ingin mewawancaraimu. Terima kasih Tuhan, itu sudah berakhir." Ucap Dane penuh syukur, membuatku ikut merasa rileks dan meninju lengannya karena bahan ledekannya yang menurutku tidak lucu. Hanya Dane yang bisa melihatku sesantai ini dan juga keluargaku.

"Jadi apa rencanamu?" Tanyanya seraya meminum airnya.

"Dia mengatakan kalau kakek mengundangnya sebagai partner dansanya."
Dane menganggukkan kepalanya, cuek.

"Dan aku mau kau berpura- pura menjadi partner Caroline." Untung saja aku langsung menghindar sebelum air dalam mulutnya muncrat di kemeja putih yang kukenakan.

"Apa kau gila?" Tanyanya setelah berhasil meredakan batuknya.

"Tidak. Kau hanya bertugas sebagai partnernya saja. Di pertengahan pesta aku akan pergi dengannya." Jawabku.

"Tapi bagaimana kalau kakek tahu? Aku tidak mau leherku sebagai bahan taruhan."

"Tidak akan. Aku tidak tahu apa yang direncanakan kakek dengan menjadikannya sebagai partner tapi dia tidak mungkin akan mengawasiku sepanjang waktu kan? Tugasmu hanya mengawasi dan sepertinya akan banyak gadis- gadis cantik, anak atau bahkan model terkenal yang akan datang."

"Aku pasti sudah gila menyetujui rencanami ini." Ujarnya setelah lama terdiam.

"Aku yang akan bertanggung jawab."

"Pastikan saja model- modelnya cantik."

"Pasti." Balasku dan kami pun tertawa. Lebih tepatnya sudah tidak sabar melihat pujaan hatiku berada dalam balutan gaun yang sangat cantik dihadapanku.

Caroline Simpson.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS