MASK- DUA PULUH
"Berhenti mengikutiku. Jullian."
Lea memberiku tatapan tajam setajam belati. Sejujurnya aku tidak heran kalau dia pada akhirnya akan mengucapkan kalimat itu dan memang itu yang aku ingin dengar darinya, dia yang mulai berbicara denganku lebih dulu yang selama tiga hari ini dia sama sekali tidak memperdulikanku.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Tambahnya masih dengan nada kesal. Setidaknya dia tidak melihatku dengan pandangan sedingin kutub utara.
"Kau tahu apa yang kuinginkan."
Satu lagi yang aku pelajari darinya selain dari sikap tidak pedulinya adalah dia akan berusaha keras bahkan sangat keras melampiaskan semua kemarahannya pada sesuatu dan kali ini dia melakukannya dengan bermain tenis. Oh, jangan kira aku tidak mengetahui kemana dia melampiaskan semua itu karena aku selalu mencari tahu kemanapun dia berada.
"Bicara? Tidak ada yang perlu kita bicarakan."
"Tentu saja ada. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu." Tidak disini dengan banyaknya orang yang melihat kaki telanjangmu itu. Aku menambahkan dalam hati.
Aku bukannya tidak tahu kalau sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya dilapangan tenis ini. Sudah banyak orang yang ingin mengajaknya bermain. Itu juga yang menjadi alasanku mengikutinya. Mungkin dia tidak peduli dengan pakaian yang dikenakannya itu. Baju lengan pendek ketat berwarna merah muda dan rok putih pendek diatas lutut. Tidak ada masalah dengan pakaian yang dikenakannya bahkan aku sudah sering melihat pakaian serupa yang dikenakan para wanita jika ingin bermain. Yang jadi masalahnya adalah dirinya, dirinya seperti magnet yang selalu menarik kutub dari para pria- pria itu.
Kedua keningnya saling bersatu kemudian mendengus. "Kalau yang ingin kau bicarakan tentang adegan ciumanmu dengan wanita itu tempo hari, aku tidak peduli."
"Wanita itu?" Aku pura- pura menanyainya.
"Caroline." Ucapnya jengkel dan aku harus menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresinya.
"Itu salah satunya tapi bukan itu yang ingin kubicarakan denganmu."
"Jadi apa?"
"Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengannya."
Aku tidak bohong. Ketika mencium Caroline kemarin, pikiranku justru melayang ke pesta itu. Pesta dimana aku dan Lea berciuman setelah pernikahan kami dan ketika memasukkan obat itu kedalam mulutnya ketika dia sakit, meskipun situasinya berbeda tapi tidak menutup kalau sensasi yang ditimbulkannya sama. Butuh usaha yang keras ketika akhirnya aku memutuskan untuk melepaskan Caroline. Aku tidak pernah mengira kalau Caroline akan mengeluarkan umpatan kasar beserta ancaman dari bibirnya mengingat dia artis yang dikenal dengan sikap lemah lembutnya.
Hingga melihat Lea mendengus. "Jadi kau memutuskannya. Kejam sekali." Sinisnya.
"Akan jauh lebih kejam jika melihat istriku semakin marah karena diriku." Ucapku sekaligus menggodanya.
"Apa?"
"Jadi kau boleh berhenti menghindariku."
"Apa? Kapan aku menghindarimu?"
"Tiga hari ini. Aku bahkan jarang melihatmu berada di apartement kita."
"Tidakkah ada yang memberitahumu kalau aku bekerja di kantor?"
"Well, Mia memang memberitahuku tapi kenapa harus melalui perantara jika kau sendiri bisa melakukannya."
"Aku... aku tidak ada waktu melakukannya." Aku hampir saja tertawa melihat kegugupannya sedetik yang lalu. Tak kusangka dia imut juga.
"Jadi kau sudah tidak marah lagi?" Aku berusaha mencairkan suasana kikuk darinya.
"Aku tidak marah."
Oh Tuhan, kenapa dia keras kepala sekali?!
"Dan apapun yang kau lakukan diluar sana bukanlah urusanku." Tambahnya.
Kalimat itu lagi.
"Terserah kau mau mengatakan apa tapi semua orang tahu kalau kau adalah istriku." Balasku tidak mau kalah.
"Apa?"
"Kita sudah menikah, ingat?." Kutunjukkan cincin pernikahan di jariku ke hadapannya. "Jadi dengan kata lain kita berdua adalah pasangan. Bukankah itu terdengar romantis?"
"Apa?"
Ingin rasanya aku memeluknya saat ini juga ketika pandanganku teralihkan ke jari- jarinya dan terbelalak. "Kemana cincin pernikahan kita?" Tanyaku meraih tangannya dengan kasar.
"Kusimpan." Jawabnya melepaskan diri dari peganganku.
"Apa?" Aku menatapnya tidak percaya.
"Lagipula sejak awal, kita berdua memang tidak pernah memakai cincin pernikahan itu." Tambahnya yang langsung membuatku tidak tahu harus mengatakan apa.
Dia benar. Aku memang baru memakainya sehari ketika melihatnya terluka dulu tapi kenapa aku juga tidak memperhatikan tangannya waktu itu? Sial.
"Dimana kau menyimpannya?" Tanyaku menuntut.
"Hentikan Jullian. Kenapa kau menjadi aneh seperti ini?" Kedua keningnya sama- sama saling bertaut.
"Aneh katamu? Apa kau tidak tahu arti dari cincin itu? Cincin itu adalah cincin pernikahan kita. Simbol kita." Kataku marah. "Kalau cincinnya berada di kamarmu, ayo. Kita pulang sekarang." Dan tanpa mengatakan apa- apa lagi. Kuraih tangannya dan membawanya pergi menuju tempat tinggal kami.
*
Satu jam kemudian. Aku mamandang bahagia tangan didepanku. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini hanya dengan memandang benda berkilau yang telah kembali ke tempat yang seharusnya.
"Kutebak kau senang memaksakan kehendakmu pada orang lain, bukan begitu Mr. Anderson?"
Kualihkan pandanganku dari jarinya ke wajah Lea. Wajahnya terlihat sangat jengkel tapi justru itu yang membuatku merasa merindukannya. Tiga hari belakangan ini dia nyaris tidak melihatku dan cenderung lebih tidak peduli dari yang biasanya dan puncaknya ketika dia menyuruh Mia agar melarangku untuk menemuinya bahkan lebih memilih menginap di kantor dengan alasan pekerjaan. Untung saja Mia tidak sekejam dan sedingin wanita dihadapanku ini. Berkat dirinyalah sehingga aku tahu kemana Lea akan mengeluarkan segenap emosinya selama ini yang pada awalnya sangat sulit.
"Sangat Mrs. Anderson." Balasku. "Dan sebagai gantinya bagaimana kalau kita merayakannya?" Usulku.
"Apa?"
"Kau yang memasak."
"Apa?"
"Ah aku baru ingat kalau kau sama sekali tidak pernah memasak selama kita menikah. Apa kau tidak tahu memasak? Sayang sekali padahal aku menyukai wanita yang pandai memasak."
"Apa?"
"Baiklah. Kita pesan pizza saja."
Dia terdiam selama beberapa saat sambil melihatku dan aku yang balas melihatnya.
"Tidak dapat dipercaya." Ujarnya dan aku tertawa.
"Mulai sekarang percayalah. Terlebih lagi percaya kalau aku suamimu." Ucapku sengaja memberikan penekanan pada kata percaya.
Kedua bibirnya terbuka sebagian dan itu membuatku tidak tahan untuk tidak menciumnya. Alih- alih bibirnya, aku hanya mencium pipinya. Pipinya terasa lembut dibibirku dan aku harus menahan diri lagi ketika melihat ekspresi yang ditampilkannya.
Menggemaskan.
"Brengsek." Ucapnya tanpa berniat untuk menyembunyikannya. Tatapannya seakan ingin mengulitiku tapi kemudian diurungkannya dan langsung berbalik menuju kamarnya.
"Baiklah. Mandilah lebih dulu sementara aku memesankan pizza. Menurutmu pizza macam apa yang akan kita pesan?" Aku sengaja meneriakkan kalimat itu untuk menggodanya dan langsung dibalas dengan gebrakan pintu yang ditutup dengan keras.
Menyenangkan sekali hidup dengannya.
Aku tertawa. Merogoh kantongku dan mengeluarkan Iphone kemudian memencet sebuah nomor yang langsung dijawab pada dering kedua.
"Thanks Mia, I do owe you today."
Klik.
***

Comments
Post a Comment