MASK- SEPULUH




Lea PoV...

Aku terbangun dengan mendadak dan seketika langsung dihinggapi rasa pening yang luar biasa. Kuarahkan tanganku ke dahi dan mengernyit ketika merasakan benda dingin di kepalaku yang tidak lain adalah sebuah handuk kecil yang sudah basah dan berpaling ketika mataku menangkap sebuah baskom yang terletak tidak jauh dari tempat tidur.

Setelah mandi dengan cukup singkat, ku ambil Iphone yang tergelatak di atas meja samping baskom dan mengecek beberapa pemberitahuan di WA. Salah satunya berasal dari Mia yang kembali menginformasikan jadwal pertemuanku dengan klien hari ini.

Pilihanku hari ini jatuh pada kemeja putih longgar yang dua kancing atasnya sengaja ku lepas dan sebagai bawahan, pilihanku jatuh pada celana panjang krem yang membalut kakiku serta rambut yang di kepang ke samping dengan sulur- sulur kecil.

Setelah mengenakan make up seadanya guna menyamarkan wajah pucatku, ku raih tas beserta map berisi sketsa dan terkejut ketika mendapati Jullian berada di depan pintu kamarku dengan kening berkerut.

"Mau kemana?" Tanyanya.

"Kantor. Apa yang kau lakukan disini?" Aku balik bertanya karena dia seperti menelaah penampilanku.

"Kantor? Bukankah kau masih sakit?"

Kubuka pintu kamarku lebih lebar agar aku bisa keluar dan kembali menutupnya ketika dia masih berdiri ditempatnya tadi.

"Ada pertemuan yang harus kuhadiri?" Jawabku mengambil jarak darinya.

"Pertemuan? Bukannya kau punya asisten? Biarkan saja asistenmu yang mengikuti pertemuan itu." Seketika keningku mengernyit mendengar ucapannya. Ada apa dengannya?. 

"Kau baik- baik saja?" Tanyaku sedikit heran dengan sikapnya pagi ini.
"Aku?" Sebelah alisnya terangkat sempurna. Entah bagaimana dia melakukannya. "Kenapa denganku?"

"Kau tidak apa- apa kan? Maksudku..." ini sulit dikatakan dengan sikap dan tampilannya seperti ini di depanku membuatku kehilangan konsentrasi apalagi aroma kayu manis yang tercium dari tubuhnya membuatku harus sering- sering mengerjap agar sadar, "ini seperti bukan dirimu." Akhirnya aku mengatakannya juga.

Lagi- lagi dia memberiku tatapan yang sulit kujelaskan.

"Itu karena kau terlalu bodoh untuk merawat tubuhmu sendiri."

Ucapannya langsung membuatku terperangah hingga tidak sadar membuka mulut, kaget. Kukerjapkan kedua mataku, kali ini bukan untuk menghilangkan pesonanya tapi lebih kepada untuk menghilangkan rasa terkejutku.

"Dan tidakkah kau seharusnya mengatakan sesuatu padaku?" Tanyanya kemudian tapi aku bisa melihat sudut bibirnya membentuk garis lengkung yang aneh.

"Well, kalau yang kau maksudkan adalah ucapan terima kasih maka kuucapkan terima kasih karena telah merawatku." Aku tidak tahan untuk tidak mengatakannya dengan nada sinis hingga kembali aku melihatnya menyunggingkan senyum yang kurasa untuk meremehkanku. Aku bukan tipe orang yang mudah terpancing oleh seseorang tapi entah mengapa hari ini aku ingin membalasnya. Mungkin demam semalam memutuskan beberapa syaraf di otakku. "Tapi aku juga tidak pernah merasa memintamu untuk merawatku." Lanjutku.

Well, aku tahu ini sudah kelewatan tapi nasi sudah menjadi bubur lagipula ini salahnya. Ada apa dengannya hingga menjadi aneh seperti ini?

"Jadi kau lebih memilih meregang dalam kesakitan daripada menerima bantuan orang lain?" Tidak ada lagi senyum samar di bibirnya. Yang ada seperti dia memandangku tajam penuh intimidasi.

"Aku baik- baik saja." Sergahku marah.

"Itu yang sering kau katakan. Baik- baik saja." Sinisnya. "Kenapa kau tidak bilang saja kalau kau sangat kesakitan?" Lanjutnya dan perasaan aneh itu tiba- tiba menyelusup di lubuk hatiku yang terdalam, membuat mataku terasa panas.
Buru- buru kuhapus perasaan gamang yang tadi sempat kurasakan dan menggantinya dengan senyum sinis juga dingin dariku.

"Kuharap kau tidak lupa alasan kita menikah."

Senyum Jullian mendadak raib dan raut wajahnya seperti diliputi kemarahan hingga aku yakin dia akan melakukan sesuatu padaku tapi ketika ia berbicara, suaranya sangat tenang tanpa ada tanda- tanda kemarahan sama sekali.

"Kuharap kau juga tidak lupa kalau kita masih terikat pernikahan."
Aku mengernyit, tidak mengerti.

"Yang artinya kau masih berada dalam tanggung jawab dan pengawasanku." Aku menganga tidak percaya hingga kemudian dia melanjutkan. "Kuharap kau juga tidak lupa peringatan kecil yang kusampaikan di kamarku tempo hari agar kau menjaga sikapmu."

Apa?!

"Kau tidak bis..."

"Oh tentu saja aku bisa jadi jangan memprovokasiku. Apa kau mengerti istriku?"

Mendadak kepalaku terasa pening dan mengernyit menghilangkan efeknya ketika aku merasakan sebuah tangan dingin di keningku.

"Hentikan!" Kuhempaskan tangannya dariku dan menatapnya tajam.

"Kau masih demam. Ayo kuantar ke kamarmu."

Kakiku langsung mundur untuk menghindari tangannya yang kembali ingin menyentuhku hingga map yang tadi kupegang terjatuh mengeluarkan isinya.

"Aku tidak butuh bantuanmu." Ucapku menahan rasa sakit di kepala.

"Jangan keras kepala lagi, Azalea. Kau masih demam."

"Sudah kubilang aku tidak butuh bantuanmu dan berhenti memanggilku dengan nama itu!"

Kami berdua saling menatap. Aku tidak tahu tapi aku merasa sangat marah pagi ini.

"Baiklah, apa yang kau inginkan?" Tanyanya kemudian.

"Jangan memperdulikanku. Bersikaplah seperti yang biasa kau lakukan."

"Aku lakukan?"

"Ya. Membenciku."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS