MASK- EMPAT BELAS
Jullian PoV...
Aku tidak tahu ada apa dengannya. Kupikir hubungan kami sudah membaik beberapa hari ini tapi ternyata perkiraanku salah. Kami berdua tidak akan pernah baik- baik saja karena faktanya wanita itu tidak akan pernah bisa dimengerti.
Kau bebas bertemu dengan wanita manapun diluar tapi kau melarangku bertemu pria lain?
Pertanyaannya seminggu yang lalu benar- benar membuatku ingin tertawa. Apa sekarang dia mulai mempermasalahkan hubunganku dengan Carol? Bukankah sejak awal dia sudah mengerti seperti apa status hubungan kami? Jadi kenapa dia harus mengatakan kalimat tidak masuk akal itu kemarin? Kuacak rambutku kesal, hanya satu orang yang bisa membuatku uring- uringan seperti ini dan dia adalah wanita yang bernama Azalea Smith. Yah, dan sekarang menyandang status sebagai istriku.
Istri?
Tunggu, apa aku baru saja mengakuinya sebagai istriku? Mendadak aku tertawa. Sial, aku pasti sudah gila karena memikirkannya sebagai istriku. Pernikahan kami tidak lebih sebagai bisnis jadi tidak mungkin aku memikirkannya sampai sejauh itu.
"Hei, kau masih disana?"
Kehadiran Dane diruang ruanganku seketika membuyarkan segala lamunan tentang wanita itu. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku dingin.
Aku tahu dari caranya memandangku. Dia berusaha mencari tahu dan aku terlalu malas untuk menjelaskan. Aku tahu tidak lama lagi dia akan menerkanya.
"Kau kelihatan marah." Ucapnya.
Aku tahu jadi enyahlah. Aku terlalu malas bertemu dengan siapa- siapa hari ini bahkan pertemuanku dengan Carol beberapa hari belakangan ini hanya berlangsung sebentar. Aku benar- benar kehilangan minat dengan segalanya.
"Apa ada hubungannya dengan Lea?" Kedua mataku menyipit mendengar pertanyaannya barusan.
"Sudah kuduga ini berkaitan dengannya. Apa kalian bertengkar? Padahal kupikir hubungan kalian sudah sedikit membaik melihat kau merawatnya waktu sakit dulu."
"Apa kau akan terus membicarakannya?"
"Oh ayolah Jullian. Ceritakan apa yang terjadi. Beberapa hari yang lalu suaramu terdengar tenang ketika merawat Lea. Itu seperti kau menyukai jika bersamanya."
Apa maksudnya itu?
"Kurasa kau salah paham. Aku hanya tidak ingin melihatnya sakit."
"Apa bedanya? Toh, kau tetap berada disisinya. Kau bahkan membatalkan semua pertemuan penting hanya karena ingin merawatnya."
"Itu karena aku punya tanggung jawab padanya."
"Tanggung jawab ya?"
Aku tidak tahu tapi aku merasa kalau Dane sama sekali tidak mempercayai apa yang baru saja kukatakan.
"Terserahlah jadi bagaimana keadaannya?" Tanyanya kemudian setelah lama memberiku tatapan penuh arti.
Kuangkat bahuku acuh. "Mana kutahu. Kau bisa melihatnya di kantornya." Jawabku seraya kembali menekuni beberapa file yang sudah kutinggalkan.
"Dia sudah kembali bekerja?"
"Sepertinya begitu." Kuangkat lagi bahuku bersikap seakan tidak peduli.
"Kau membiarkannya?"
Okey. Sekarang aku semakin kesal dengan sikap Dane hari ini. Kalau dia mau bukti kenapa dia tidak langsung melihatnya saja. Kuangkat kepalaku dan menatapnya jengkel. "Kalau kau begitu perhatian padanya. Cek atau hubungi dia. Kau punya mobil atau telpon atau apapun itu untuk mencari tahu keadaannya. Kita hidup dijaman yang serba modern. Pergunakan itu." Kataku jengkel.
Sejenak Dane menatapku diam hingga kedua bibirnya membentuk seulas senyum. "Itu kalimat terpanjang yang pernah kudengar jika kau sedang kesal. Sepertinya kau berubah banyak beberapa hari ini."
Sepupu sialan.
"Mau ke Gym?" Tanya Dane tiba- tiba.
"Apa?"
"Sudah lama kita tidak ke Gym. Badanku rasanya sudah mulai kaku." Keluhnya.
Kedua alisku bertaut. Sepertinya tubuhku perlu sedikit aktivitas fisik dan mungkin sedikit pelampiasan bisa membuat kejengkelanku tentangnya sedikit tersalurkan.
"Baiklah. Ayo." Jawabku.
Dane tersenyum penuh semangat. "Kurasa aku ingin main tenis. Bagaimana menurutmu?"
*
Sudah tiga jam kami bermain tenis dan harus kuakui saran Dane yang mengajakku kesini cukup membantu tapi sebagai gantinya Dane memborbardirku dengan segala pertanyaan seputar itu disela kami bermain.
Aku sebenarnya tidak berniat untuk menyembunyikan hal itu pada makhluk yang juga berstatus sebagai asisten plus sepupuku ini. Biar bagaimanapun dia akan tahu juga dan dia cukup pintar untuk membuatku menumpahkan semua kekesalan yang kurasakan. Salah satunya dengan bermain tenis seperti ini.
Kami berdua sedang bersandar disisi tembok, kelelahan sehabis bermain tenis ketika dia bertanya seraya melemparkan sebotol minuman kearahku yang dengan sigap kutangkap.
"Jadi kalian berdua lagi marahan?"
Tempat latihan Gym ini berada di lantai paling atas dan tidak sembarang orang yang bisa menjadi anggota. Kebanyakan hanya orang- orang tertentu saja. Selain karena biaya anggotanya yang mahal tapi juga didukung oleh ruang privasi dan fasilitas yang sangat lengkap. Tentu saja aku dan Dane memilih menjadi anggota VVIP. Selain karena kami berdua sama- sama menginginkan ruang pribadi, kami juga tidak menginginkan orang lain bisa mengakses atau menganggu kami apalagi jika kami sedang bermain.
"Siapa bilang kalau aku marah padanya?" Tanyaku mendelik.
Dane terkekeh. "Baiklah. Kau tidak marah. Kau hanya kesal, begitu?"
"Kau akan kesal kalau kau melihat sikap keras kepalanya." Balasku. "Aku sudah berbaik hati menawarkan untuk mengantarnya kemanapun dia ingin pergi tapi dia malah seenaknya menuduhku telah bersikap sok peduli padanya. Lagipula apa yang begitu penting hingga harus membuatnya seperti ingin menghilang saat itu juga?"
"Well, mungkin sesuatu yang sangat mendesak." Dane mengendikkan bahunya.
"Aku tidak heran jika dia ingin bertemu laki- laki lain lagi."
Dane memberiku tatapan penuh arti. "Laki- laki lain?" Tanyanya heran.
"Ya. Aku pernah melihat dia dilamar oleh laki- laki lain."
Aku mendengar Dane bersiul kecil. "Dan laki- laki itu tidak tahu kalau dia sudah menikah."
Aku menggeleng. "Sepertinya dia sudah tahu. Laki- laki itu bahkan menawarkan sejumlah uang padanya."
"Wow. Dan apa jawaban Lea?"
"Dia menolaknya."
"Hmm" kedua matanya berbinar aneh.
"Jangan senang dulu. Lea menolaknya karena aku lebih kaya dari laki- laki itu."
Rasanya aku ingin tertawa melihat ekpresi wajah Dane saat ini.
"Aku tidak percaya." Ucapnya. "Lea tidak seperti wanita penyuka uang."
Aku tertawa. "Semua wanita menyukai uang, Dane." Cibirku. "Wanita tolol mana yang menolak yang namanya uang?"
"Lea tidak terlihat seperti Caroline." Serta merta aku menatapnya tajam.
"Whoa sorry sepupu." Ucapnya seraya mengangkat tangan menyerah. "Aku bukannya mau menyinggung Caroline tapi Lea bahkan menolak ketika aku ingin membayar minumannya."
Kedua mataku menyipit tidak suka. Berapa kali mereka sudah bertemu?
"Jangan cemburu, sepupu. Aku hanya ingin mengenal anggota keluarga baru kita itu." Imbuhnya.
"Aku tidak cemburu." Elakku tapi aku masih bisa mendengar suara tawa Dane di telingaku.
Aku dan Dane sama- sama memutuskan untuk mengisi perut di kafetaria, tidak jauh dari tempat latihan boxing ketika bertemu Mia. Kedua tangannya masing- masing membawa sebotol air dan tampak kaget ketika melihatku.
"Eh anda disini juga Mr. Anderson?" Tanyanya sopan.
"Ya." Jawabku.
"Hai Mia, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini." Sahut Dane disampingku. Aku tidak tahu tapi entah kenapa aku merasa kalau Mia saat ini sedang gusar.
Ada apa dengannya?
"Eh iya."
Kusikut Dane disampingku. "Baiklah Mia, sampai nanti." Ucapku yang dibalas dengan anggukan kecil darinya.
Aku baru saja memencet tombol lift yang akan membawaku ke kafetaria dilantai atas ketika telingaku menangkap suara.
"Hai Mia, apa kau bisa memberikan coklat ini padanya? Katakan padanya kalau itu dariku."
Aku berbalik hanya sekedar ketika aku melihat Mia yang sedang menatapku seperti takut? Entahlah.
"Aku tahu kalau banyak pria disini yang menyukainya tapi apa salahnya mencoba kan?"
"Eh i-iya. Tentu Greg."
"Tapi apa dia baik- baik saja? Sudah hampir dua jam dia memukul samsak tinju."
"Eh dia... dia tidak apa- apa. Jangan khawatir. Sampai nanti, Greg." Ucapnya lagi dan tampak ingin berlalu.
"Oh baiklah. Ingat pesanku tadi. Jangan lupa katakan itu pada Lea, okey?"
Aku bisa langsung tahu kalau Mia sangat kaget ketika nama Lea disebutkan tapi bukan itu yang menjadi pertanyaanku melainkan apa yang dilakukan wanita itu di tempat latihan boxing. Sebelum aku bisa mencerna apa yang terjadi, Mia sudah berlari menuju tempat itu.
"Sepertinya akan ada pertunjukkan yang menarik. Ayo."
Aku setuju jadi kuikuti Dane masuk ke tempat itu. Tempat itu sedikit luas dengan banyaknya samsak tinju yang bergelantungan di tengah dan sudut ruang. Tempat ini kebanyakan dihuni oleh para pria dan tidak ada satupun yang beranjak dari tempatnya seakan seperti sedang menonton.
"Wow."
Aku mendengar decak kagum yang keluar dari bibir Dane tapi matanya menatap pada satu titik. Titik dimana semua mata tertuju padanya. Awalnya aku tidak mengerti tapi ketika melihat rambut merah yang dikuncir keatas itu, mendadak aku tertegun. Tepat disudut ruang. Dia berdiri sambil meninju samsak itu tanpa henti.
"Maaf Mr. Anderson, bisakah anda pura- pura tidak melihatnya?" Mendadak Mia berdiri didepanku. "Lea akan semakin marah kalau tahu anda disini." Lanjutnya yang semakin membuat keningku mengernyit.
"Aku tidak tahu apa masalahnya tapi kurasa aku tidak bisa." Kulihat Mia meringgis mendengar jawabanku. "Jadi bisakah kau mengatakan padanya kalau aku ingin menemuinya?" Lanjutku.
"Eh?." Dia terlihat ragu juga tidak berani.
Keningku semakin bertaut. "Sudah berapa lama dia melakukan hal itu?" Tanyaku penuh selidik.
"Eh?"
"30 menit? Satu jam?"
Mia menggeleng. "Dua jam setiap harinya."
"Setiap hari?"
Kali ini Dane yang bertanya. Kualihkan kembali ke tempat Lea berada. Keningku semakin bertaut seiring dia meninju samsak itu dengan tangan yang hanya dilapisi kain.
Mia mengangguk. "Ini hari keempat Lea melakukannya." Jawab Mia.
Entah kenapa kenyataan ini membuatku geram. Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan? Jadi tanpa mengatakan apapun, kulangkahkan kakiku kearahnya mengindahkan larangan Dane.
"Mau sampai kapan kau melakukan ini?"
Tidak ada jawaban.
Kubalikkan tubuhnya dengan paksa. Aku beruntung gerakanku cukup cepat hingga dapat langsung menahan tinjunya sebelum menyentuh wajahku.
"Sebenarnya ada apa denganmu?" Ujarku tanpa sama sekali melepaskan mataku darinya.
***

Akhirnya update, yeeey! 😃
ReplyDelete