MASK- ENAM BELAS
Lea PoV...
Aku tahu ada yang aneh dengan dirinya. Sejak dari basement tadi, aku sering mendapatinya sedang memberiku tatapan yang tidak kumengerti. Apa dia benar- benar kesambet penghuni basement tadi? Itulah sebabnya aku tidak pernah mau ke tempat itu sendirian dan lebih memilih bersama Mia. Oh, ngomong- ngomong tentang Mia, apa dia sudah pulang? Harusnya tadi aku menjelaskan padanya?
"Jangan khawatir. Aku sudah menyuruh Dane untuk mengantar Mia pulang."
Aku membelalak. Apa sekarang dia bisa membaca pikiran?
Memikirkannya membuatku mendadak ngeri.
Jullian terkekeh seraya kembali mengacak rambutku. Tuh kan dia memang aneh.
Masih dengan tawanya ia mengalihkan pandangannya dariku kearah dokter yang sejak tadi memeriksa tanganku.
"Bagaimana keadaannya dok?"
Dokter Chen, begitu yang tertulis di dadanya menyunggingkan senyumnya yang menurutku aneh. Okey, mungkin saja aku yang terlalu paranoid tapi jujur itu yang kurasakan. Tidak henti- hentinya ia melemparkan senyuman penuh makna terselubung padaku dan juga Jullian.
"Dia baik Jullian. Hanya sepertinya kedua tangannya perlu dibalut." Jawab dokter itu seraya menuliskan beberapa resep ke selembar kertas.
"Thanks dok."
"Tidak masalah nak. Lagipula aku senang melihatmu kesini dan membawa istrimu."
Aku tidak tahu harus berkata apa ketika sekali lagi dokter itu menatapku sambil tersenyum hangat sementara seorang suster datang sambil membawa perban untuk membungkus tanganku.
Selang beberapa saat kemudian kedua tanganku sudah terbungkus rapi dan aku membayangkan jika saja suster itu membungkus seluruh tanganku hingga pergelangan, mungkin akan membuatnya seperti tangan mumi.
"Sampaikan salamku pada kakekmu."
Aku menoleh dan melihat Jullian sudah berdiri sambil menjabat tangan dokter paruh baya itu dengan akrab.
"Tentu dok. Anda sebaiknya juga jangan terlalu memaksakan diri. Lain kali aku akan mengundang anda untuk makan bersama." Ujar Jullian tersenyum.
"Oh. Aku sudah tidak sabar menunggunya, nak." Balasnya. "Dan usahakan tuk tidak membiarkan tangannya terkena air begitu lama. Itu akan memperlambat proses penyembuhannya."
Jullian mengangguk. "Tentu. Akan kupastikan dia tidak menyentuh air."
Aku hanya bisa memutar mata mendengar percakapan mereka. Entah apa yang membuat mereka sering tertawa seperti itu, menurutku sama sekali tidak ada yang lucu disini.
Kami berdua bersama- sama keluar dari ruangan dokter Chen dan Jullian yang berjalan bersisian denganku.
"Menyingkirlah sedikit, Jullian. Ada banyak jalan di sebelah sana." Keluhku seraya mendorongnya menggunakan pundakku.
"Apa kau tidak dengar tadi dokter Chen mengatakan apa? Aku harus selalu berada disisimu." Katanya seraya menyampirkan lengannya di pundakku.
Benarkah?. "Aku tidak dengar. Kapan dia mengatakan hal itu? Seingatku aku hanya tidak boleh terlalu sering menyentuh air."
Lagi- lagi dia tertawa. Ada apa dengannya?.
"Well, kau terlalu asyik memikirkan sesuatu ketika tanganmu di perban jadi wajar saja kau tidak memperhatikannya."
Aku hanya bisa berguman. Apa memang begitu? Hmm sudahlah. "Oh iya Jullian, dokter Chen itu siapa? Sepertinya kalian berdua sangat akrab." Kuputuskan untuk tidak memperpanjang masalah barusan. Aku tidak pernah melihat dokter Chen ketika acara pernikahan kami dan dia juga tidak hadir ketika acara kedua orang tua Jullian dulu.
"Oh. Dia dokter keluarga. Tepatnya kenalan kakek. Waktu di pernikahan kita, beliau tidak sempat datang karena harus mengikuti konferensi di belanda."
Aku mengangguk. Entah dia bisa membaca apa yang kupikirkan atau tidak, toh tidak akan berefek apa- apa denganku. Kami terus saja berjalan bersisian dengan Jullian yang masih tetap merangkulku hingga berada diparkiran rumah sakit ketika aku tertegun melihat sikapnya yang membukakan pintu untukku.
"Ayo masuk. Aku lapar. Kau mau makan apa?"
Kedua mataku mengerjap mendengar pertanyaannya yang menurutku aneh. Sejak kapan dia menanyakan pendapatku tentang apa yang ingin kumakan?
"Aku tidak lapar."
Aku mengira dia akan terdiam ketika kembali dia bersuara.
"Kalau begitu temani aku."
Hah? Sebenarnya kenapa dengannya hari ini? Beberapa jam yang lalu dia seperti badai yang siap menghancurkan apapun dan di jam berikutnya mendadak dia terlihat senang bahkan tertawa. Kuputuskan untuk tidak akan pernah ke basement itu lagi. Tidak akan pernah!.
"Ada apa? Ayo masuk." Ucapnya dan aku langsung menurutinya. Sedetik kemudian aku nyaris terkesiap ketika tubuhnya hanya berjarak beberapa senti dariku. Aku bahkan berani bersumpah kalau aku sempat melihat senyum samar dibibirnya.
"Kau harus menggunakan seatbelt demi keselamatan dan karena tanganmu terluka jadi aku berbaik hati menolongmu." Sahutnya.
Ingin rasanya aku menendangnya jauh- jauh dan langsung mengambil napas lega ketika akhirnya dia menutup pintu mobilnya dan berjalan menuju kursi kemudinya. Aku menolak untuk melihatnya dan sebagai gantinya aku hanya melihat jalan.
Selang beberapa menit kemudian kami telah tiba disebuah restaurant yang cukup terkenal dan aku bukanlah orang bodoh yang tidak tahu mengenai hal itu.
"Kau mau makan disini?" Kutatap dia lekat.
"Iya." Jawabnya sedikit bingung. "Apa ada masalah?"
Jelas ada masalah. Apa dia tidak tahu itu?.
"Kalau begitu aku akan pulang dengan taksi." Jawabku dan nyaris tidak bisa bergetarak ketika kembali dia menahanku.
"Ada apa? Kau tidak suka?"
"Ini bukan masalah suka atau tidak suka, Jullian. Apa kau tidak lihat bagaimana penampilanku saat ini?"
Aku membandingkan penampilannya dengan penampilanku. Penampilannya masih terlihat normal dengan kaos biasa. Tuhan, kapan pria ini terlihat tidak sempurna dengan apa yang dikenakannya?. Kugelengkan kepalaku guna menghilangkan pemikiran aneh yang barusan hinggap dikepalaku dan menyuruhnya melihat penampilanku.
Aku mengenakan jaket hoodie hitam dan celana pendek lengkap dengan sneaker berwarna abu- abu. Aku bahkan sama sekali belum berganti pakaian dan bisa merasakan kalau tubuhku mulai terasa lengket karena keringat dan dia dengan entengnya membawaku ke tempat ini. Tempat dimana kebanyakan orang mengenakan gaun, jas atau pakaian mewah lainnya. Apa dia berniat mempermalukanku?
"Tidak akan ada yang berani membicarakan dirimu selama kau bersamaku."
Oh. Bagus sekali. "Aku tidak peduli dengan pemberitaan tentang diriku, Jullian. Bukan itu yang jadi permasalahannya."
Sebelah alisnya terangkat, bingung. "Jadi apa?"
Kuhirup udara pelan- pelan karena dirinya. "Tidak bisakah kita mendatangi tempat yang normal saja?"
"Normal? Seperti apa misalnya?" Aku tidak tahu tapi aku bisa merasakan kalau dia ingin tertawa lagi. Ada apa sih dengannya?
"Kau bisa makan pizza, mungkin."
Kedua alisnya mengernyit. "Well, ini sudah hampir jam makan malam, nona dan pizza bukanlah pilihan yang bagus untuk makan malam."
"Bagaimana dengan kafe?" Usulku cepat.
"Kafe?"
Aku mengangguk. "Kau masih ingat kafe tempat Dane mengajakku kan?" Aneh, kenapa dia menatapku seperti itu?. "Well, sepertinya tempat itu lumayan normal."
"Aku tidak suka tempat itu." Tolaknya langsung.
Grrrr Pria ini! Kuhirup kembali udara sore dan mengernyip. "Sebutkan berapa skala laparmu saat ini?"
"Skala lapar? Apa itu?"
"Dari urutan 1 sampai 10. Sekarang laparmu berada di urutan ke berapa?"
"Kau ini mau mengajakku main- main ya?"
"Jawab saja, okey?"
"Baiklah. 9 setengah."
Wow selapar itu?. "Baiklah. Kemudikan mobilnya."
"Kemana?"
"Akan kuberitahukan. Jalankan saja mobilnya sebelum terlambat."
Aku tahu kalau dia masih mau bertanya tapi diurungkannya dan aku cukup senang dia melakukan hal itu. Rasanya hari ini berlalu seperti roller coaster dan aku ingin mengakhirinya dengan bahagia. Lagipula sudah lama aku tidak datang ke tempat itu.
***

Comments
Post a Comment