MASK- DELAPAN BELAS



Kupikir Jullian akan menungguku di dalam mobil tapi ternyata yang ada dia berdiri sambil bersandar di depan pintu mobilnya. Awalnya dia tidak melihatku dan hanya memperhatikan layar di ponselnya.

"Apa ada masalah?" Aku bertanya ketika menyadari kalau kerutan dikeningnya semakin bertambah dalam.

Jullian mendongak dari ponselnya kearahku dan tersenyum. Kenapa pria ini senang sekali menyunggingkan senyumnya?

"Kau sudah disini?"

Apa dia mengira aku hantu. Tentu saja aku sudah disini. Apa perlu penekanan lain?.

Aku mengangguk. "Ada apa? Apa ada masalah?" Tanyaku lagi.

"Tidak ada. Ayo masuk."

Aku tidak membalas dan hanya diam tak bergeming. Sejenak dia menghela napasnya panjang.

"Dane baru saja menghubungiku dan memberitahukan kalau salah satu klien yang akan menjadi investor di perusahaanku berada di kota ini." Tuturnya.
Aku diam. Dalam hati bertanya- tanya kalau memang seperti itu, kenapa dia harus terlihat seperti harus memilih antara dua pilihan.

"Dia orang prancis dan hari ini adalah hari terakhir dia berada di kota ini." Katanya lagi. "Sial, kenapa Dane tidak mengatakan lebih awal. Sulit sekali bertemu dengan orang itu jika di hari biasa."

Aku berasumsi jika Jullian tidak menyadari aku yang berada didekatnya. Dia mengucapkan hal itu tanpa sama sekali berniat menyembunyikannya. Dasi di lehernya sudah dia lepas begitu pula dengan kancing baik itu di leher maupun di tangannya. Aku bisa memahami bagaimana pentingnya sebuah hubungan kerjasama dengan perusahaan lain.

"Kalau dia ingin menemuimu sebaiknya kau pergi. Lagipula aku bisa pulang naik taksi." Kataku berusaha tidak mempermasalahkannya.

Aku tidak tahu apa yang salah dengannya tapi yang jelas aku bisa menangkap kalau dia tidak setuju.

"Apa kau pikir aku akan menyetujui usulanmu? Apa kau gila?"

Ada apa dengannya? Dia kan tidak perlu semarah itu.

Aku mulai merasa terprovokasi dengan amarah yang dikeluarkannya. Apa aku salah jika berbuat baik padanya?

"Baiklah. Jadi apa yang akan kau lakukan? Kau ingin tetap mengantarku kemudian ke tempat klienmu, begitu? Tunggu. Dimana kalian bertemu?"

"Avenue street."

Kedua mataku seketika membelalak. "Kau ini gila ya? Itu akan memakan waktu yang jauh lebih lama jika kau harus mengantarku lebih dulu. Lebih baik aku pulang naik taksi." Aku bersiap- siap akan meninggalkannya ketika merasakan tangannya menahanku.

"Mau ke mana?"

"Mencari taksi. Memang mau ke mana lagi?!"

"Dan apa kau pikir aku mengijinkannya?"

Gez, orang ini. "Dengar Jullian, ini bukan masalah kau mengijinkan atau tidak. Aku hanya ingin berbuat baik dengan tidak menahanmu lebih lama lagi."

"Aku tidak butuh perbuatan baikmu dan kau juga sama sekali tidak menahanku."

Aku mengerjap. Apa maksud perkataannya barusan?

"Dengar. Kalau kau sungguh ingin berbuat baik padaku. Ikut denganku." Lanjutnya yang lantas membuatku terkejut. "Ikut denganku, Azalea."

"Kau tidak sedang mengajakku dalam pembicaraan bisnismu kan?" Tanyaku sekedar memastikan.

Kuharap tidak. Sudah cukup percakapan yang harus kulalui di kantorku tiap hari dan tidak ingin diikut sertakan pada percakapan lainnya sekalipun itu bukanlah aku yang diajak kerjasama.

"Itu yang baru saja kulakukan?"

"Kalau begitu aku menolak."

Aku menduga akan mendapatkan kemarahan lain laginya tapi alih- alih marah, dia justru tertawa.

"Aku tidak ingat kalau sedang memberimu pilihan." Ujarnya.

"Tapi tetap saja aku adalah manusia yang memiliki pilihan dalam hidupnya."
Dia tertawa. Kali ini lebih bebas dari yang semula. Dasar aneh!

"Tadinya kupikir kita akan bertengkar lagi seperti yang sudah- sudah."

Bukankah itu yang kita lakukan sekarang? Kau yang memaksaku dan aku yang menolak?

"Tapi setelah dipikir kau wanita yang cukup menghibur. Tentu saja dengan mulut pintarmu itu."

Aku tidak tahu apakah itu sarkasme yang dia tujukan padaku atau itu hanya sekedar ungkapan tapi apapun itu tetap saja membuatku harus membalasnya.

"Senang bisa menghiburmu, Mr. Anderson jadi sebagai sikap sopan santunku, aku mohon ijin." Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan nada sinis dalam suaraku.

"Ini hanya makan malam. Kau juga belum makan kan?"

Aku terdiam.

"Aku akan membelikanmu es krim setelahnya."

"Apa aku terlihat seperti bocah penggemar es krim dihadapanmu?"

"Jadi kau tidak suka es krim?"

"Semua orang suka es krim. Siapa yang tidak suka ea krim?"

