MASK- DUA EMPAT
Jullian PoV....
"Aku mau proposal kerjasama kita di Denmark selesai dalam minggu ini." Ujarku yang langsung mendapatkan anggukan dari Dane.
"Jangan khawatir. Aku sudah mempersiapkannya."
"Aku selalu bisa mengandalkanmu. Oh iya bagaimana dengan..."
Aku baru saja akan menanyakan tentang Lea ketika tiba- tiba orang yang bersangkutan muncul dengan wajah penuh bahagia dan jujur ini pertama kalinya aku melihatnya seperti itu.
"Lea?" Aku tahu kenapa Dane terlihat kaget karena aku pun merasakan hal yang sama.
"Azalea?"
"Hai semua. Kuharap aku tidak menganggu pembicaraan penting kalian." Wajah Lea semakin sumringah ketika mengucapkannya. "Aku mau kalian memberikan satu hari berharga kalian untukku. Aku sudah mendaftarkan nama kalian di sebuah rumah sakit." Ujarnya lagi dan aku tahu dari tatapan Dane yang ditujukan padaku, sudah jelas dia bingung dengan keadaan ini.
"Rumah sakit?" Aku mulai bertanya. Kami berdua merasa tidak ada yang sakit.
Dia mengangguk. "Aku butuh sperma."
Tunggu. Apa katanya tadi? Sp...sperma?
Tidak ada yang bersuara dan tanpa sadar baik aku maupun Dane sama- sama saling bertukar pandang. Apa ada sesuatu yang tidak kau ceritakan padaku? Aku mengucapkan hal itu tanpa suara yang langsung mendapatkan gelengan kepala keras darinya.
"Aku ingin hamil dan punya anak."
Tunggu. Hamil? Punya anak?
Dari sudut mataku aku bisa melihat Dane menyunggingkan senyum samarnya. Aku tahu sebentar lagi dia akan mengolokku.
"Itu sebabnya aku meminta kalian melakukan pemeriksaan di rumah sakit besok. Aku bahkan sudah membuat janji." Kembali Lea berucap.
Dane berdehem pelan meredakan senyum kecil yang baru saja terlintas di bibirnya. "Well, Lea. Kurasa kau tidak membutuhkan diriku kalau yang kau inginkan adalah anak."
"Kenapa?"
Sejak dia menginjakkan kakinya di tempat ini ditambah senyuman tak biasanya, aku sudah merasa ada yang tidak beres tapi apa?
Dane terlihat menggaruk tengkuknya, kaget dengan pertanyaan Lea yang sama sekali tak terduga. "Bukankah sudah jelas? Aku tidak punya wewenang dalam hal ini. Maksudku kau dan Jullian sudah menikah dan..."
"Dane, bisa tinggalkan kami?" Potongku tanpa sama sekali melepaskan pandanganku dari Lea.
"Apa?"
"Aku bilang, bisa tinggalkan kami berdua?" Sekali lagi dia menanyakan alasannya maka aku tidak akan segan- segan menendangnya keluar.
Dane memberiku tatapan bingung begitupula dengan Lea.
"Baiklah. Hmm sampai nanti Lea."
"Lho Dane, mau kemana?"
"Eh?"
"Dane..."
"Hentikan Azalea!" Bentakku marah. "Dane pergilah."
"Oh baiklah."
"Dane, aku butuh kau menyumbangkan spermamu padaku!" Teriak Lea yang seketika membuat Dane membelalakkan kedua matanya.
"Damn it Dane. Keluarlah." Kudorong tubuh Dane keluar dari ruanganku dan menguncinya dari dalam.
"Apa yang kau lakukan?!" Sergahnya marah.
"Justru aku yang seharusnya bertanya. Apa yang kau lakukan?" Balasku tidak kalah marah.
Kami berdua saling bertatapan yang entah berapa lama hingga aku melihatnya tertawa miris.
"Sial, seharusnya aku tidak datang kemari"
"Ya. Seharusnya kau tidak datang kemari dan mengatakan hal konyol lainnya."
"Hal konyol katamu? Dengar Mr. Anderson..."
"Ya. Aku adalah Jullian Anderson yang otomatis itu juga membuatmu menjadi Mrs. Anderson."
"Apa?"
Dia memberiku raut wajah tak terbaca yang seketika membuat otakku jalan. Dari yang aku pelajari tentang wanita dihadapanku ini, dia bukanlah wanita sembrono yang tidak memikirkan alasan dibaliknya.
Kuhembuskan napasku pelan untuk meredakan emosi yang masih bergulat didalam tubuhku.
"Duduklah."
"Apa?"
"Duduk Azalea."
"Tidak akan. Memang siapa kau hingga...." Aku langsung mendaratkan mulutku ke mulutnya. Menghentikan mulut berbisanya sebelum memakan korban dan sial, aku begitu merindukan rasa bibirnya, tubuhnya dan aroma strawberry dari rambutnya.
"Apa yang kau lakukan?" Sergahnya ketika aku sudah melepaskan bibirku darinya.
Aku tersenyum penuh kemenangan ketika melihat wajahnya yang berubah merah. "Hanya ingin membuatmu ingat kalau kau adalah istriku."
"Dasar gila."
"Dan orang gila ini adalah suamimu."
Dia mendengus ingin mengusap bibir dengan tangannya ketika langsung kutahan.
"Apa lagi yang kau inginkan?"
"Kalau kau bermaksud untuk menghilangkan rasaku di bibirmu maka jangan harap oh dan jangan membuat matamu besar seperti itu sayang, itu membuatku ingin menciummu lagi...jangan juga menyipitkan matamu. Itu seperti kau menantangku. Tidak juga dengan memutar matamu seperti itu. Itu seperti kau mengajakku untuk menciummu sampai lemas atau bahkan lebih disini."
Jujur ekspresi wajahnya saat ini mau tidak mau membuatku kagum sekaligus menang. Bagaimana dia bisa membuat amarahku naik ke ubun- ubun dan bersikap polos dalam satu waktu?. Tanpa sadar aku tersenyum betapa wanita ini sudah mengambil alih pikiranku.
"Terserah. Aku akan pergi."
Aku langsung menahannya sebelum mencapai pintu. "Kau ingin hamil?"
Dia menatapku dengan tatapan yang sulit kutebak. "Bukankah sudah jelas dengan kedatanganku kemari?"
"Kenapa?"
"Apa?"
"Kenapa kau tiba- tiba menginginkan anak?"
Kedua matanya mengerjap dan aku langsung tahu kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu. Ini kali pertama wajahnya tidak menampakkan ekspresi keras kepala dan angkuh dan malah memperlihatkan ekspresi gugup.
"Karena aku menginginkannya. Apa tidak boleh? Aku bahkan sudah meminta Dane untuk melakukan..."
"Persetan dengan Dane, Azalea. Apa kau lupa kau menikah denganku dan bukan dengannya?"
"Apa bedanya? Toh, dia juga seorang pria dan tentunya dia mempunyai sperma kan? Aku bahkan tidak mempermasalahkan sperma siapa yang akan menjadi donor."
Sialan. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?. Kuhembuskan napasku dengan perlahan. Hanya satu wanita dalam hidupku yang bisa membuat emosiku mudah naik dan wanita itu tidak lain yang sedang berdiri didepanku.
"Sebutkan. Ada diurutan keberapa keinginanmu untuk hamil dan memiliki anak saat ini?" Tanyaku.
"Apa? Kau tidak bisa..."
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan, Azalea. Aku hanya mengulang apa yang pernah kau katakan padaku. Jadi katakan dari skala 1 sampai 10, keinginanmu berada dimana?"
"Ini tidak adil."
Aku diam- diam tersenyum. "Aku hanya mengatakan hal yang sama persis dengan apa yang dulu kau katakan, sayang." Kedua matanya mengernyit tidak suka yang entah kenapa justru membuatku terhibur.
"Oh dan satu hal yang perlu kutekankan padamu. Kalau sampai kau melakukan hal serupa seperti yang kau minta pada Dane barusan maka jangan harap aku akan melepaskanmu."
"Apa kau baru saja mengancamku?"
Oh betapa aku menyukai mulut pintarnya ini. "Tidak. Jika kau memikirkannya dari sudut pandang yang lain." Balasku dengan nada tenang. Aku perlu memahami cara kerja otaknya ini dan jika kami bertengkar, itu hanya membuatku semakin jauh darinya. Sudah jelas pilihan apa yang akan kupilih. "Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Ada di urutan berapa keinginanmu itu?" Tanyaku ulang.
"8."
"8?" Dengan sikap sembrononya barusan, dia hanya mengurutkannya dalam urutan 8. Tidak mungkin!
"Baiklah. 9."
Sebenarnya apa yang mendasarinya? Kenapa dia ingin hamil? Apa diam- diam dia memiliki pria lain dan ingin hidup bersama? Tapi kenapa harus dari sperma orang lain? Atau dia ingin menggunakannya sebagai ancaman? Sial. Apa yang ada dalam pikiranmu saat ini, Azalea?
"Kau sepertinya mengharapkan untuk segera hamil." Ujarku.
"Kau akan membantuku?"
Untuk sesaat aku berani bersumpah kalau dia menampilkan wajah bahagianya itu lagi dan secara tidak langsung pula aku bertekad akan membuatnya bahagia seperti ini seterusnya, tidak peduli berapa banyak anak yang diinginkannya
.
"Kalau begitu kita berdua sudah setuju membicarakan situasi dan syarat selanjutnya." Ucapku.
Kedua keningnya berkerut, curiga. Aku tidak mau kehilangan kontrol lagi dan langsung mencium kedua matanya. Kuulurkan tanganku untuk menyentuh rambut merahnya. Rambutnya terasa halus di jari- jariku dan aku menahan dorongan untuk tidak ikut mencium rambutnya.
"Aku tidak akan meminta hal apapun darimu tapi apapun syarat yang kau ajukan, aku akan menerimanya."
Mungkin jika Lea yang biasanya. Dia tidak akan mau aku menyentuhnya seperti ini. Tunggu, menyentuhnya? Seperti bohlam yang dinyalakan, otakku langsung merespon dengan cepat apa yang dikatakannya.
Kulepaskan jari- jariku dari rambutnya meskipun sedikit tidak rela tapi aku perlu fokus pada apa yang akan menjadi syarat untuk menahannya... lebih lama.
"Baiklah. Pertama kita tidak akan ke rumah sakit seperti yang kau rencanakan. Batalkan semua janji yang sudah kau buat dengan rumah sakit sialan itu karena aku tidak akan melakukannya."
"Tapi bagaimana...?"
"Aku akan melakukannya tapi tidak dengan caramu melainkan dengan caraku."
Hening.
"Percayalah padaku, sayang," ujarku tersenyum, masih dengan menyentuh rambut merahnya yang entah mengapa sekarang menjadi warna favoritku. Wanitaku yang buas sekaligus sangat lugu ini telah hampir memporak- porandakan otakku. "Aku lebih dari mampu memberimu anak sebanyak yang kau inginkan."
Kepala Lea dimiringkan tapi kedua matanya menyipit. Aku bahkan berani bersumpah mendengar sel- sel otaknya yang mungil itu bekerja di dalam kepalanya dan hampir saja tergelak ketika kepalanya langsung ditegakkan dan matanya membelalak.
"Kau tidak..."
"Sepertinya kau sudah mengerti. Ya. Syarat kedua adalah kita berdua akan melakukannya dengan cara tradisional."
***

Teruskan Julian, aku mendukung cara tradisional mu 😎
ReplyDelete