MASK- DUA SEMBILAN
"Bagaimana? Apa kau sudah bisa menghubunginya?" Tanya Dane padaku.
Aku menggeleng. "Apa pekerjaan disini sudah selesai? Aku akan mengambil pesawat terakhir." Ujarku.
Dane mengangguk mengerti. Ya, sudah seminggu ini kami berada di Paris dalam rangka perjalanan bisnis. Rasanya berat meninggalkan dirinya selama ini apalagi aku sudah merindukan aroma shampo yang digunakannya. Sungguh, dia benar- benar membuatku jatuh cinta dengan cara yang aneh.
Hubungan kami masih sebatas pelukan dan ciuman, sebenarnya aku yang lebih sering menciumnya sementara yang dia lakukan hanyalah melototkan matanya tiap kali aku menyerangnya seperti itu. Aku belum ingin melakukan apa yang dulu dimintanya, bukan karena aku tidak mau. Justru aku sangat ingin tapi seperti kataku tempo hari. Aku menunggu hingga dia siap. Aku tidak ingin dia melakukannya karena sebuah alasan, itu bukan sifatku. Aku ingin bercinta dengannya dan bukan sekedar seks.
"Sial." Aku menoleh dan mendapati Dane sedang memberiku tatapan meminta maaf. "Maaf sepupu, penerbangan malam ini dibatalkan karena adanya cuaca buruk." Katanya memberitahu.
Kuhela napasku pelan. Memang, selama beberapa hari ini cuaca kota Paris selalu basah dan lembab, membuat beberapa penerbangan terpaksa dibatalkan. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam waktu setempat. Hujan masih mengguyur dari luar mobil yang dikemudikan oleh Dane.
"Kau mau ke hotel?" Tanya Dane kembali.
"Tidak. Apa kau sudah menghubungi bandara agar menginformasikan kalau ada pesawat yang akan menuju ke sana?"
Dane mengangguk. "Ya. Mereka akan menginformasikannya segera." Jawabnya yang kembali kubalas dengan anggukan singkat. "Jadi kalau kau tidak mau kembali ke hotel, kau mau kemana?"
"Terserah. Bawa saja kemana kau mau."
"Bagaimana jika ke pub? Aku sudah lama tidak ke pub. Kudengar disana juga ada live music-nya."
Kuangkat bahuku. Aku tidak peduli Dane mau membawaku kemana. Yang kupedulikan saat ini adalah keberadaan wanita itu, kenapa dia sama sekali tidak menghubungiku? Kenapa aku tidak bisa menghubunginya? Apa terjadi sesuatu padanya? Tapi jika sesuatu terjadi padanya, pasti ibu atau siapapun itu akan menghubungiku.
Sial. Dimana kau?
Pub yang dipilih oleh Dane termasuk lumayan. Tidak seperti kebanyakan pub dengan segala aktivitas malam dalamnya. Tempat ini lebih mirip kafe dengan tampilan band penggiring didalamnya.
Musik menghentak dengan kerasnya ketika aku memasuki tempat ini dan langsung mengambil meja di sudut ruangan.
"Kurasa lumayan." Aku mendengar Dane mengguman pelan ketika seorang pelayan dengan pakaian minim datang membawa minuman pesanan kami dan tak lupa mengedipkan salah satu matanya pada Dane.
"God Lea, you are incredible as usual."
Aku tersentak mendengar kalimat yang baru saja kudengar. Aku tidak bisa melihat siapa lawan bicaranya karena pria pirang itu membelakangi tempatku berada.
"Bagaimana kalau kita kembali memanaskan panggung seperti yang biasa kita lakukan?" Tanya pria pirang itu lagi.
"Well Jerry, kurasa malam ini sudah cukup. Aku harus mengejar pesawat besok pagi."
Aku tahu suara ini. Suara yang sangat kurindukan dan sepertinya Dane juga menyadari suara itu. Kami berdua memutuskan untuk berdiri untuk mencari tahu dan disitulah aku melihatnya, dengan rambut merahnya yang digerai. Wajahnya penuh peluh dan dia mengernyit seperti yang selalu dia lakukan jika berpikir.
Apa yang dia lakukan disana?
Disini?
Paris?
Aku ingin menghampiri dan langsung menanyainya ketika sebuah tangan menahanku dan menoleh ketika Dane menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak berniat mengacaukan semuanya kan?"
Kedua mataku sontak menyipit, "kau tidak berniat menahanku disini kan?"
Dane tertawa. "Itu yang akan kulakukan. Lagipula Jullian, bagaimana kalau kita mencari tempat duduk dan menikmati pertunjukkannya saja?"
"Apa kau tidak sadar? sudah seharian ini aku mencoba menelpon dan mengkhawatirkannya dan apa yang kulihat? Dia bersenang- senang disini?" Erangku jengkel. Bagaimana mungkin aku bisa duduk tenang sembari menikmati pertunjukkan tempat ini jika wanita yang seharian ini kukhawatirkan berada disini dan sama sekali tidak memberitahuku.
"Well, aku bisa melihat dia bersenang- senang dan ini kali pertama aku melihatnya tersenyum seperti itu."
Aku kembali menoleh kearah Lea. Dane benar. Ini seperti melihat sisi lain dari seorang Lea maksudku tidak ada senyum kaku atau wajah dingin diwajahnya melainkan dia terlihat sangat berbeda. Dia terlihat sangat bahagia.
"Kurasa tempat ditengah ruangan ini pas untuk kita."
Aku tidak memperdulikan kemana Dane membawaku. Mataku hanya fokus pada dua orang yang masih sibuk membicarakan sesuatu. Ingin rasanya aku segera menghampirinya, paling tidak hal pertama yang akan kulakukan adalah memeluk wanitaku, mencium aromanya dalam- dalam setelah itu menghukumnya.
"Kau benar- benar mencintainya." Itu bukan pertanyaan.
"Aku tahu." Balasku yang langsung membuat Dane terkekeh.
"Kau beruntung sepupu. Dia juga sepertinya sangat menyukaimu." Sontak aku menoleh kearah Dane dan melihat dia tersenyum penuh seringaian.
"Aku juga tahu itu." Aku bukannya pria bodoh yang tidak tahu bagaimana gerak- gerik wanita yang menyukai lawan jenis tapi entah kenapa sulit sekali memahami apa yang dipikirkannya.
"Wow... apa dia akan memainkan benda itu?"
Aku kembali menoleh ke depan dan mendapati Lea sedang duduk diatas kursi tingkat dengan gitar dipangkuannya.
"Aku tidak tahu dia bisa main gitar. Bagaimana denganmu? Apa dia sering bermain di apartemen kalian?"
Aku menggeleng. Aku bahkan tidak pernah melihat ada gitar di apartemen kami.
"Wow."
Aku tahu apa yang dimaksudkan oleh Dane. Lea mengangkat rambutnya keatas dan mengikatnya dengan asal pada karet di tangannya. Dia tampak sangat seksi dengan penampilan seperti itu, belum lagi dengan hotpants dan kaos yang memperlihatkan tulang lehernya. Baik dirinya maupun pria pirang itu sama- sama memegang sebuah gitar. Senyum tidak pernah lepas dari bibir Lea meskipun kadang dia melemparkan tatapan cemberut pada pria pirang itu yang dibalas dengan gelak tawa darinya.
Seketika itu membuatku merasa cemburu. Sial.
Sebuah petikan halus mulai terdengar dari gitar yang dipegang Lea, sekilas Lea melemparkan tatapan meremehkan pada pria pirang itu yang hanya dibalas oleh anggukan pelan dari pria itu.
Oh, angel sent from up above
You know you make my world light up.
You know you make my world light up.
Pria itu mulai melantunkan liriknya, membuat Lea tersenyum.
When I was down, when I was hurt
You came to lift me up
Life is a drink, and love's a drug
Oh, now I think I must be miles up
When I was a river, dried up
You came to rain a flood.
You came to lift me up
Life is a drink, and love's a drug
Oh, now I think I must be miles up
When I was a river, dried up
You came to rain a flood.
Keduanya lalu sama- sama melantunkan liriknya seakan sudah tahu dimana seharusnya berada.
And said drink from me, drink from me
When I was so thirsty
Pour on a symphony
Now I just can't get enough
Put your wings on me, wings on me
When I was so heavy
Pour on a symphony
When I'm low, low, low, low
When I was so thirsty
Pour on a symphony
Now I just can't get enough
Put your wings on me, wings on me
When I was so heavy
Pour on a symphony
When I'm low, low, low, low
I, oh, I, oh
Got me feeling drunk and high
So high, so high
I, oh, I, oh, I, oh
Now I'm feeling drunk and high
So high, so high
Woo!
Got me feeling drunk and high
So high, so high
I, oh, I, oh, I, oh
Now I'm feeling drunk and high
So high, so high
Woo!
Oh, angel sent from up above
I feel it coursing through my blood
Life is a drink, your love's about
To make the stars come out
I feel it coursing through my blood
Life is a drink, your love's about
To make the stars come out
Put your wings on me, wings on me
When I was so heavy
Pour on a symphony
When I'm low, low, low, low
When I was so heavy
Pour on a symphony
When I'm low, low, low, low
(Hymn for the weekend by Coldplay).
Aku tahu tidak seorangpun yang bernapas melihat penampilan mereka berdua. Seakan mereka berdua memang tercipta bersama dan sesuatu yang tidak kuduga kemudian terjadi, pria pirang itu langsung menarik Lea dalam pelukannya dan mencium keningnya.
Cukup sudah!
***

Comments
Post a Comment