MASK- DUA LIMA
Lea PoV
Tunggu, apa katanya?
Cara tradisional?
Apa yang dia maksud dengan itu?
Cara tradisional tentang... Proses pembuatan anak pada... Umunnya?
Adakah yang bisa menjelaskan apa yang saat ini dia pikirkan?
Oke. Bernapas Lea. Tetap tenang.
"Kau tidak bermaksud.... Apa kau baru saja mengatakan agar aku harus tidur denganmu?" Akhirnya aku tidak tahan juga untuk tidak mengatakannya dan melihat ekspresi wajahnya saat ini membuatku... Brengsek! Kenapa aku justru membayangkannya?!
Jullian mengangkat bahunya, tampak sangat acuh dengan pembicaraan kami sementara aku mulai merasa seluruh tubuhku mulai gemetaran.
"Aku tahu pembicaraan ini akan memakan waktu yang lama." Ujarnya seraya menunjuk sofa terdekat. "Duduklah."
Aku tidak mau. Aku tidak ingin dan aku tidak sudi. Hati kecilku mengatakan dengan geram sekaligus sakit hati. Aku bahkan tidak bisa memikirkan motif yang dimilikinya selain ingin membuat hidupku hancur. Jullian pasti memikirkan cara untuk membalas dendam padaku. Dia ingin aku hancur. Tidak ada yang...
"Lepaskan! Apa yang kau lakukan?!" Aku meronta ketika serta merta Jullian menarikku ke dalam pangkuannya. "Lepaskan!" Tapi semakin aku meronta, cengkramannya juga semakin kuat mengelilingi tubuhku.
"Kau tahu itu percuma, sayang. Jadi biarkan saja seperti ini."kusipitkan kedua mataku, tidak lagi berusaha melepaskan diri dan herannya mendapati diriku rileks dalam pelukannya. "Nah, itu lebih baik." Aku bisa merasakan sebuah senyum tersungging di bibirnya. "Aromamu menggiurkan. Shampo apa yang kau gunakan?"
Hah?
"Strawberry, kurasa. Kenapa?" Tanyaku heran dengan perubahan pembicaraan yang mendadak ini.
Aku merasa tengkukku seketika merinding karena hembusan napasnya. "Aku menyukainya." Ujarnya. "Sangat pas dengan warna rambut yang kau miliki."
"Entah kenapa aku merasa seakan kau mengatakan kepalaku mirip dengan strawberry." Sial. Apa yang baru saja kukatakan? Ini semua pasti karena intimnya situasi kami sekarang. Aku jadi tidak bisa berpikir jernih.
Sebelum aku bisa merespon lebih lanjut, yang kudengar selanjutnya adalah dia tertawa. Tawanya terasa menyenangkan di telingaku dan aku menyukainya.
"Aku suka melihatmu tersenyum." Komentarnya lagi yang langsung membuatku memutar mata. Lagi- lagi aku mendengarnya tertawa.
"Aku tidak tahu apa penyebabmu tertawa tapi bisakah kau melepasku? Ada banyak tempat di sekitar kita." Aku mulai risih dengan kedekatan kami dan jantungku... Jantungku berdetak sangat cepat.
Lagi- lagi dia menampilkan senyum kecilnya dan aku terpaksa memutar kedua bola mataku padahal lagu- lagi jantungku berdetak semakin tidak karuan. "Akan lebih mudah buatku untuk mendiskusikan syarat yang kuinginkan."
Kedua keningku saling bertaut hingga aku melihat tangannya terulur ke keningku dan mengusapnya dengan lembut seakan menghapusnya.
"Jangan berpikir terlalu keras. Kau tidak akan mengalami kerugian apapun."
"Aku bisa menduga kau pandai melakukan negosiasi."
Kembali dia tertawa. "Kau akan mengetahuinya sebentar lagi."
Kuhela napasku secara berlebihan. "Aku tahu aku sudah salah datang kemari."
Ekspresinya mendadak berubah. Ada apa dengannya? Di menit yang lalu dia tertawa dengan mudahnya tapi di menit selanjutnya dia berubah menjadi segarang Hulk. Hanya beda warna saja.
"Perlu kutekankan, Azalea. Tidak ada jalan..."
"Mundur." Potongku. "Aku mengerti jadi bisakah kau mengendurkan sedikit cengkramanmu di pinggangku? Itu sedikit membuatku sulit bernapas." Awalnya dia cukup terkejut dengan apa yang baru saja kukatakan dan mendesah lega ketika aku merasakan tangannya sudah tidak menekanku seketat tadi.
"Maaf." Ujarnya.
Kuangkat alisku dan merasa sedikit bersalah. Mungkin dia juga tidak menyadari kalau dia sudah memegangku sekuat itu. Aku juga tidak tahu apa yang sedang kulakukan. Aku hanya mengikuti naluriku dan mengalungkan kedua lenganku disekeliling lehernya.
"Tidak masalah. Kau tidak menyakitiku." Kataku sambil mengangkat pundakku cuek.
Aku tidak tahu apa yang kembali membuatnya terkejut. Yang aku lihat, kedua matanya membesar karena keterkejutan yang nyata. Aku bisa merasakan kedua tangannya yang mendadak menegang tapi tidak menyakiti disekeliling pinggangku. Aku bisa merasakan dia yang menarik napas dan menghembuskannya dengan sangat pelan. Begitu hingga beberapa kali.
Apa aku mengambil udara terlalu banyak? Tapi itu tidak mungkin mengingat udara ada dimana- mana.
"Jadi apa itu berarti kau juga memintaku untuk pindah ke kamarmu?"
Dia menganggukkan kepalanya pelan. "Ya."
"Bukankah akan lebih baik jika kita memiliki privasi?"
"Tidak ada yang namanya privasi ketika kita masih terikat dengan yang namanya pernikahan." Lagi- lagi aku merasakan tubuhnya menegang. Tuhan. Kenapa dia mudah sekali merasa kesal?
"Jadi setelah kita bercerai, kita akan kembali melakukan privasi?" Bagus sekali!. Harus kuakui aku merasa jengkel mendengar dia mengatakan itu.
"Tidak akan ada perceraian diantara kita."
Wow. Ini semakin sempurna. Apa dia akan membuatku berada disisinya? Selamanya? Membunuhku secara perlahan?
"Terserah katamu saja. Aku hanya budak dalam kerjasama bisnis kita."
"Apa maksudmu?"
"Lupakan saja. Jadi setelah aku tidur denganmu, kau akan melakukan apa yang kuminta?"
Tatapan matanya seakan ingin menembus tembok yang selama ini kubangun tapi tak kan kubiarkan dia.
"Tidak. Kita akan melakukannya secara bertahap."
"Dan aku sama sekali yakin tidak mengerti dengan maksud kalimatmu yang mengatakan kalau kau akan melakukannya dengan bertahap."
Damn it! Berhentilah menertawakan apapun itu.
"Kita hanya tidur, sayang. Kenapa kau membuatnya seakan itu hal yang paling sulit?"
Tentu saja itu sulit... untukku.
"Toh, ini bukan pertama kalinya kita tidur bersama."
"Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa kau memintaku untuk pindah ke kamarmu jika kau tidak ingin melakukan apa yang kuminta."
"Karena aku tahu kau belum siap. Kau hanya melakukannya karena sebuah alasan."
"Apa bedanya? Toh, hasilnya akan sama."
"Tidak akan sama jika kau tidak menginginkannya."
"Aku menginginkannya."
Dia menghela napas. "Baiklah. Kau menginginkannya tapi aku ingin kau menikmatinya."
"Apa maksudmu?"
"Sebelum aku melakukan apa yang kau minta. Aku ingin kau melakukan apa yang kuminta. Jangan menutup diri lagi."
"Maaf. Bisa tolong diperjelas?"
"Kau akan mengerti, Azalea sayang. Aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu padamu." Ujarnya seraya menyentuh ujung rambutku dan memainkannya dengan jari- jarinya.
"Meskipun aku masih tidak mengerti tapi baiklah, aku akan percaya padamu."
Dia tertawa. "Dan syarat terakhir...."
"Untuk ukuran pria yang memiliki segalanya, kau terlalu banyak menuntut."
"Bahkan jika aku memberimu seluruh uangku. Aku masih tidak tahu apa yang kau inginkan."
Aku tertawa gugup. Bagaimana dia....? Jangan terbawa suasana, Lea. Ini tidak seperti yang kau pikirkan.
"Baiklah. Apa syarat yang lain?"
"Jangan bertemu pria lain lagi."
*
Brengsek!
Dia pikir aku ini siapa? Apa dia pikir aku melakukan itu semua karena aku menginginkannya? Ini semua karena Collin yang menjebakku. Arghhhh!!!
Tok tok...
"Masuk."
Pintu ruanganku pelan- pelan terbuka dan menampilkan sosok Mia.
"Kau baik- baik saja?"
"Aku merasa sebentar lagi akan meledak." Kurobek kertas gambar tak berbentuk dan meremasnya menjadi bola kemudian melemparnya kedalam keranjang sampah. "Ada apa?"
"Jullian mengatakan dia akan tiba satu jam lagi disini"
"Apa dia kira aku makhluk gua yang sama sekali tidak mengerti bagaimana ponsel bekerja?"
Mia terlihat seperti sedang menahan tawanya mendengar sarkasmeku. Dia tidak lagi memanggil Jullian dengan sebutan Mr. Anderson melainkan dengan nama depannya. Aku berasumsi kalau baik Mia maupun Dane telah berkonspirasi melakukan sesuatu dibelakang punggungku.
Mia tahu tentang kejadian kemarin di ruangan Jullian dan dia mendengarnya bukan dari mulutku sendiri melainkan dari Dane. Entah apa motifnya melakukan itu tapi aku merasa asistenku bukan lagi asistenku. Damn!
"Dia mengatakan kalau dia sudah mencoba menghubungi ponselmu berkali- kali tapi selalu dialihkan ke pesan suara."
Kuulurkan tangan kiriku untuk meraih benda persegi empat itu dari dalam laci ketika menyadari kalau tadi sengaja aku matikan.
"Oh. Kurasa aku lupa menghidupkannya kembali." Ujarku menekan tombol nyala. Aku menunggu sampai ponselku menyala sepenuhnya ketika menyadari Mia masih berdiri dihadapanku.
"Apa masih ada yang ingin kau katakan padaku?" Tanyaku
.
Sejenak dia menghela napasnya. "Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Memberitahu apa?"
"Kalau kau meminjam uang di bank."
Aku terdiam merasakan emosiku kembali ke permukaan. "Kau. Mengecek. Akunku?!"
"Aku tidak sengaja melihat surat dari bank yang ditujukan padamu."
"Dan kau dengan sengaja membukanya?"
"Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku hanya penasaran dengan isinya."
"Apapun alasannya, kau tidak punya hak membukanya. Kau melanggar privasiku. Siapa saja yang kau beritahu?"
"Tidak ada. Hanya aku."
"Kalau begitu tetaplah seperti itu dan jangan coba- coba mengatakannya pada siapapun."
"Lea..."
"Bisakah kau meninggalkanku? Aku tidak ingin marah padamu."
"Lea kau..."
"Please?"
"Kau mempertaruhkan semua mimpi dan perusahaanmu, Lea. Aku bahkan tidak tahu untuk apa uang sebesar itu."
"Aku mohon."
"Lea..."
"Bersikaplah seperti kau tidak tahu apa- apa. Aku janji, aku akan mengurusnya."
Tidak ada yang bersuara selama beberapa menit.
"Baiklah. Aku percaya padamu."
"Terima kasih."
Kupijit pelipisku yang terasa sakit ketika merasakan dua buah lengan merangkul pundakku.
"Aku tidak tahu apa alasan kau melakukannya." Ucapnya pelan. "Tapi kau tidak harus menanggung semuanya seorang diri, Lea. Kadang kala kau harus menunjukkan kalau kau tidak sekuat yang orang lain pikirkan dan aku yakin baik aku, Dane maupun Jullian bisa mengerti jika kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
Aku mengangguk. Bukan karena aku akan menuruti ucapannya melainkan aku butuh untuk membuat pertahanan lain.
***

Comments
Post a Comment