MASK- DUA ENAM



"Apa yang kalian lakukan?! Bentakku kasar hendak melepaskan diri.
Kakiku dipaksa berlutut oleh sekumpulan anak- anak manja ini. Tubuhku rasanya lemah tak berdaya karena selama dua hari tidak dibiarkan makan dan hanya diperbolehkan meneguk beberapa tetes air. Bahkan dengan tubuh yang menggigil akibat lelah dan lapar, semua orang diruang kelasku sepertinya tidak ada yang mau menahan Emelda dan para antek- anteknya.

"Jangan berwajah seperti itu sayang." Sahut Emelda memberikanku senyum bak perinya. Aku tidak tahu kenapa dia sangat membenciku, bukan salahku kalau cowok yang ditaksirnya malah berbalik menyukaiku. "Kami hanya ingin membuatkan Rory kue ulang tahun."

"Kalau yang kau maksud adalah uang. Aku tidak punya. Minta saja pada yang lainnya."

Semua yang berada diruang kelas seketika tertawa. "Oh naif sekali. Bukan kue seperti itu sayang. Kurasa ini kue yang paling spesial."

Aku mengernyit. Seingatku Rory bukanlah favorit di ruang kelas ini kecuali kau menghitung berapa banyak olimpiade yang sudah di menangkannya.

"Dan sepertinya rambut merahmu cocok sebagai ornamen." Lanjutnya.

"Sial. Lepaskan aku!" Aku mulai meronta dan terdiam ketika merasakan rasa dingin di sekitar tengkukku.

"Langkah pertama. Pecahkan telurnya." Secara serentak beberapa butir telur terarah ke kepala dan tubuhku, membuatku langsung mencium bau amis menguar. "Langkah kedua, tuangkan tepungnya." Diikuti beberapa bungkus disekujur tubuhku. Kukertakkan gigiku, menahan buncah dalam dadaku. Mataku terasa panas melihat mereka menyia- nyiakan telur dan tepung seperti ini. " dan tada... kuenya sudah jadi. Ayo Rory, lihat kuemu. Selamat ulang tahun Rory!" Seru Emelda yang langsung diikuti tawa orang- orang disekelilingku. Aku tertunduk merasakan panas yang menetes dari mataku. Aku benci semuanya.

"Jangan pernah mengira karena kau masuk ke sekolah ini kau akan mendapatkan perlakuan yang sama atau menganggap dirimu sederajat dengan kami karena faktanya kau hanyalah anak haram. Anak yang tak diinginkan dan berasal dari pelacur yang menghancurkan keluarga orang lain." Bisik Emelda ditelingaku.

Dan aku benci memiliki perasaan ini. Sangat benci.

*
Kuusap peluh dikeningku. Mimpi itu. Kututup kedua mataku berharap bisa mengenyahkan kilas balik ketika aku berumur 12 tahun dan membukanya ketika tanganku merasakan sebuah lengan kokoh di pinggangku. Aku mengernyit, sejak kapan dia?

Kupalingkan wajahku menatap jam di meja nakas. Jam 4 subuh. Dengan pelan, aku melepaskan lengannya dariku dan berbalik menatapnya. Sudah seminggu ini aku pindah ke kamarnya dan Jullian menepati ucapannya dengan hanya tidur bersama.

Kujalankan jari- jariku menyentuh rambutnya yang terasa lembut, takut membuatnya terbangun. Harus kuakui dia terlihat sangat tampan, rahang yang kokoh, hidung yang mancung dan bibir.... sial, apa sih yang kupikirkan?
Aku berbalik membelakanginya, berusaha meredakan debaran jantungku yang mendadak muncul dan memutuskan untuk ke kamar mandi dan mencuci wajah, berharap air dingin bisa membantuku dan mengenyahkan mimpi buruk tadi.

Selang beberapa menit aku keluar dari kamar mandi dan semakin merasa sesak. Kuputuskan untuk menghabiskan sisa waktu di kafe 24 jam yang terletak di ujung jalan. Mengganti pakaian dengan jaket dan celana pendek dan mungkin berolahraga ditaman sedikit bisa membantu. Kuanggukkan kepalaku mantap dengan rencana yang sudah kuatur di dalam kepala dan meraih mp3 diatas meja.

Jam baru saja menunjukkan pukul 4.35 ketika aku tiba di dalam kafe dan langsung memesan secangkir Cappucino favoritku. Pelayan pria itu memberiku senyum samar yang kubalas hal yang serupa. Tembang Reset milik Jinsil mulai mengalun dari kedua headphoneku.


Langit masih gelap diluar sana ketika mendadak suasananya menjadi diguyur hujan. Membuat hawanya semakin dingin. Hingga tak terasa sudah tiga jam berlalu dan sepertinya langit belum mau berhenti menangis seakan mewakili perasaanku saat ini.

Dasar konyol! Ini hanya perubahan alam. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan perasaanmu.

Aku tertawa menertawakan pemikiran konyolku barusan dan memutuskan untuk menerjang hujan saja sekalian. Toh, hujannya tidak sederas tadi dan hanya berupa gerimis kecil.

Setelah membayar biaya Cappucinoku. Aku segera berlari menuju apartemen Jullian sambil menutupi kepalaku dengan kedua tangan dan lega, setidaknya aku tidak terlalu basah.

Aku baru saja membuka pintu apartemen Jullian ketika melihatnya sedang menatap tajam kearahku.

"Darimana saja kau?!"

Aku mengernyit. "Kau sudah bangun?" Tanyaku seraya menutup kembali pintunya.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Azalea. Aku menunggumu selama 2 jam setengah dan kau belum juga datang."

"Kau menungguku? Kenapa?" Jujur aku terkejut. Kenapa dia harus menungguku? Terlebih lagi kenapa dia mencariku?.

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kemana saja kau?" Jullian terlihat sangat gusar.

"Oh. Kafe."

"Kafe?"

Aku mengangguk. Menaruh mp3 dan headphoneku diatas meja. "Kau tahu kafe di ujung jalan sana kan? Aku kesana." Kulangkahkan kakiku menuju dapur dan membuka pintu kulkas. Dari sudut mataku, kulihat Jullian mengikutiku dalam diam, sambil mengeluarkan sekotak susu dan tiga butir telur. Aku menanyainya, "Aku akan buat sarapan. Kau mau makan apa?"

Tidak ada jawaban darinya hingga aku mendongak. Wajahnya menampakkan ekspresi yang sulit kumengerti. Ada apa dengannya?

"Oh ayolah Jullian, aku hanya ke kafe sebentar ketika hujan membuatku harus tinggal lebih lama. Aku bahkan berpikir untuk melakukan lari- lari kecil di taman sebelum kembali."

Sejenak Jullian menutup matanya dan membukanya kembali. "Apa kau tahu, aku hampir saja menelpon polisi dan ..."

Kupandangi Jullian dengan ngeri. "Kau tidak..."

"Ya. Aku hampir saja menelpon polisi dan melaporkan berita kehilanganmu."

Mulutku terbuka tidak percaya. Wajah Jullian bahkan lebih kaku dari yang pernah kulihat. Dia terlihat lebih gusar dan berkali- kali mengusap wajahnya. Kulangkahkan kakiku kearahnya dan merangkul tubuhnya.

"Maaf. Sungguh. aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau kau akan mencariku seperti ini." Ujarku menempatkan pipiku ke dadanya. Awalnya dia ragu tapi kemudian membalas untuk memelukku.

"Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika merasakan tempatmu dingin dan menyadari kalau kau tidak ada." Aku bisa merasakan hembusan napasnya di rambutku. "Jangan lakukan lagi."

Aku mengangguk.

"Berjanjilah."

Aku kembali mengangguk. "Aku berjanji." Dan dia semakin merekatkan pelukannya.

"Rambutmu basah." Ujarnya pelan.

Secara otomatis, kuangkat kepalaku tanpa melepas tanganku dari pinggangnya.

"Hujan, ingat?" Kuingatkan dia dan tertawa.

"Dan jaketmu juga basah."

Kuputar kedua bola mataku dan terdiam ketika merasakan bibirnya berada di keningku.

"Aku senang kau baik- baik saja."

Dan debaran itu datang kembali.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS