MASK- TIGA BELAS
Dua hari berikutnya aku tetap tidak bisa pergi kemana- mana. Jullian juga tidak hentinya memperhatikanku seakan aku adalah pasien diambang- ambang.
"Berhentilah melihatku seperti itu Jullian." Kataku mulai merasa jengkel dengan tatapannya.
"Aku heran kemana semua obat penurun demam yang kuberikan padamu. Kenapa demammu tidak turun- turun juga?"
Kedua mataku mengerjap secara otomatis. Aku bukan orang yang pandai berbohong apalagi jika langsung berhadapan seperti ini. Ini membuat otakku seperti berlarian kesana- kemari mencari tempat persembunyian dan sialnya lagi kenapa aku justru tidak mau membohonginya.
"Mana kutahu." Jawabku seraya mengalihkan tatapanku darinya.
"Hm." Aku mendengar dia berguman dan tanpa sadar aku kembali melihatnya. Kedua alisnya saling bertaut sementara tangannya berada di dagunya.
Entah kenapa dia tampak terlihat menggiurkan dengan posisi seperti itu.
Yummy...
Damn it. Apa yang baru saja kupikirkan? Aku pasti sudah gila.
"Baiklah. Makan makananmu dulu setelah itu minum obat." Ujarnya.
Kugelengkan kepalaku. "Aku sudah kenyang." Kulihat dia mengangguk kemudian tangannya terulur kearahku.
"Makan."
Aku mengangguk dan mengambil obat yang disodorkannya ketika aku kembali mengernyit ketika dia tidak juga beranjak pergi.
"Apa?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin melihatmu memakan obatmu."
Mampus. Kedua mataku kembali mengerjap. Aku memang tidak suka obat dan itu berar kalau aku juga tidak suka meminumnya. Aku cukup memiliki pengalaman tidak menyenangkan dengan segala hal yang berbau obat-obatan.
"Aku akan meminumnya jadi pergilah lebih dulu." Ujarku tapi dia tetap tidak bergeming dari tempatnya.
Dengan terpaksa kumasukkan obat penurun demam itu kedalam mulutku dan menahannya dengan lidah, berpura- pura telah meminumnya.
Jullian terus saja melihatku dan itu semakin membuatku merasa risih plus dengan rasa pahit yang mulai terasa diujung lidahku.
"Aku cukup tersinggung loh." Katanya tanpa sama sekali mengalihkan tatapannya dariku.
Eh?
"Apa kau mau tetap menahannya di dalam mulutmu seperti itu?"
Kedua mataku seketika membelalak. Bagaimana dia bisa tahu?
Lalu sebelah tangannya terulur kebawah bantal dan mengeluarkan obat yang memang kusembunyikan dibaliknya.
"Aku tidak heran kenapa demammu tidak kunjung reda juga. Kau benar- benar pasien yang sangat nakal." Komentarnya tapi ada senyum jenaka dibaliknya. "Kau akan tetap menahannya seperti itu atau kau butuh bantuanku? Aku tidak keberatan melakukannya lagi." Godanya.
Otomatis kuputar kedua mataku dan langsung menandaskan segelas besar air disampingku tapi sialnya obat itu tidak juga mau masuk. Sialan.
Detik selanjutnya Jullian mendekatkan wajahnya kewajahku dan aku yang cukup kaget dengan sikap Jullian yang tiba- tiba tanpa sadar menelan obatnya.
"Kurasa kau sudah menelan semua obatnya." Ungkapnya seraya kembali menjauhkan wajahnya dariku.
Jantungku rasanya nyaris melompat keluar ketika melihat wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahku tadi dan merasakan kalau wajahku mendadak panas. Apa sekarang demamku bertambah naik?
"Aku akan membawa keluar ini dulu." Ujarnya seraya mengambil nampan bekas makanku tadi. "Istirahatlah." Lanjutnya tapi ada senyum samar yang tercetak di sudut bibirnya dan demi apapun yang ada didunia ini, aku rela menukar apapun agar bisa melihat senyum itu lagi.
Aku mengangguk mengiyakan dan Jullian membantuku menarik selimutnya untuk menutupiku. Oh ya, ngomong- ngomong aku tidur di kamar Jullian. Dia memaksaku untuk tidur dikamarnya dengan alasan agar lebih leluasa melihatku dan harus kuakui kamarnya juga lumayan hangat, berbeda dengan kamarku yang terasa dingin. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu tapi mungkin ini semua karena kasur yang digunakannya. Aku akan mengganti kasurku seperti kasurnya nanti.
Kedua mataku menatap langit- langit kamarnya ketika aku merasakan ingin ke kamar mandi dan terburu- buru hingga tidak sadar menabrak sudut tapi tidak ada waktu untuk memperhatikannya. Untungnya aku tidak memuntahkan semua makananku di lantai kamarnya seperti ketika pertama kali dan berhasil sampai di toilet.
Waktu itu tubuhku benar- benar lemah dan ketika akan muntah, aku tidak sempat mencapai kamar mandi dan muntah tepat didepan pintu kamar mandi tapi bukan itu yang menjadi perhatianku waktu itu melainkan Jullian yang tanpa tedeng aling- aling bersedia membersihkan bekas muntahanku dan tidak mengijinkanku untuk membantunya. Malu dan tidak enak bercampur menjadi satu waktu itu tapi aku tidak dapat berbuat apa- apa.
Aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh lelah serta perut yang seperti baru saja keluar dari penggilingan ketika telingaku menangkap suara pelan Jullian diluar kamar.
"Bertemu?"
"..."
"Tentu. Bagaimana kalau dua jam lagi? Ditempat biasa?"
"..."
"Tentu Carol sayang. Aku akan menemuimu disana..."
Aku mendesah lelah dan memutuskan untuk tidak mendengar pembicaraan selanjutnya. Aku baru saja akan memejamkan mataku ketika mendengar nada dering dari iphoneku dan terbangun mendadak ketika mengetahui nada dering yang memang sengaja kukhususkan.
"Ya?"
"..."
Rasanya tubuhku nyaris limbung mendengar apa yang baru saja dikatakan padaku.
"Aku akan kesana." Klik.
Cepat- cepat kuayunkan kakiku menuju kamarku dan mengambil sweater pertama yang kulihat ketika tanpa sengaja aku bertemu Jullian disisi tangga. Dia memberiku tatapan bingung.
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Keluar sebentar." Jawabku lalu beranjak pergi ketika aku merasakan tangan yang menahanku.
"Akan kuantar."
Kutepis tangannya dariku dan menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Memang kau mau kemana? Biar kuantar."
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Kau masih sakit, Azalea. Biar kuantar, okey?"
"Kubilang tidak usah!" Tanpa sadar aku berteriak padanya dan sudah terlambat untuk menyesalinya. "Aku bisa sendiri."
"Memang ada urusan apa hingga harus membuatmu pergi dalam keadaan sakit begini?"
Kepalaku rasanya semakin pening belum lagi ditambah dengan setiap detik yang dia gunakan untuk menahanku. Kenapa dia tidak membiarkanku saja?
"Dengar Jullian, aku baik- baik saja jadi berhentilah bersikap sok peduli denganku."
"Aku bersikap sok peduli padamu?" Kedua matanya menampakkan ekspresi marah.
"Ya. Memang alasan apalagi yang kumiliki? Hubungan kita tidaklah sedekat itu hingga harus memperdulikan satu sama lain jadi berhentilah sebelum semuanya terlambat."
"Terlambat katamu? Itukah yang kau pikirkan selama ini? Aku bersikap sok peduli padamu?"
Aku tidak tahu apa yang membuatnya sangat marah tapi apapun itu, aku tidak ada waktu untuk mencari tahu.
"Aku pergi."
"Aku belum selesai denganmu!" Bentaknya seraya menahan tanganku lagi.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan!"
"Katakan kau mau kemana?"
"Apa urusannya denganmu?" Aku mulai tersulut dengan semua perlakuannya.
"Tentu saja ini ada urusannya denganku. Aku bertanggung jawab sepenuhnya atas dirimu, ingat?"
Aku mendengus. "Apa kau lupa hubungan seperti apa yang kita berdua miliki?"
"Sudah kubilang jangan pernah memprovokasiku, Azalea." Aku bisa merasakan cengkramannya yang semakin kuat di lenganku. "Kalau sampai kau menemui pria seperti yang dulu kau ...."
"Tidakkah menurutmu ini lucu, Jullian?" Tanyaku memotong ucapannya. "Kau bebas bertemu dengan wanita manapun diluar tapi kau melarangku bertemu pria lain?"
"Apa?"
Kutepis tangannya. "Dengar, aku tidak peduli dengan apapun yang kau lakukan diluar sana jadi kuharap kau juga bisa melakukan seperti yang aku lakukan padamu. Bersikap tidak peduli."
"Apa?"
Kugelengkan kepalaku, menghilangkan amarah yang tadi sempat keluar. "Aku akan pergi. Kau juga harus pergi kan? Jangan membuat Carol menunggu lama."
Dan tanpa menunggu lagi, aku beranjak pergi meninggalkan perasaan bersalah yang sempat hinggap disudut terdalam hatiku.
***

Comments
Post a Comment