MASK- SPECIAL OLIVER SMITH
Dia cantik..
.
Dia menawan...
Dia memukau...
Dan...
Dia seksi.
Tidak ada yang menyangka kalau malam ketika Oliver bertengkar hebat dengan Bertha- istrinya adalah malam terindah yang pernah dia jumpai. Malam dimana Oliver seperti telah melihat dewi kecantikan yang menjelma turun ke bumi.
Rosianna.
Atau orang- orang memanggilnya... ROSE
Dia bunga paling cantik yang pernah Oliver lihat. Oliver pertama kali melihatnya ketika dia tidak sengaja berada di klub malam. Waktu itu Rose merupakan bartender yang baru saja dipekerjakan. Dia memiliki wajah yang terbilang manis dengan lesung pipit yang terlihat ketika dia tersenyum dan tertawa. Suaranya juga bagai melodi musim semi yang sangat indah, matanya yang tajam tapi juga penuh kelembutan serta rambut pirang stroberinya yang semakin mempertegas penampilannya. Dibandingkan itu semua, payudara dan bokong penuh yang dimiliki oleh Rose lah yang menjadikan wanita itu sebagai fantasi liar para kaum adam dan Oliver salah satu dari sekian banyak pria yang menginginkannya.
"Seperti biasa, Mr. Smith?" Rose memberikan senyum yang biasa dia berikan pada pelanggan tetap seperti Oliver.
Ya. Sudah sebulan ini dia selalu datang ke tempat Rose bekerja hanya untuk memesan beberapa tequila yang sebenarnya itu sebagai kedok. Alasan sebenarnya dia datang kesana adalah agar bisa memandangi serta memuja sang dewi kecantikan.
"Bagaimana keadaan ibumu, Rose?" Oliver memang tahu kalau ibu Rose sering sakit- sakitan tapi mengenai penyakitnya, Oliver tidak tahu. Rose juga menolak untuk memberitahu dengan alasan tidak mau Oliver merasa terbebani.
Oliver adalah satu- satunya pelanggan tetap yang akrab dengannya, karena selain Oliver cukup enak diajak bicara, Rose juga seperti mendapatkan teman yang bisa diajaknya bercanda disela rutinitas hariannya. Tidak ada yang tahu tentang niat sebenarnya Oliver waktu itu dan menganggap kalau pria yang baru saja menginjak kesuksesan itu hanya sekedar ingin berteman, mengingat Rose juga baru akan memulai bisnis kecil- kecilan.
Rose sudah lama memimpikan memiliki toko bunga sendiri dan dia sudah belajar menabung sejak tiga minggu yang lalu, meskipun dananya belum mencukupi tapi dia berkeyakinan, jika setiap malam dia mendapatkan tip 6 sampai 10 dolar, bisa dipastikan dalam setahun dia sudah memiliki toko bunga kecil dengan menyewa. Dan pelanggan barunya yaitu Oliver kadang memberinya tip yang jauh lebih besar, 15 sampai 20 dolar. Jumlah yang sangat fantastis baginya.
"Sudah agak baikan, Oliver tapi aku harus tetap memantau keadaanya. Akan sulit bagiku untuk meninggalkannya setiap malam seperti ini" jelas Rose seraya tersenyum sedih.
"Jangan bersedih. Semuanya akan baik- baik saja"
Rose menganggukkan kepalanya, semua akan baik- baik saja. Itulah yang selalu dia katakan untuk dirinya sendiri.
"Jadi kau akan lembur malam ini?" Tanya Oliver seraya meneguk tequilanya.
"Ya"
"Itu tidak baik untuk wanita secantik dirimu pulang sendirian" komentarnya yang langsung membuat Rose tertawa.
"Jangan khawatir, Oliver. Ada Pedro yang akan mengantarku"
Serta merta kening Oliver saling bertaut, "Pedro? Bukankah dia juga pekerja sini? Sebagai pelayan?"
Oliver tahu Pedro meskipun tidak mengenalnya. Dia adalah pria dengan perawakan tinggi, kulit yang nyaris hitam seperti sering terpapar matahari dan wajah yang bisa dibilang lumayan.
Rose mengangguk tapi langsung berbisik, berusaha agar tidak terdengar orang- orang. "Kami sudah berpacaran lebih dari setahun ini. Dia pulalah yang membuatku bisa bekerja dan mengumpulkan uang tapi jangan bilang pada siapapun, Mr. Smith. Salah satu dari kami bisa dipecat jika pemilik tempat ini tahu kalau ada karyawannya yang menjalin hubungan" katanya
Oliver berusaha untuk tidak memecahkan gelas ditangannya ketika mendengar wanitanya- ya, Rose adalah wanitanya. Tidak seorangpun boleh memilikinya selain dirinya.
Dan apa katanya tadi?
Mr. Smith?
Kemana panggilan Oliver itu lagi?
"Berjanjilah, Mr. Smith untuk tidak mengatakan pada siapapun" ucapan Rose disertai tatapan memohon darinya lah yang membuat Oliver terpaksa mengiyakan.
Sejak pengakuan Rose waktu itu, Rose tidak lagi menyembunyikan status hubungannya dengan Pedro di depan Oliver. Mereka bahkan selalu menunjukkan sikap mesra dan saling mengecup ketika tak ada melihat tapi Oliver tahu. Dia selalu tahu apa yang selalu dilakukan oleh wanitanya.
Oliver merasa dikhianati. Dia merasa sakit, marah, jengkel dan rasanya ingin membunuh Pedro hingga dia menyusun sebuah rencana. Rencana yang akan membuat Pedro lenyap dari muka bumi dan rencananya berhasil. Pedro meninggal karena tabrak lari ketika akan menuju klub untuk bekerja.
Oliver tidak mengira kalau Pedro telah melamar wanitanya, setelah melihat cincin yang terdapat di jari manis Rose dan bersyukur karena telah merebut kembali wanitanya.
Sudah lewat satu minggu sejak kecelakaan itu terjadi dan Rose telah kembali menjalani aktivitasnya meskipun masih tergurat kesedihan di wajahnya dan itu membuat Oliver tidak tahan.
Hingga malam itu terjadi.
Seperti biasa Rose selalu pulang malam dari bekerja ketika mendapati Oliver menunggunya di depan pintu mobilnya.
"Sudah malam. Aku akan mengantarmu" ucapnya kala itu
Rose sama sekali tidak menaruh curiga dan karena Oliver sering membantunya maka dengan mudah dia percaya dan masuk kedalam mobil. Sementara Rose tertidur karena kelelahan, Oliver membawa Rose ke bungalow yang sengaja dia sewa dari rekan bisnisnya.
Dia membawa Rose kedalam kamar dan mulai membuka satu persatu kancing blus yang dikenakan Rose ketika mendadak kedua matanya terbuka.
"Oliver! Apa yang kau lakukan?! Rose berusaha menutupi dadanya yang telanjang dengan tangannya ketika melihat Oliver tersenyum.
"Aku ingin mencicipimu, sayang. Tahukah kau berapa lama aku menunggu saat ini?"
"Kau gila! Tinggalkan aku!" Seru Rose hendak melarikan diri tapi langsung ditarik oleh Oliver kembali keatas tempat tidur.
"Lepaskan aku, Oliver!" Ronta Rose tapi Oliver semakin mengencangkan pegangannya di kedua tangan Rose sementara lidahnya mulai menjalari leher manis itu.
"Oh, kau memang nikmat" desah Oliver tidak tahan dan mulai memagut bibir dan payudara Rose.
"Hentikan!" Rose mulai menangis, terisak. Dia tidak pernah membayangkan kalau akan dibeginikan oleh orang yang selama ini dipercayainya.
Dia menangis, memohon agar Oliver menghentikan perbuatannya tapi tidak diindahkan oleh Oliver. Tidak hanya sekali tapi berkali- kali Oliver melakukannya dan Oliver tidak pernah merasa bosan, membuatnya nyaris sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Hatinya hancur. Jiwanya hancur dan semakin hancur menyadari kalau Oliver tidaklah setulus yang dia perkirakan. Selama Oliver menikmati tubuhnya, tidak henti- hentinya dia menyebut nama Pedro dan ibunya untuk menyelamatkannya tapi tempat yang didatanginya sangat sepi, percuma saja jika dia berteriak, tidak akan ada yang mendengarnya dan Pedro juga sudah...
Rose berusaha untuk menutup hati dan telinganya tatkala mendengar setiap desahan disertai lenguhan penuh gairah dari Oliver berhenti karena kelelahan dan melihat kesempatan itu. Dengan tertatih- tatih Rose mengumpulkan pakaiannya dan mengenakannya sangat pelan, berharap Oliver tidak menyadari atau mendengarnya. Mengendap- endap keluar dari tempat itu dan dengan kekuatan yang masih tersisa, dia melarikan diri.
7 tahun kemudian, Oliver mengetahui kalau Rose telah melahirkan seorang putri dan tidak terlalu terkejut ketika mendapati anak perempuan Rose memiliki warna mata yang mirip dengannya kecuali untuk rambutnya, rambut anak itu berwarna merah dan Oliver tahu dari mana anak itu mewarisinya.
Oliver ingin bertanggung jawab. Biar bagaimana pun dia masih menginginkan Rose tapi Rose tidak mau, dia menolak. Dia masih merasa sakit hati tapi meskipun begitu dia tetap mengijinkan Oliver untuk bertemu putrinya, tapi dengan satu syarat. Oliver tidak boleh mendekati putrinya yang diberi nama Lea dalam jarak lima meter. Intinya Oliver hanya boleh melihatnya dari jarak jauh.
Tapi sepandai- pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga. Bertha mengetahuinya dan dengan terang- terangan mengancam Rose jika tidak, itu akan berimbas pada anaknya. Tidak ada pilihan lain selain kembali melarikan diri, menjauh dari Oliver.
Satu setengah tahun kemudian, mendadak Oliver menerima surat dari Rose, disitu dia meminta dan memohon bahwa jika sesuatu terjadi padanya, maka untuk menebus kesalahannya dia harus merawat Lea. Beberapa bulan kemudian, Oliver mendengar kabar kalau Lea dibawa ke panti sosial karena sudah tidak memiliki keluarga. Neneknya sudah meninggal ketika dia berumur 4 tahun. Demi Rose dan masa lalunya, Oliver memutuskan untuk membawa Lea ke rumahnya.
Tapi semuanya tidak berjalan seperti direncanakan. Bertha tahu siapa sebenarnya Lea dan dia mengancam akan membunuh Rose jika Oliver berani menunjukkan kasih sayangnya pada anak itu. Lagipula Oliver tidak memperdulikan hal itu, tujuan utamanya dia menemui Rose dulu agar bisa merebut hati wanitanya, dan jalan satu- satunya adalah dengan memanfaatkan anak itu tapi ketika mendengar kata penolakan dari Rose ditambah beberapa minggu kemudian, mendadak Rose menghilang, membuatnya berkeyakinan kalau semua ini karena anak itu. Oliver mengira Rose berubah pikiran karena anak itu.
Anak perempuan berparas cantik yang sangat mirip dengan wanitanya tapi bukan wanitanya.
***

Comments
Post a Comment