MASK- EPILOG



Lea PoV.

Tunggu dulu... apa yang...?

"... Apa kau mencintaiku?"

Apa?

"Jawab aku, Azalea"

Kutatap dirinya mencari nada bercanda yang sama sekali tidak kudapatkan.
"Apa... apa kau baru saja menanyakan apa... aku mencintaimu atau... tidak?" Kuberi dia pandangan tak percaya.

Dia pasti bercanda!

Mendadak saja aku merasakan perasaan sakit hati yang teramat sangat ketika dia menanyakan hal itu.

"Ya. Jadi jawab aku. Apakah kau mencintaiku atau tidak?" Ulangnya sekali lagi.
Mendadak kepalaku terasa pusing. Sungguh! Berani- beraninya dia melakukan ini padaku.

Aku sudah berusaha untuk tidak mempermasalahkan hubungan kami yang terasa menjadi lain dan aneh semenjak ingatanku kembali. Aku tidak tahu kenapa dia mendadak seperti itu, seperti dia... menghindariku. Apakah karena aku membuat hidupnya sulit? Karena masalah keluargaku? Aku memang sempat marah padanya karena biar bagaimana pun mereka juga adalah keluargaku dan keluarga harusnya saling membantu tapi aku juga tidak bisa menampik kalau apa yang mereka lakukan selama ini adalah salah.
Collin memang bersalah, begitupun dengan semua keluarga Smith dan mereka sudah mendapatkan imbalan yang setimpal. Aku memahami itu dan mengenai pinjamanku yang sudah di lunasi oleh Jullian. aku bertekad untuk mengembalikannya, itulah sebabnya aku mulai kembali aktif bekerja. Karena aku tidak mau melakukan apa yang menjadi tujuan keluarga Smith di awal aku menikahi seorang Jullian Anderson. Uang dan kekayaan.
Dan dia... dia meragukan perasaanku padanya? Sementara aku sedang hamil anaknya? Berani- beraninya dia!

Kuhentakkan tangannya dari tubuhku dan menyilangkan kedua tanganku di dada. Bisa kudengar kalau dibelakangku Jerry terkekeh pelan. Oh, dia pasti menertawai sikapku jika aku marah. Awas saja dia! Karena urusannya yang memintaku untuk menemaninya belanja perlengkapan kafenya lah hingga aku harus menumpahkan amarahku yang selama ini sudah berusaha kutahan.

"Kau meragukan perasaanku padamu, Jullian Anderson?" Sengaja kusipitkan kedua mataku padanya.

"Hah?"

Kugigit bibir bawahku kuat- kuat, bahkan jika dia selalu tampak menggiurkan hingga aku merasa ingin mencabik- cabik pakaian yang dikenakannya tapi kali ini, emosi seperti mengambil alih semuanya.

"Berani- beraninya kau!" Kutekankan kalimat itu untuknya. "Kau menghindariku, Jullian. Kau bahkan tidak mau lagi menatap mataku dan menciumku. Intinya kau tidak mau berdekatan denganku bahkan dalam jarak 3 meter dan tadi... "kuhembuskan napasku dengan kasar," tadi kau baru saja memanggilku dengan nama Lea padahal selama ini kau selalu memanggilku Azalea dimana kita berdua tahu kalau sebelumnya kau tidak pernah memanggilku dengan nama Lea?" Aku mengatakan semuanya dalam satu tarikan napas. Entah apa yang dipikirkannya dan aku sungguh tidak peduli.
"Dan dari semua itu, kau meragukan perasaanku padamu? Berani- beraninya kau!"

"Tungga, apa yang..."

"Lea, kurasa kau..." Jerry yang sejak tadi hanya memperhatikan mendadak bersuara tapi aku begitu marah pada Jullian hingga langsung membentaknya.

"Apa kau juga akan membelanya, Jeremiah Culton?" Tanyaku menatap tajam Jerry. "Jika iya maka, aku akan menendangmu keluar dari sini". Tekanku kuat- kuat.

Kedua mata Jerry membelalak. "Tunggu, apa...? Oh, sial! Lebih baik aku pergi." Dia berjalan menuju pintu keluar yang masih terbuka kemudian kembali berbalik tapi tidak untuk melihatku melainkan melihat Jullian. "Aku tidak mau diikutsertakan dalam kemarahan beruang yang sedang hamil," apa katanya?!. "Selesaikan masalahmu dengannya dan usahakan untuk tidak semakin marah. Kau tidak tahu apa yang menunggumu jika dia semakin mengeluarkan amukan beruangnya".

Jerry brengsek!

Jullian terdiam ditempatnya, masih tanpa melepaskan pandangannya dariku. Kutarik napasku dan kuhembuskan secara pelan sebanyak tiga kali ketika kembali mendengar suaranya.

"Jadi kau mencintaiku?"

Serta merta aku mengangkat kembali wajahku dan memberinya tatapan yang sangat tajam.
"Tentu saja. Apa perlu penekanan lain?" Sergahku marah. Latihan pernapasan yang sempat kulakukan tadi ternyata tidak membawa perubahan. Justru aku semakin marah.

Dia terdiam dan entah mengapa aku merasa ingin melemparnya dengan sesuatu ketika mendadak dia menarikku kearahnya tapi kemudian terdiam ketika merasakan perutku yang menghalangi dia dari entah apa yang ingin dilakukannya.

Kedua keningnya saling bertautan ketika dia memutarku dan ... memelukku.
Tunggu! Dia memelukku? Kenapa?

Sungguh. Aku kaget dengan sikapnya. Kedua tangannya dia sandarkan diperutku sementara belakangku menyentuh tubuhnya. Hembusan napasnya sangat terasa di tengkukku, membuat amarahku seketika lenyap.
Sialan! Dia membuatku tidak berkutik.

"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku datar tapi jauh dari dalam lubuk hatiku, aku merasakan jantungku berontak ingin keluar.

"Apa aku pernah bilang kalau kau tampak sangat seksi jika marah?"

Sengaja kuputar kedua mataku, "apa kau bercanda? Bahkan tanpa marah pun aku selalu terlihat seksi" balasku penuh percaya diri. Bisa kudengar dia terkekeh dan aku tidak tahan untuk tidak tersenyum.

"Jadi kau mencintaiku?"

Aku mengernyit lalu berbalik untuk melihatnya. Kutangkup pipinya dengan kedua tanganku.

"Aku tidak mengerti, Jullian kenapa kau menanyakan sesuatu yang sudah sangat jelas." Kataku lembut, "karena," ku ikuti apa yang pernah dia lakukan padaku dan mengecup kedua matanya bergantian, "aku jelas" beralih ke hidungnya, "sangat mencintaimu, Jullian Anderson" kemudian mencium kedua pipinya, menyisakan bibirnya untuk ku kecup terakhir kali. Selama satu menit penuh aku hanya menempelkan bibirku di bibirnya dan melepaskan diri dengan terpaksa, masih dengan tanganku yang berada di pipinya. "Dan aku tidak akan segan- segan membumi- hanguskan seluruh isi rumahmu yang cantik ini dan juga dirimu jika kau berani memunculkan Caroline- Caroline lain." Ancamku sungguh- sungguh.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya ketika sontak aku merasakan bibirnya lagi di bibirku. Tidak seperti aku yang hanya menempelkan bibirku di bibirnya. Jullian melakukannya dengan sangat bernafsu kemudian beralih menjadi sangat lembut.

Seperti biasa jika dia menciumku, otakku seketika mendadak macet dan membalas ciumanya. Aku tidak tahu berapa lama kami berciuman tapi dia berhenti ketika aku mulai berusaha mengambil napas di sela- sela kami berciuman.

"Aku mencintaimu, Azalea" ucapnya melihat tepat ke mataku.

"Aku juga mencintaimu, Jullian" balasku dan langsung mendapatkan ciuman lagi darinya.

Aku pasti tidak akan bisa berdiri dengan tegap setelah ini.

*
Tiga hari setelah kejadian itu. Akhirnya aku melahirkan seorang putri yang warna matanya sangat mirip dengan Jullian dan sayangnya mewarisi rambut merahku. Awalnya aku tidak begitu suka putriku mewarisi hal itu dariku tapi Jullian mengatakan kalau dia menyukai warna rambutku dan kecewa karena aku tidak menyadarinya.

Sungguh aku tidak mengerti apa yang dikatakannya waktu itu.
Jullian memutuskan untuk memberi malaikat kecil kami dengan nama Audrey Jean Anderson dan selalu tersenyum puas ketika melihat Audrey. Apa mendadak Jullian menjadi gila karena melihat bayi? Apa bayi yang notabene adalah anak sendiri bisa menjadikan seorang ayah gila? Jangan tanya aku. Aku tidak tahu.

Waktu terus berjalan dan tak terasa usia Audrey sudah menginjak bulan ke sebelas dan semakin hari dia semakin besar. Aku yang ibunya saja kadang tidak tahan melihat kelakuannya. Jullian bahkan selalu pulang cepat hanya untuk melihat putrinya dan membuatnya menangis.

Okey, yang dilakukan Jullian biasanya menusuk- nusuk pipi Audrey yang sedikit temben tapi juga putih seperti layaknya boneka dengan jari telunjuknya hingga Audrey merasa tidak nyaman dengan kelakuan ayahnya itu. Jangan tanyakan apa yang kurasakan ketika Jullian melakukan itu. Maksudku aku berusaha sekuat tenaga untuk menidurkan Audrey dan tahu-tahu Jullian datang hanya untuk membuatnya menangis dan berteriak. Kadang kala aku bertanya pada Dane, Mia atau Jerry yang biasanya singgah hanya untuk melihat Audrey dan menanyakan pada mereka bertiga apakah waktu aku melahirkan dulu, aku tidak sadar telah mengeluarkan dua anak dan bukannya hanya satu? Kenapa aku justru merasa lebih kerepotan mengurusi Jullian dibandingkan Audrey yang sudah jelas masih bayi.

Tapi dibalik betapa menjengkelkannya Jullian. Jullian juga sangat perhatian dan kelewat protective. Dia jauh lebih panik dari aku yang mengandung Audrey selama sembilan bulan. Kejadiannya tepat ketika Audrey akan tumbuh gigi. Waktu itu Audrey terus- terusan menangis disertai panas dan apa yang dilakukan oleh Jullian adalah memaksa dokter Chen untuk datang di tengah malam buta padahal waktu itu dokter Chen sedang berada di Nepal, menghadiri seminar.

Akhirnya dengan berat hati aku menghubungi Laura agar datang ke rumah kami malam- malam karena sungguh aku sudah tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan pada Jullian kalau Audrey hanya akan tumbuh gigi dan bukannya mengalami penyakit mematikan.

Untunglah Laura segera sigap dan datang bersama James. Entah apa yang dikatakan James waktu itu tapi mendadak Jullian menjadi tenang.
Waktu menjelang malam. Matahari bahkan baru saja kembali ke peraduannya dan digantikan oleh bulan ketika aku mendadak merasakan sebuah pelukan dari belakangku dan tersenyum ketika merasakan bibir Jullian di leherku.
"Jullian" desahku ketika dia mulai mengarahkan bibirnya di telingaku. Dia dan lidah sialannya itu begitu mahir beraksi disana.

"Apa yang kau pikirkan?

"Kau" jawabku tanpa perlu menyembunyikan apa yang kurasakan.
Dia berhenti dan serta merta dia membalikkan badanku dan menghadapnya.

"Aku?" Tanyanya dengan alis terangkat.

"Yep" kuanggukkan kepalaku atas pertanyaannya.

"Apa yang kau pikirkan tentangku?"

Sejenak aku pura- pura berpikir hingga nyaris tertawa ketika melihat kerutan di dahinya semakin lama semakin dalam.

"Apa yang kau pikirkan tentangku?" Desaknya tidak sabar.

"Apa kau penasaran?" Tanyaku menggoda. Kerutan di dahinya semakin dalam ketika aku mendekatkan tubuhku ke tubuhnya hingga bisa merasakan bagian bawah tubuhnya menegang karena perbuatanku dan aku tidak tahan untuk tidak tertawa dan semakin ingin menggodanya. Untunglah Audrey sudah kutidurkan sebelum Jullian pulang dari kantornya.

"Apa....?" Sejenak dia terdiam seperti membaca wajahku, "apa kau hamil lagi?" Tanyanya

Hah?

Aku langsung memisahkan diri darinya. Tidak terlalu jauh karena kedua tangan Jullian justru menahanku dan menarikku kembali.

"Kenapa aku harus hamil agar bisa menggoda suamiku?"

"Oh, jadi itu tadi menggoda?"

Sialan! Dia memergokiku.

Dilayangkannya sebelah tangannya ke pipiku sementara tangannya yang lain berada di belakang pinggangku.

"Aku menyukai kau yang menggodaku." Bisiknya penuh arti

Oh. Oh. Kenapa keadaan justru berbalik? Sial!

"Jadi, apa yang kau pikirkan tentang aku?"

Hah?

Okey. Sekarang aku mendadak menjadi seorang idiot. Bagus, Lea!
Jullian tertawa tapi juga mencium bibirku.

"Jadi?" Tanyanya ulang.

"Jadi?"

Tuh kan! Aku mendadak idiot.

"Kau mengatakan kau sedang memikirkanku tadi"

"Oh. Aku lupa"

Jullian semakin tertawa. "Hm kita harus melakukan sesuatu kalau begitu"
Eh?. "Tunggu, apa yang akan kau lakukan?" Tanyaku kaget ketika mendadak kakiku tidak lagi menginjak lantai. "Turunkan aku, Jullian"

"Kita perlu melakukan sesuatu untuk membuatmu ingat lagi" balasnya tanpa memperdulikan aku yang meronta dalam gendongannya.
Tunggu. "Aku sudah ingat semuanya"

"Terlambat"

"Aku belum mandi. Seharian ini aku terlalu sibuk dengan Audrey dan tanah. Aku masih melengket dan kotor"

"Kebetulan. Aku juga merasa melengket dan kotor. Kita bisa saling menghemat air"

Oh bagus!

"Dan satu hal lagi, Mrs. Anderson. Aku juga memikirkanmu tapi... ketika kau telanjang dan mendesah menyebut namaku"

Oh crap! Kedua pipiku terasa panas. Sejujurnya aku juga menginginkan hal itu darinya.

"Jadi? Berapa banyak posisi yang akan kita lakukan sebelum Audrey bangun?"
Oh. Wajahku semakin panas hanya dengan membayangkannya.

"Hmm Audrey baru saja tidur dan mungkin akan terlelap sampai besok pagi. Aku mengajaknya bermain banyak permainan hari ini dan juga memasukkan beberapa bunga kedalam pot" jelasku seraya mengalungkan kedua lenganku di lehernya.

"Jadi kau sudah merencanakan semua ini?" Tanyanya tapi ada senyum yang tercetak di bibirnya. "Kau memang wanita penggoda" candanya, membuatku semakin tersenyum lebar.

"Aku sudah pernah bilang kan kalau aku hanya menggoda pria yang menjadi suamiku"

Dia mengangguk. "Dan aku senang di goda oleh istriku. Aku sangat mencintaimu, Azalea"

"Aku juga sangat mencintaimu, Jullian. Dengan seluruh hidupku"

Dan kami berciuman masih dengan dia yang membawaku di lengannya. Lagipula aku tidak peduli kemana dia akan membawaku asal dia tetap bersamaku, aku tidak akan memperdulikan apa- apa.

***

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS