MASK- DUA TUJUH




Entah sudah berapa lama aku bertahan dalam posisi seperti ini. Tangan kanan yang menyentuh dahi sementara tangan kiri menyentuh dada. Aku merasa sakit tapi entah dibagian mana. Di satu pihak aku merasa wajahku seperti panas, tapi ketika kusentuh, tidak panas sama sekali. Belum lagi jantungku sepertinya selalu berdebar dengan kencang dan debarannya semakin terasa setelah kejadian tadi pagi. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Tok tok...

"Lho Lea, ada apa? Kau sakit?" Mia seketika memberiku tatapan khawatir ketika memasuki ruang kantorku. Aku menggeleng tapi sepertinya Mia tidak mempercayai ucapanku dan justru menyentuh keningku.

"Tidak demam. Kau yakin tidak apa- apa?" Wajahnya mulai menunjukkan kekhawatiran yang nyata.

"Aku merasa aku terkena penyakit yang tak terdeteksi." Kuputuskan untuk berterus terang padanya. Mungkin saja jika aku memberitahukan gejalanya, dia akan memberiku saran dokter mana yang harus kudatangi. Kuharap itu bukan dokter syaraf karena aku merasa tidak ada yang salah dengan otakku meskipun kadang aku merasa ada sedikit masalah disana.

"Hah?"

"Kau tahu? Ini seperti kedua pipiku terasa panas secara tiba- tiba dan jantungku mendadak berdebar dengan kencang."

Sejenak Mia menatapku lama, seakan meneliti raut wajahku dengan seksama.
"Apa ada yang salah dengan jantungku? Sejujurnya aku tidak pernah lagi memeriksakan diri ke dokter dan kurasa tidak ada yang salah dengan tubuhku dan tadi pagi..."

"Tadi pagi apa?"

"Yah. Jullian menyentuh keningku dan tiba- tiba jantungku berdebar dengan kencang. Apa kau pernah mendengar ada jantung yang bisa melompat sendiri? Karena sepertinya aku merasakan seperti itu."

Tidak ada jawaban darinya dan kupikir mungkin Mia juga tidak tahu. Bagaimana dia bisa tahu sementara aku yang punya tubuh pun tidak tahu ada apa dengan diriku. Kuhela napasku, mencoba mengatur detakannya ketika melihat Mia menyunggingkan senyum samar di bibirnya.

"Aku senang kau mengalaminya." Ujarnya.

Eh?

"Jangan dipikirkan sayang. Itu hal yang lumrah. Kau baik- baik saja."

Hah?

"Dan mengenai jantungmu. Tidak ada masalah dengannya. Itu terjadi karena tubuhmu berkonsentrasi akan satu hal."

Aku tidak mengerti. "Bisa kau jelaskan dengan rinci karena sepertinya aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan?"

Mia tertawa pelan. "Aku senang melihat perubahanmu yang sekarang ini."

"Aku tidak..."

"Jangan dipikirkan. Oh ya, aku cuma mau memberitahumu kalau pertemuan dengan madam Vonetta diundur sampai besok."

Eh?

"Dan kurasa aku akan makan siang diluar jadi nikmati waktumu." Mia keluar dari ruanganku tanpa menoleh lagi. Ada apa dengannya?
Aku baru saja mengecek beberapa email yang masuk sekaligus melihat beberapa bahan ketika menyadari Iphoneku berdering menampilkan nomor yang tidak kukenal.

"Halo."

"Halo Lea, ini aku. Caroline."

Eh?

"Apa aku menganggumu?"

"Tidak. Apa ada yang bisa kubantu?"

"Apa kau mau makan siang denganku?"

"Eh?"

"Kumohon. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"Well, sebenarnya aku masih harus mengecek sesuatu."

"Kumohon."

Suaranya terdengar jauh lebih sedih. Apa terjadi sesuatu padanya?. "Baiklah. Dimana?" Tanyaku.

"Terima kasih. Apa kau tahu kafe pasta yang terletak ditengah kota? Avenue 35 street?"

Aku mengangguk. "Ya."

"Bisakah kita bertemu 30 menit lagi disana?"

"Baiklah."

"Terima kasih, Lea. Aku tahu kau sibuk."

"Jangan kkhawatir. 30 menit lagi bukan?"

"Ya. Dan bisakah kau tidak memberitahu Jullian?"

Eh?. "Baiklah." Jawabku menyanggupi meskipun tidak mengerti apa hubungan semua ini dengan Jullian.

Aku baru saja akan bersiap- siap akan keluar ketika kembali mendengar suara dering ponselku. Kali ini menampilkan nama Jullian dilayarnya.

"Kau dimana?"

"Kantor."

"Tunggu aku disana. Kita akan makan siang bersama."

Serta merta keningku berkerut. " tidak bisa. Aku sudah ada janji."

"Dengan siapa? Mia?"

"Tidak. Hanya seorang kenalan lama."

"Kalau begitu aku ikut."

"Jangan konyol begitu. Apa kau tidak bersama Dane?"

"Dane? Kenapa kau menanyakan Dane?" Suaranya terdengar jengkel. Ada apa lagi dengannya?

"Kalau kau bersama Dane, makan sianglah bersamanya. Aku sudah ditunggu. Sampai nanti Jullian."

"Hei Azal...". Klik.

Gezzz, ada apa dengan semua orang?

Tepat seperti yang telah dijanjikan, aku tiba di kafe tempat aku dan Caroline janjian dan melihat ketika wanita itu sudah tiba lebih dulu.

"Maaf. Apa kau menunggu lama?" Tanyaku seraya menarik kursi didepannya.

"Tidak. Aku hanya terlalu cepat datang." Jawabnya tersenyum meskipun senyum itu tidak mencapai matanya. "Apa kau mau memesan makanan dulu? Aku sudah memesan tadi."

Aku mengangguk seraya memanggil pelayan. Aku memesan pasta dengan irisan daging diatasnya beserta tambahan kentang ketika menyadari kalau Caroline hanya memesan salad. Apa seorang artis diharuskan hanya makan makanan seperti itu karena terakhir aku bersamanya, dia juga memesan salad.

"Apa kau baik- baik saja? Kau tampak kurang sehat." Tanyaku karena dia tampaknya tidak tertarik dengan saladnya dan hanya memainkan garpunya ke udara.

"Kau sepertinya sangat kelaparan." Komentarnya seraya melirik makanan yang kupesan.

"Aku butuh asupan agar otakku bisa berpikir." Jawabku sambil menggulung pastaku dengan garpu dan memasukkanya kedalam mulut. Tidak ada yang bersuara hingga aku menghabiskan makananku dan menyadari kalau dia sama sekali belum menyentuh saladnya.

"Ada apa? Apa kau tidak suka dengan saladnya?" Tanyaku.

Sekilas dia mengangkat bahunya. "Aku sudah tidak minat." Jawabnya yang membuatku menyetujui sikapnya. Aku pun tidak akan berminat jika hanya memakan sekumpulan daun- daun itu. Aku lebih senang memakan hewan yang memakan tumbuhan hijau ketimbang tumbuhan hijau itu sendiri. Toh, sama juga kan meskipun melalui proses yang cukup panjang.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Tanyaku memulai topik pertemuan kami.

"Kapan kalian bercerai?"

Eh?

"Bukankah kalian menikah karena bisnis? Apa kalian akan bercerai?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Inikah sebabnya dia mengajakku bertemu agar bisa menyakinkanku tentang hubungan mereka? Entah mengapa aku merasa sakit mendengarnya.

"Kudengar proyek kerjasama keluargamu sudah mulai jalan."

Aku mengangguk. "Ya. Kupikir juga begitu."

"Jadi apa itu berarti kalau sebentar lagi kalian akan berpisah?"

"Aku tidak tahu." Sungguh. Aku tidak tahu. Kenapa aku merasa sakit?

Tiba- tiba Caroline mengenggam tanganku. "Kumohon Lea. Aku benar- benar mencintainya. Kau tidak mencintainya kan?"

Aku tersentak. Kutatap wajah Caroline dan menemukan diriku dimatanya. Apa ini? Aku tidak mungkin. Dan tanpa sadar aku tertawa. Entah apa yang kutertawakan. Ini semua terasa konyol. Bagaimana mungkin aku...

"Lea?"

"Oh maaf." Aku tersenyum. "Aku tidak menyukainya. Aku akan mengembalikannya setelah kontrak kami berakhir."

"Terima kasih. Aku lega mendengarnya."

Aku tersenyum. "Aku seharusnya berterima kasih dan maaf karena berada diantara kalian."

"Tidak apa. Asal kau berjanji untuk mengembalikan Jullian padaku. Aku akan baik- baik saja." Caroline tersenyum yang kubalas dengan senyum yang sama.
Dasar Lea bodoh! Apa yang kau pikirkan? Mengharapkan pernikahan yang sempurna? Jangan harap! Hidup tidak seperti dalam cerita dongeng dan sudah jelas kau bukan putri dalam dongeng tersebut. Jangan terlalu bangga pada dirimu sendiri dan fokuslah pada apa yang benar- benar kau inginkan seperti semula.
Entah berapa lama aku terdiam ditempat ini. Caroline sudah pergi sejak tadi. Dia mengatakan dia sudah terikat kontrak iklan dengan perusahaan ternama dan mengharuskan dia untuk mengikuti jadwal yang telah ditetapkan oleh manajemennya. Kuhembuskan napasku pelan dan lagi- lagi menertawakan kebodohanku.

"Lea?" Aku bahkan tidak sadar telah mengangkat telponku tanpa sama sekali menyadari siapa yang menelpon dan bersyukur itu hanya Laura, ibu Jullian dan bukan Jullian sendiri. Aku bahkan tidak yakin bisa mengeluarkan suara tenang jika mendengar suaranya. Suaranya seperti ikut mengacaukan cara kerja otakku.

"Sayang, kau baik- baik saja?" Suara Laura diseberang sana terdengar khawatir.
Untuk beberapa saat aku berdehem. "Ya. Aku baik- baik saja."

"Syukurlah. Kupikir kau sakit."

Inilah yang paling kubenci dalam keluarga Jullian. Laura bersikap seperti ibu yang sangat pengertian begitu pula dengan James dan Jackie Anderson, ayah dan kakek Jullian.

"Aku baik- baik saja."

"Jam berapa kau selesai bekerja?"

"Hmm kupikir jam 3. Ada apa?"

"Oh baiklah. Tunggu aku dikantormu dan kita akan berbelanja bersama."

"Eh?"

"Bukankah kita sudah berjanji kalau akan memasak bersama? Sudah lama juga kalian tidak ke rumah."

Oh. Aku terdiam. Disatu pihak aku ingin menolak tapi dipihak lain, aku merasa tidak enak karena telah mengiyakan ucapannya dulu.

"Baiklah."

"Tunggu aku di kantormu, okey sayang?"

"Tentu, Laura." Klik

Lagi dan lagi.

Ini akan menjadi hari yang sangat amat panjang dan melelahkan.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS