MASK- TIGA TIGA




"Aku akan mengunjungimu, angel."

Jika bukan karena kehadiran Lea diantara kami, mungkin sudah sejak tadi ada pertumpahan darah. Rasanya tanganku sudah sangat gatal ingin menonjok bibir manisnya beserta gigi- giginya itu.
Hari ini adalah hari terakhir kami berada di Paris dan si brengsek ini tahu- tahu sudah berada di bandara untuk melihat Lea terakhir kalinya.

"Kau harus. Mungkin kau bisa sekalian menginap di tempat kami." Lea menyinggungkan senyumnya melirikku.

Tentu saja tidak akan kubiarkan!

"Oh jangan khawatir, angel. Aku punya tempat disana." Balas si brengsek ini seraya diam- diam memberiku seringaian penuh cemohannya.

"Kau punya?" Jelas Lea tidak percaya dengan ucapan Jerry padanya.

"Kau akan kaget jika tahu siapa aku sebenarnya." Lagi- lagi si brengsek ini melirikku.

"Aku tidak tertarik." Balas Lea cuek dan aku hampir saja tertawa ketika melihat raut wajah terluka si brengsek ini. "Baiklah. Pesawat kami sudah hampir berangkat. Sampai nanti Jerry." Sebelum aku bisa meraih kembali pinggang wanitaku, mendadak Jerry menarik tangannya dan mendaratkan bibirnya di kening wanitaku, membuatku membelalak.

Dia cari mati!

Bukkk. Aku terdiam ketika yang terjadi Lea mendaratkan tinjunya ke kepala Jerry.

"Kau cari mati ya? Kau hampir saja membuatku terjatuh, bodoh!" Omel Lea sementara Jerry mengusap kepalanya yang kena tinju. Jelas dia tidak menyangka akan mendapatkan pukulan dari Lea. "Dan jangan tiba- tiba menciumku seperti itu. Kau bisa membuat Jullian salah paham. Lagipula tidak bisakah kau mencoba berteman dengannya?"

"Maaf. Hanya refleks, Jullian." Ujarnya nyengir tapi aku tahu dia tidak sungguh- sungguh dengan permintaan maafnya dan aku merasa dia justru cenderung ingin melihatku kehilangan kendali.

Tapi aku tidak peduli melainkan sikap Lea. Jujur, aku sedikit terperangah tadi dan tidak tahu kalau Lea memperhatikan hubungan kami seperti ini. Kutarik tubuhnya kearahku dan menangkup wajahnya dengan kedua tanganku
.
"Jangan khawatir, aku bisa menghapusnya." Kukecup keningnya lembut kemudian ke bibirnya dan tersenyum ketika melihat pipinya yang meronah. "See? Hilang tanpa bekas." Aku tersenyum. Puas dengan dampak yang kuberikan padanya.

"Bukankah pesawat kalian akan berangkat? Pergilah. Kalian membuat mataku sakit dengan kehadiran kalian." Cecar Jerry yang segera mendapatkan delikan tajam dari Lea.

"Sampai nanti, Culton." Kataku.

"Kau juga, Anderson. Senang bisa bertemu denganmu." Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman yang langsung kubalas ketika dia menjulurkan badannya agar lebih dekat denganku dan berbisik.

"Aku serius dengan apa yang kukatakan tempo hari, Anderson."
Kulepaskan tangannya dan menatapnya, tegas. "Aku juga serius dengan ucapanku tempo hari, Culton." Balasku tersenyum.

Sejenak dia terdiam. Aku tahu arti dari tatapannya itu. Dia menilai diriku sama seperti aku yang menilainya. Mungkin jika kami tidak menyukai wanita yang sama, kami bisa saja menjadi rekan yang sempurna.

"Akan kita lihat sampai sejauh mana kau bisa melindunginya."

Apa maksudnya?

*
"Bagaimana?" Aku menanyai Dane sesampainya di kantor. Aku sudah tidak sabar untuk mendengar informasi tentang pria itu.

Kulihat Dane mengangkat bahunya. "Tidak banyak yang bisa diakses. Seperti yang kau ketahui kemarin, dia adalah pewaris tunggal Culton Music Institute." Aku mengangguk. "Yang berarti dia juga merupakan orang terkaya di negara ini, hampir sama denganmu." Kuangkat alisku tidak begitu setuju dengan kalimat Dane barusan hingga kemudian Dane nyengir, menyadari ketidaksukaanku. "Oh, dan satu lagi. Kudengar dia sudah mempunyai tunangan."

"Tunangan?"

Dane mengangguk. "Ya. Sang pianist cantik." Dia mengeluarkan sebuah koran dan menunjuk seorang wanita cantik di depan piano. Oh, aku pernah melihat salah satu penampilan wanita itu yang harus kuakui cukup memukau. "Mereka dijodohkan sejak kecil."

Aku terdiam, berpikir. Jika mereka sudah dijodohkan, kenapa dia justru terlihat sangat melindungi Lea?

"Oh iya, kudengar juga dia pernah tinggal satu flat dengan seorang gadis ketika berumur 21 tahun."

"Pacarnya?"

"Kurasa bukan." Dane menggeleng. "Infonya menyebutkan kalau gadis itu masih berusia 16 tahun dan berambut..." mendadak dia terdiam.

"Ada apa?"

"Menurutmu sudah berapa lama Lea mengenal pria itu?"

"Entahlah. Lea tidak menyebutkan secara spesifik. Kenapa? Eh tunggu... apa yang ingin kau katakan adalah Azalea pernah tinggal bersamanya?"

"Informasi disini menyebutkan gadis itu berambut merah."

"Sudah berapa lama kau mengenal Lea?"

"Kurasa lebih lama darimu."

Sial. "Apa kau yakin?" Tanyaku lagi.

"Ciri- cirinya disini menunjukkan kalau itu Lea." Jawabnya. "Bagaimana kalau kau langsung menanyakan hal ini padanya?"

Kuraih  ponselku diatas meja dan langsung menghubungi Lea.

"Ya Jullian?" Terdengar suara berisik ketika Lea mengangkat telponku.

"Kau dimana?"

"Pabrik. Ada barang yang ingin ku cek. Ada apa?"

"Oh. Tidak apa. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."

"Tidak bisakah nanti saja. Aku sangat sibuk disini."

"Hanya sebentar."

"Mia. Tolong pegang ini." Aku mendengar dia mengucapkan sesuatu pada Mia yang mungkin saja tidak jauh darinya. "Okey, apa yang ingin kau tanyakan?" Suara berisik diseberang mulai berkurang. Sengaja kulirik Dane dan melihatnya mengangguk.

"Hanya sesuatu yang tidak penting." Aku berusaha untuk tidak membuat Lea curiga. "Kapan kau bertemu Jerry pertama kali?"

"Well, kurasa ketika aku masih berumur 16 tahun. Waktu itu Jerry kira- kira 21 tahun. Entahlah, kenapa kau menanyakan hal ini?"

Aku terdiam berusaha mencerna kalimat barusan.

"Tidak. Tidak apa- apa. Bagaimana kalian bertemu?"

"Hm... waktu itu kami sama- sama mencari tempat tinggal dan bertemu. Kurasa."
Kurasa katanya?

"Jadi kau tinggal bersamanya?" Aku sengaja mengatakannya dengan pertanyaan.

"Ya. Waktu itu menyewa flat sangat mahal dan tidak ada cara lain selain menyewa bersama jadi...." tiba- tiba aku mendengar seseorang memanggilnya.  "Maaf Jullian. Kurasa aku harus pergi. Sampai nanti." Klik.

Aku terdiam. Sumpah ini membuatku kaget. Kenapa dia sering saja membuatku kaget dengan apa yang dilakukannya?

"Bagaimana? Apa yang Lea katakan?"

"Itu benar dia."

"Hah?"

"Mereka pernah tinggal bersama."

"Wow!" Dane bersiul kecil. "Jadi rumor tentang dirinya dulu itu benar? Lea yang sering berganti- ganti pasangan?"

Aku menggeleng. "Tidak. Kurasa yang itu salah."

"Hah? Bagaimana kau tahu?"

"Karena aku adalah pria pertamanya."

"Hah? Aku tidak mengerti. Pria pertama ap... tunggu, Lea masih perawan?"

"Sekarang tidak lagi." Untuk kali pertama aku menyeringai padanya.

"Oh baiklah sepupu. Aku tidak ingin mendengar bagaimana bulan madumu kemarin tapi sungguh, dia... maksudku Lea perawan? Kau yakin?"
Ingin rasanya aku menjitak kepala Dane sama seperti Lea yang menjitak kepala Jerry tempo hari. Sepertinya itu sangat menyakitkan.

"Oh baiklah. Sebut saja itu benar tapi jika Lea masih perawan well, sebelum kau yang membongkarnya tentu saja." Aku nyengir ketika mendengar Dane mengatakan hal itu. " kenapa ada rumor yang mengatakan kalau dia adalah wanita jalang, maaf tidak bermaksud sepupu. Maksudku, kenapa ada rumor miring tentangnya? Siapa yang melakukannya?"

Ya. Aku juga berpikiran sama. Alasan aku pertama kali tidak menyukainya adalah karena dia dikenal sebagai golddigger yang hanya menargetkan dirinya pada pria- pria kaya. Belum lagi dia dikenal sebagai wanita yang sering tidur dengan banyak pria.

Satu hal yang dulu menjadi pertanyaanku ketika mengetahui kalau dia wanita yang akan kunikahi adalah kakek dan kedua orang tuaku sangat ngotot memilih dirinya bahkan mereka bersikeras akan menarik seluruh saham dan memberikannya pada Lea jika aku tidak mau menikah dengannya dan perjanjian bisnis yang kulakukan dengan keluarga Smith hanyalah sebagian kecil.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Apa kakek dan kedua orang tuaku tahu mengenai dirinya?

Apa yang mereka ketahui?

Terlebih lagi.

Siapa yang menyebarkan rumor itu tentang dirinya?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS