MASK- LIMA SATU
Jullian PoV.
Aku tidak pernah menyangka kalau kejadian di kafe tempo hari itu membawa dampak yang cukup besar dalam kehidupan kami lagi. Maksudku aku bukan tidak senang Lea mendapatkan ingatannya kembali tapi jika harus ditukar dengan kehidupan seperti pada awal pernikahan kami, aku rasa aku akan memilih agar Lea kehilangan ingatannya lagi kalau perlu selamanya.
Sudah lebih dari sebulan semenjak kejadian itu. Kala itu, Lea tidak henti- henti mengeluarkan air mata yang bahkan aku sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Dia menangis, memukulku dan mengatakan kalau dia sangat membenciku tapi dibandingkan itu semua, apa kebersamaan kami selama ini tidak berarti apa- apa baginya? Apakah dengan kembalinya ingatannya maka kalimat yang mengatakan dia juga mencintaiku, ikut menghilang?
Sungguh. Ini semakin membuatku merasa tidak masuk akal. Andai kata dia tidak sedang hamil, mungkin aku akan langsung menyudutkannya. Tidak peduli akan seperti apa nanti tapi Lea sedang hamil dan anak itu adalah anak yang paling diinginkan oleh Lea.
Sial! Kenapa sulit sekali memahami dirinya?!
Hari ini adalah hari sabtu, dimana dia tidak melakukan aktivitas yang selalu saja membuatku harus menahan diri untuk tidak mengurungnya di dalam rumah. Ya. Dia sudah kembali ke kantornya, dua hari setelah dia menangis hebat.
Mia dan Dane hanya memberiku tatapan penasaran yang hanya kubalas dengan helaan napas panjang ketika mengantar Lea ke ruangannya. Mia memang sengaja kuminta agar menggantikan Lea selama dia absen, yang untung saja langsung di setujui oleh wanita itu. Selain karena Lea memiliki beberapa rancangan yang sengaja di simpan dan Mia tinggal menyempurnakan rancangan itu juga ada Dane yang saat ini memiliki hubungan dengannya yang dengan senang hati membantunya.
Aku sudah membayar semua pinjaman Lea beserta bunganya ketika Lea masih koma tapi sulit jika saja waktu itu tidak ada yang bisa meneruskan perusahaan itu dan Mia lah yang menjadi kandidat utama yang kupercayakan sebagai pemegang sementara.
"Waktu persalinanmu akan segera tiba. Usahakan jangan terlalu banyak melakukan aktivitas. Kau bisa meminta cuti nanti"
"Aku tidak bisa. Ada banyak pekerjaan di kantor. Mungkin aku akan istirahat dua hari setelah aku melahirkan"
Dia bahkan tidak melihatku ketika aku sedang berbicara dengannya dan justru asyik memainkan omelet di piringnya.
Aku. Tidak. Tahan. Lagi!
"Lihat aku, Azalea!" Perintahku. Dia mengangkat wajahnya dan melihatku dengan kening saling bertaut. "Kupikir ingatanmu sudah kembali".
"Ingatanku memang sudah kembali. Terima kasih telah mengingatkan itu kembali, Jullian"
Ada apa dengannya?!
Mendadak aku merasakan kalau emosiku seketika naik.
"Aku sedang tidak ingin mendengar bagaimana mulut pintarmu menjawabku, Lea"
Sejenak dia terdiam lalu tersenyum miring.
"Jadi sekarang aku Lea?"
"Apa?"
"Kau baru saja memanggilku Lea"
"Terus apa masalahnya? Bukankah itu memang namamu? Semua orang memanggilmu dengan nama itu"
Dia terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu ketika tidak lama kemudian dia bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar kami dan keluar lagi sambil membawa tasnya.
Selama beberapa saat aku terdiam di tempatku dan sadar apa yang hendak dia lakukan. Sontak aku ikut berdiri dan menahan lengannya sebelum dia membuka pintu depan rumah kami.
"Apa yang kau lakukan?!" Bentaknya seraya menyentakkan tangannya.
"Justru aku yang harusnya menanyakan itu." Aku membalasnya dengan suara yang tak kalah kerasnya, "apa kau tidak mendengar apa yang tadi kukatakan? Persalinanmu akan segera tiba"
"Aku tahu dan aku juga tahu kalau dalam minggu ini aku akan melahirkan"
"Kalau begitu apa yang ingin kau lakukan? Kau sudah tahu kalau minggu ini adalah waktu yang sangat penting dalam hidupmu dan kau ingin pergi?" Sengaja kuedarkan pandanganku ke tas mini yang berada di tangannya.
"Aku hanya sebentar, Jullian"
"Kalau begitu aku akan mengantarmu"
"Tidak perlu. Sebentar lagi Jerry akan datang"
Sialan! Kenapa pria itu selalu saja yang menjadi prioritas Lea? Apa diam- diam mereka kembali menjalin hubungan?
"Kenapa kau selalu saja membawa- bawa dia dalam hubungan kita?" Tanyaku sakit hati. "Aku cukup menolerir sikapmu ketika kau hilang ingatan tapi tidak ketika ingatanmu kembali" kataku tegas.
Dia terdiam selama beberapa menit masih dengan kami yang saling menatap hingga kupikir pada akhirnya dia akan mengerti ketika yang kudengar adalah sebaliknya.
"Ada apa denganmu? Kau marah untuk sesuatu yang tidak ku mengerti dan sekarang kau marah karena aku ingin bertemu Jerry? Apa kau sudah gila?"
Aku pasti sudah hilang akal!
"YA. AKU SUDAH GILA DAN APA KAU TAHU SIAPA YANG MENYEBABKANNYA? ITU ADALAH KAU! APA KAU TIDAK SADAR ITU?!"
Tepat setelah aku mengucapkan kalimat itu, yang dibicarakan mendadak muncul dari balik pintu.
"Wow. Keluarkan saja semuanya, Jullian. Aku ragu masih ada empat atau lima rumah lagi yang belum mendengar suaramu". Sahutnya benar- benar menjengkelkan.
"Apa yang kau lakukan disini, Culton? Dan tidak adakah yang memberitahumu untuk mengetuk pintu lebih dulu sebelum memasuki rumah orang lain?" Tanyaku kesal.
Sejenak si brengsek ini tertawa. "Sangat lucu. Biar kuberitahu, aku baru saja akan mengetuk pintumu ketika mendengar suara merdumu dan apa ini? Kuharap bayiku tidak apa- apa didalam sana." Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap perut Lea.
Seketika mataku melotot. Apa- apaan dia?!
"Azalea, kemari" perintahku pada Lea yang mendadak seperti patung. "Sekarang, Azalea!" Kataku mulai sedikit lebih keras.
"Wow bung, kau menakutinya"
"Tidak ada urusannya denganmu. Dia masih berstatus istriku jika kau tidak lupa. Sekarang, Azalea!"
Lea terdiam dan membuatku semakin tidak tahan. Kutarik tubuhnya kearahku tapi tetap berhati- hati agar dia tidak terpeleset kakinya sendiri dan merasa sedikit lebih tenang setelah dia berada didekatku.
"Apa yang kau... lakukan?" Dia mengatakannya dengan pelan dan lambat dan aku sangat menyesal karena telah membuatnya takut.
Kubalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengannya. Matanya yang biru seakan menghipnotisku dan tampak sangat kontras dengan rambutnya yang berwarna merah. Tapi dibandingkan itu semua, aku selalu merindukannya bahkan sekalipun aku selalu melihatnya.
"Aku minta maaf atas apa yang kulakukan selama ini padamu. Aku minta maaf karena telah menghancurkan keluargamu... menghancurkan perusahaan ayahmu dan juga...." dengan susah payah aku mengatakan kalimat selanjutnya, "menjebloskan Collin ke penjara. Aku minta maaf karena itu tapi itu semua kulakukan untuk dirimu"
Dia terdiam tanpa suara tapi tetap melihatku.
"Satu hal yang kusesali adalah karena membiarkan dia menyentuhmu kala itu... membiarkan dia membuatmu harus koma selama beberapa waktu dan menyesal karena harus menghadapi kau yang melupakanku tapi tahukah kau, aku tidak pernah menyesal karena telah menghancurkan hidup orang lain. Aku bahkan rela melakukannya jika aku mendapati seseorang telah menyakitimu... tidak peduli berapa kali aku harus mengatakan maaf tapi sebenarnya jauh di lubuk hatiku, aku sama sekali tidak merasakan perasaan dimana aku menyesal telah melakukannya"
"J..Jullian?"
"Mungkin kau merasa kalau pernikahan kita tidaklah seromantis pernikahan orang lain. Aku sadar dan tahu kalau awal pernikahan kita mungkin terkesan konyol dan tidak masuk akal tapi tanpa aku sadari, itu justru membuatku tertarik kepadamu bahkan jauh sebelum ini, kau sudah membuatku jatuh cinta"
"Jullian..."
"Jadi hanya satu yang ingin kutanyakan padamu.. sebelum kau pergi dengannya," kutatap matanya semakin lekat. "Apa kau mencintaiku?"
***

Comments
Post a Comment