BTY - TIGA PULUH SATU
Cover made by greyanakim@gmail.com
*
Kadang kala kematian terasa lebih baik jika dibandingkan melihat seseorang yang teramat sangat kau cintai lebih terlihat seperti mati. Hidup tapi mati, itulah yang dipikirkan Jerry setelah melihat Cassie waktu itu.
Siapa yang menyangka jika semuanya terjadi lebih daripada yang dulu pernah dikiranya. Cassie benar- benar hampir mirip dengan keadaan Lea dulu dan itu lebih menyakitkan daripada yang bisa ditanggungnya.
"Cassie," ujar Jerry pelan seraya ikut menunduk untuk meraih tubuh wanita itu, tapi dengan sangat pelan. Jerry melihat bagaimana rapuhnya Lea dulu ketika ingatannya kembali. Bagaimana frustrasinya Julllian kala itu dan dalam hati bertekad untuk tidak mengalah akan takdir yang terjadi pada mereka. "Sayang," Jerry meraih kedua pundak Cassie dan merasakan kalau kedua bahunya gemetar.
Sial. Rutuk Jerry dalam hati. Cassie masih terisak dan itu membuat Jerry tidak tahan untuk tidak merengkuh tubuh wanita itu dalam dekapannya. Merasakan sekaligus memberikan dukungan, meskipun Jerry tidak tahu bagaimana harus melakukannya.
"Sstt, sayang. Tidak apa- apa." Ucap Jerry mengusap rambut Cassie dengan lembut. "Semuanya akan baik- baik saja. Kau bisa melakukannya. Kita bisa melakukannya."
"A-aku b-benci." Isak Cassie. "Ini semua sa-"
"Sstt, tidak apa- apa, sayang." Jerry mengecup puncak kepala itu. "Kita akan mengatasinya."
"Tapi bagaimana?" Mendadak Cassie melepaskan diri dari pelukan Jerry. Mata dan hidungnya memerah karena air mata. "Ini semua salahku. A-aku membunuh anak kita. Kau seharusnya melepaskanku, Jerr. Harusnya kau tidak perlu sesengsara ini karena aku. Aku tidak layak bagimu. Kau-"
Seketika Jerry mengecup bibir merah itu, menghentikan kalimat yang akan terlontar dari bibir Cassie. "Aku mencintaimu." Katanya sembari menatap kedua mata milik Cassie, lekat. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu dan kau layak untukku. Bukankah itu yang selalu kau katakan padaku dulu?"
"Tapi-"
Lagi- lagi Jerry mengarahkan bibirnya ke bibir Cassie, kali ini lebih lama daripada yang sebelumnya.
"Kau layak." Katanya. "Dan jika yang kau khawatirkan tentang anak kita. Aku bisa memberimu anak sebanyak yang kau inginkan. Berapa banyak yang kau inginkan? Tiga? Lima? Atau kau mungkin mau membuat kesebelasan untuk kita. Kau tahu aku mampu melakukannya." Dan dia tersenyum. "Aku bisa memberikan sebanyak yang kau minta dan aku akan berusaha semampu yang kubisa untuk membuatnya menjadi nyata."
"Jerry," Cassie mengerang, frustrasi sekaligus geli. "Aku tidak mungkin bisa."
Jerry tersenyum, kembali memberikan ciuman. "Kau bisa. Itulah gunanya aku disini. Untuk memberimu anak."
Tanpa sadar Cassie tertawa dan Jerry merasa jiwanya seakan terangkat mendengar tawa itu lagi. Cassie sangat cantik dengan air mata yang seperti mutiara dan hidung yang memerah seperti tomat ceri dan bibir itu... Entah kenapa Jerry ingin mengulumnya, membuatnya bengkak dan memerah karena intensnya ciuman mereka.
"Aku sangat mencintaimu, Cassandra. Selamanya akan begitu."
"Aku juga mencintaimu, Jeremiah Culton. Sepanjang aku bernapas." Dan semuanya sudah cukup untuk mereka berdua hingga memutuskan untuk mengakhirinya dengan ciuman yang terasa hampir selamanya.
**
beberapa bulan telah berlalu sejak kejadian itu. Segalanya kembali seperti semula. Monica terisak tak terkendali ketika akhirnya mengetahui kalau putrinya telah sepenuhnya kembali padanya, begitu pula dengan Tessa.
Lea, Claire beserta Elena merayakan kembalinya Cassie dalam keluarga mereka dengan mengadakan pesta besar- besaran yang kadang kala membuat Cassie melonggo. Kesederhanaan yang pernah dirasakannya ketika hilang ingatan dulu masih membekas dan masih tidak menyetujui apapun yang mereka bertiga lakukan.
Jerry semakin intens menjaga Cassie, seakan jika sedetik saja dia melepaskan istrinya itu dari pandangannya, maka Cassie akan tertimpa sesuatu dan semakin protective ketika mengetahui kalau Cassie sedang hamil. Hal itu selalu diucapkannya dengan rasa bangga bahwa betapa mengagumkannya stamina yang dimilikinya hingga kemungkinan bisa saja istri yang sangat dicintainya itu mengandung anak kembar. Cassie masih ngeri bagaimana berat badannya semakin bertambah seperti sapi, belum lagi dia seakan ingin memakan seluruh isi kulkas setiap kali dia terbangun di pagi hari.
"Jangan khawatir. Semuanya itu normal." Ujar Elena suatu hari ketika Cassie menceritakan tentang kekhawatirannya jika melahirkan nanti.
"Aku mungkin akan menyalahkan Jerry jika sewaktu- waktu aku akan meledak karena perut ini. Demi Tuhan, aku baru hamil 6 bulan tapi seakan aku akan melahirkan saat ini juga."
Elena tertawa tapi sebelum dia membalas kalimat Cassie, Jerry sudah mendahului.
"Jangan khawatir, sayang." Jerry mengecup puncak kepala Cassie sebelum melanjutkan. "Kucing melahirkan empat hingga lima anak setiap kali dia hamil tapi tidak pernah membuatnya meledak."
Cassie melotot, sementara ketiga anak Elena dan Brandon beserta Patricia terkekeh karena geli. Patricia memutuskan untuk tetap bersama Betrice dan menolak untuk tinggal dengan Cassie atau keluarga Swan. Cassie masih berusaha untuk mengunjunginya atau tetap berhubungan melalui telepon dan menanyakan berbagai macam hal. Setidaknya Cassie sudah menepati janjinya untuk tetap menjadi kakak meskipun pada kenyataannya tidak seperti itu tapi itulah yang seharusnya dilakukannya. Lagipula Patricia adik yang menyenangkan terlepas dari sikap egoisnya di masa lalu.
"Aku bukan kucing." Geram Cassie jengkel
Jerry tersenyum. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku menikahimu." Lalu sontak Patricia tertawa diikuti semua orang yang mendengarnya.
"Aku akan membiarkanmu tidur diluar." Cassie menatap suaminya jengkel.
Sekali lagi Jerry tersenyum. "Apa kau yakin? Seingatku kau bahkan tidak bisa tidur jika aku tidak memelukmu."
Luar biasa. Erang Cassie benar- benar jengkel. Entah bagaimana sikap menjengkelkan pria itu semakin menjadi- jadi dan semakin parah setiap detiknya.
"Kau beruntung aku sangat menyukaimu." Akhirnya Cassie berucap pelan.
"Menyukaiku? Aku bahkan menyembahmu dengan seluruh hidupku."
Seperti api yang disiram oleh air, Cassie tertawa dan mendapatkan ciuman singkat dari Jerry.
"Kau tahu, aku selalu menyukai tawamu." Katanya tersenyum.
"Aku mencintaimu, Mr. Culton." Cassie mengarahkan bibirnya ke bibir Jerry dan mereka berciuman dengan sangat lama hingga suara jengah menghentikan aktivitas mereka berdua.
"Tidak adakah salah satu dari kalian yang menyadari jika kami semua masih ada disini? Ini bahkan lebih parah dari film semi yang biasa ku ton- oopsss!" Seketika Patricia berhenti ketika melihat kedua mata kakaknya yang menyipit. "Sebaiknya aku pergi. Julia tadi menghubungiku untuk yah, semacam itu. Jika kau tahu maksudku. Sampai nanti kalian semua. Aku mencintaimu, Case. Sungguh dan aku mengidolakan suamimu. Dia mengajariku dan membelikan mobil yang sangat bagus. Oh! Kurasa aku sudah mengungkapkan banyak rahasia. Sudahlah. Aku minta maaf, Jerry dan Case, kuharap kau tidak serta merta memasukkan suamimu kedalam oven. Biar bagaimanapun dia hanya yah, berbuat...oh sudahlah." Lalu Jerry melihat Patricia seperti berlari dengan kecepatan angin, yang mau tidak mau hendak membuatnya tertawa tapi terdiam ketika menyadari tatapan setajam belati dari arah sampingnya.
"Well," Jerry meneguk ludahnya, agak bimbang. "Tak kusangka Patricia akan mengungkapkan semuanya dalam satu kali tarikan napas."
"Yah, dan itu berarti banyak hal."
Diam- diam Jerry melirik kesekelilingnya dan mendapati bahwa semua orang sudah menghilang. Bagus. Rutuk Jerry dalam hati, bahkan dia sempat melihat Jullian yang menyunggingkan senyum sinis sebelum ditarik oleh Lea kearah dapur. Tidak heran para pria itu mengatakan jangan berusaha membangunkan beruang yang sedang hibernasi... Atau hamil? Jerry memutuskan untuk tidak memikirkan hal selanjutnya. Wanita dihadapannya ini adalah istrinya dan tentu saja bukan beruang yang sedang hibernasi meskipun memang sedang hamil. Setidaknya istrinya itu bukan semacam yah, seperti itulah.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Mencari cara untuk menyelamatkan diri." Jerry menjawab tanpa sadar dan terdiam ketika kedua mata Cassie semakin menyipit kearahnya.
"Dan bagaimana kau akan melakukannya?"
"Entahlah. Sedang memikirkannya. Ada ide?" Jerry sebenarnya hanya ingin meredakan ketegangan tapi sungguh rasanya sulit berpikir jika dihadapkan dengan wanita cantik apalagi jika itu istrinya.
Cassie mendengus. "Entah bagaimana aku bisa menyukaimu, Jerr." Ujar Cassie mengerang. "Kau benar- benar tak tertolong lagi."
Mengikuti nalurinya, Jerry menarik tubuh Cassie, membalikkannya hingga dia bisa memeluk tubuh itu dari belakang sementara kedua tangannya di tempatkan di sekeliling perut Cassie dengan sikap protective.
"Jangan coba- coba, Culton." Ancam Cassie dalam pelukan Jerry yang terasa sangat nyaman.
"Jangan apa?" Jerry mendaratkan ciuman- ciuman kecil disepanjang leher dan tulang leher Cassie, membuat tubuh Cassie menggigil karena hasrat. "Sepertinya disini sangat tegang. Mau kulakukan sesuatu untuk membuat santai?"
"Dimana? Disini?"
Jerry tersenyum. "Pasti akan menyenangkan melihat mereka menonton kita tapi aku tidak begitu yakin dengan orang tuaku juga orang tuamu."
"Tapi kita tidak bisa meninggalkan mereka."
"Tidak. Jika mereka tidak tahu kemana kita pergi."
"Mereka akan mencari kita."
"Kita akan kembali sebelum mereka mencari kita." Lalu Jerry mengecup leher Cassie sebelum membalikkan tubuh itu kearahnya. "Bagaimana?"
Kedua mata Cassie mengerjap hingga beberapa kali lalu berkata. "Aku tidak ingin bertanggung jawab dengan apa yang-"
Jerry langsung mengecup bibir wanita itu, menghentikannya. "Aku yang akan bertanggung jawab. Serahkan semuanya padaku." Katanya sembari tersenyum.
Cassie terdiam, sejenak berpikir dan berkata. "Aku akan menyerahkan diriku padamu."
"Bagus. Hanya itu yang ingin kudengar." Lalu Jerry membawa Cassie menyusuri koridor yang menuju kamar mereka dan menutupnya setibanya mereka didalam.
"Jangan berisik dan biarkan aku yang melakukan semuanya." Ujar suara Jerry serak.
"Asal jangan menghancurkan pakaianku, aku tidak mau harus mencari alasan jika harus berganti pakaian seperti yang dulu kau lakukan."
Jerry tersenyum. "Itu karena kau sangat cantik hingga aku tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya."
"Aku tersanjung, Culton." Cassie ikut tersenyum.
"Seperti yang kukatakan tadi. Aku menyembahmu, Mrs. Culton dan semakin menyembahmu dengan memiliki ini." Katanya seraya manangkup kedua tangannya di sekeliling perut Cassie dan menciumnya dengan sangat lembut. "Aku sungguh berterima kasih pada Tuhan karena telah mengembalikanmu padaku. Kau jantungku. Kau jiwaku. Dan kau belahan jiwaku. Terima kasih karena mau kembali padaku, Cassandra. Aku mencintaimu." Dan Jerry mencium Cassie dengan sangat amat intens hingga rasanya bintang- bintang mengelilingi tubuh mereka dan terhempas kembali ke bumi.
"Aku mencintaimu, Cassandra."
"Aku mencintaimu, Jerry."
T A M A T

Finally jerry, kau menemukan kebahagian 😍
ReplyDelete