MASK- DUA DUA
"Kau tidak apa- apa? Apa kau terluka?"
"Jullian apa yang....?" Aku mengerjap kaget mendapatinya sudah berdiri di depanku.
"Dimana yang sakit?" Dia terus saja meneliti wajah dan lenganku ketika aku melihatnya sedang menatap intens tangan dan lenganku.
Kuikuti tatapannya dan menyadari kalau ada goresan kecil di lengan sebelah kiriku dan jari- jariku yang terluka. Oh, mungkin aku tidak sengaja mendapatkannya ketika mencoba bertahan di atas tadi dan tidak sengaja tergores.
"Dane, berikan kunci mobilmu." Ucapnya tanpa melepaskan pandangannya. Aku melihat Dane merogoh sakunya dan menyerahkan kunci mobilnya yang langsung diterima oleh Jullian.
"Ikut aku." Ujarnya seraya menjauhi kerumunan.
"Lepaskan. Apa yang kau lakukan?" Aku menghentaknya cukup keras hingga cengkramannya terlepas. Rahangnya terlihat menegang. Ada apa dengannya?"
"Jangan membantah lagi, Azalea."
"Tidak. Jika kau tidak memberitahuku kemana kau ingin membawaku." Balasku tegas.
Kami berdua sama- sama saling menatap lama.
"Rumah sakit. Kita akan mengobati lukamu." Jawabnya yang langsung membuatku secara otomatis memutar kedua bola mataku.
"Jangan konyol, Jullian. Goresan remeh seperti ini tidak akan membuatku cacat. Kau tidak perlu membawaku ke rumah sakit."
"Aku tidak ingin kau terkena infeksi."
Aku membelalak. Infeksi katanya? Apa dipikirnya aku terkena rabies?
Aku mengerang jengkel hingga mataku tak sengaja menangkap luka mengangga dari lengannya. Darah masih mengalir keluar dari lukanya hingga aku mengerjap.
"Sial, kau terluka Jullian!" Aku memekik meraih lengannya dan memperhatikan. Apa dia mendapatkannya karena menolongku tadi? Sial.
"Aku tidak apa- apa." Dia berusaha melepaskan diri dari peganganku tapi aku tetap bersikukuh untuk memegangnya.
"Tidak apa- apa katamu?" Tanyaku separuh histeris. "Ini yang kau bilang tidak apa- apa? Biar kuberitahukan padamu luka yang katanya tidak apa- apa. Kau bahkan lebih membutuhkan pengobatan dibandingkan aku!" Mataku berkeliling mencari sesuatu untuk menutupi lukanya dan menyadari kalau aku melupakan tasku. Didalamnya ada kain kasa dan beberapa obat luka. "Dimana kau memarkir mobilmu?" Tanyaku beralih menatap wajahnya.
"Diujung jalan sana." Dia menjawab bingung.
Gila! Sejauh itu? Memang mereka ngapain sih disekitar sini?. Aku mengutuk dalam hati.
Krekkk...
"Apa yang kau lakukan?" Serunya ketika aku merobek kain tipis yang melekat ditubuhku hingga memperlihatkan sebagian pusatku.
"Kita harus menutupi lukamu agar tidak kemasukan debu." Jawabku tanpa memperdulikan tatapannya dan mulai menutupi lukanya dengan kain sobek bekas bajuku. Kuharap ini bisa sedikit membantu.
"Sial."
Aku tidak tahu apa yang membuatnya semakin marah hingga tiba- tiba dia membuka kemeja yang dikenakannya dan menutupi tubuhku.
Seketika mataku membelalak melihat dadanya yang telanjang dan menelan ludah. Kualihkan tatapanku, berusaha mencari objek menarik lainnya tapi bagaimana caranya aku mencari kalau didepanku sendiri ada objek yang paling menggiurkan. Kuambil udara dan langsung segera menyesalinya karena sekarang udara seperti penuh dengan aroma maskulin dirinya.
Aku bisa gila.
"Dengar Azalea, " aku kembali menatap matanya. "Sudah cukup aku menahan diri melihatmu dengan pakaian seperti ini dan aku tidak berniat melihatmu mengekspos tubuhmu lebih jauh lagi." Ujarnya yang mendadak membuat otakku kosong seketika.
*
Aku tidak tahu apa yang ada dalam benak Jullian, tapi sejak kejadian kemarin. Dia tidak henti- hentinya menghubungiku hanya untuk menanyakan keberadaanku. Lukanya tidak parah, syukurlah. Aku akan merasa sangat bersalah kalau dia terluka parah. Pagi tadi dia berangkat ke Denmark dalam rangka bisnis dan akan kembali malam harinya. Dane pun berlaku sama anehnya dengan Jullian karena tiga jam setelah kepergian Jullian, dia juga semakin sering menelponku sambil berbasa- basi menanyakan apa yang kulakukan.
Ngomong- ngomong tentang Jullian. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana jika berada didepannya. Ini seperti aku mendadak terkena serangan jantung tiap kali bertemu dengannya. Maksudku jantungku mendadak berdebar kencang dan aku tidak tahu apa yang menyebabkannya. Aroma maskulin miliknya juga selalu menggelitik indra penciumanku dan kejadian aneh ini baru terasa secara nyata sejak melihatnya telanjang dada kemarin. Apa ada yang salah dengan jantungku? Aku akan mengonsultasikan hal ini pada medical checkku minggu depan.
Hari sudah menjelang sore ketika mendadak pintu ruanganku diketuk dari luar dan menampilkan sosok Carla dibaliknya. Dia tersenyum tapi bukan senyum ramah melainkan senyum seakan meremehkan.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku dingin.
"Sepertinya kau sedang senang. Apa kau mau berbagi denganku?" Tanyanya semanis madu.
"Tidak. Dan selamanya tidak akan."
"Well, sayang sekali. Padahal aku mengharapkan sebuah percakapan manis dari sebuah kakak perempuan. Kudengar itu menyenangkan dilakukan?"
"Oh yeah." Aku tersenyum sinis. "Suatu peningkatan bagimu. Apa yang kau inginkan? Apa kau kekurangan uang lagi?"
"Bingo! Sudah kuduga kau sangat pintar."
Kuangkat kedua alisku. "Bukankah baru dua minggu yang lalu kau kemari dan mengambil kartu kreditku diam- diam?"
"Oh, soal itu. aku terlalu lama menunggu pertemuanmu tidak pentingmu selesai dan kulihat kau tidak membawa tasmu jadi sekalian saja." Jawabnya enteng.
"Lucu sekali karena kau sama sekali tidak mengatakan apa- apa dan baru memberitahukanku dua hari setelahnya. Kalau bukan karena Mia yang memberitahukan tentang kedatanganmu mungkin aku akan mengira ada pencuri aneh yang memasuki kantorku karena cuma uang dan kartu kreditku saja yang raib."
Carla tertawa kecil. "Ayolah jangan pelit seperti itu. Bahkan jika aku mengambil semua uang tabunganmu, kau tidak akan jatuh miskin karena kau punya suami kaya raya."
Mataku seketika menyipit curiga. "Apa yang kau inginkan?"
"Hal yang sama."
"Bukankah kau memiliki kartu kreditku? Kau bisa membelanjakan tiga atau empat toko beserta seluruh isinya dengan itu."
"Well, kau benar tapi kupikir itu sudah tidak bisa lagi."
"Apa maksudmu?"
"Seperti yang kau ketahui, sudah tidak bisa lagi digunakan."
Aku membelalak. "Kau membuatnya apa?"
"Kau tahu, pesta tiap malam di sebuah diskotik terkenal. Makan, minum, pakaian oh dan segala perlengkapan lainnya."
Aku membelalak tidak percaya. Jika kartu itu sudah tidak dapat digunakan lagi maka itu berarti tagihannya sudah melebihi batas maksimun.
"Jadi kau tahukan apa maksud kedatanganku?"
"Tidak bisakah kau mengerti bagaimana aku membayar semua tagihan belanjaanmu nanti?"
"Well, itu bukanlah urusanku." Jawabnya tidak peduli. "Collin mengatakan padaku, sekalipun kau menjual tubuhmu untuk mendapatkan uang. Itu tidak akan membuatmu bisa melunasi hutang."
Kupijit pelipisku yang mulai terasa sakit. Bagaimana ini bisa terjadi padaku?
"Oh yeah, ada pesan dari mama untukmu. Mama mengatakan dia sudah harus mendapatkan kepastian tentang kehamilanmu sebulan ini." Aku kembali membelalak. "Perusahaan tidak bisa menunggu lebih lama lagi kecuali kau menyiapkan uangnya." Lanjutnya tanpa memperdulikan ekspresi di wajahku. "Tidak peduli apakah kau melakukan hal itu dengan Jullian atau orang lain. Perusahaan hanya ingin mendengar kau hamil.
"Apa kalian sudah gila?! Hardikku penuh emosi.
Carla tersenyum miring. "Kalau begitu, kudoakan semoga kau berhasil. Oh sebagai jaga- jaga, kudengar artis itu tidaklah selugu penampilannya jadi hati- hatilah dengannya."
***

Comments
Post a Comment