MASK- LIMA PULUH
Aku baru saja selesai menyiram bunga- bunga ketika merasakan sebuah pelukan lembut dibelakangku disertai tangannya yang besar telah melingkar di sekeliling perutku.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanyaku tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirku.
Bisa kurasakan kalau dia juga ikut tersenyum. Aku sengaja memiringkan kepalaku agar bisa memberikan dia ruang agar menyandarkan kepalanya disana dan bergidik ketika merasakan hembusan napas miliknya.
"Belum. Tapi mereka bisa menunggu sementara kau tidak bisa menunggu". Jawabnya yang langsung membuatku terkekeh.
"Kau tidak seharusnya melakukan itu. Itu justru membuatku merasa sangat manja" tegurku pelan tapi juga merasa senang dengan perhatiannya.
Sudah hampir dua minggu semenjak kejadian aku yang mengamuk dulu dan sekarang aku sudah kembali tidur dengannya.
Wow! Aku pasti sudah menjadi jalang karena sering menggodanya dan siapa suruh dia selalu terlihat menggiurkan. Bukan salahku jika aku selalu menginginkannya dan melihat bagaimana dia yang selalu membalas apa yang kulakukan, membuatku yakin kalau dia juga sama sepertiku. Menginginkannya juga.
Aku tahu kalau diam- diam dokter selalu memperingatkan dirinya agar lebih bisa menahan diri mengingat diriku yang semakin mendekati persalinan tapi demi Tuhan, masih ada beberapa minggu lagi tapi seperti kataku tadi. Sulit rasanya menyia- nyiakan jika dia selalu terlihat menggiurkan di mataku.
"Aku senang memanjakanmu dan bagaimana anak kita?"
Aku tersenyum dan berbalik untuk melihatnya.
"Dia baik- baik saja"
"Apa semalam aku terlalu keras? Apa kita perlu memeriksakan kandunganmu?"
Oh! Kalimat itu lagi.
Kuhembuskan napasku pelan. Pagi tadi aku memang merasa sangat kepayahan tapi bukan karena percintaan yang kami lakukan tapi karena memang perutku yang semakin hari semakin membesar, belum lagi payudaraku yang kelihatan seperti akan meledak sewaktu- waktu. Apakah ini memang kelahiran pertama yang kualami? Dan bukannya dua atau tiga? Aku tidak tahu.
Ku tangkup wajahnya dengan kedua tanganku, menatapnya dalam- dalam.
"Aku baik- baik saja, Jullian"
"Tapi tadi pagi...?"
"Aku memang lelah tapi bukan karena aktivitas kita di malam hari"
Dia terdiam jadi kuputuskan untuk membuat bebannya sedikit terangkat.
"Itukah alasanmu pulang cepat? Kau takut terjadi sesuatu pada anakmu?" Aku mulai mengeluarkan senjata pamungkasku dan entah kenapa setiap kali aku melakukannya, dia selalu melihatku dengan tatapan seperti aku baru mengeluarkan semacam baling- baling bambu milik Doraemon lalu kemudian terkekeh seraya mencium pangkal hidungku seperti saat ini.
"Kau sangat menggemaskan" Ucapnya setelah memberikan kecupan singkat di hidungku disertai gigitan kecil darinya.
Gez, "berhentilah melakukannya, Jullian" bentakku seraya menghapus bekas- bekasnya.
"Itu karena kau sangat lucu"
"Oh, aku memang badut. Terima kasih karena itu." Balasku sarkasme yang semakin membuatnya terkekeh.
"Aku merindukanmu dan juga mencintaimu"
Oh my! Aku pasti sangat tergila- gila padanya karena setiap kali dia mengatakan hal itu. Aku akan langsung meleleh dan amarahku akan lenyap seketika.
"Aku juga merindukanmu"
Tuh kan! Aku pasti akan langsung lumer seperti coklat yang dipanaskan.
"Itulah kenapa aku semakin mencintaimu. Jalan pikiranmu sulit ditebak"
Apa maksudnya?
Tapi sudahlah. Aku tidak mau sisa waktu kami hanya dihabiskan dengan mengatakan 'aku merindukanmu dan mencintaimu' tanpa henti. Jadi sebagai pengalih perhatian, aku mulai menanyakan sesuatu yang sudah lama ingin kutanyakan padanya.
"Apa kau tahu kalau aku punya ibu lain selain ibuku yang sekarang?"
Dari yang kulihat, mendadak senyum di bibirnya menghilang.
"Kenapa kau menanyakan itu?" Tanyanya sedikit lebih pelan.
"Well, hanya ingin memberitahumu kalau aku bukan lahir dari rahim..."
"Ya. Aku tahu kalau Bertha bukan ibu kandungmu" potongnya.
Dalam hati aku merasa lega. Setidaknya dulu tidak ada yang kusembunyikan darinya. Aku khawatir kalau dulunya dia tidak menerimaku.
"Jadi kau tahu? Syukurlah. Jadi apa kau tahu dimana ibuku sekarang? Maksudku ibu kandungku. Sepertinya aku sudah memindahkannya di rumah sakit yang lain. Oh iya, apa aku juga menceritakan padamu apa penyakitnya?"
Dia mengangguk. "Ya. Aku tahu semuanya"
Lagi- lagi aku merasa lega. "Aku ingin menemuinya. Ya, walaupun dia tidak mengenaliku tapi setidaknya aku ingin menemuinya. Di rumah sakit mana ibuku sekarang?"
Untuk beberapa detik, Jullian terdiam.
"Azalea"
"Ya?"
"Bagaimana kalau malam ini kita menonton? Kudengar ada film bagus yang diputar malam ini"
Aku terdiam.
"Baiklah. Apa kita akan makan malam di luar?"
Dia mengangguk.
"Oke. Aku akan siap- siap"
Satu jam kemudian, kami sudah berada di sebuah kafe menikmati santap malam. Film yang akan kami tonton masih lama, sekitar tiga puluh menit. Begitu yang tertulis di karcisnya.
Jullian sedang menceritakan bagaimana hasil meeting-nya bersama klien pentingnya tadi yang berakhir dengan sangat memuaskan ketika mendengar suara gelas kaca yang terjatuh dan menghasilkan suara yang memekakkan telinga.
Prang...
"Maaf tuan, saya tidak sengaja"
Baik aku maupun Jullian sama- sama menoleh dan mendapati seorang pelayan wanita sedang membungkukkan setengah badannya ke arah pria paruh baya di depannya, yang terlihat sangat kaya.
"Apa kau buta, hah?! Apa pelayan sepertimu tidak diajarkan bagaimana cara melayani customer? Panggil manajermu kesini!" Bentak pria itu kemudian di susul pecahan kedua, ketiga dan seterusnya.
"Ini sudah kelewatan!" Aku mendengar suara Jullian yang entah kenapa terasa sangat jauh.
Prang...
"Aku tidak sudi melihat anak itu lagi. Aku tidak sudi kalau dia tinggal di rumah kita lagi. Kenapa kau membawanya kembali, Oliver?"
"Anak itu sendirian di luar sana"
"Dia sudah besar. Dia sudah bisa memutuskan jalan hidupnya sendiri. Sudah baik dia memilih untuk pergi dulu! Mungkin anak itu mengira ibunya adalah selingkuhanmu tapi kenyataannya adalah kau memperkosa ibunya yang pelacur itu dan aku sudah berbaik hati memaafkanmu dulu tapi aku tidak sudi jika harus melihatnya berkeliaran di rumah ini lagi"
Apa? Ibuku di perkosa?
.
.
.
.
.
"Kau akan menikah?"
"Apa? Menikah? Kenapa aku harus menikah?"
"Agar kau membayar apa yang sudah kami berikan padamu"
"Aku sudah membayar semuanya dari pekerjaan yang selama ini kulakukan"
"Dengan hanya menjadi pelayan kafe dan pub itu. Jangan bercanda, Lea. Besok keluarganya akan datang dan jangan berani kabur. Aku tahu dimana kau menyembunyikan ibumu yang pelacur itu dariku"
"Brengsek!"
"Dan usahakan jangan terbawa suasana dengannya. Dengar- dengar pria itu sudah memiliki pacar yang sangat cantik jadi mungkin hidupmu tidak akan pernah bahagia"
"Aku sudah lama berhenti dengan pikiran bak negeri dongeng itu"
"Baguslah. Karena kau bukanlah putri dalam negeri dongeng dan usahakan untuk mengambil uangnya sebanyak mungkin sebelum kalian bercerai"
.
.
.
.
.
"Bukankah kita masih dalam situasi dimana kita berbulan madu?"
"Tuhan, kau memang wanita penggoda."
"Aku hanya menggoda pria yang menjadi suamiku."
"Kurasa sudah saatnya aku mencicipi makanan penutup."
.
.
.
.
.
"Bu, aku disini...Bangunlah bu... Aku minta maaf karena tidak datang selama beberapa hari ini. Sesuatu telah terjadi padaku. Maafkan aku.... bangunlah, bu.... kumohon... Ibu! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!"
"Kau... Berutang... Banyak padaku. Aku sudah pernah bilang kan kalau aku akan menagih semua yang telah kuberikan padamu dan aku ingin menagihnya sekarang... bangunlah! Bangunlah, ibu. Kumohon..."
.
.
.
.
.
"Kau mengambil dan membawa pergi bayiku, Jullian dan kau mengatakan kau minta maaf? Sulit dipercaya."
"Dia juga anakku, Lea. Dia bayi kita. Rasanya sulit mempercayai ketika dokter mengatakan padaku kalau aku harus memilih satu diantara kalian."
"Kau... kau harusnya memilih dirinya... Kau harusnya lebih memprioritaskan dirinya. Dia anakmu juga. Kenapa kau begitu egois membiarkan dia pergi?"
"Aku minta maaf. Sungguh. Aku minta maaf."
.
.
.
.
.
"Aku mengatakan padanya kalau bayi itu adalah penghalang dalam hubungannya dan jika dia ingin Jullian kembali padanya maka dia harus melenyapkan bayi itu."
"Kau tahu sayang, aku selalu suka melihat dirimu yang seperti ini. Liar tapi juga sangat cantik dan itu semakin membuatku bergairah dan aromamu... Selalu membuatku mabuk kepayang. Kau tidak tahu, bagaimana aku selalu memimpikan dirimu berada di ranjangku setiap malam."
"...."
"Jangan pernah menyebutkan nama pria lain dihadapanku."
"Sekarang tidak ada lagi yang bisa menolongmu. Tidak seorangpun... hanya aku... hanya aku yang bisa menolongmu. Kau adalah putri dalam dongeng yang hanya diciptakan untukku."
.
.
.
.
.
Kusentuh dadaku tepat dimana jantungku berdetak sangat kencang sementara bisa kurasakan kalau napasku terasa semakin sesak.
Tidak mungkin!
Bagaimana...?
Bagaimana ini bisa terjadi padaku?
Sengaja ku tutup kedua mataku, menahan agar pertahananku tidak menjadi runtuh ketika melihatnya duduk diantara kedua lututnya, menatapku.
Sial.
Mataku mendadak panas karena kehadirannya.
"Jullian..." aku mulai terisak.
"Sayang?" Jullian tampak sangat kaget ketika melihatku yang menangis di depannya. "Apa yang terjadi? Apa kau kesakitan? Aku akan membawamu ke rumah sakit"
Kugelengkan kepalaku, menahan agar tidak semakin terisak tapi yang terjadi justru sebaliknya. Tubuhku bergetar karena emosi dan aku harus menggigit bibirku kuat- kuat agar tidak semakin terisak.
"Astaga sayang, jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis. Apa kau kesakitan? Dimana?" Dia mulai menempatkan tangan kanannya di perutku.
"Kenapa... kenapa ini harus terjadi padaku?"
"Sayang?"
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku?" Aku mulai memukul pundaknya dengan kedua tanganku. "Kau harusnya menceritakan semuanya padaku. Aku membencimu, Jullian"
Dan hal selanjutnya yang kurasakan adalah dia merengkuhku dalam pelukannya sementara aku masih terus menangis dan memukulnya.
"Maaf. Maafkan aku". Ucapnya lirih
"Aku membencimu. Kau tidak melakukan apapun untukku. Aku sangat membencimu"
"Aku tahu. Aku minta maaf. Sungguh. Maafkan aku sayang"
Kenapa?
Kenapa ini harus terjadi padaku?
***

Comments
Post a Comment