MASK- ENAM
Jullian PoV.
Sebenarnya apa yang sedang kulakukan? Kenapa segalanya selalu terlihat aneh tapi di sisi lain ini juga terasa benar.
Azalea.
Satu nama yang bahkan aku sendiripun tidak tahu bagaimana mengatakannya. Apa yang sudah dia lakukan padaku? Atau... apa yang sedang kumainkan saat ini?
Sial.
"J?" Caroline membuyarkan lamunanku tentang wanita itu.
"eh, i-iya sayang. Ada apa?"
"Aku tidak suka melihatmu dengannya." Ujar Carol masih dengan memberiku tatapannya.
Sejenak keningku bertaut, bingung. "Apa yang kau bicarakan?" Tanyaku kemudian.
"Aku membicarakan tentang kau dan wanita yang saat ini sudah berstatus istrimu." Jawabnya dengan bibir yang semakin tipis.
Aku terdiam berusaha memahami apa yang sebenarnya wanitaku katakan hingga kemudian aku seperti mendengar bunyi klik di kepalaku dan tanpa sadar aku sudah tertawa.
"Senang?" Bibirnya semakin lama semakin tipis.
"Oh sayang." Keluhku di sela tawa. "Aku tidak pernah menyangka akan melihatmu cemburu seperti ini." Ujarku masih tertawa.
"Aku tidak cemburu! Aku hanya tidak suka kau berada dengannya dalam satu ruangan."
Oh wanita dan egonya yang terlalu besar untuk mengakui kalau mereka cemburu tapi itulah yang aku suka dan sangat jarang melihat wanitaku cemburu, biasanya akulah yang cemburu setengah mati dengan pria yang berada didekatnya.
"Aku tidak cemburu, Jullian!" Desisnya tajam ketika aku sama sekali tidak merespon ucapannya.
"Baiklah." Aku tidak mau melihatnya semakin marah jadi kugenggam kedua tangannya. Untung saja tempat yang kami tempati berada di dekat kaca dan sedikit tersembunyi. Itu menjauhkan kami dari tatapan ingin tahu dari para pengunjung kafe lainnya. "Dengarkan aku Carolku sayang," aku menunggunya hingga dia merespon kalimatku ketika kulihat dia masih memasang muka datarnya. Ku hela napasku pelan kemudian melanjutkan, "kau tahu sendiri kan saat ini kami berada di rumah kakek?. Kakek akan curiga kalau kami tidur di tempat yang berpisah."
"Tapi kau tidur dengannya."
"Hanya tidur sayang. Tidak lebih."
"Tapi aku tidak suka."
Oh, wanitaku. Kuhembuskan napas. "Sabarlah sayang. Ini hanya berlangsung sampai pestanya selesai. Setelah itu kami akan kembali seperti semula."
"Aku tidak mengerti kenapa kakek tiba- tiba meminta kalian menginap padahal kalian punya tempat tinggal sendiri."
Aku terdiam. Sebenarnya bukan kakek yang meminta tapi aku yang memutuskan akan tinggal hingga pesta usai. Carol benar, apa yang sebenarnya sedang kulakukan?
"Tapi kita akan bersenang- senangkan setelah hari itu selesai?"
"Eh?"
"Jangan bilang kau sama sekali tidak berniat melakukannya."
"Oh bukan begitu sayang. Tentu saja kita akan bersenang- senang. Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu dan aku juga merindukanmu." Kuberi dia tatapan menggoda tanpa melepaskan tangannya dariku.
"Aku juga merindukanmu, J." Ku kecup bibirnya lembut. Tidak lama tapi cukup membuatku merasakan gelenyar yang sudah ku kenal di tubuhku. Juga aku tidak mungkin bisa membuatnya mendesah disini. Di kafe ini. Di mana orang- orang bisa melihat kami.
Aku yang lebih dulu mengakhiri ciuman kami dan puas ketika melihat dia memerah.
"Oh J, tidak bisakah kita lakukan sekarang?" Tanyanya dengan mata sayu.
Aku tersenyum. "Maafkan aku sayang tapi setengah jam lagi aku ada pertemuan dan aku sudah harus berada disana kira- kira lima menit sebelumnya atau Dane akan marah seperti gorilla hutan."
"Kita bisa melakukannya dengan cepat."
Kuelus pipinya lembut, "aku tidak yakin bisa melakukannya dengan cepat sayang. Aku sudah sangat merindukanmu dan tidak yakin bisa melakukannya seperti caramu." Pipinya semakin memerah. "Bersabarlah. Dua minggu lagi, okey?"
Aku tersenyum ketika melihatnya mengangguk.
"Baiklah. Habiskan makananmu sayang dan aku akan mengantarmu kembali ke apartemenmu."
"Bisakah kau mengantarku ke shopping mall saja. Aku ingin mencari baju."
"Apapun untukmu, sayang."
Carol lantas memberiku senyumannya yang membuat diriku mabuk kepayang dan lagi- lagi kami berciuman.
Dua puluh menit berlalu tak terasa. Dane sudah memberiku ultimatum agar segera kembali ke kantor. Orang itu, sebenarnya siapa yang menjadi bos disini, seenaknya saja dia memberiku ultimatum seperti itu. Awas saja dia, akan kubuat dia menyesal.
"Aku mencintaimu. Menikahlah denganku."
Melamar, heh?
Aku memang pernah ingin melamar Caroline ditempat yang seperti ini dengan pura- pura mengajaknya makan dan diam- diam ternyata menyelipkan sebuah cincin kedalam makanan kesukaannya dan mungkin sedikit tambahan musik akan memperindah suasana tapi sebelum itu terjadi tiba- tiba kakek memintaku menikah dengan orang lain tanpa sama sekali memperdulikan kalau ada wanita yang telah kucintai.
"Tinggalkan pria itu. Aku akan memberikan apapun untukmu termasuk seluruh harta kekayaanku." Lagi- lagi pria itu berkata.
"Baiklah."
Sekejap langkahku terhenti dan mengernyit ketika mendengar suara barusan. Aku seperti mengenal suara datar ini.
"J, ada apa?"
Tidak kupedulikan pertanyaan Caroline. Aku penasaran dengan suara yang baru saja kudengar.
Mungkinkah?
"Tapi aku menolak." Ujar suara datar itu lagi.
"Tapi kenapa, Lea? Aku rela memberikan semuanya untukmu lagipula suamimu tidak mencintaimu." Ujar pria itu.
Aku terdiam ketika akhirnya dapat melihatnya. Dia masih mengenakan pakaian tadi pagi dengan rambut yang kepang ke samping. Ekspresi datar yang ditampilkan Lea bisa saja datar tapi tak mengurangi aura kecantikan yang dipancarkannya apalagi ditambah ketika akhirnya ia menyunggingkan senyum miring. "Apa kau pikir aku mencintainya? Kau salah paham sayang." Jeda sesaat lalu kembali ia melanjutkan. "Tidak adakah yang memberitahumu atau mungkin mendengar rumor pernikahan kami? Aku dan dia menikah atas dasar perjanjian dan tahukah kau apa maksudnya itu? Itu artinya aku membutuhkannya atau mungkin keluarganya untuk menunjang kerajaan bisnisku."
Jarak antara diriku dan Lea tinggal beberapa meter lagi ketika aku melihat pria itu tersenyum mengejek.
"Kalau begitu tidur denganku dan akan kuberikan seluruh kekayaanku padamu."
Sejenak Lea terdiam lalu menggeleng, "kurasa kau salah paham tentangku, bukan begitu Peter?" seringainya. "Aku bukan tipe wanita yang bisa tidur dengan semua pria yang menginginkanku. " lagi- lagi Lea tersenyum. "Dan aku mengerti kalau kalian para pria ingin sekali berada dibalik celana dalamku. Semua itu bukan hal yang baru bagiku" sejenak aku melihat Lea berdiri lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu. Aku bisa melihat kedua tangan pria itu terkepal di kedua pahanya. Entahlah sulit membedakan apakah dia marah atau berusaha untuk menahan diri agar tidak menerkam wanita berambut merah itu segera hingga kemudian masih tetap pada posisi yang sama Lea berucap lirih tapi masih bisa terdengar. "tapi sayang sekali, sejak kemunculanmu di kantorku bulan lalu. Aku sama sekali tidak merasakan ketertarikan padamu." Ditegakkannya badannya, melanjutkan. "jadi gunakan saja kekayaanmu itu untul hal yang lain. Oh, dan satu lagi. Kekayaan yang dimiliki suamiku saat ini tidak akan habis bahkan jika aku berniat untuk menjual seluruh aset- asetnya." Baik Lea maupun pria itu sama- sama saling memandang hingga Lea yang pertama kali memutuskan pandangan dan berbalik ketika langsung bertemu pandang denganku.
Dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut apalagi perasaan bersalah. Yang ada dia malah menunjukkan raut wajah datar seperti tidak ada yang terjadi.
Wanita jalang ini.
Kukepalkan tanganku erat, menahan diri untuk tidak menyeretnya ketika dia tertawa meremehkan dan berjalan pergi sambil melambaikan sebelah tangannya dengan angkuh kearah pria itu.
Akan kubuat dia menyesal karena berani menantangku. Kau memilih lawan yang salah, baby.
***

Suka banget sama sifatnya Lea 😍
ReplyDeleteSuka banget sama sifatnya Lea 😍
ReplyDelete