MASK- TIGA DELAPAN
"Lea."
Aku berbalik dan tersenyum ketika menemukan Janet yang juga menyunggingkan senyum padaku.
"Bagaimana keadaanmu dan bayi dalam kandunganmu sayang?" Tanyanya seraya menyentuh perutku yang telah membuncit.
Ya. Tak terasa usia kandunganku sekarang sudah hampir menginjak 7 bulan. Bayangkan! Sebentar lagi aku akan melihatnya dan aku sudah tidak sabar akan hal itu. Rasanya sulit mempercayai ucapan Jullian di rumah sakit waktu itu. Maksudku, aku memang ingin hamil dan punya anak tapi ini masih terasa seperti keajaiban bagiku. Aku tersenyum, menempatkan tangan kananku juga diatas tangannya.
"Aku masih merasa ini mimpi, Janet." Ucapku dan dia membalasku dengan senyum di bibirnya.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, sayang." Balasnya lemah lembut lalu kami berdua memandangi sosok yang duduk di kursi roda tidak jauh dariku.
Sama halnya dengan keajaiban aku yang hamil, keadaan ibuku juga berangsur membaik. Benar kata Janet dulu, kehamilanku bisa membantu dalam hal pengobatan ibuku. Lambat- lambat ibuku mulai mengenaliku meskipun hanya sebagai caregiver tapi itu sudah cukup. Dia bahkan lebih mempedulikan kehamilanku dengan menyuruhku memakan makanan yang sehat yang menurutku sangat lucu. Ini seperti kami saling menjaga, aku yang menjaga ibuku dan ibuku yang menjaga calon bayiku alias calon cucunya.
Kemudian aku melihat ibuku melambaikan tangannya dan secara otomatis pula aku melangkahkan kakiku kearahnya.
"Ini makanlah. Buah baik untuk pertumbuhan bayimu, sayang." Ucapnya seraya menyerahkan sebuah anggur ke tanganku.
"Terima kasih, bu." Kuambil anggur dari tangannya dan tersenyum. "Ini benar- benar enak."
"Tentu saja." Dia balas tersenyum. "Aku tidak tahu apakah ini sopan atau tidak tapi aku sangat menyukai rambut merahmu itu sayang. Kau tampak cantik dengan rambut merah itu."
Aku tersenyum. Semenjak aku dinyatakan hamil, aku memang tidak pernah absen datang ke tempat ini. Aku ingin ibuku juga melihat perkembangan janin dalam perutku dan setiap kali aku ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku, aku selalu meminta hasil foto usg-nya yang kadang membuat Jullian bertanya- tanya. Sejujurnya aku sedikit merasa bersalah karena tidak jujur padanya tapi entahlah, ini seperti lidahku kelu setiap kali ingin bercerita padanya dan aku takut, takut jika Jullian tidak lagi menyukaiku jika kuceritakan tentang asal- usulku. Kupegang kedua tangan ibuku erat dan pura- pura menampilkan ekspresi wajah tidak suka seperti yang dulu aku lakukan.
"Rambut ini membuatku sering mendapatkan masalah, bu." Renggutku. "Dan aku membencinya."
Dia tertawa. "Kenapa harus membenci sesuatu yang selalu membuatmu terlihat cantik, sayang? Kau sangat cantik dengan warna rambut itu dan mata birumu juga terlihat sangat indah. Warna matamu sangat mirip denganku"
Aku terdiam.
Itu adalah kalimat yang sering dia katakan ketika aku merenggek tiap kali diganggu oleh orang- orang di sekolahku dulu, sebelum dia menjadi seperti sekarang ini. Mendadak mataku terasa panas, begitu juga dengan perasaanku yang tiba- tiba sesak. Ternyata dalam dirinya, masih ada aku dan itu membuatku ingin menangis.
"Astaga, sayang. Apa aku menyakitimu? Apa kau kesakitan? Dimana yang sakit? Aku akan memanggil dokter." Serunya hendak berbalik dengan kursi rodanya tapi langsung kutahan.
"Aku tidak apa- apa, ibu. Aku tidak kesakitan. Aku baik- baik saja." Kuelus tangannya lembut seraya tersenyum. "Aku baik- baik saja." Ucapku lebih kearah diriku sendiri.
"Lea, sudah waktunya." Kutolehkan kepalaku dan melihat Janet yang memberiku tatapan meminta maaf. Dia selalu melakukan itu setiap kali waktu senggang ibuku habis.
Kuanggukkan kepalaku mengerti. Sudah saatnya ibuku beristirahat.
Kutolehkan kembali kepalaku kearah ibuku dan tersenyum. "Kurasa ini waktunya ibu beristirahat. Besok aku kemari lagi." Dan kembali dilupakan.
Meskipun hampir tiap hari aku berada disini tapi hampir tiap hari pula aku dilupakan dan kembali harus mengingatkan dirinya tapi pernah disuatu hari ibuku tidak menanyai siapa aku dan menyebutkan nama yang biasa dia sebut. Azalea. Itu adalah hal paling mengembirakan dimasa kehamilanku dan aku ingin itu terjadi terus.
Aku melihat Janet pergi sambil mendorong kursi roda ibuku dan melambaikan tangan ketika melihat ibuku yang melambaikan tangan kearahku hingga kami disela oleh suara deringan dari ponselku, memperlihatkan nomor tak dikenal.
"Halo."
"Kita perlu bicara." Klik
Keningku serta merta mengernyit dan tidak lama kemudian terdengar nada pesan masuk, memperlihatkan alamat dan tempat.
Kuhubungi Mia untuk memberitahukan kalau aku akan sedikit terlambat ke kantor dan mengirim sebuah pesan singkat pada Jullian kalau dia boleh menjemputku tiga puluh menit kemudian dan memberitahukan alamat yang harus dia tuju untuk menjemputku nanti. Jullian melarangku untuk mengendarai mobilku sendiri, menimbang usia kandunganku katanya dan berinisiatif untuk mengantar jemputku selama masa kehamilan.
Tempat yang dikirimkan padaku tadi tidak berada jauh dari rumah sakit dan hanya membutuhkan waktu delapan menit untuk sampai. Tempatnya berada dilantai dua dan aku melihat dirinya disisi kaca, sedang memandang ke bawah.
"Ada apa kau memanggilku?"
Dia menolehkan kepalanya dan sejenak memandangku lalu kearah perutku yang telah membesar tanpa ekpresi.
"Aku akan langsung saja. Tinggalkan Jullian."
Kuangkat alisku dan memperhatikan Caroline di depanku dan memutuskan untuk menarik sebuah kursi.
"Apakah Jullian yang menginginkannya?" Tanyaku. Jika Jullian yang menginginkannya maka tidak ada alasan bagiku untuk tetap mempertahankannya, meskipun harus kuakui ini agak sedikit menyakitkan.
"J, terlalu baik untuk mengatakan ini padamu."
Ah, benar juga. Dia sudah baik melakukan ini semua padaku.
"Jangan melibatkan dia kedalam masalahmu."
"Apa yang kau bicarakan?"
Seketika Caroline tertawa, tawa yang membuatku merasa bergidik. "Jangan dipikir aku tidak tahu siapa dirimu yang sebenarnya."
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan." Aku mulai merasa gusar melihat tatapan yang ditujukannya padaku.
"Aku tahu apa yang kau lakukan sebelum kesini."
"Dengar," aku mulai tidak menyukai situasi saat ini. "Kenapa tidak kau katakan saja apa maksudmu dan berhenti bersikap konyol."
Kedua mata Caroline membelalak. "Apa katamu? Aku konyol."
"Ya. Kau konyol. Jika yang kau inginkan adalah agar membuatku tertekan. Kau salah. Aku tidak akan tertekan hanya karena seorang wanita dari masa lalu suamiku datang dan memintaku melakukan sesuatu yang aneh karena jujur saja, aku tidak akan melakukannya."
"Apa?!"
Kuhembuskan napasku pelan, "dengar Caroline, aku tahu apa yang kau lakukan selama beberapa bulan terakhir ini." Aku menatapnya dan dia menyipitkan matanya seakan menilaiku. "Aku tahu kau mengirimiku surat kaleng yang berisi ancaman- ancaman. Aku tahu kau juga sudah berusaha untuk membuatku celaka dengan menaruh serpihan kaca didalam heels-ku, aku bahkan tidak tahu bagaimana kau melakukannya tapi kutebak kau berhasil menyabotase seorang penjaga dari apartemen Jullian agar bisa masuk kedalam tempat tinggal kami. Dan biar kuberitahu, waktu itu Jullian sangat marah melihatku terluka meskipun aku juga yakin kalau dia kebingungan karena itu.
"Kau...?!"
"Kau cantik. Kau menawan. Aku yakin masih banyak pria diluar sana yang menaruh hati padamu. Kau hanya terobsesi pada Jullian. Faktanya dia tidak sesempurna yang kau pikirkan." Okey, yang tadi itu aku hanya mengada- ngada. Selama aku mengenalnya, tidak sekalipun aku menemukan ketidaksempurnaan darinya kecuali dia yang selalu menciumku secara tiba- tiba. Tapi apakah itu bisa disebut ketidaksempurnaan? Karena faktanya, aku juga menikmati apa yang dilakukannya.
"Apa kau pikir aku akan percaya?" Suaranya terdengar dalam dan mengerikan.
"Aku tidak minta kau untuk percaya. Aku tahu Jullian mencintaimu tapi itu sudah berlalu, Caroline. Hubungan kalian sudah lama berakhir."
"Jadi kau menantangku?"
"Sudah banyak orang yang berusaha menantangku selama ini. Aku tidak perlu kandidat lain."
Lalu dia tertawa. "Kau memang punya mulut yang manis. Aku rasa kau bersikap seperti ini karena kau pikir kau bisa menang dariku."
"Apa maksudmu?"
"Kau menganggap karena kau hamil anak Jullian, kau bisa melakukan apapun yang kau suka."
"Kurasa kau benar." Lalu aku mengerling ketika melihat layar iphone-ku menyala dan melihat pesan Jullian kalau dia sudah berada dilantai bawah dan menanyakan keberadaanku. "Aku harus pergi. Kuharap kita bisa berteman baik terlepas dari masa lalu kita." Tidak ada jawaban dan kuputuskan untuk berdiri dari kursiku.
Aku melihat Jullian dari atas tangga dan tersenyum ketika dia menatapku dengan tatapan tidak percaya dan ketakutan. Sebelum aku bisa merespon keadaan, mendadak tubuhku terdorong ke depan dan berguling di setiap tangga.
Napasku tercekat dan tubuhku rasanya terbelah menjadi dua ketika akhirnya berhenti dan tersedak ketika melihat wajah Jullian yang menatapku dengan sangat takut. Aku tidak pernah melihat wajah ketakutan Jullian yang seperti ini ketika kembali aku tersedak, mengaburkan apa yang kulihat.
Mengaburkan lampu- lampu...
Mengaburkan kerumunan orang- orang....
Dan mengaburkan Jullian.....
Kumohon selamatkan dia.....!
***

Caroline -Collin, sama sama C, pasangan bejat yang sangat menyebalkan 😡
ReplyDelete