MASK- LIMA
Lea PoV...
Ini aneh.
Entah sudah berapa kali aku menoleh, memperhatikan pria yang saat ini mengemudikan mobilnya dalam diam. Aku bukannya ingin mengajak ngobrol atau apalah itu karena dari awal pernikahan ini, kami memang jarang berbicara tapi entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengannya hari ini dan kenapa dia juga harus repot- repot menjemputku di kantor padahal dia bisa saja menyuruhku untuk langsung datang saja. Aku kan mengemudikan mobil ke kantor. Oh iya dan Caroline. Ahh, kenapa aku sampai melupakan wanita itu? Apakah mereka berdua bertengkar? Tapi kapan?. Aku mengerang frustrasi. Ini bukanlah urusanku.
"Apa yang kau pikirkan?"
Hah?. Aku melonggo tidak mengerti.
"Sudahlah. Lupakan saja."
Ada apa dengannya?
"Oh iya Jullian, kau baik- baik saja?" Tanyaku kemudian.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengemudikan mobilnya, ia menoleh. "Aku? Kenapa denganku?"
Kuhembuskan napasku, sedikit lebih keras dari yang kumaksudkan tapi tidak ada waktu untuk meralatnya kembali. "Well, Caroline baru saja tiba. Pastinya kalian ingin bersama kan? Oh iya, dan kenapa kau tidak memberitahuku pagi tadi? Bukannya kau mengatakan kalau kakek menghubungimu?"
Koreksi kalau aku salah tapi kenapa aku merasa kalau Jullian tiba- tiba menjadi tidak nyaman. Apa sesuatu telah terjadi? Pada kakek? Oh tidak, apa sesuatu telah terjadi?. Aku mulai merasa panik ketika aku merasakan kalau sebuah tangan telah menggengam sebelah tanganku.
"Jangan khawatir. Kakek baik- baik saja. Dia hanya menyuruh kita untuk kesana." Tanpa sadar aku menghembuskan napas lega mendengar penuturan Jullian.
Hening kembali tercipta diantara kami hingga tanpa sadar kami sudah memasuki sebuah rumah bergaya victorian dengan taman air mancur yang sangat cantik.
Kedua mataku seketika mengerjap, menyadari tempat ini. Segera ku tahan tangan Jullian sebelum ia membuka pintu dan dia melihatku dengan kening berkerut.
"Apa yang kau lakukan?" Desisku marah.
Kedua keningnya masih bertaut, "apa yang kulakukan?" Dia balik bertanya, bingung.
"Kenapa kau membawaku kemari?"
"Lho, bukannya tujuan kita memang kesini?"
Ingin rasanya aku menjitak kepalanya. Kuperhatikan pakaian yang dia kenakan, hanya pakaian biasa dengan kemeja dan celana jeans. Dia mengikuti arah pandanganku lalu kembali kuarahkan pandanganku pada pakaian yang kukenakan. See?
"Kenapa kita tidak pulang dulu agar aku bisa membersihkan diri dan mengganti pakaian lalu kembali kesini?" Ujarku tanpa sama sekali meninggalkan kesan tajam pada nada suaraku.
"Jangan khawatir. Mereka tidak mungkin mengusirmu hanya karena kau masih berpakaian kantor." Jawabnya tenang yang langsung membuatku membelalak.
"Bukan itu masalahnya, Jullian."
"Lalu apa masalahnya?"
Aku baru saja akan membalasnya ketika terdengar suara ketukan di pintu mobil dan untuk sesaat Jullian melihatku lalu berpaling untuk membuka kaca jendela mobil.
"Lho, kalian disini? Kenapa tidak masuk kedalam?" Laura, ibu dari Jullian datang menghampiri kami.
"Hai Ma. Kami baru saja akan turun." Balas Jullian dan aku dengan terpaksa harus melepaskan genggaman tangan Jullian.
"Wah, menyenangkan sekali kalian datang. Kalian tidak pernah datang sejak pernikahan kalian." Ujar Laura ketika kami sama- sama berjalan masuk kedalam rumah.
"Maaf Ma, kami sedikit agak sibuk."
Aku bisa mendengar Laura terkikik geli yang aku sama sekali tidak mengerti maksudnya apa tapi dia mengatakan hal itu sambil membisikkan sesuatu pada Jullian yang hanya dibalas oleh pria itu dengan senyum kecut.
Ada apa lagi dengannya?
Kami bertiga sama- sama masuk lebih jauh kedalam rumah dan menemukan kalau James, ayah dari Jullian sedang bercakap- cakap dengan kakek di meja makan. Sepertinya mereka sedang makan malam.
"Lho, kalian? Apa yang..."
"Hai Pa, Kek." Sapa Jullian sebelum James mengatakan sesuatu. "Bagaimana keadaan kakek?" Tanya Jullian kemudian.
Aku bisa melihat kening kakek mengernyit heran. "Kakek baik. Bagaimana kalian?"
"Kami baik." Jawab Jullian.
"Sepertinya Lea baru pulang kerja. Apa Jullian menjemputmu, Lea?" Tanya James padaku.
Aku mengangguk. "Ya. Jullian tadi mengatakan kalau..."
"Sepertinya ini enak. Apa kau juga mau makan?" Tanya Jullian tiba- tiba padaku.
Aku mengerjap lalu kemudian menggelengkan kepala. "Aku sudah makan tadi. Terima kasih."
"Oh baiklah." Lalu dia menyuruh seorang pelayan untuk mengambil piring untuknya. Sesekali aku mendengar ia membicarakan tentang bisnis pada kakek dan ayahnya dan aku yang sesekali berbicara dengan Laura.
Keluarga ini terlalu sempurna untuk dimiliki dan aku sedikit merasa terganggu dengan keadaan ini.
"Baiklah. Kalian tinggallah disini sampai pesta berakhir."
Hah?. Aku langsung mendongak ketika mendengar kalimat kakek. Apa maksudnya dengan tinggal disini?
"Terima kasih, kek." Kata Jullian.
"Hmm Jullian?" Akhirnya aku mulai membuka suara. "Apa maksudnya tinggal disini?"
"Oh kakek meminta kita untuk tinggal disini sampai pesta pernikahan mama dan papa usai."
Ini hanya perasaanku saja atau memang aku sempat melihat wajah kaget orang- orang disekitarku ketika Jullian mengatakan tadi?
"Bagaimana aku bisa berangkat bekerja kalau tinggal disini?" Tanyaku setengah berbisik. Ini menyalahi aturan kontrak pernikahan kami.
"Besok pagi mobilmu sudah ada di depan."
Tidak mungkin.
"Bagaimana dengan pakaianku?" Sejenak dia melihat pakaian yang masih kukenakan. "Aku tidak bawa baju ganti, ingat?" Aku sengaja menekankan setiap kata dalam kalimatku.
"Kita akan pulang pagi- pagi besok dan mengganti baju lalu kembali lagi kesini." Jawabnya.
Seketika kedua mataku mengerjap, tidak mempercayai apa yang baru saja ku dengar.
"Bisa kita berbicara? Berdua?"
Aku perlu meluruskan hal ini. Bagaimana mungkin dia memutuskan semua hal ini sendirian? Apa dia tidak melihatku?
"Jangan bertengkar anak- anak." Lerai James yang langsung membuat aku dan Jullian berpaling. Dari yang bisa kulihat dari mataku adalah baik Laura maupun kakek berusaha untuk tidak tersenyum.
"Apa malam ini kalian mulai menginap?" Tanya James.
"Ya. Apa kamarku sudah siap?" Tanya Jullian balik.
"Sepertinya begitu."
"Baiklah. Kami akan istirahat dulu." Lalu Jullian beranjak dari tempat duduknya dan menyeretku agar mengikutinya. Dari belakang aku masih bisa mendengar suara tawa orang dewasa itu dan semacam kalimat seperti 'aku rindu masa muda' dan 'bersenang- senang'.
***

Comments
Post a Comment