MASK- EMPAT SATU
Jullian PoV...
Pemakaman Rose berlangsung tenang. Tidak banyak yang hadir di acara pemakaman itu selain karena tidak ada yang tahu bahwa Lea memiliki ibu lain selain Bertha. Hanya Oliver yang turut hadir dan kedua orang tuaku yang cukup membuat diriku terkejut dengan kehadirannya. Maksudku, apa yang mereka ketahui tentang Lea? Bagaimana mereka bisa tahu? Dan mengapa mereka tidak pernah mengatakan hal ini padaku?
Dane dan Mia juga turut hadir, Mia bahkan sampai nangis tersedu- sedu disamping Lea yang hanya diam tanpa sama sekali menunjukkan ekspresi di wajahnya.
Setelah melihatnya kemarin yang menangis dengan cara yang sangat menyayat hati, akhirnya dia sudah bersikap tenang. Tepat setelah aku melihat Lea memasuki taksi kemarin, Janet juga mengirimiku sebuah pesan singkat yang menyatakan kalau Rose telah meninggal akibat serangan jantung yang dideritanya. Aku bahkan tidak tahu kalau selama ini Rose juga memiliki riwayat jantung karena selama aku menemuinya, dia tidak pernah sekalipun menunjukkan kalau dia sakit kecuali jika kau menghitung bagaimana dia dengan mudahnya melupakan orang lain. Aku masih ingat percakapan terakhirku dengannya sebelum Lea mengalami kecelakaan.
"Rose." Aku tidak tahu nama belakangnya tapi Janet menyuruhku untuk memanggil ibu Lea dengan namanya.
Dia berbalik dan sepanjang yang aku perhatikan. Dia memiliki bibir dan mata yang mirip dengan Lea. Aku masih bertanya- tanya bagaimana Lea bisa memiliki rambut yang berwarna merah, mengingat Rose sendiri memiliki warna rambut yang pirang stroberi.
"Apa aku mengenalmu, Tuan? Maaf, ingatanku sedikit terganggu jadi..."
Dia memiliki suara yang lembut. Mungkin sangat lembut. Seakan dia akan pecah jika bersuara keras.
Kuanggukkan kepalaku dan tersenyum sesantai mungkin. Dikejauhan aku tahu kalau Janet memperhatikan kami. Dia sedikit kaget ketika kuperkenalkan diriku sebagai suami Lea. Dari caranya memandangku sepertinya Lea sudah pernah menyebutkan namaku padanya karena ketika aku mengatakan kalau aku adalah suami Lea, serta merta pula dia menyebutkan namaku dan itu adalah tiga bulan yang lalu. Aku sengaja meminta dirinya untuk tidak mengatakan apapun pada Lea karena aku tidak mau kalau dia merasa bersalah. Aku ingin dia yang mengatakannya secara langsung padaku.
"Ini pertama kalinya kita bertemu, nyonya. Perkenalkan namaku Jullian. Jullian Anderson."
"Oh anda terliat sangat sopan, Jullian. Kalau begitu panggil saja aku Rose. Namaku Rose."
Aku tersenyum. Diawal permulaan kami, aku justru memanggilnya langsung dengan namanya.
"Aku Jullian, Rose."
"Kau sangat tampan. Mungkin jika aku punya anak perempuan, aku akan langsung menjodohkannya denganmu."
Aku tersenyum. "Benarkah? Pasti dia sama cantiknya dengan anda."
"Aku menyukai nama Azalea. Apa kau tahu artinya, Jullian?"
Kugelengkan kepalaku. Aku memang tidak pernah mencari tahu arti nama tapi aku tahu kalau nama Azalea seperti nama bunga.
"Azalea berarti peduli dengan dirimu dan juga orang- orang disekitarmu termasuk keluarga. Aku mengharapkan Azalea-ku peduli pada sesama dan keluarganya. Tidak peduli seberapa seringnya dia merasa dikecewakan tapi dia tetap akan kembali. Karena itulah itulah keluarga. Aku ingin dia menjadi wanita yang baik juga peduli."
Aku terdiam. Tidak menyangka kalau ternyata sedalam itu makna dari namanya yang baru kusadari.
"Benarkah?" Kataku pura- pura. "Sangat cantik. Aku merasa semakin mencintainya. Bagaimana kalau kita anggap saja Azalea sudah menikah denganku dan sekarang sedang hamil 7 bulan."
"Wah jadi sebentar lagi aku akan memiliki cucu?"
"Apa anda senang?"
"Siapa yang tidak senang memiliki cucu". Balasnya sambil tersenyum.
"Kalau begitu kita sudah menjadi keluarga."
Rose tertawa. Tawa yang sangat menyenangkan juga tulus. "Kuharap kau selalu membahagiakan anakku, Jullian."
Kuharap kau selalu membahagiakan anakku, Jullian. Itu adalah kalimat terakhir yang diberikan padaku.
Ya. Rose, aku berjanji. Aku tidak akan membuat anak perempuanmu bersedih. Aku akan melindunginya dari apapun dan siapapun. Kau bisa memegang janjiku.
*
Kuputuskan untuk membawa Lea ke rumah orang tua dan juga kakekku. Aku tidak ingin Lea semakin terpuruk jika berada apartemen. Apalagi dia baru saja kehilangan bayinya dan juga ibunya. Aku tidak ingin dia melakukan sesuatu diluar nalar jika berada diluar pengawasanku. Aku baru saja masuk kedalam rumah ketika terdengar suara penuh amarah Lea dari lantai atas. Kutebak ibuku sudah membawa Lea ke dalam kamarku dulu ketika mendadak Lea marah.
Baik aku maupun Dane sama- sama berlari menaiki tangga menuju kamarku ketika ibuku maupun Mia sama- sama berdiri diantara Lea.
"Aku tidak butuh dokter." Suara Lea terdengar tajam dan penuh amarah.
"Tapi sayang, kau baru keluar dari rumah sakit. Kau bahkan belum istirahat dari kema..." suara ibuku terdengar penuh
"Aku tidak peduli. Yang aku inginkan dari kalian sekarang adalah meninggalkanku seorang diri. Aku tidak mau kalian berada di dekatku. Mengawasiku setiap saat seakan aku ini adalah orang yang berpenyakitan." Lalu tatapan matanya tertuju padaku. "Aku juga tidak butuh belas kasih dari siapapun."
"Sayang..."
"Lea, tidak seper...."
"Tidak adakah yang mendengarku?!"
Pranggg!!!
Mendadak semuanya terdiam ketika sebelah tangan Lea menyenggol sebuah vas samping hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga.
"Aku. Tidak. Butuh. Kalian." Lea menekankan setiap kata perkatanya. "Aku tidak ingin berada disini! Aku tidak ingin kalian dan aku ingin pergi. I am sick with all of this!" Hentaknya melangkahkan kakinya hendak keluar ketika langsung kutahan.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Dia meronta seraya menatapku tajam.
"Kita tidak akan kemana- mana."
"Kita? Tidak ada kata kita dalam hubungan ini, Jullian. Yang ada adalah kau dan... aku"
Sial. Mau sampai kapan dia menyakiti diri sendiri seperti ini?
Kutatap semua orang dalam ruangan ini. "Bisakah kalian meninggalkan kami? Kami perlu bicara berdua."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku ingin pergi. Lepaskan!." Sergah Lea keras kepala.
"Aku minta maaf tapi kami perlu bicara."
Kedua orang tuaku mengangguk menimpali kemudian diikuti oleh Dane dan juga Mia dibelakangannya. Aku menunggu selama lima menit penuh, masih dengan tanganku yang menahannya.
"Aku minta maaf. " Kataku lirih.
"Apa? Minta maaf?" Dia mendengus. "Kau mengambil dan membawa pergi bayiku, Jullian dan kau mengatakan kau minta maaf? Sulit dipercaya."
Kuhadapkan tubuhnya agar aku bisa menatapnya. Kentara sekali kalau saat ini dia menahan perasaannya.
"Dia juga anakku, Lea. Dia bayi kita. Rasanya sulit mempercayai ketika dokter mengatakan padaku kalau aku harus memilih satu diantara kalian."
Hening.
Hingga kembali aku mendengar suaranya. Suaranya terdengar serak dan kedua matanya mulai berkaca- kaca.
"Kau... kau harusnya memilih dirinya." Oh Tuhan, aku rela menukar apapun asal dia bahagia. Kurengkuh tubuhnya dan aku mulai mendengar dia terisak. "Kau harusnya lebih memprioritaskan dirinya. Dia anakmu juga. Kenapa kau begitu egois membiarkan dia pergi?"
"Aku minta maaf. Sungguh. Aku minta maaf." Kucium puncak kepalanya ketika merasakan tubuhnya mulai terguncang karena tangisan dan dia mulai ikut melingkarkan kedua tangannya dibelakangku.
"Dan sekarang aku sendirian... dia juga ikut membawa bayiku. Bayi kita pergi. Kenapa dia senang sekali membuatku menderita?"
Inikah akhir dari pertahanannya?
"Dia meninggalkanku ketika aku masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu.... dia melupakanku dengan begitu mudahnya padahal kami sudah berjanji untuk saling menjaga dan melindungi... dia kejam padaku. Dia senang melihatku menangis karena dirinya... dan dia... dia membawa bayiku juga... bahkan sebelum aku melihatnya di dunia ini..."
"Ssshh..."
"Aku tidak punya siapa- siapa lagi di dunia ini."
Kembali kukecup kepalanya. "Kau tidak sendirian sayang. Kau masih memiliki aku... ada banyak orang yang menyayangimu..."
"Aku membencinya... sangat membencinya. Apa salahku... sehingga dia bisa begitu mudah melakukan ini padaku? Dia bahkan tidak menyebut namaku diakhir hidupnya."
"Sshhh sayang."
"Aku tidak tahan lagi... aku marah... sangat marah padanya... aku membencinya..."
"Aku tahu. Keluarkan semua amarahmu."
"Aku membencinya...." tangisannya semakin keras dan menyayat hati. Bahkan aku bisa merasakan air matanya merembes masuk melewati kemeja yang kukenakan.
"Kenapa dia begitu kejam padaku? Kenapa dia selalu saja membuatku harus mengeluarkan air mata untuk dirinya?"
"Itu karena kau begitu menyayanginya. Kau menangis karena kau sangat mencintainya. Kau peduli padanya."
Lea menggelengkan kepalanya. "Aku sangat membencinya, Jullian. Kau salah... aku sama sekali tidak menyayanginya. Aku... aku sangat membencinya dan... aku juga sangat membencimu." Tekannya.
"Aku tahu. Aku minta maaf, sayang. Aku menyesal karena telah menyakitimu. Aku minta maaf." Kucium kembali kepalanya.
Setelah hampir enam puluh menit Lea menumpahkan amarahnya padaku juga Rose, akhirnya Lea tertidur karena kelelahan. Ini pertama kalinya aku melihat dia dalam keadaan terpuruk seperti ini dan aku tidak akan membiarkan dia merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Aku juga sudah berjanji pada Rose untuk menjaga Lea dan itu akan kutepati.
"... aku takut, ibu... aku takut pada mereka... jadi kumohon... kumohon bangunlah untukku... aku tidak bisa jika melakukannya seorang diri. Aku membutuhkanmu... aku membutuhkanmu berada disampingku...aku tidak bisa jika sendirian menghadapi mereka. Aku takut... sangat takut..."
Itu adalah kalimat Lea ketika berada di depan jasad Rose yang kaku. Waktu itu dia benar- benar seperti kehilangan arah dan sama sekali tidak memperdulikan luka di bagian perutnya. Beberapa suster termasuk Janet yang kuketahui cukup dekat dengan Rose juga ikut menangis ketika mendengar ratapan pilu Lea.
"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, Azalea?"
***

Comments
Post a Comment