MASK- SPECIAL ANDERSONS




"Anak itu menderita, James" ujar Laura lirih pada suaminya.

Saat ini Laura memutuskan untuk mengambil tindakan dan dia tidak mau menunggu lagi. James yang tadinya sedang asyik dengan beberapa berkas diruang kerjanya seketika mendongak untuk melihat istrinya. Kedua alisnya saling bertaut menandakan kalau pria itu tidak mengerti apa yang baru saja istrinya katakan.

"Menderita? Anak siapa yang menderita?" Tanya James kebingungan. Seingatnya, dia hanya punya satu anak dan seingatnya lagi, Jullian tidak pernah kelihatan menderita. Atau jangan- jangan Laura menyembunyikan sesuatu mengenai Jullian?

Disisi lain, Laura mau saja menghancurkan atau mungkin sekalian merobek semua berkas yang berada diatas meja suaminya tapi apakah itu akan meredakan kejengkelannya terhadap sang suami atau tidak. Dia tidak tahu.
James yang melihat istrinya hanya diam sambil menatapnya, tahu kalau istrinya sedang merajuk, maka dengan pelan dia menutup semua berkas- berkasnya dan berdiri untuk menghampiri istrinya.

"Aku minta maaf, sayang tapi aku benar- benar tidak mengerti siapa yang kau bicarakan. Anak siapa yang menderita?" Tanya James setelah berada dihadapan istrinya dan menatapnya lembut.

"Anak perempuan yang Jullian pernah ceritakan" jawab Laura yang kembali membuat James mengernyit.

"Maksudmu anak perempuan yang di rumah sakit itu?" Biar bagaimanapun dia perlu memastikan ingatannya. Dulu ketika Jullian masih berusia 15 tahun, dia mengatakan kalau dia bertemu malaikat yang sedang menangis dan menghiburnya. James tidak pernah melihat malaikat yang Jullian katakan tapi Laura pernah diam- diam membuntuti Jullian ke rumah sakit dimana ayahnya sering dibawa untuk pemeriksaan rutin. Untuk yang satu itu, Laura sangat protective pada Jullian karena Jullian adalah anak satu- satu dari keluarga Anderson. Keluarga yang memegang hampir seluruh sektor perekonomian di negara ini. Tidak ada yang tidak mengetahui Anderson Inc dan Jullian adalah pewaris tunggal dari perusahaan bertaraf internasional itu.

"Aku berusaha mencari keberadaan anak itu selama ini" kata Laura yang membuat James terkejut. Dia tidak pernah menyangka kalau istrinya akan berbuat senekat ini, mengingat kejadiannya sudah bertahun- tahun yang lalu. James bahkan tidak yakin, apakah Jullian masih mengingat anak itu atau tidak karena faktanya saat ini Jullian sedang menjalin hubungan dengan seorang artis yang sedang naik daun.

"Aku masih tidak menyetujui Jullian dengan artis itu" kata Laura menyadari kemana jalan pikirannya berada. "Dan selamanya akan begitu."

"Laura," James memegang kedua lengan sang istri, lembut, "kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada Jullian." James berusaha menjelaskan pada istrinya.

"Tapi kita juga tidak bisa menutup mata kalau anak itu menderita disana."

"Kita bahkan tidak yakin kalau dia adalah anak yang kita cari selama ini."
Laura langsung menunjukkan ekspresi terluka, membuat James seketika dihinggapi rasa bersalah.

"Jadi kau menuduhku mengada- ngada, James?"

"Tidak. Bukan begitu, sayang" James kembali ingin menjelaskan pada istrinya ketika Laura langsung menyentak tangannya.

"Aku tidak berbohong, James. Menurutmu berapa lama aku harus menyelidiki hal ini? 6 bulan, James dan selama 6 bulan ini, aku harus menyewa detektif terkenal agar bisa memastikan."

"Sayang, bukan itu maksudku"

Lalu mendadak Laura terisak. "Kau tidak melihat Jullian waktu itu, James. Bagaimana Jullian berusaha untuk datang ke tempat itu bahkan setelah mengetahui kakinya hampir patah karena terjatuh dari atas atap sekolah. Kau tidak melihat bagaimana marahnya Jullian ketika tahu kalau anak itu sudah tidak lagi berada di tempat dimana mereka sering bertemu dan menyadari kalau semuanya sudah terlambat dan dia tidak bisa bertemu dengan anak itu lagi. Kau tidak melihatnya, James. Kau tidak melihat bagaimana anakku sendiri tidak ingin melihat wajahku dalam waktu yang cukup lama karena kekeras-kepalaanku yang melarangnya pergi waktu itu. Kau tidak melihat itu semua, James!"

James tidak tahu harus mengatakan apa, dia hanya bisa membawa Laura kedalam pelukannya yang untung saja istrinya tidak menolaknya kali ini.
Ya. Waktu itu James tidak berada disamping Laura. Ada anak perusahaan yang bertempat di Belanda, membutuhkan penanganan segera dan mengharuskan James berada disana selama satu bulan. Selama satu bulan itu, Laura tidak henti- hentinya menangis demi menceritakan bagaimana Jullian yang mendiamkannya.

"Shhhh... maafkan aku sayang." Ucap James lirih

"Kita harus melakukan sesuatu, James" balas Laura tiba- tiba
James baru saja akan menolak ketika pintu ruangannya diketuk dari luar dan menampilkan wajah Jackie.

"Aku mendengar isakan Laura. Apa kalian bertengkar?" Meskipun Jackie sudah tidak memegang posisi di perusahaan tapi wibawa yang dimiliki pria yang hampir 70 tahun itu masih bisa terlihat.

"Aku ingin membawa anak itu, Yah." Jawab Laura setelah melepaskan dirinya dari pelukan James.

Baik Jackie maupun James sama- sama saling menatap dan kini gantian Jackie yang mengernyit bingung melihat Laura.

"Anak? Anak siapa?" Tanya Jackie

"Anak yang dulu Jullian ceritakan" James berinisiatif menjawab.

"Bukankah anak itu tidak bisa ditemukan?"

"Aku menemukannya, Yah" sahut Laura

"Tapi bagaimana?"

"Aku menyewa beberapa detektif untuk mencari keberadaan anak itu."
Sama halnya dengan James, Jackie tidak tahu harus mengatakan apa pada menantunya yang sangat dia sayangi itu.

"Baiklah. Sekarang dimana anak itu berada?" Jackie berusaha untuk mengambil jalan tengah dari permasalahan ini. Sejak awal memang Laura tidak pernah melupakan sosok anak perempuan yang menurutnya sangat cantik itu.

"Dia salah satu anak dari keluarga Smith."

Kali ini baik James maupun Jackie tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya. Hampir seluruh kalangan pengusaha dan pebisnis mengenal sifat dari keluarga Smith. Berfoya- foya dan berbuat curang adalah salah satu trackrecord dari keluarga itu.

"Apa maksudmu Marissa?" Tanya James.

Hanya Marissa yang kelihatan normal dalam keluarga itu tapi meskipun begitu, James tidak yakin kalau Marissa adalah anak itu. Marissa kadang bersikap liar dan tidak peduli pada apapun.
Sejenak Jackie berdehem. Dia juga sedikit tidak mempercayai kalau Marissa lah orangnya.

"Anakku, sepertinya kau salah orang. Marissa tidaklah seperti..."

"Dia bukan Marissa, James. Yah." Potong Laura, "namanya Lea. Dia adalah anak dari wanita lain Oliver."

James tidak tahu merespon apa. Dia tidak pernah menyangka kalau Oliver memiliki anak dari wanita lain. Sekarang James mengerti alasan kenapa anak itu menderita seperti yang dikatakan istrinya. Keluarga itu sudah kacau balau dan kedatangan anak hasil dari wanita lain tentunya semakin memperburuk keadaan.

"Aku ingin mengambil anak itu, James. Yah." Lanjut Laura

"Sayang," James mencoba untuk menjelaskan persoalannya pada istrinya yang sangat keras kepala, "tidak ada yang bisa kita lakukan, sayang. Anak itu- maksudku Lea. Takdirnya berada di keluarga itu."

Laura kembali terisak. Dia merasa tidak rela jika semua yang telah dia lakukan menjadi sia- sia apalagi ketika melihat anak itu harus mengalami masa-masa pahit dulu.

"Tidak adakah yang bisa kita lakukan, James?" Tanya Laura disela tangisnya, membuat James tidak tega melihatnya. "Dia terluka dan aku juga terluka melihatnya seperti itu."

"Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan." Balas James semakin membuat Laura terisak tak terkendali.

"Apa ada kemungkinan perusahaan mereka membutuhkan kerjasama bisnis, James?" Tanya Jackie tiba- tiba, menatap kedalam mata James, mengindahkan tatapan kebingungan Laura.
James terdiam, menelaah maksud ayahnya ketika sebuah pemikiran terlintas dalam benaknya.

"Mereka pernah menawarkan kerjasama bisnis pada perusahaan kita tapi karena penawarannya yang mereka sodorkan terlalu bertele- tele dan membuang- buang waktu maka perusahaan mereka ditolak." Jelas James

"Kalau begitu ubah kerjasama itu. Tawarkan salah satu anak mereka, dalam hal ini anak yang bernama Lea itu harus menjadi sasaran kita."

"Tapi, Yah" James baru saja akan menyela ketika kembali dipotong.

"Mungkin ini akan menyakitkan bagi mereka berdua tapi tidak ada jalan lain selain ini."

"Apa maksud, Ayah." Kali ini Laura mengeluarkan suara, bingung.

"Kita akan menawarkan pernikahan bisnis antar dua perusahaan dan baik Jullian dan Lea harus sama- sama setuju." Jawab Jackie.

"Tapi, Yah" Laura kembali akan menyela ketika James mengambil alih.

"Mungkin kita akan mengeluarkan banyak dana untuk kerjasama ini tapi disisi lain itu juga sepadan." Laura terdiam, dia tidak menyangka kalau suami dan mertuanya akan mengambil resiko sebesar ini, "dan jangan beritahukan pada Jullian yang sebenarnya. Kita akan lihat sampai sejauh mana dia bisa mengenali cinta pertamanya dan mempertahankannya." Sudah saatnya James memberikan arti tanggung jawab pada putranya, meskipun James tahu Jullian saat ini berpacaran dengan seorang artis yang diam- diam diketahuinya sering bergonta- ganti pasangan

Sementara itu Laura tidak tahu harus mengatakan apa. Dia begitu beruntung memiliki seorang suami dan mertua yang baik hati, yang rela melakukan apapun untuknya tapi juga sedikit merasa khawatir, apakah pernikahan yang tiba- tiba bisa membuat keduanya bahagia? Dan kali ini Laura bertekad untuk menjadi penghubung diantara mereka.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS