MASK- EMPAT ENAM
Aku TIDAK AKAN PERNAH bisa melupakan apa yang telah terjadi tiga bulan yang lalu bahkan untuk mengingatnya kembali seakan membuat darahku kembali mendidih. Karena pria itulah sehingga sampai sekarang Lea belum sadarkan diri dan hanya terbaring koma.
Perutnya juga semakin hari semakin besar dengan usia kehamilannya yang memasuki minggu ke 18. Aku tidak menyangka kalau waktu itu Lea sedang mengandung anak kami dan jika bukan karena Jerry yang menahanku, sudah pasti aku akan kembali ke kantor polisi hanya agar bisa membunuhnya tapi Jerry mengatakan kalau Lea lebih membutuhkan diriku berada disampingnya apalagi waktu itu dokter Chen kembali menyuruhku untuk memilih antara Lea dan janin dalam kandungannya.
Aku baru akan mengatakan untuk menyelamatkan Lea karena Lea lah yang memiliki luka paling parah. Aku benar- benar akan membunuh Collin dan seluruh keluarga Smith atas apa yang pernah mereka lakukan pada Lea jika Jerry tidak menahanku lagi dan mengatakan kalau dia tidak menyetujui keputusanku untuk kembali melenyapkan calon anak kami.
Kami berdebat serius waktu itu dan hampir saja saling membunuh jika Jerry tidak langsung mengatakan sesuatu yang langsung membuatku terdiam.
"Apa kau tidak sadar bagaimana Lea sangat sedih waktu itu dan kau ingin membuatnya kehilangan lagi?!" Bentaknya."aku pernah mengatakan padamu bukan jika sekali lagi kau membuat Lea sedih maka akan kupastikan kalau kau tidak akan melihatnya lagi."
"Apa kau tidak lihat keadaannya? Dia terluka parah!" Aku balas membentaknya, marah. "Dan jangan coba- coba mengancamku, Culton karena Azalea adalah milikku dan selamanya akan begitu!
"Biar kuberitahu kau, Anderson. Lea tidak selemah yang kau pikirkan. Dia akan bertahan begitupun dengan bayinya"
"Apa yang membuatmu seyakin itu? Kau tidak..."
"Apa kau lupa? Aku tahu dirinya lebih banyak dari dirimu. Ini bukan pertama kalinya dia mengalami luka seperti ini"
"Apa yang kau bicarakan?"
"Dia pernah melompat dari lantai 5 tempat tinggal kami hanya karena dia tidak mau disentuh oleh pria itu"
Apa?
Dan sejak saat itu kuputuskan untuk menghancurkan mereka hingga tak bersisa. Untung saja ketika aku melakukan itu, Jerry tidak lantas menahanku, bisa kubayangkan apa yang akan kulakukan padanya jika dia kembali menahanku untuk melakukannya.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Jerry dulu. Lea berhasil selamat begitupun dengan bayi kami tapi sebagai konsekuensinya, Lea harus tertidur dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Dokter Chen hanya menyuruhku untuk tidak sekalipun meninggalkan Lea yang langsung kusetujui. Aku pun tidak ingin meninggalkannya sedetik pun. Pengalaman dimana dia pergi dengan jahitan yang kembali terbuka beberapa bulan yang lalu masih membekas dalam ingatanku dan aku tidak ingin itu terulang kembali apalagi ada bayi kami yang ikut berjuang didalam perutnya sana.
"Hai sayang, apa kabar?" Tanyaku pada sosoknya yang masih tertidur. Bekas- bekas pecahan kaca dan memarnya sudah hilang sebulan yang lalu. Untunglah, dokter Chen mengatakan tidak ada luka serius hanya saja kepalanya harus diperban karena mengalami benturan yang cukup serius dibagian sana dan menambahkan sepertinya tidak hanya sekali Lea membentur sesuatu. "Aku merindukanmu." Ku kecup kepalanya, sungguh betapa aku merindukan mata dan juga senyumnya dan terlebih lagi suaranya. Rasanya sungguh tidak tertahankan melihatnya seperti ini. "Aku membawakan buku cerita baru untuk anak kita... ya, aku tahu masih terlalu dini untuk menceritakan sebuah cerita padanya tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Kau begitu marah padaku karena terlambat menjemputmu waktu itu dan lebih memilih untuk tidur." Aku pura- pura menunjukkan ekpresi marah lalu aku beralih ke perutnya. "Hai makhluk didalam sana, oopss mommy pasti akan memarahi daddy kalau mendengar daddy memanggilmu seperti itu. Maaf, "kukecup perut Lea lembut. "Akan daddy ulangi. Halo malaikat kecilku, bagaimana keadaanmu disana? Tetaplah bertahan disana, okey dan bantulah daddy untuk membujuk mommy agar tidak marah lagi pada daddy. Daddy sangat merindukan mommy. Okey sayang?"
Tanpa sadar air mataku keluar dan dengan segera menghapusnya. Dokter Chen pernah mengatakan kalau aku tidak boleh menunjukkan ekpresi sedih tapi sulit rasanya jika melihat orang yang kau cintai justru terluka.
"Apa kau punya waktu, Jullian?"
Waktu itu alasan keterlambatanku adalah karena mendadak Marissa datang ke kantorku dan ingin membicarakan sesuatu.
"Marissa? Apa yang...?"
"Aku tidak akan bertele- tele, Jullian. Pesawatku satu jam lagi akan berangkat jadi..."
"Kau akan pergi?" Tanyaku langsung memotongnya.
"Ya. Aku akan ke Swiss. Ada pekerjaan disana."
"Tapi apa kau sudah sembuh?"
Tanpa kuduga dia memberiku tatapan mengejek. "Apa sekarang kau sedang berusaha memerankan sebagai kakak ipar yang baik? Ah, kau memang kakak iparku."
Apa yang sedang dia bicarakan?
"Aku hanya akan menanyakan ini. Apa kau mencintai Azalea?" Tanyanya lagi
Aku mengernyit. Tidak banyak orang yang memanggil Lea dengan nama panjangnya.
"Karena jika kau tidak mencintainya. Kusarankan kau untuk melepasnya." Lanjutnya yang langsung membuatku terdiam. Aku berusaha menebak apa yang dipikirkan wanita didepanku ini tapi wajahnya hanya menunjukkan wajah yang datar.
"Apa kau merujuk pada alasan kami menikah dulu?" Tanyaku lambat.
Dia terlihat mengendikkan bahunya. "Aku bahkan tidak peduli alasan kau menikah dengannya." Jujur aku tidak mengerti apa yang berusaha dia katakan. "Tapi kalau pada akhirnya kau akan melepasnya, sebaiknya lakukan sekarang. Aku tidak ingin dia semakin terluka."
"Semakin terluka katamu? Apa yang..."
"Yang jelas jika kau mencintainya. Lindungi dia... jaga dia...dia tipikal orang yang selalu menjaga apa yang dulu dikatakan padanya." Aku benar- benar tidak mengerti apa yang dia katakan dan langsung mencegatnya ketika dia akan pergi dari kantorku ketika kembali dia berkata.
"Kau sudah pernah bertemu dengan ibu kandungnya dan sudah tahu arti dari namanya, iyakan? Jadi pikirkan kembali itu. Satu hal lagi. Hanya kau yang dimilikinya di dunia ini jadi berperanlah sebagai... malaikat bagi dirinya atau mungkin... pangeran kuda putihnya."
Tidak lama setelah kepergian Marissa, Dane datang dengan tergopoh- gopoh dan mengatakan perihal pinjaman Lea hingga harus menjadikan kantornya sebagai jaminan pada bank yang ternyata untuk keluarga Smith. Belakangan Dane kembali memberitahuku kalau uang yang diberikan Lea pada mereka untuk membayar hutang akibat permainan judi yang hingga berkali- kali lipat.
Tentu saja setelah mengetahui itu apalagi dengan perlakuan mereka pada Lea semakin membuatku geram dan tanpa pikir panjang, menghancurkan semua apa yang dimiliki oleh mereka tanpa sisa termasuk perusahaan yang mereka miliki. Aku tahu kalau baik Oliver maupun Bertha berusaha menemuiku. Aku tahu alasan mereka mencariku apalagi mengingat saat ini Collin masih berada di penjara. Aku bahkan tidak berniat membuatnya keluar dari sana untuk selamanya.
Setengah jam lagi Jerry akan datang. Meskipun kami masih belum bisa disebut teman tapi tidak ada alasan untuk melarangnya datang ke rumah sakit. Aku tahu dia hanya berusaha melindungi Lea dan aku harus berterima kasih karena itu. Karena dia pulalah sehingga kami pada akhirnya akan memiliki malaikat kecil yang saat ini ikut berjuang bersama Lea. Keyakinan sekaligus kepercayaannya yang begitu besar kalau baik Lea maupun anak kami akan bisa bertahan.
Aku baru akan memutarkan musik klasik seperti saran dokter. Katanya musik klasik bisa menstimulasi otak baik itu Lea maupun malaikat kecil kami ketika aku melihat sedikit pergerakan pada tubuh Lea.
"Lea..." pelan- pelan aku menyebut namanya. Jantungku rasanya bertalu- talu hingga rasanya sangat menyakitkan ketika perlahan dia membuka matanya. "Tunggu, akan kupanggilkan dokter." Aku langsung menekan tombol disamping tempat tidurnya.
Tidak lama kemudian dokter Chen datang dengan beberapa perawat untuk memeriksa Lea dan aku terpaksa harus melihat dari sisi tempat tidur selama mereka memeriksa keadaannya ketika aku melihat dokter Chen memberikan senyum padaku. Beberapa detik kemudian, pintu ruangan Lea bergeser dan menampillkan Jerry dengan buket bunga di tangannya.
"Astaga... kau sudah sadar?" Jerit Jerry nyaris tertahan dan Lea terpaksa mengalihkan tatapannya yang sejak tadi padaku kearah Jerry.
Lea tampak mengernyit kemudian berusaha duduk ketika kembali dia terdiam dan mengarahkan pandangannya ke perutnya yang sudah terlihat membesar. Aku segera berjalan mendekatinya ketika menyadari kalau dia memberiku pandangan bingung miliknya.
"Hati- hati. Kau baru sadar." Kataku.
"Bisakah aku meminta segelas air? Kurasa aku kehausan." Suaranya terdengar serak yang menurutku sangat wajar.
Sejenak aku berpaling untuk meminta persetujuan dari dokter Chen ketika sebagai balasan dia mengangguk. Kulihat Jerry menaruh buket bunganya diatas meja kemudian menuangkan air didalam gelas. Dengan pelan aku membantu Lea untuk duduk dan menumpuk beberapa bantal dibelakangnya sebagai sandaran.
"Terima kasih". Cicitnya setelah aku melepaskan tanganku dari tubuhnya lalu menerima air yang disodorkan oleh Jerry dengan kedua tangannya.
"Senang melihatmu bangun lagi, sleeping beauty. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"
Aku seperti ingin menjitak kepala Jerry saat ini juga atas pertanyaannya yang konyol ketika mendengar suara renyah Lea.
"Berapa lama aku tidur?"
"Cukup lama hingga membuat bunga- bunga yang kubawa layu."
"Apa yang terjadi? Maksudku bagaimana aku bisa berada disini?"
Baik aku, Jerry maupun dokter Chen terdiam, tidak tahu harus menjawab apa ketika dokter Chen mengambil alih.
"Kau akan segera mengetahuinya. Lea tapi sebelum itu kau harus istirahat untuk memulihkan kesehatanmu."
Lea tampak ingin membantah tapi pada akhirnya dia mengalah lalu kembali membaringkan tubuhnya dengan dibantu dokter Chen. Aku baru saja akan mendekatinya ketika ia memalingkan wajahnya kearah Jerry.
"Um... Jerr."
Jerry tampak terkejut dan sejenak melihatku ketika kembali berpaling pada Lea.
"Ya?"
"Um...apa terjadi sesuatu diantara kita?" Lea tampak ragu ketika menanyakan hal itu dan aku berani bersumpah kalau aku melihat wajahnya memerah. Tidak mungkin jika Jerry tidak melihatnya juga.
"Apa yang kau katakan? Seingatku tidak ada. Kenapa? Apa kau merasakan sesuatu?"
Perlahan aku melihat tangan Lea mengusap perutnya pelan.
"Kau tahu, " suaranya terdengar pelan dan mungkin... Malu? "butuh pria dan wanita untuk membuat bayi jadi apa... kita?"
Fix. Sekarang aku mengerti kemana pembicaraan ini mengarah. Cara Lea menatapku dan berbicara padaku tadi membuatku menyadari keanehan yang sejak awal kurasakan ketika dia mulai membuka matanya.
***

Comments
Post a Comment