Dia tertawa. "Kalau begitu kau setuju."

Aku mengerang. Benar- benar kesal dengan sikapnya yang sangat memaksa. Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri kenapa tidak langsung kabur saja lewat jalan samping dan mengambil taksi ketika pulang tadi.

"Bagaimana keadaan tanganmu?" Tanyanya disela dia mengemudikan mobilnya.

"Masih ada. Masih tetap terpasang ditempatnya dan tidak kemana- mana." Aku menjawabnya jengkel tanpa perlu bersusah payah.

"Baguslah kalau masih berada di tempatnya." Ucapnya disela tawanya. Kuputar kedua mataku untuknya.

"Aku melihatnya, sayang."

"Aku memang sengaja memperlihatkannya." Balasku lalu sedetik kemudian terdiam. Apa katanya tadi? Sayang? Apa dia sadar mengatakan hal itu? Ataukah dia mengira aku Caroline?

"Ada apa?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.

Aku mengerjap, mencoba menghilangkan perasaan aneh yang tiba- tiba muncul karena perkataannya barusan.

"Kita sudah sampai?" Tanyaku sekedar basa- basi.

"Hampir. Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kau tidak menjawab. Kupikir kau tidur dengan mata terbuka."

Aku mendengus mendengar ucapannya yang sama sekali tidak lucu.

"Tapi meskipun begitu aku lebih suka melihatmu tertidur dengan mata tertutup alih- alih terbuka seperti tadi." Lanjutnya yang langsung membuatku terperangah.

Ada apa dengannya?

Lima menit kemudian kami tiba dan langsung disambut oleh pria yang kuduga berusia tiga tahun lebih tua diatas Jullian. Tempatnya lumayan nyaman untuk sekedar membicarakan bisnis.

Aku tidak tertarik dengan pembicaraan yang terjadi diantara mereka dan lebih memilih untuk diam meskipun sesekali harus melempar senyum jika tiba- tiba Klaus Bernadett, pria prancis itu menyebut namaku. Entahlah tapi jujur saja aku tidak suka dengan tatapan yang sering kali dia lontarkan, seakan dia ingin menelanjangiku tepat dihadapannya.

"Sayang, apa kau lelah?"

Hah?

Aku menoleh dan langsung melihat mata Jullian yang memang duduk bersampingan denganku. Sebelah tangannya menyentuh tanganku dan mengelus lembut jari- jariku.

"Maafkan saya Mr. Bernadett tapi istri saya beberapa hari ini sedang tidak enak badan. Bagaimana kalau pembicaraan ini kita hentikan saja sampai disini dan kita lanjutkan dilain waktu?" Tawar Jullian menatap Klaus.

"Oh tentu. Tentu. Tidak masalah Mr. Anderson." Jawabnya dalam bahasa Prancis yang aku ketahui. Terkadang Jullian juga ikut menimpali dengan bahasa yang sama tapi itu tidak akan kuberitahukan kalau aku sedikit mengerti bahasa itu padanya. Akan lebih baik jika aku pura- pura tidak tahu saja.

Kami bertiga sama- sama berdiri dan ketika tanganku berjabatan dengan tangan Klaus, aku hampir saja tertarik ke depannya jika saja Jullian tidak menahanku dan Klaus berpura- pura mengatakan jika tadi aku hampir tersandung.

Pria ini!. Mana mungkin aku bisa tersandung kakiku sendiri jika aku sendiri hanya sekedar berdiri ditempat? Kalau bukan ditempat umum dan dia bukanlah klien Jullian, sudah pasti aku sudah menginjak kakinya karena berani- beraninya dia ingin menciumku Grrrrr

"Kau tidak apa- apa, sayang?" Jullian menanyaiku, kekhawatiran jelas terlihat diwajahnya tapi entah mengapa ketika ia menempatkan kedua tangannya di pundakku, pegangannya terasa sangat erat. Ada apa dengannya?

Aku mengangguk pelan seraya menstabilkan tubuhku. Tanganku kembali digenggam olehnya hingga kami sama- sama berada didalam mobil dan meninggalkan tempat pertemuan tadi.

"Bagaimana pertemuan tadi?" Aku hanya menanyainya untuk sekedar berbasa- basi. Dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun selama kami dalam perjalanan menuju apartemen dan apapun itu, itu terasa lebih mengerikan dengan adanya orang yang duduk diam disampingmu.

"Kurasa aku tidak akan melanjutkan kerjasama dengannya." Jawabnya yang membuatku sedikit terkejut.

"Kenapa? Bukankah kau membutuhkan kerjasama dengannya untuk perusahaanmu?"

"Tidak jika yang dia lakukan selama pembicaraan tadi hanyalah dengan melihatmu."

Hah? Dia menyadarinya?

Aku berusaha menetralkan perasaanku dan berdehem pelan. "Kau tidak perlu melakukan seperti itu, Jullian. Kalau memang kau membutuhkan kerjasama ini, lanjutkan. Toh, aku tidak akan bertemu dengannya lagi kan?"

"Memang tidak dan kuharap selamanya akan begitu."

"Kalau begitu apa masalahnya. Lanjutkan saja kerjasama kalian." Aku berusaha memperdengarkan nada acuh dan biasa padanya.

"Masalahnya adalah aku tidak suka pria lain melihatmu seperti itu. Hanya aku yang boleh memilikimu dan tidak yang lain."

Dan aku merasa seperti jantungku akan lepas ketika mendengarnya mengatakan hal itu.

What the....

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS