BTY - TIGA PULUH





Apa yang kau lakukan disini.

Apa yang kau lakukan disini?

Sialan! Apa tidak masalah jika aku sangat mencintainya sekaligus juga ingin melingkarkan kedua tanganku di sekeliling lehernya yang sanga menggoda itu? Pikir Jerry geram. Dan dari semua yang alasan tidak masuk akal dan sangat mencurigakan yang selalu dikatakannya belakangan ini, kenapa dia justru duduk berduaan dengan pria yang bahkan hampir seumur dengan pria yang seharusnya menjadi ayahnya?

"Jerry?" Sekali lagi tatapan itu ditujukan padanya. Bahkan wanita itu sama sekali tidak memperlihatkan raut wajah seperti orang yang bersalah. Hanya tatapan bingung dan tidak mengerti yang ditunjukkan oleh wajah itu.

"Hm," suara itu kembali menyadarkan Jerry dan menoleh pada pria asing yang juga sedang melihatnya, menelitinya. Apa- apaan dia?. "Jadi inilah dia." Pria itu masih menatapnya. "Senang bertemu dengan anda, Mr. Culton."

Dari sudut mata Jerry, ia melihat wanita disampingnya memutar mata dan tampak sangat jengah.

"Dan anda?" Jerry mengatakannya sekedar sopan santun. Dia tidak berniat melepaskan tangan wanitanya, bahkan jika saat ini wanita itu meronta dalam genggamannya.

Pria itu tertawa, sekilas melirik ke sampingku, tempat Cassie yang masih meronta tanpa kentara lalu mengulurkan sebelah tangannya sembari tersenyum.

"Perkenalkan. Saya Peter Callaghan."

Jerry menyambut tangan Peter dengan ramah. "Senang berkenalan dengan anda, Mr. Callaghan."

"Begitu pula dengan saya." Lalu kedua matanya tertuju kearah lengan yang masih Jerry pegang dengan erat. "Sepertinya wanita disamping anda terlihat tidak nyaman."

Jerry ingin berteriak kalau itu bukanlah urusannya tapi melihat sikap tidak nyaman yang ditunjukkan oleh Cassie, akhirnya dia memutuskan untuk mengendurkan pegangannya tapi tetap tidak melepaskan pegangannya. Cassie melotot padanya lalu berpaling kearah Peter.

"Jangan khawatir, Peter. Dia memang kadang bersikap seperti ini," ujarnya. "Tapi dia tidak menyakitiku."

Kapan aku menyakitinya? Jerry bertanya dalam hati

Peter terkekeh, maklum dan itu membuat Jerry semakin curiga. "Sepertinya kalian mengenal sudah lama." Kata Jerry memulai. Biar bagaimanapun dia tidak terlalu mengenal wanita disampingnya itu dalam kurun waktu yang lama. Dan menilik dari percakapan yang tadi dilihatnya ketika dia tidak sengaja berada di tempat ini, jelas sekali mereka berdua tampak sangat akrab. Apakah pernah ada...

"Harus kuakui aku menyukai wanitamu, Mr. Culton." Wanitamu? Apa Cassie pernah membicarakan tentang dirinya? Sejenak Jerry memalingkan wajahnya dan melihat Cassie justru melotot, kali ini kearah Peter- membuat Peter semakin terkekeh senang.

"Tidakkah ada yang memberitahumu, kau terlalu banyak bicara, Peter?" Balas Cassie.

Jerry membelalak. Cassie bahkan mengucapkan dengan nama depan.

"Kau terlalu cantik dan menyenangkan untuk tidak disukai, sayang." 

Seketika Jerry merasakan kemarahaan mendadak menggelegak. Siap memuntahkan ketika Cassie berkata. "Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apa- apa dengan bandot tua itu, jika itu yang saat ini kau pikirkan." Jelas Cassie dan entah sadar atau tidak, yang tadinya Jerry yang memegang tangan Cassie, sekarang malah berbalik dengan Cassie yang mengenggam tangan Jerry. "Dan kau juga tahu kalau perasaanku tidak mungkin dikalahkan semudah itu. Aku masih mencintaimu, Jerry."

Jika ada hal yang paling membingungkan sekaligus membuatnya tercengang, maka saat inilah saatnya. Jerry tidak mengerti. Hanya satu orang yang selalu berhasil membuatnya memiliki perasaan seperti itu. Dan itu hanya dimiliki oleh Cassandra Swan atau jika bisa dikatakan sejak dua tahun yang lalu Cassandra Culton.

"Baiklah selesaikan masalah kalian berdua. Aku akan pergi." Peter bangkit dari duduknya kemudian diikuti oleh Cassie.

"Jadi kau akan kemana lagi?" Tanya Cassie.

"Mengkhawatirkanku, sayang?" Ejek Peter.

"Tidak terlalu. Hanya saja jangan melakukan hal itu lagi," Peter mengangkat sebelah alisnya. "Aku melihatmu dalam perjalanan ke rumah sakit kemarin dan kudengar dari suster yang bekerja disana, kadang kau tidak melakukan apa yang dikatakan."

Peter mengerang. "Akan kuingat untuk tidak mendatangi rumah sakit itu lagi. Mereka sama sekali tidak melindungi pasiennya."

Cassie tertawa. "Mereka melakukannya tapi aku mengatakan kalau aku keluarga."

Sejenak Peter menyipitkan kedua matanya. "Kau mengatakannya? Kenapa? Jangan harap aku akan mengembalikan uang yang kau berikan itu. Aku jelas tidak akan melakukannya."

Lagi- lagi Cassie tertawa. "Jangan khawatir. Aku tidak berniat melakukannya."

"Karena kau memiliki banyak uang?"

"Karena kau lebih membutuhkannya dan jelas aku sudah berjanji."

Tidak ada yang saling berbicara. Peter hanya menatap Cassie lama lalu berpaling kearah Jerry dan mengucapkan. "Kau beruntung memilikinya. Jangan melepasnya karena dia lebih mudah kabur jika sedetik saja kau melepaskan pandanganmu darinya." Lalu dia mengedipkan sebelah matanya pada Cassie yang melotot marah.

**

"Katakan padaku, apa hubunganmu dengannya?" Ujar Jerry setelah lama mereka tidak saling berbicara. Sebenarnya Jerry menunggu wanita itu mengatakan apapun tapi hingga Cassie tiba di depan tempat tinggal wanita itu, Cassie sama sekali belum mengucapkan sepatah kata pun.

"Hanya seorang kenalan dari masa lalu."

"Kenalan dari masa lalu?"

Cassie mengangguk. "Jangan dipikirkan. Bagaimana kabarmu?"

"Apa kau berusaha mengalihkan pikiranku?" Jerry bertanya kesal. Selama seminggu ini dia sudah dibuat kesal dengan segala macam alasan yang dibuat oleh wanita itu dan semakin bertambah kesal karena sikap Cassie justru biasa- biasa saja. Apa ada sesuatu yang terjadi? Tapi apa? "-karena akan kupastikan itu tidak berhasil." Lanjut Jerry dan melihat jika wanita itu menghela napas, semakin membuat Jerry bertambah curiga.

"Apa yang kau inginkan, Jerr?"

Apa katanya? 

Apa yang kuinginkan?

Apa dia serius menanyakan hal itu padaku?

"Kau tahu apa yang kuinginkan."

Lagi- lagi Cassie menghembuskan napasnya, kali ini lebih lama. "Bagaimana kalau sekarang kita tidak lagi bertemu?"

Seperti kembali melihat adegan dimana wanita itu didorong lewat jembatan oleh Matt. Hal itu terjadi lagi tapi kali ini lebih parah seakan disaat yang bersamaan seseorang menahan indra pernapasannya.

"Apa?"

"Kubilang bagaimana kalau kita tidak lagi-

"Aku tahu apa yang tadi kau katakan, Cassandra! Brengsek! Ada apa denganmu?"

Kedua mata Cassie membelalak karena terkejut dan tanpa sadar mundur beberapa langkah tapi Jerry terlalu marah. Tidak mengerti kenapa mendadak sikap wanita didepannya berubah.

"Kau tadi mengatakan kalau kau mencintaiku, kau ingat? Dan sekarang kau tidak lagi ingin bertemu denganku!"

"Jerry, bukan itu-"

"Jelas itu yang tadi kau katakan!" Wajah Jerry memerah karena amarah. Ingin sekali dia menguncang pemilik tubuh wanita yang sedang berdiri dihadapannya atau mungkin menciumnya hingga wanita itu lemas dalam pelukannya tapi apakah dengan begitu itu tidak akan membuatnya semakin menjauh. Lagipula situasi yang dihadapinya tidak sama jika ia melakukannya beberapa tahun yang lalu.

"Aku tidak bisa bersamamu, Jerr."

"Tidak bisa atau tidak mau?" Tuduh Jerry dingin. Tanpa menyadari kalau Cassie baru saja melihatnya dengan pandangan sakit di kedua matanya.

"Aku tidak bisa dan... Tidak mau." Jawab Cassie dengan suara yang sangat pelan.

Jerry mendengus. "Itukah sebabnya kau berusaha menghindariku? Apa sesuatu terjadi? Apa Patricia berulah lagi?" Lalu ia tertawa mengejek. "Kau memang lebih mementingkan orang yang sebenarnya bukanlah keluargamu."

Cassie terkesiap, mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh lalu menghembuskan napasnya. "Maafkan aku."

Ini bukanlah yang diharapkan oleh Jerry. Tidak saat ini. Tidak selamanya.

Tanpa peduli, Jerry berjalan memasuki ke tempat yang selama ini ditinggali oleh wanita itu. Tahu kalau baik Patricia maupun Betrice berada didalam rumah.

"Jerry! Apa yang kau lakukan?" Desak Cassie berusaha menghentikan tapi terlambat, Jerry sudah menyentak pintunya dari luar dan langsung mendapatkan pandangan bingung dua orang.

"Mr. Culton?" Betrice yang pertama bersuara. Patricia tampak ketakutan dibelakang Betrice.

"Demi Tuhan, Jerry! Apa yang kau lakukan?!" Bentak Cassie dalam amarahnya.

"Biar kujelaskan satu hal pada kalian," Jerry mengatakannya tanpa sama sekali melepaskan arah pandangannya dari Betrice maupun Patricia. "Wanita yang kalian selama ini kalian panggil sebagai Anna bernama asli Cassandra. Sebelum ini dia adalah seorang pianis terkenal di New York dan juga istriku sebelum kejadian yang tak terduga terjadi." Dilihatnya Patricia terkesiap dibelakang. "Untuk mempermudah ini, aku memiliki bukti yang menyatakan dia adalah Cassandra dan jika kalian membutuhkan pengacara untuk melawanku, maka akan kupastikan kalian akan kalah dengan sangat memalukan." Ucap Jerry dengan nada sangat dingin.

"Pengacara?" Lagi- lagi Betrice yang bersuara, suaranya tercekat sekaligus kebingungan terlihat jelas di wajahnya sembari melihat Cassie. "Apa yang anda...?"

"Kukatakan sekali lagi. Percuma saja kalian menyembunyikannya dariku maupun dari istriku. Itu tidak akan ada gu..."

"Jerry!" Perkataannya seketika dihentikan oleh teriakan Cassie. Kedua tangannya gemetar dan wajahnya merah padam karena, entah bagaimana Jerry bisa merasakan kalau wanita itu berusaha menahan emosinya.

"Cassandra? Sayang?" Jerry ingin melangkah tapi langsung dihentikan dengan gerakan tangan itu.

"Berani- beraninya kau!" Cassie menatap marah padanya. "Sejak dulu kau tidak pernah berubah." Sejak dulu? "Tidak peduli dengan apa yang dirasakan orang lain. Kau selalu bersikap sombong dan selalu menganggap dirimu lebih daripada yang lain," jeda beberapa saat hingga Cassie melanjutkan. "Tahukah kau apa masalahmu? Kau menganggapku seolah aku tidak ada. Kau bertunangan denganku karena memang itulah yang ingin kau lakukan, " sejenak Cassie mengambil napas panjang. "Tapi entah kenapa aku justru terjatuh dan malah mencintaimu padahal aku tahu kau tidak mencintaiku waktu itu."

Jerry tercengang. Sungguh- sungguh tercengang. Jika wanita dihadapannya mengatakan tentang pertunangan mereka yang terjadi beberapa tahun yang lalu maka itu berarti...

"Cassandra...kau...?" Rasanya Jerry ingin berlari dan memeluk tubuh dihadapannya serta mungkin menciumnya saking senangnya karena pada akhirnya wanita itu mengingat semuanya dan berhenti. Cassie tidak tampak seperti orang yang senang dengan itu tapi nyaris tersiksa.

Lalu Cassie menatap kedua mata Jerry, dan itu cukup mengirimkan sinyal- sinyal akan bencana yang sebentar lagi akan muncul.

"Maafkan aku, Jerry tapi kurasa hubungan kita sudah berakhir."

Jerry mengerjap hingga beberapa kali. Tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

"Cassie?"

Jerry berbalik. Betrice bahkan memanggil Cassie dengan nama yang sebenarnya dan itu berarti mereka sudah diberitahu oleh wanita itu.

"Tidak apa- apa, Betrice. Aku sudah memikirkannya." Ujar Cassie dengan tenang.

"Aku tidak." Mendadak Jerry bersuara, memandang Cassie lagi. "Jika kau sudah mengingat semuanya termasuk pernikahan kita maka sudah pasti kau juga tahu kalau kau masih terikat pernikahan denganku. Kau masih berstatus sebagai istriku."

"Tidakkah kau mengerti Jerry?" Cassie mengerang tanpa daya. "Aku tidak bisa kembali padamu."

"Kenapa tidak bisa?"

"Aku tidak bisa. Aku merasa sakit ketika pada akhirnya aku mengingat semuanya ketika terbangun di apartemenmu waktu itu," Cassie memperhatikan ketika Jerry terbelalak. Jelas Jerry tidak menyangka kalau ingatan Cassie kembali tepat dimana dia bersama dengan wanita itu ketika wanita itu terbangun dengan teriakan yang sangat menguncang. Andai saja kala itu Jerry tahu maka bukan tidak mungkin Jerry akan menunggu selama itu untuk menemui Cassie. "Maafkan aku," ucap Cassie lagi. "Aku mencintaimu. Sungguh, dan aku juga senang telah menghabiskan waktu bersamamu tapi," kali ini air mata mengalir ke pipi Cassie dan Jerry menyadari inilah yang paling tidak diinginkan untuk diingat oleh wanita itu. "- tapi aku tidak bisa memaafkan diriku karena tidak bisa mempertahankan calon anak kita waktu itu. Maafkan aku." Lalu Cassie jatuh berlutut karena isak tangisnya yang semakin deras. "Aku sungguh- sungguh minta maaf. Maafkan aku."


***


Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS