MASK- EMPAT




Jullian PoV.

Sial, kenapa disaat seperti ini hanya dia yang ada dalam pikiranku. Harus kuakui dia memang cantik dengan rambut yang berwarna merah yang tampak sesuai dengan kulitnya yang putih mulus tapi satu hal yang tidak bisa kulupakan adalah ketika tanpa sengaja aku melihatnya memutar mata. Tunggu, mestinya itu membuatku marah karena ada orang yang berani mengejekku secara tidak langsung tapi kenapa ketika dia melakukannya itu tampak well, menggemaskan.

Apa yang sudah dia lakukan padaku?

"J, bisakah kita makan? Aku lapar."

J adalah nama panggilan yang diberikan Caroline padaku sementara aku memanggilnya dengan nama Carol. Nama yang cantik secantik dirinya.

"Baiklah. Aku tahu tempat yang bagus untuk kita berdua." Ucapku dan dari sudut mataku dia menatapku dengan mata yang berbinar dan mengecup pipiku, membuatku luar biasa senang.

"Setelah itu kita ke apartemenku ya, aku sudah sangat merindukanmu."

Tentu saja. "Aku juga sudah sangat merindukanmu." Balasku seraya mengenggam sebelah tangannya.

Tidak butuh waktu lama bagi kami ketika sampai ditempat yang aku tuju ketika aku mendengar suara tawa yang tidak asing di telingaku dan melihat Dane sedang tertawa dengan seseorang yang tidak bisa kulihat. Sepertinya Dane sangat senang berbicara dengan lawan bicaranya itu.

"Lho, bukannya itu sepupumu, J? Dane? Ayo kita dekati."

Aku sebenarnya tidak ingin. Biar bagaimanapun aku tidak ingin Dane menganggu acaraku dan Carol nantinya tapi sudah terlambat Carol sudah menyeretku mendekati meja yang di sudut.

"Dane, apa yang...?" Pertanyaanku terhenti ketika sekilas aku menangkap penampilan yang tidak asing. Apa yang dia lakukan disini?

"Kalian disini juga?" Dane sepertinya tidak terlalu terkejut melihatku memergokinya. Tunggu, sebenarnya apa yang kupikirkan?. "Apa kalian baru tiba atau sudah selesai?" Tanya Dane kemudian.

"Kami baru saja tiba. Kau?" Tanya Carol balik.

"Oh. Kami baru saja selesai memesan. Bagaimana kalau kalian bergabung bersama kami? Tidak apa- apa kan, Lea?"

"Ya. Tidak apa- apa. Kaulah yang memaksaku kemari." Jawab Lea cuek sambil memainkan tempat garam.

Kupersilahkan Carol untuk duduk lebih dulu kemudian diikuti aku yang duduk disamping Dane. Dane dan Lea duduk saling berhadapan dan itu membuatku sedikit merasa tidak suka. Apa yang membuat Dane tertawa seperti tadi? Apa yang sudah mereka bicarakan?

"Jadi Carol, bagaimana filmmu?" Tanya Dane membuka suara.

"Baik. Dua bulan lagi akan ada primeirenya. Kau akan datang melihatku kan, J?" Tanya Carol padaku.

"Tentu saja, sayang. Aku akan selalu datang jika kau yang minta." Aku menjawabnya tersenyum.

"Dan Dane, kau bisa mengajak Lea untuk pergi bersamamu. Tiketnya akan kuberikan pada J nanti." Ujar Carol lagi dari sudut mataku, aku bisa melihat Lea yang sedang melotot pada Dane.

"Tentu saja. Lea pasti akan senang." Ucap Dane terkekeh.

Aku bisa melihat Lea mendengus tidak suka. Ada apa dengan gadis ini?

"Kau tidak suka menonton film?" Akhirnya aku bertanya karena penasaran.

Baik Dane maupun Carol melihatku dengan pandangan bingung tapi fokusku hanya terletak pada gadis yang berada didepan Dane. Belum sempat ia membuka suara, pesanannya tiba- tiba datang kemudian disusul dengan pesananku dan Carol beberapa menit kemudian. Carol hanya memesan salad, yang menurutku agak aneh karena tadi dialah yang mengatakan kalau dia lapar.

"Kau yakin hanya ingin makan itu sayang?" Tanyaku sambil mengarahkan piringku yang berisi stek ke depannya. Stek di kafe ini memang yang paling terkenal.

Sejenak Carol memandangku. "Aku perlu menjaga bentuk tubuhku, J." Jawabnya lalu mengarahkan matanya ke penjuru meja. Ku ikuti arah pandangannya yang ternyata mengarah pada meja Lea yang ternyata sudah memotong- motong daging steknya, sama sekali tidak terganggu dengan arah pandangan kami.

"Apa?" Tanya Lea seperti baru menyadari kehadiran kami. "Aku hanya bersikap sopan pada orang yang meneraktirku. Itu saja." Jelasnya yang langsung membuatku mengarahkan pandangan kearah Dane yang diam- diam tertawa. "Bukannya kau lapar? Kenapa tidak makan?" Tanyanya lagi seraya mengarahkan matanya pada Dane.

"Kau sepertinya yang tampak kelaparan." Jawab Dane yang lagi- lagi membuat Lea memutar matanya.

"Terserahlah." Balasnya seraya memasukkan potongan dagingnya kedalam mulutnya.

"Jadi Lea, bagaimana rasanya tinggal bersama dengan J?"

Carol memang tahu tentang pernikahan bisnis yang kujalani dengan Lea. Dia juga tahu kalau aku tidak mencintai wanita yang telah berstatus sebagai istriku saat ini tapi aku ragu apakah Carol memang benar- benar tidak apa- apa dengan itu?

Lea mengendikkan bahunya, tidak peduli. "Entahlah hmm aku harus memanggilmu apa? Miss Simpson?"

"Caroline saja."

"Okey, Caroline. Hmm pertanyaanmu tadi. Well, aku tidak tahu harus menjawab apa. Kau tahukan pernikahan apa yang aku dan Jullian jalani." Jeda sesaat. "Kami bahkan tidak tidur bersama dan jarang bertemu jadi ya, entahlah."
Aku tertegun. Apa yang dikatakannya memang benar tapi ada satu hal yang membuatku tidak nyaman. Cara dia mengatakannya seakan membuatku, entahlah... terluka?

"Jadi kau tidak pernah melihat wajah bangun tidur Jullian atau Jullian yang melihatmu ileran di tempat tidur?" Tanya Dane yang langsung membuatku ingin meninju bibirnya.

"Sejujurnya Dane, aku tidak ileran dan ya. Aku tidak pernah melihat wajah bangun tidur Jullian tapi apa peduliku? Toh, semuanya terlihat sama." Lagi- lagi ketidakpeduliannya membuatku kesal.

"Apa kau mau mencobanya denganku?" Tanya Dane kemudian.

Aku berusaha untuk tidak mengertakkan gigiku atas pertanyaan sepupuku barusan.

"Mencoba apa?" Tanya Lea bingung.

"Tidur denganku dan kita lihat apakah kau akan tetap mengatakan kalau semuanya terlihat sama atau tidak." Ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya pada Lea.

Dasar Dane sialan!

"Kau bercanda ya?"

"Tidak."

"Kalau begitu kau sudah sinting."

"Sinting?"

"Ya. Sinting. Sebutkan alasan kenapa aku harus melihatmu tidur?"
"Karena itu mungkin bisa membuatmu berubah pikiran."

Kulihat dia menghembuskan napasnya, "terserahlah." Jawabnya kembali acuh.

"Jadi apa itu berarti kau setuju tidur denganku?" Tanya Dane dengan nada riang.

Okey. Pembicaraan ini sudah cukup.

"Jam berapa kau selesai bekerja?" Tanyaku pada satu- satunya gadis berambut merah.

Sekilas ia melirik jam di tangannya. "Kurasa sudah selesai. Aku perlu mengambil tas di kantor dulu. Kenapa?"

"Kau tidak membawa tas?"

"Bahkan ponselku uga ketinggalan. Dane menyeretku kemari." Rutuknya seraya melemparkan tatapan penuh tuduhan pada sepupuku dihadapannya.
Sial. Apa sih yang dia pikirkan? Apa dia tidak tahu salah satu kegunaan alat komunikasi itu?

"Tunggu aku di kantormu. Kita akan pulang setelah aku mengantar Carol kembali ke apartemennya." Ujarku.

"Lho J, bukannya kita...?"

"Maafkan aku sayang, aku baru ingat kalau kakekku tadi pagi menelponku dan memintaku datang bersama Azalea. Istirahatlah malam ini. Kita bisa melanjutkan acara kita lain kali." Jelasku tanpa memperdulikan tatapan heran Lea dan Dane serta tatapan kecewa gadisku. Aku bahkan kehilangan nafsu makan saat ini dan aku tidak tahu alasannya apa.

***

Comments

  1. Julian akhirnya cemburu, thanks dane! 😎

    ReplyDelete
  2. Julian akhirnya cemburu, thanks dane! 😎

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS