MASK- TIGA EMPAT
Lea PoV
"Sayang...?" Aku menoleh dan mendapati Janet yang sedang memandangku dengan tatapan penuh iba di matanya. Jika boleh aku jujur, aku tidak mau orang melihatku dengan pandangan seperti itu.
Lemah. Itulah yang kupikirkan dan aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak memperlihatkan pada siapapun.
"Semua akan baik- baik saja, sayang. Percayalah." Ucapnya sudah berada disampingku dan mengelus kepalaku dengan sayang.
Yeah. Sudah seharusnya itu terjadi. Aku sudah mengorbankan banyak hal dalam hidupku dan kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupku akan membuatku hancur. Sudah pasti itu.
Kupandangi sosok yang sedang tertidur didepanku. Siapa yang menyangka, dua minggu setelah kepulanganku dari Paris tiba- tiba Janet menghubungiku dan mengatakan kalau tiba- tiba daya tahan ibuku menurun. Penyakit Alzheimer yang dideritanya ternyata mempengaruhi sistem imun pada tubuhnya dan hampir sebagian dari tubuhnya mengalami kelumpuhan total.
Kutangkup kedua tangannya, merasakan jari jemarinya yang begitu kurus di tanganku. Dia tidak boleh melakukan ini padaku. Tidak sebelum dia mengingatku atau paling tidak, menyebut namaku.
Tidak!
Tenggorokanku rasanya tersengat timah panas, membuatku tidak bisa bersuara dan bisa kurasakan kalau mataku juga ikut terasa panas karena begitu inginnya air mata ini keluar.
"Sayang, tidak ada yang bisa kita lakukan." Lagi- lagi kalimat itu.
Mungkin ketika di bulan pertama aku masih bisa memberontak, menyalahkan semua dokter dan perawat juga Janet karena tidak mengurus ibuku dengan baik tapi setelah hampir tiga bulan ini, aku mulai merasa lelah. Aku bahkan sudah tidak sanggup mendebatnya.
"Aku tidak akan menyerah, Janet. Bukankah kau baru saja mengatakan kalau aku harus percaya semua akan baik- baik saja?"
"Sayang..." Terdengar nada putus asa dalam suaranya, membuatku menoleh dan menatap matanya.
"Kita tidak boleh menyerah begitu saja, Janet. Hanya dia satu- satunya yang kumiliki di dunia ini dan tak seorang pun boleh merenggutnya dariku."
"Sayang..."
"Tidak Janet. Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Aku sudah banyak berkorban untuk dirinya. Dia tidak boleh lagi memperlakukanku dengan kejam."
Dia terdiam.
"Aku akan melakukan apapun untuknya. Apapun." Putusku kembali menatap sosok di depanku.
*
Matahari baru saja pulang ke peraduannya ketika aku sampai di apartemen dan tidak mendapati seorang pun didalamnya. Ya, ini cukup membuatku merasa beruntung. Aku tidak ingin Jullian melihatku dengan tampang seperti ini.
Lagipula akhir- akhir ini aku selalu merasa lelah. Asumsiku itu karena aku terlalu sibuk dengan urusan kantor juga membantu Janet merawat ibuku. Selama dua minggu ini dalam kurun waktu tiga bulan, keadaan ibuku sudah mulai membaik meskipun sekarang dia sudah tidak bisa lagi menggerakkan kedua kakinya tapi melihatnya yang masih bisa menyunggingkan senyumnya padaku, membuatku yakin dengan yang namanya keajaiban.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Jullian baru saja menghubungiku kalau dia akan terlambat pulang dikarenakan ada beberapa pekerjaan yang harus dia periksa bersama Dane. Ku buka frezer yang terletak di dapur dan menemukan dua potong ayam, memutuskan untuk menggorengnya saja. Sambil menunggu ayamku matang, kuambil wortel, mengupasnya dan memasukkan kedalam mulutku.
Pertama kali Jullian melihatku memakan wortel mentah- mentah, dia memberiku tatapan penuh keterkejutan khas dirinya kemudian beralih menjadi tertawa terbahak- bahak. Menurutnya aku lebih mirip kelinci jika melakukan kebiasaanku yang seperti ini. Dia bahkan justru menggodaku dengan menambahkan buncis yang dia tahu kalau aku sangat tidak menyukai sayuran yang satu itu.
Satu gigit....
Dua gigit....
Tiga gigit....
Okey, aku mulai merasa ada yang aneh.
Empat gigit....
Tidak mungkin kan kalau wortel ini basi.
Enam gigit....
Okey, ini mulai membuatku mual. Aku segera berlari menuju wastafel terdekat dan memuntahkan semua isi perutku.
Apa- apaan ini?
Kuseka mulutku dengan punggung tanganku lalu kembali menuju wortelku. Kuperhatikan dengan seksama, mencari tanda- tanda adanya proses pembusukan tapi semuanya sempurna. Tidak ada yang aneh.
Kucoba menggigitnya sekali lagi dan seperti semula aku kembali berlari memuntahkannya.
Wortel sialan!
Kubuka kulkas dan mengeluarkan semua wortel didalamnya dan membuangnya ke tempat sampah. Aku tidak akan berbelanja ke tempat itu lagi!. Rutukku seraya menekankan dalam- dalam dalam pikiranku.
Ayamku juga sudah matang dengan sempurna tapi di gigitan ke sepuluh, aku sudah tidak memakannya lagi. Entah apa yang terjadi dengan perutku, kurasa aku mulai terkena deman perut atau apalah namanya itu. Kembali ku buka kulkas dan untungnya masih tersedia satu plastik kecil berisi stroberi. Thanks God!.
Kuambil mangkuk kecil dan menaruh stroberi- stroberi itu didalamnya, tentu saja setelah mencucinya dengan bersih lalu berjalan menuju ruang tengah dimana aku bisa sekalian menonton televisi. Tidak banyak acara malam ini dan memutuskan untuk menonton Transilvania 2.
"Azalea sayang." Aku merasakan seseorang mengelus sebelah pipiku dengan lembut. Aku ingat kalau setelah menghabiskan seluruh stroberi, kuputuskan untuk membaringkan tubuhku diatas sofa, masih dengan mata yang memandang pada layar televisi dan tanp sadar terlelap.
"Jullian?"
"Kau seharusnya tidur di kamar kita dan bukannya tidur di sofa."
Kubuka mataku dengan perlahan dan mendapati Jullian duduk pada lututnya, melihatku.
"Kau baru pulang?" Kugosok mataku dengan punggung tanganku ketika melihatnya masih memakai kemeja, kedua lengannya digulung hingga ke siku. Membuatnya tampak menggiurkan di mataku, mungkin melebihi stroberi- stroberi tadi. "Kurasa aku ketiduran." Gumanku masih merasa mengantuk.
Ingat Lea, Jullian bukan stroberi. Dia bukan makanan tapi... dia tampak sangat menggoda selera. Apa bisa sedikit kucicipi? aku sangat ingin menyantapnya.
Sial, ini pasti karena aku menonton film vampire sehingga otakku ada yang korslet.
"Akhir- akhir ini aku mudah jatuh tertidur." Ungkapku.
Aku bisa mendengarnya terkekeh. "Ya. Kau seperti putri tidur. Baiklah. Aku akan membawamu ke kamar tidur kita."
Sebelum aku bisa merespon ucapannya, tubuhku sudah terangkat dan secara otomatis pula tanganku berada di lehernya.
"Kau sudah makan?"
"Hmmm"
"Jam berapa kau tiba?"
"Aku tidak tahu." Lebih tepatnya aku sulit berpikir saat ini.
"Jangan menggodaku, Azalea."
Aku terkekeh merasakan responnya dan semakin mendekatkan bibirku ke lehernya, mencium bau tubuhnya.
"Apa kau tidak lelah?"
Aku menggeleng. "Bagaimana denganmu?"
"Kurasa jika wanitaku menginginkan diriku maka aku tidak bisa menolak. Lagipula seharian ini aku hanya memikirkanmu."
Aku tertawa.
"Dan jangan harap aku akan melepaskanmu, tidak peduli jika kau memohon untuk berhenti." Ucapnya yang semakin membuatku tertawa.
"Kurasa aku layak mendapatkannya." Lalu kubawa bibirku ke bibirnya, merasakan gelenyar- gelenyar bahagia tiap kali dia berada didekatku.
"Aku tahu aku akan cepat mati karenamu." Candanya lalu kembali melumat bibirku.
Hal yang sama juga berlaku untukku.
***

Istrimu hamil Julian, hati hati 🙈
ReplyDelete