MASK- SEMBILAN
Jullian PoV...
Sial, kenapa aku tidak bisa melepaskan mataku darinya? Harus kuakui dia tampak sangat cantik dengan balutan gaun berwarna merah itu di tubuhnya seakan- akan gaun itu memang diciptakan untuk dirinya.
Tentu saja itu diciptakan untuknya. Bukankah dia seorang designer jadi tidak heran jika dia membuat sendiri gaun untuk dirinya sendiri atau apakah memang seperti itu? Memikirkannya membuatku sakit kepala.
"J, kau tidak apa- apa?"
Kupalingkan wajahku dari pemandangan di depan dan menemukan Caroline yang sedang melihatku dengan kening berkerut.
"Apa kau sedang melihat kearah istrimu itu?" Tanyanya.
Hah?. "Apa yang kau bicarakan?" Tanyaku tidak mengerti tapi hanya dibalas oleh Caroline dengan bibir manyunnya. Otakku segera memproses kejadian ini hingga sampai pada satu kesimpulan.
"Kau cemburu?" Aku tidak bisa menyembunyikan senyum geliku karena dirinya.
"Apa perlu alasan lain?" Tanyanya balik dan serta merta aku tertawa. "Aku tidak masalah jika banyak pria yang ingin memilikinya tapi tidak dengan dirimu." Ucapan Caroline barusan seketika membuat tawaku berhenti. Aku hanya tidak suka mendengar Caroline menyebut Lea dengan sebutan itu meskipun memang pada kenyataannya sudah banyak pria dalam pesta ini yang berusaha mengajaknya bicara. Aku tahu itu karena diam- diam aku selalu memperhatikannya. "Apa sekarang kau sudah punya perasaan padanya?"
Aku terperangah, mana mungkin aku menyukai wanita itu. "Konyol. Itu tidak mungkin, sayang."
"Kalau begitu buktikan."
"Buktikan?"
"Ya. Jauhi dia."
"Bukankah aku sejak tadi bersamamu dan bukan bersamanya?" Satu hal yang tidak kusukai adalah jalan pikiran wanita. Kenapa mereka selalu mengatakan hal yang berbelit- belit untuk sesuatu yang sudah jelas adanya?
"Tidak seperti itu. Aku mau kau menceraikannya."
Ah seandainya kami tidak berada didepan umum, sudah pasti aku akan memegang tangannya atau menciumnya agar dia tenang tapi itu tidak mungkin kulakukan disini.
"Bersabarlah sayang. Aku tidak mungkin berpisah dengannya sekarang." Aku berusaha memberi pengertian padanya. "Biar bagaimanapun kehadirannya masih sangat dibutuhkan." Lanjutku.
"Untuk bisa memperluas jaringan bisnismu, begitu?"
"Aku sudah mengatakannya padamu."
Hening sejenak tercipta diantara kami hingga aku kembali melihat Caroline menyunggingkan senyumnya.
"Aku senang kau mengatakan hal itu. Itu membuat lega karena yakin kau tidak memiliki perasaan apapun padanya."
Ingin rasanya aku menarik wanita ini dalam dekapanku. Dia tampak lucu dalam keadaan cemburu. Ahhh... aku ingin pesta ini segera berakhir dan membawa wanita ini pergi bersamaku.
"Oh iya J, aku baru saja menerima tawaran menjadi brand ambassador"
"Wow. Apa kita perlu merayakannya malam ini?" Tanyaku seraya memberikan kedipan menggoda padanya.
Dia mengangguk. "Tentu saja tapi kurasa tidak malam ini."
Seketika keningku bertaut. "Kenapa?"
"Karena aku tidak mau Laura atau James curiga dengan hubungan kita."
Ah, aku mengangguk mengerti. Ya. Aku pun tidak mau jika kedua orang tuaku tahu apa yang sudah kulakukan. Bagi mereka penghianatan dalam sebuah pernikahan adalah dosa besar meskipun sebagian besar, Lea lah yang menjadi penghalang dalam hubunganku dengan Caroline dan bukan sebaliknya.
Aku tersenyum hingga dari sudut mataku aku melihatnya berbicara dengan pria lainnya. Collin? Tidak salah lagi. Mereka berdua tampak sangat akrab walaupun pada awalnya aku tidak tahu kalau pria itu memiliki seorang adik sebelum Marissa.
Keduanya berbicara akrab hingga aku bisa melihat mereka saling bertukar tawa dan entah bagaimana aku bisa merasakan wanita itu mendatangiku dan tubuhku langsung merespon kehadirannya.
Aku bisa mengerti mengapa wanitaku tampak kaget dengan kehadirannya tapi aku juga penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh pemilik rambut berwarna merah ini.
"Kau tidak apa- apa?" Tanyaku membuka suara karena dia sama sekali tidak mengatakan apa- apa selama dansa kami.
"Maaf. Kurasa aku terlalu lelah malam ini." Dia tersenyum menjawabku.
"Kau bisa menumpuhkan semua berat badanmu ke tubuhku."
Aku tidak dapat memungkiri kalau dia tampak cantik jika tersenyum seperti itu hingga satu kesalahan kecil yang diperbuatnya tapi cukup memberikan efek yang sangat besar dalam diriku yaitu dengan melihatnya tertawa. Ya. Dia tertawa, bukan tawa yang dipaksakan tapi tawa lepas tanpa beban.
"Dan membuatmu harus menahan berat badanku." Kelakarnya menggeleng. "Kurasa itu bukan ide yang bagus."
"Benar juga. Jadi apa kau mau istirahat?" Aku seakan terhipnotis dengan suara tawanya tadi dan ikut tertawa.
"Tidak. Mungkin ada baiknya kalau kita sekalian memperlihatkan pada kedua orang tua kita kalau pernikahan kita baik- baik saja."
Kuikuti arah pandangannya dan setuju dengan apa yang dikatakannya.
"Ya. Kau benar."
"Maaf karena membuatmu harus berpisah dengan Carol."
Senyum itu lagi. Aku begitu menyukai senyum dan tawanya hingga tiba- tiba sebuah bibir hangat dengan aroma strawberry menyentuh bibirku dan aku sangat menyukainya hingga rasanya seperti candu.
Lea hanya memberiku kecupan sekilas dan aku tidak rela jika tidak merasakannya lagi. Kuraih tengkuknya dan menariknya hingga bibir kami kembali bertemu. Kupaksa agar dia membuka mulutnya, membiarkan lidahku menjelajahi mulutnya hingga aku bisa merasakan kalau kedua tangannya telah berada di sekitar leherku dan aku yang semakin mengeratkan pelukanku pada tubuhnya hingga sebuah suara menghentikan kegiatan kami.
"Anak ini benar- benar mengacaukan pestaku."
Kami berdua berhenti dan berpaling dan mendapati Laura yang memberiku tatapan jengkel sementara James dan Dean sama- sama memberikan seringaian tidak jelas padaku. Lea tampak seperti baru sadar dari tidurnya dan kedua matanya mengerjap aneh yang tampak lucu.
Kualihkan pandanganku, menahan gejolak yang ingin menciumnya lagi ketika mataku menangkap sosok penuh amarah di depanku.
Oh tidak.
*
Pesta semalam berakhir sangat kacau. Setidaknya itu berlaku hanya untukku karena faktanya kedua orang tuaku ditambah kakek yang malah semakin senang melihat perkembanganku dengan Lea.
Carol langsung pergi tanpa berniat mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Sejujurnya aku pun tidak tahu harus menjelaskan apa padanya. Tubuhku hanya merespon jika Lea berada didekatku dan kejadian di pesta semalam sama sekali di luar dugaan.
Lea juga sejak semalam tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Dia seperti kembali menjadi dirinya yang dingin ketika kami berpisah untuk beristirahat.
Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam ketika aku baru pulang dari kantor dan tidak menemukan satupun lampu yang menyala ketika menginjakkan kakiku kedalam apartemen yang kutinggali.
"Kemana dia?" Aku mulai bertanya- tanya karena biasanya Lea sudah menyalakan hampir seluruh lampu ruangan pada jam segini.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar utama, tempatku biasa tidur dan berniat ingin mandi. Carol sama sekali tidak ingin mengangkat telponku dan hanya dialihkan ke pesan suara. Arghhh sial, di kantor pun Dean tidak henti- hentinya memberiku tatapan menggoda sambil mengulang kembali adegan ciumanku dengan Lea.
Aku baru saja selesai memakai pakaian sehabis mandi dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum ketika melihat lampu kamar Lea yang masih mati.
Sudah hampir pukul sepuluh malam dan belum ada tanda- tanda kehadiran wanita itu hingga aku mendengar suara batuk samar dalam kamar yang ditempati olehnya.
Karena penasaran kubuka pintu kamarnya dan kaget ketika mendapati pintunya tidak terkunci. Ku nyalakan lampu kamarnya dan mendapati suara batuk itu semakin terdengar jelas.
"Ibu uhuk... ibu..." Terdengar suara lirih nan parau diatas tempat tidur.
"Azalea?" Kulangkahkan kakiku mendekatinya. Tubuhnya tertutupi selimut tapi keningnya penuh peluh. Ku sentuh keningnya menggunakan tanganku dan kaget ketika merasakan suhu tubuhnya. "Kau demam. Ayo bangun, kita perlu membawamu ke rumah sakit." Kataku seraya menyingkap selimut yang menutupinya.
Masih dengan mata terpejam dia menolak. "Tidak uhuk... perlu. Aku uhuk... akan baik- baik saja uhuk..."
"Kau tidak akan baik- baik saja jika hanya menutupi dirimu dengan selimut. Ayo bangun. Aku akan membantumu." Ujarku ingin menyentuhnya tapi lagi- lagi dia menepis tanganku.
"Tidak apa uhuk... kau hanya perlu membiarkanku beristirahat. Istirahatlah... kau... uhuk... bukannya kau juga baru tiba? Aku akan baik- baik saja. Aku hanya perlu kau menutupiku kembali dengan selimut."
Aku mengerang frustrasi melihat kekeras kepalanya. Wajahnya tampak sangat pucat dengan peluh juga napas yang pendek- pendek.
Kututupi tubuhnya kembali dengan selimut dan keluar dari kamarnya dan kembali dengan membawa sebaskom air dan handuk kecil. Tidak lupa aku juga membawa obat penurun demam untuknya.
"Bangunlah. Kau harus minum obat." Aku berusaha membangunkannya tapi yang ada dia tidak bergeming. "Azalea, kau harus minum obat agar demammu turun." Ucapku sekali lagi tapi hanya dibalas dengan ringgisan darinya.
Kukernyitkan dahiku bingung melihat sikapnya. Sikapnya lebih mirip seperti anak- anak yang menolak diberi makanan yang tidak disukainya.
"Kau tidak suka obat." Tuduhku dan tanpa diduga, matanya membuka sempurna hingga tampak sangat lucu. "Ah sudah kuduga kau memang tidak menyukainya." Aku tidak tahan untuk tidak menggodanya dan terkekeh melihat sikapnya yang mendadak salah tingkah.
"Pergilah. Memang apa uhuk... yang kau lakukan disini?" Kuhela napasku melihat sikap ketusnya kembali.
"Memang apa yang kau lihat? Aku membawakanmu obat dan juga air untuk mengompresmu." Jawabku tidak kalah ketusnya.
Sejenak pandangannya beralih ke baskom yang kupegang dan mendengus. "Aku tidak membutuhkannya uhuk...."
Kembali kuhela napasku. "Baiklah tapi kau perlu minum obat."
Kedua keningnya mengernyit tidak suka dan aku tahu apa yang dia pikirkan. Sambil menahan senyum karena melihat sikapnya. Setelah menyimpan baskom berisi air diatas meja nakas, kuambil obat untuknya dan memasukkannya kedalam mulutku. Dia memandangku dengan terkejut dan sebelum dia menolak kuraih tengkuknya kearahku dan memaksakan mulut kami bertemu.
Bibirnya terasa panas di bibirku tapi tidak mengurangi sensasi seperti yang ditimbulkan olehnya kemarin. Ku dorong obat itu agar masuk ke mulutnya menggunakan lidahku dan tersenyum ketika mengetahui kalau dia sudah menelannya dan kulepaskan bibirnya dariku.
Kedua matanya melotot dan aku tidak peduli jika dia marah. Dia menyambar air yang memang sudah tersedia diatas meja dan meneguknya tanpa sama sekali melepaskan pandangannya dariku.
"Nah, karena kita sudah menemukan cara asyik meminum obat untukmu jadi sekarang saatnya aku mengompresmu." Kataku enteng.
"Kau pasti uhuk... sangat menikmatinya." Balasnya sinis yang lantas membuatku tertawa.
"Tentu saja. Sejujurnya aku tidak pernah tahu kalau ada cara minum obat yang seasyik ini. Apa kau mau aku membantumu mengompres tubuhmu juga dengan tubuhku? Aku juga tidak mempermasalahkannya." Entah mengapa aku ingin menggodanya. Ini tampak seperti hiburan tersendiri untukku.
Diputarnya matanya kesal dan mendengus. "In your dream, sir tapi tidak uhuk... terima kasih." Tandasnya dan itu semakin membuatku terhibur.
Selang beberapa menit, aku melihatnya jatuh tertidur. Mungkin karena efek obat yang baru saja di minumnya sehingga dia bisa jatuh tertidur dengan mudahnya tapi jika dipikir- pikir aku tidak pernah memperhatikan cara tidurnya selama ini bahkan ketika kami tinggal di rumah kedua orang tuaku dulu.
Kuperhatikan matanya, bulu matanya yang panjang dan lentik, alisnya, hidungnya, bibirnya hingga seluruh wajahnya. Dia tampak cantik meski tanpa polesan dan lagi- lagi keinginan untuk menyentuhnya kembali datang.
"Aku pasti sudah gila." Gumanku dan beranjak meninggalkannya setelah sebelumnya mengganti handuknya dengan handuk yang baru dan meletakkan di keningnya.
***

Jadi penasaran waktu dulu mereka dirumah kakek beneran tidur seranjang? Ato apa Julian disuruh tidur di lante? 😅
ReplyDeleteJadi penasaran waktu dulu mereka dirumah kakek beneran tidur seranjang? Ato apa Julian disuruh tidur di lante? 😅
ReplyDelete