MASK- EMPAT PULUH
Lea PoV....
Semuanya berwarna putih.
Dinding....
Seprei....
Dan...
Wanita yang baru masuk itu.
Eh?
"Nyonya sudah sadar?" Tanyanya cepat seraya mempercepat langkahnya menuju kearahku.
"Sus.... ter." Kata- kataku terbata dan tenggorokanku juga terasa sakit.
"Tunggu sebentar, saya akan memanggil dokter." Katanya hendak pergi tapi langsung kuraih tangannya.
"Tunggu...a-apa yang terjadi pa-padaku?"
"Anda masih lemah. Saya akan memanggil dokter untuk anda."
Aku hendak bangun dan terdiam ketika merasakan ada yang hilang dari tubuhku terutama di bagian perut. Kupandangi suster itu meminta penjelasan dan mengerti ketika dia memasang wajah prihatinnya.
Tidak!!!
Kutepis kedua tangannya yang hendak membuatku kembali berbaring dan langsung meraih selang infus dan menariknya dengan cepat lalu berdiri dengan kedua kakiku. Hampir saja aku terjatuh jika saja tidak ada meja yang bisa kujadikan sebagai pegangan.
"Nyonya!" Pekiknya tertahan.
"Katakan padaku! Apa yang sudah kalian lakukan pada bayiku?!"
"Nyonya. Tenanglah."
Apa? Tenang katanya?
"Katakan!" Kali ini aku berteriak. "Siapa yang membiarkanmu mengeluarkan bayiku?! Siapa?!"
"Nyonya, jahitan anda terbuka lagi. Tenanglah, nyonya."
Benar saja! Sudah ada darah yang merembes mengenai baju rumah sakit yang kukenakan.
"Apa Jullian yang mengijinkanmu?"
"Nyonya, tolonglah. Anda harus menenangkan diri."
Jadi benar. Bagaimana dia...?a
Mendadak aku terdiam ketika mendengar nada dering diatas meja. Itu adalah nada dering yang sengaja kuatur jika terjadi sesuatu. Kuambil Iphone-ku dengan segera dan langsung memencet tombol menerima.
"Lea."
Satu kata. Hanya satu kata yang seolah meruntuhkan pertahananku. Bisa kurasakan kalau kakiku mendadak lemas dan suster itu segera berjalan menuju arahku.
"Nyonya. Anda perlu..." kudorong dia lebih dari yang kumaksudkan hingga melihatnya ikut tersungkur ke lantai dan berlari keluar sebelum dia memanggil para medis lainnya.
Disela aku menekan tombol lift, aku melihatnya. Tubuh Jullian terlihat kaku dan kedua matanya membelalak ketika melihatku. Aku tidak pernah melihat penampilannya yang seperti ini. Dia tampak sangat kacau dan pemikiran tentang dia yang dengan tega merenggut bayiku kembali menyeruak, membuatku sangat marah. Kutekan kembali tombol lift hingga pintunya menutup tepat sebelum dia melangkahkan kakinya.
Aku segera memberhentikan taksi di depan rumah sakit dan menyebutkan tempat yang ingin kutuju. Jullian berkali- kali menelponku dan aku juga berkali- kali menolak panggilannya.
"Nyonya, anda terluka?" Sebut pengemudi taksi itu.
"Tidak apa- apa. Ini hanya luka ringan. Bisakah anda mempercepat laju mobil anda? Aku harus kesana secepat mungkin."
Dia terlihat ingin membantah tapi ketika kutunjukkan raut wajah memohon, akhirnya dengan terpaksa dia menganggukkan kepalanya.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk tiba ke tempat ibuku berada dan segera turun dari taksi setelah sebelumnya mengatakan untuk menungguku. Aku sedikit merasa bersalah padanya tapi aku benar- benar tidak membawa uang kali ini dan dalam hati berjanji akan mencarinya jika nanti dia bosan menungguku.
Aku segera berlari memasuki koridor demi koridor ketika melihat Janet didepan kamar ibuku. Diam dan memberiku pandangan nanar.
"Janet? Apa yang...?"
"Maafkan aku, Lea."
Apa?. "Apa yang kau katakan?"
Lalu Janet menyingkirkan tubuhnya agar aku bisa melihat kedalam. Di depan sana. Di tempat tidur yang sama, aku melihat sosok tidak asing. Wajahnya tampak tenang seperti sedang tertidur. Hanya satu yang membedakan dan itu adalah sebagian dari tubuhnya tertutup bagian putih. Hanya kepalanya saja yang terlihat dan disekelilingnya telah berkumpul beberapa dokter juga suster yang selalu kulihat.
Tidak mungkin.
"Lea?"
Tidak mungkin.
"Lea?"
Katakan ini tidak nyata.
"Lea, Rose terkena serangan jantung pagi ini dan kami sudah berusaha."
Tidak mungkin! Dia tidak bisa melakukan ini padaku! Aku sudah mengorbankan banyak hal untuknya! Bagaimana mungkin dia begitu tega padaku?!
"Lea?"
Kuindahkan suara- suara itu dan berjalan mendekati sosok kaku yang telah membawaku ke dunia ini.
"Bu, aku disini." Kugenggam kedua tangannya, erat.
"Bangunlah bu." Lalu memohon seraya mengarahkan jari- jariku ke sekitar wajahnya. Wajahnya terasa dingin ketika kusentuh. "Aku minta maaf karena tidak datang selama beberapa hari ini. Sesuatu telah terjadi padaku. Maafkan aku.... bangunlah, bu.... kumohon..." aku mulai merasa sesak ketika tiba- tiba suara aneh keluar dari bibirku.
"Bangunlah bu." Lalu memohon seraya mengarahkan jari- jariku ke sekitar wajahnya. Wajahnya terasa dingin ketika kusentuh. "Aku minta maaf karena tidak datang selama beberapa hari ini. Sesuatu telah terjadi padaku. Maafkan aku.... bangunlah, bu.... kumohon..." aku mulai merasa sesak ketika tiba- tiba suara aneh keluar dari bibirku.
"Ibu! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" Aku mulai merasa geram, merasa dikhianati dan kenapa dia senang sekali menyakitiku? Kenapa dia suka sekali membuatku harus mengeluarkan air mata. Dia berjanji. Kami berjanji untuk saling membuat bahagia satu sama lain tapi apa yang dia lakukan? Dia selalu saja menempatkanku dalam kesulitan. Dia ibuku. Ibu kandungku. Orang yang melahirkanku tapi dia tidak bertindak selayaknya ibu bagiku. Dia selalu menyakitiku. Membuatku terluka. Membuatku merana hingga pada titik tertentu tapi dia tidak pernah merasa bersalah padaku.
"Kau..." kupukul tubuhnya dengan tanganku. "Berutang." Kupukul lagi. "Banyak padaku. Aku sudah pernah bilang kan kalau aku akan menagih semua yang telah kuberikan padamu dan aku ingin menagihnya sekarang... bangunlah! Bangunlah, ibu. Kumohon..."
"Kumohon... aku sangat membencimu jadi kumohon bangunlah. Biarkan aku semakin membencimu... aku... aku berjanji... aku berjanji tidak akan menangis... aku berjanji tidak akan meminta apapun padamu... aku berjanji. Jadi kumohon bangunlah... jangan tinggalkan aku sendiri... aku tidak bisa sendiri... aku... aku takut. Kumohon.... kumohon.... kumohon, bangunlah ibu."
***

Comments
Post a Comment