MASK- DUA DELAPAN
Jullian PoV
Ada yang aneh dengan dirinya!
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya tapi entahlah, ini seperti dia berusaha untuk menghindariku. Aku bahkan berani bersumpah jika dia berusaha tidak melakukan kontak mata denganku dan akan segera memalingkan wajahnya jika tidak sengaja bertatapan denganku padahal sebelum kehadiranku, aku sempat melihatnya sedang bercanda gurau dengan ibuku di dapur dan mendadak terdiam ketika menyadarku.
Saat ini aku dan Dane berada dirumah orang tuaku. Khusus untuk Dane, sepupuku satu ini memaksa untuk ikut dengan alasan ingin bertemu dengan kakek tapi aku tahu dia hanya penasaran dengan masakan Lea. Sebenarnya aku juga cukup terkejut mengetahui kalau sebagian masakan yang terhidang diatas meja ini adalah buatan Lea, mengingat aku hampir tidak pernah melihatnya menyentuh dapur selama kami bersama. Kenapa dia harus berpura- pura seperti wanita manja dan angkuh diawal pernikahan kami? Kenapa dia dulu harus membuatku berpikir kalau dia adalah wanita sombong yang hanya menginginkan harta?
"Jullian benar- benar beruntung bisa merasakan masakan ini setiap hari." Ujar Dane, duduk tepat didepan Lea.
Kupalingkan wajahku dan menoleh kearah wajah Lea dan melihat dia hanya menyunggingkan senyum tipis sebagai balasan. Tatap aku Azalea!. Aku bisa memastikan kalau dia menyadari aku yang memperhatikannya tapi dia jelas menolak untuk menoleh. Wanita ini! Erangku dalam hati merasakan kekerasan hati juga kepalanya. Kuulurkan tanganku kebawah meja dan memegang sebelah tangannya ketika merasakan dia tersentak dan (lagi) dia menolak untuk menoleh melainkan berusaha melepaskan diri.
"Sering- seringlah datang kemari, Lea. Kudengar kau sakit. Jangan terlalu memaksakan dirimu." Kakek memberikan senyum penuh kasih pada Lea dan hanya dibalas anggukan pelan dari wanita disampingku ini. "Bagaimana pekerjaanmu?"
"Tidak begitu buruk. Ada banyak orang yang membantuku." Jawabnya pelan
.
"Ada apa? Apa ada yang menganggumu?"
"Eh?" Lea tersentak dari usahanya melepaskan diri dan memandang Dane dengan senyum penuh seringainya. Sepupuku satu ini memang paling senang menggoda orang dan dari yang pernah dia katakan padaku adalah Lea adalah favoritnya. Entah apa maksudnya tapi menurutnya Lea bisa terlihat sangat polos jika diperhatikan lebih dekat dan ada saat dimana aku menyetujui kalimat Dane tersebut.
"Jangan khawatir, Dane. Tidak ada yang terjadi dengannya." Kuangkat tanganku yang memegang tangan Lea dan menunjukkan pada semua orang di meja makan. "Aku hanya memegang tangannya."
Dane bersiul pelan. Dari sudut mataku ketiga orang tua disekitar kami hanya tersenyum menimpali dan aku tahu diam- diam ayahku juga melakukan hal yang sama pada ibuku karena aku melihat dia mengedipkan sebelah matanya kearahku, dan menoleh ketika mendapati Lea yang menatapku tapi langsung kembali mengalihkan pandangannya. Sial! Apa yang kau pikirkan?
Acara makan malamnya berlangsung dengan ramai dengan banyaknya celotehan yang didominasi oleh ibuku dan Dane yang berkelakar. Lea hanya menimpali pembicaraan jika ditanya dan kembali diam ketika sudah menjawab.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika aku memutuskan mohon diri. Dane memutuskan untuk menginap dirumah orang tuaku bersama kakek karena merasa terlalu lelah untuk kembali ke apartemen seorang diri.
"Sering- seringlah kemari, sayang." Kulihat Lea menganggukkan kepalanya pelan dan memeluk ibuku dengan hangat. Aku masih belum mengerti kenapa kakek dan ibuku sangat menyayangi Lea mengingat dia baru bertemu dengannya ketika kami akan dijodohkan.
"Ya. Sampaikan salamku pada kakek." Balasnya pelan tapi ada nada getir dalam suaranya. Apa dia tidak ingin pulang? Tapi kenapa?
"Akan kusampaikan sayang. Dia mungkin sangat kelelahan tapi aku tahu dia juga senang melihat kehadiranmu."
Lea tersenyum. "Aku pulang. Sampai nanti James, Dane."
"Jangan lupa menelponku jika sudah sampai." Gurau Dane seraya melemparkan tatapan penuh seringai kearahku dan aku tidak tahu apa yang membuat Dane tertawa terbahak- bahak setelahnya tapi melihat dari arah pandangannya, aku berasumsi Lea membalas ucapannya dengan balasan yang tidak pernah disangka oleh pria itu.
"Sudah larut malam. Kami pulang dulu." Ini akan menjadi malam yang panjang jika mereka tidak ada yang mau saling melepaskan seperti ini. Dan dengan anggukan kecil, Lea mengakhirinya dan berjalan mengikutiku ketika aku sadar dia berjalan menuju arah lain.
"Mau kemana?" Tanyaku, menahan agar dia tidak berjalan lebih jauh lagi.
"Pulang." Jawabnya bingung.
"Bukankah mobilku ada disebelah sini?" Aku menunjukkan mobilku yang berada tepat didepannya.
"Tapi aku juga bawa mobil."
"Kita akan pulang bersama." Aku perlu tahu ada apa denganmu.
"Tidak. Terima kasih, Jullian tapi aku masih sanggup untuk menyetir di malam hari." Tolaknya seraya melepaskan tanganku dari lengannya.
"Apa kita perlu mendiskusikan hal ini sekarang? Ada banyak orang yang sedang melihat kita" Aku melihat dia berbalik dan meringgis, digigitnya bibir bawahnya gugup ketika menyadari kalau baik orang tuaku maupun Dane belum ada yang masuk kedalam rumah.
"Tapi bagaimana aku ke kantor besok jika mobilku ada disini?"
"Aku akan mengantarmu."
"Apa ada masalah, Jullian?" Tanya ayahku ingin tahu.
"Sepertinya Azalea akan meninggalkan mobilnya disini. Kami akan pulang satu mobil." Jawabku mengindahkan pelototan Lea padaku.
"Oh tidak masalah. Kau bisa mengantarnya kembali lagi kesini besok pagi sebelum berangkat ke kantor."
"Aku berencana akan mengantar Azalea ke kantor dan mungkin menyuruh seseorang untuk membawa mobilnya besok."
"Oh. Kalau begitu baiklah."
Aku mengangguk. "Kau dengar? Sekarang masuk." Perintahku. Dia tampak ingin membantah tapi langsung kubawa ke samping kemudi dan membuka pintu untuknya.
Selama perjalanan. Tidak satupun percakapan yang terjalin diantara kami hingga kami hampir memasuki basement apartement.
"Apa kau mencintai Caroline?"
Apa?. Aku menoleh tapi hanya mendapati dia yang masih menatap keluar jendela. "Kenapa kau tiba- tiba membahas dia?"
"Tidak ada."
Dan hening.
"Lihat aku, Azalea."
"Kita sudah sampai. Terima kasih atas tumpangannya."
Sial. Ada apa dengannya?. Aku langsung menahan lengannya sebelum dia membuka pintu mobilku dan berbalik menatapku kemudian kearah lengannya yang kupegang.
"Sekarang kau melihatku. Ada apa sebenarnya? Kenapa kau kembali bersikap dingin dan menghindariku."
"Aku tidak menghindarimu. Sekarang lepaskan aku. Aku ingin istirahat.
"
"Tidak sebelum kau menjelaskan apa yang terjadi dan kenapa kau tiba- tiba menyebut nama .... " seakan ada yang menyalakan lampu diotakku, aku mulai mencurigai satu hal. "Kau bertemu dengannya?" Aku mulai merasakan kemarahan mulai menggelegak dalam diriku.
"Tidak. Sekarang lepaskan aku!." Dia menyentakkan lengannya hingga terlepas dariku dan keluar dari mobil.
Sial.
Tergesa aku turun dari mobil dan merasa beruntung ketika aku bisa mengejarnya sebelum pintu liftnya menutup. Dia melihatku dengan raut wajah datar dan terbelalak ketika aku menahan pergerakan lift kami.
"Apa yang kau lakukan?!" Bentaknya marah hendak menekan tombol dibelakangku tapi langsung ku tahan menggunakan kedua tanganku. Dia melotot padaku dan aku tidak peduli. Dia perlu menjelaskan apa maksudnya tadi.
"Kapan kau bertemu dengannya?!
"Tekan tombolnya kembali, Jullian." Desisnya pelan dan marah.
Keluarkan semuanya sayang. Akan lebih mudah melihatmu yang marah daripada kau yang menghindariku.
Kutatap dia penuh selidik ketika kembali mencurigai satu hal. "Apa itu Carol? Orang yang kau temui ketika jam makan siang?"
"Bukan urusanmu! Sekarang tekan kembali tombolnya!"
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada."
"Jangan bohong, Azalea."
"Baiklah! Dia mengatakan dia mencintaimu, puas?!"
"Dan apa lagi?"
"Dia menanyakan kapan pernikahan konyol ini akan berakhir."
"Apa? Dan apa yang kau katakan?"
"Memang aku harus menjawab apa?. Dengar Jullian, kehidupanku sudah cukup sulit tanpa harus dilibatkan dengan urusan romansa kalian dan jika kalian ingin...."
Aku tidak tahan lagi. Kuarahkan bibirku ke bibirnya, melumatnya dengan keras. Tidak peduli dengan dia yang terus meronta dan semakin dia meronta, semakin aku memperdalam ciumanku.
"Balas ciumanku, Azalea" Bisikku tanpa melepaskan bibirnya dariku. "Aku bahkan tidak peduli jika harus menghabiskan sepanjang malam hanya untuk menciummu."
Kami sama- sama tersenggal tapi matanya masih membelalak kearahku. Kuelus pipinya lembut sementara tanganku yang lain dibelakang lehernya. Rasanya aku sulit mempercayai penglihatanku ketika melihatnya dia yang berbalik memejamkan mata. Kali ini kudekatkan bibirku ke bibirnya mencoba meresapi rasa bibirnya ketika dia menyambutku.
Hatiku membuncah ketika merasakan dia yang membalas ciumanku. Aku bahkan tidak yakin apakah harus berhenti atau tidak tapi satu hal yang aku tahu pasti kalau aku tidak akan bosan merasakan bibirnya lagi. Dialah yang kuinginkan dan apapun yang kuinginkan sudah jelas menjadi milikku.
Kami sama- sama melepaskan pagutan kami dan tersenyum ketika melihatnya tersenggal karena keintiman kami. Masih tanpa melepaskan diri darinya, kukecup keningnya sangat lembut lalu menyatukan keningku dengan keningnya.
"Aku sudah tidak lagi berhubungan dengannya." Ungkapku pelan, menanamkan maksudku pada dirinya. "Kaulah yang kupilih, bukan orang lain, bukan juga dirinya melainkan kau, Azalea Smith atau mulai sekarang menjadi Azalea Anderson. Kaulah prioritasku karena aku hanya akan melihatmu dan selamanya akan begitu."
***

Comments
Post a Comment