MASK- TIGA PULUH
Lea PoV
"God Lea, you are incredible as usual."
Aku tertawa mendengar seruan Jerry padaku. Menyenangkan rasanya bisa berada di tempat ini lagi. Tempat dimana aku pertama kali menghasilkan uang yang banyak.
Kehidupanku tidak sama seperti dengan gadis- gadis lainnya yang bisa bermain dengan santai. Aku dibawa ke rumah keluarga Smith ketika aku berumur 11 tahun, enam bulan setelah ibuku di vonis mengidap Alzheimer oleh dokter.
Aku di didik dengan sangat keras oleh orang yang mengaku sebagai ayahku dan mulai dimasukkan ke sebuah sekolah yang terkenal elit tapi semuanya tidak bisa berjalan dengan baik dikarenakan identitas dan masa laluku.
Aku bertemu Jerry ketika aku masih berumur 16 tahun, ketika itu untuk pertama kalinya aku berani mengambil sikap untuk keluar dari rumah dan mencari tempat tinggal dimana dia juga sedang mencari tempat yang murah. Setelah berkeliling hampir diseluruh tempat kami sepakat untuk sama- sama menyewa sebuah flat kecil dengan satu kamar. Meskipun waktu itu kami tidak saling mengenal tapi aku tahu kalau Jerry adalah orang baik. Dia bahkan rela tidur di sofa yang bahkan tidak bisa disebut sofa hanya agar aku bisa tidur di kamar.
Tidak banyak yang bisa aku lakukan waktu itu tapi Jerry dengan sabar terus saja membantuku bahkan diam- diam dia menyelundupkan diriku ke tempat dimana dia bekerja. Belakangan aku tahu kalau dia juga memalsukan identitas aslinya sama denganku.
Jerry banyak mengajarkan aku tentang bagaimana hidup termasuk juga mengajarkan aku bermain gitar. Tidak ada yang lebih baik daripada ketika lantunan nada mulai terdengar dari senar benda itu. Aku menyanyi juga bermain gitar dengan Jerry sebagai partner duetku hingga di usia 20 aku hampir saja mengalami kejadian buruk tapi itu tidak memperbaiki keadaan.
Kemudian keluarga Smith datang lagi dan menuntutku untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah dan karena ibuku butuh pengobatan yang lebih besar serta keluarga Smith bersedia menanggungnya maka kuputuskan untuk melepaskan apa yang kusukai dan menyetujui apa yang diminta.
Aku dan Jerry tetap tinggal bersama selama masa studiku hingga pada suatu hari salah seorang kenalan Jerry mengajak kami ke Paris dan disitulah permulaannya. Aku berada di Paris selama 5 bulan sebelum ketahuan oleh keluarga Smith dan terpaksa harus meninggalkan Jerry berjuang seorang diri.
Mungkin sekitar 2 tahun setengah sejak aku terakhir kali berada di kota ini. Awalnya aku kesini hanya untuk bertemu klien penting sekaligus mencari inspirasi ketika Jerry melihatku di pinggir jalan, baru saja kehilangan dompet dan handphone.
"Bagaimana kalau kita kembali memanaskan panggung seperti yang biasa kita lakukan?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.
"Well Jerry, kurasa malam ini sudah cukup. Aku harus mengejar pesawat besok pagi."
Meskipun aku merindukan tempat ini tapi ada kehidupan lain juga nyata yang harus kuperhatikan. Kuseka peluh dikeningku dan menggeleng, dia betul- betul tidak menyia- nyiakan kesempatan yang ada.
"Ayolah Angel." Aku tertawa mendengar sebutan yang disematkannya padaku. Dia tidak pernah menjelaskan alasan dibalik sebutan itu. Aku bahkan bukan seorang malaikat seperti yang dia pikirkan.
"Tidak Jerry. Aku ada pekerjaan disana."
"Well, meskipun aku senang mendengar kau berhasil melakukannya tapi disisi lain aku juga merasa tidak senang." Ujarnya cemberut.
Aku tertawa. "Ayolah, jangan menjadi pria cengeng."
Dia memberiku tatapan penuh cemohan lalu pergi. Kupikir dia marah dan pada akhirnya menyadari kalau mengenalku adalah kesalahan terbesar yang sudah diperbuatnya ketika beberapa menit kemudian di datang dengan membawa dua buah gitar dan memberikan salah satunya kepadaku.
"Mari kita lihat, apa kau masih sanggup menggerakkan jari- jari indahmu itu?" Tanyanya meremehkan.
Kuputar kedua mataku. Jengah. "Really? Kau mau mendengarnya?"
"Ya. Aku menantangmu."
"Dan apa yang akan kudapatkan?"
"Tiket kelas pertama lengkap dengan beberapa lembar uang saku."
Great!. "Baiklah. Bersiaplah dirampok olehku."
"Percaya diri seperti biasanya, angel."
"Kau tidak akan tahu jika tidak mencobanya, kan?" Balasku tidak mau kalah.
Dia mulai menyuruh seseorang untuk membawa kursi untuk kami berdua. Setelah aku nyaman berada diatas tempat dudukku, kuambil pengikat di tanganku dan mengikat tinggi rambutku dengan asal.
"Apa?" Tanyaku ketika menyadari kalau sejak tadi Jerry menatapku dengan ekspresi yang sulit kuartikan.
"Apa aku pernah bilang kalau kau cantik jika rambut merahmu kau gerai?" Aku tertawa. "Dan kau luar biasa hot jika mengikatnya seperti itu. Aku yakin para pelangganku akan datang meminta nomor telponmu setelah melihatmu bermain gitar."
Aku semakin tertawa mendengar kalimat konyolnya. "Ponselku hilang, ingat?"
Jerry ikut tertawa. "Ah sayang sekali."
Kami berdua sama- sama tergelak.
"Ladies first." Ucapnya dan aku mulai melakukan petikan pertama sambil sesekali memberi tatapan menantang pada Jerry. Jerry membalasku dengan anggukan di kepalanya.
Kami mulai menyanyikan bait demi bait dan oh, aku sangat merindukan saat- saat dulu. Ini bukan tentang siapa yang menang atau yang kalah. Ini tentang bagaimana kami dulu pernah sama- sama berjuang dan suara Jerry sangat bagus. Selama beberapa menit, kami berdua sama- sama hanyut dalam petikan gitar kami hingga tidak sadar telah selesai.
Aku belum sempat berdiri dengan sempurna ketika tiba- tiba dia menarikku dalam pelukannya dan mencium keningku.
"Aku mungkin akan menahanmu di suatu tempat dan tidak membiarkanmu kembali." Ujarnya.
Aku tertawa. "Well, saran yang menggiurkan tapi aku punya saran yang lebih baik. Apa kau masih membutuhkan teman tinggal?"
Matanya membelalak, "kau serius?"
Tentu saja aku bercanda. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Aku bahkan sudah merindukannya selama seminggu ini.
"akan ku..." belum sempat aku menjawab ketika tiba- tiba tubuhku ditarik dari belakang. "Apa yang... eh, Jullian?" Aku tergagap melihat kehadirannya disini.
Apa yang dilakukannya disini?
"Lepaskan tanganmu darinya." Jullian mengucapkan hal itu dengan ekpresi dingin dan datar.
Apa?
Aku menoleh dan baru menyadari kalau disisi yang lain, Jerry juga sedang memegang tanganku. Pandangan mereka sama- sama seperti ingin membelah satu sama lain.
"Siapa kau? Kenapa kau tiba- tiba menariknya seperti itu?" Hardik Jerry.
Apa sebenarnya ini?
"Hentikan kalian berdua." Kusentakkan kedua tanganku secara bersamaan hingga masing-masing terlepas tapi belum sempat aku bergerak, Jullian sudah menarikku lagi kearahnya.
Tuhan, pria dan hormonnya!. Tanpa sadar aku berdecak jengkel. Aku ini manusia dan bukannya karung beras yang bisa ditarik kesana- kemari.
"Sial, hey bung. Apa yang kau lakukan?" Ini pertama kalinya aku melihat Jerry semarah ini kecuali jika kau menghitung kejadian beberapa tahun yang lalu. Dulu dia seakan ingin membunuh.
"Jerry hentikan! Aku tidak apa- apa, okey?" Ujarku menenangkan. "Jerry kenalkan Jullian. Jullian, Jerry."
"Kau tidak bilang kalau kau bersama seseorang." Ujar Jerry menuduh.
"Memang tidak." Balasku.
Ada apa sih diantara mereka?
"Siapa kau?" Kali ini aku menoleh ke samping. Jullian masih tidak mau melihatku dan hanya menatap tajam Jerry di depannya.
"Aku dulu pernah tinggal bersama dengannya."
"Tinggal bersama?"
Aku tidak tahu tapi entah kenapa aku merasa aura disekitar Jullian semakin kelam.
"Ya. Kenapa kau tidak menanyakan sendiri pada angel mengenai kebenarannya?"
Sial. "Hentikan Jerry! Sama sekali tidak lucu."
"Ayo pergi." Tanganku kembali diseret hingga didepan mobil.
"Masuk. Dimana kau menyimpan barangmu?"
*
Waktu hampir menunjukkan pukul 3 pagi ketika aku selesai mandi dan membersihkan diri. Jullian sama sekali tidak mengatakan apa- apa hingga aku menyimpan koperku di dalam kamar tempatnya menginap. Kamarnya luar biasa besar dan luas lengkap dengan California King Bed-nya. Sangat berbeda dengan tempat yang kutinggali selama dua hari ini.
Hujan masih mengguyur kota Paris membuat suasana yang sudah dingin menjadi sangat dingin. Aku tidak menemukan Jullian didalam kamar dan kuputuskan untuk mencarinya di luar dan menemukannya berdiri di dekat balkon, menghadap menara eiffel.
"Wow ini indah." Ujarku kagum seraya berdiri disampingnya. Menatap menara Eiffel itu juga. Jullian sama sekali tidak menoleh padaku, membuatku sedikit merasa sakit hati. "Kau masih marah?" Tanyaku.
Tidak ada jawaban.
"Apa kau berniat mendiamkanku sampai kita kembali?" Tanyaku lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
"Baiklah. Nikmati waktumu Jullian. Selamat malam." Ujarku hendak beranjak ketika tiba- tiba tangannya menahan tanganku dan langsung memelukku dari belakang. Tubuhku seketika merinding merasakan sentuhannya.
"Aku mengkhawatirkanmu juga merindukanmu dalam waktu yang bersamaan." Lirihnya.
Eh?
"Aku terus menghubungi nomormu tapi tidak ada jawaban. Ini membuatku gila."
"Maaf." Pelan- pelan aku berbalik untuk menatapnya. Kusentuh wajahnya pelan- pelan. Merasakan teksturnya di jari- jariku. "Maaf....Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau akan mengkhawatirkanku seperti ini. Maaf Jullian."
"Kau sangat berarti untukku." Ucapnya pelan membuat tubuhku bergetar.
Kukalungkan kedua lenganku dan berjinjit untuk menempelkan bibirku ke bibirnya. "Aku tahu. Maafkan aku."
"Azalea, aku mencintaimu."
Aku tidak tahu harus merespon apa. Yang aku tahu adalah ada rasa panas yang naik ke leherku terus ke kedua pipiku.
"Jullian... kurasa aku siap." Ucapku tidak berani menatapnya.
Pelan- pelan aku merasakan kalau dia mengangkat daguku, membuatku harus menatap mata hijau itu lagi. Jantungku rasanya akan segera keluar dari rongganya. Ini tidak normal.
"K-kau bilang kalau aku sudah siap, kau akan melakukannya." Jika aku ditolak maka tidak ada jalan lain selain harus kembali malam ini juga. Aku bahkan tidak peduli jika harus tidur di bandara atau naik kereta atau apapun itu, selama itu tidak melibatkan Jullian didalamnya, kurasa aku akan baik- baik saja.
"Sayang, dengarkan aku."
"Apa aku boleh tidak mendengarnya saja? Aku tahu kau akan menolaknya."
Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Jullian tapi sedetik kemudian aku melihatnya tersenyum, senyum yang bisa membalikkan jiwaku saat ini juga.
"Tuhan tahu seberapa besar aku menginginkanmu, sayang." Ucapnya setengah geli.
"Kau tidak perlu menghiburku, Jullian." Apa sekarang aku mulai terlihat seperti jalang? Karena aku mulai merasakan hal itu.
Aku terdiam ketika pelan- pelan dia mengarahkan bibirnya di kedua mataku kemudian turun ke hidungku dan berhenti ke bibirku.
"Aku menginginkan segala yang ada dalam dirimu sayang termasuk" mengecup. "Bibir" mengecup. "Ini ." Aku mengerjap. Tubuhku masih membeku karena perlakuannya barusan. "Tapi seperti yang dulu kukatakan, aku ingin kau siap. Aku tidak ingin kau melakukannya karena sebuah beban. Karena suatu alasan. Aku ingin kita melakukannya karena itulah yang kita berdua inginkan dan bukan karena salah satu pihak."
Oh. Aku bahkan sudah lupa tentang itu.
"Aku tidak ingin melakukan seks denganmu, Azalea."
Hah?
"Aku ingin bercinta denganmu."
Tunggu. Apa ini...?
"Kalau begitu bercintalah denganku, Jullian." Aku tidak sanggup jika harus menunggu lebih lama lagi jadi kubawa bibirku ke bibirnya dan tersenyum puas ketika dia pada akhirnya membalas meskipun sedikit ragu tapi aku tidak peduli.
Aku menginginkannya dan aku tahu dia pun merasakan hal yang sama.
Tidak ada alasan lain untuk menundanya lagi.
***

🙈
ReplyDelete😁
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete