MASK- EMPAT LIMA
Apa katanya?
Lagi?
"Apa maksudmu?" Aku berusaha untuk tidak memikirkan apa yang baru saja terlintas dalam pikiranku. Tidak mungkin itu dia!
Collin tertawa bahkan lebih keras dari yang bisa kujelaskan. Seakan dengan tertawa dia bisa meluluhkanku.
"Aku tidak ingin ada bayi dalam perutmu ini, sayang." Kembali dia menyusuri perutku dengan jari- jarinya. "Kau tidak tahu bagaimana marahnya aku ketika melihat artis bodoh itu melukaimu. Seakan- akan kau boneka yang dilempar begitu saja."
Kedua mataku membelalak sempurna. "Kau?! Apa kau yang..."
"Aku mengatakan padanya kalau bayi itu adalah penghalang dalam hubungannya dan jika dia ingin Jullian kembali padanya maka dia harus melenyapkan bayi itu."
"Kau!" Kukepalkan tanganku hendak meninju wajahnya ketika dia dengan sigap menahan tanganku sebelum menuju wajahnya. "Lepaskan. BRENGSEK!"
Lagi- lagi dia tertawa dan menarik tanganku hingga posisi kami berganti dengan aku yang membelakanginya, masih dengan tanganku di tangannya.
"Kau tahu sayang, aku selalu suka melihat dirimu yang seperti ini. Liar tapi juga sangat cantik dan itu semakin membuatku bergairah dan aromamu..." kali ini dia mencium tengkukku dengan lembut tapi bukan lagi perasaan merinding yang kurasakan saat ini melainkan perasaan jijik karena disentuh olehnya. "Selalu membuatku mabuk kepayang. Kau tidak tahu, bagaimana aku selalu memimpikan dirimu berada di ranjangku setiap malam."
Kulepaskan diriku darinya dengan kasar. Alih- alih aku yang menjauh darinya, yang ada aku malah terlempar hingga belakangku membentur sisi lemari.
"Aku. Tidak. Sudi. Berada. Dalam. Mimpimu. Itu. Brengsek!" Tekanku mengindahkan rasa sakit yang menjalar di punggungku. "Biar kutanya sekali lagi. Apa kau yang menyuruh Caroline untuk mendorongku waktu itu?"
Sejenak matanya menerawang, berpura- pura untuk berpikir lalu kemudian terkekeh. "Secara harfiah, ya. Aku yang mengusulkan agar kau keguguran. Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak suka jika ada pria lain yang menyentuhmu, terlebih lagi jika kau harus mengandung anaknya."
"APA KAU SADAR APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN, BRENGSEK?! DIA KEPONAKANMU JUGA!" Teriakku tidak tahan. Bagaimana mungkin dia tega melakukan ini padaku. Pada bayi yang tidak bersalah.
"Seperti yang kukatakan tadi. Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai bagian dari keluargaku jadi aku tidak masalah jika harus melenyapkan kehidupan lain lagi asal bisa...."
"AKU TIDAK MAU! BAHKAN JIKA KAU MEMBUNUHKU, AKU TIDAK SUDI BERSAMAMU. KAU MENGERIKAN... KAU PEMBUNUH... KAU...."
Plakkk....
Bisa kurasakan kalau sekali lagi aku terlempar kebelakang dan meringgis ketika rasa perih sekaligus asin mulai terasa di sudut bibirku.
Collin beranjak untuk mendekatiku dan langsung memegang daguku. Tatapan matanya berubah menjadi tajam.
"Jangan. Sekali- kali. Menyebutku. Pembunuh. " tekannya penuh intimidasi. "Karena jika aku pembunuh maka dirimu juga pembunuh karena telah mengandungnya selama ini dan tidak berhati- hati."
Apa?
"Kau menjebak orang lain untuk melakukan cara kotormu."
Collin tertawa mengejek. "Ini bisnis, sayang. Semua pebisnis melakukan ini."
Aku menggeleng, melepaskan diri darinya dan berdiri agar bisa menjaga jarak darinya.
"Jullian tidak pernah melakukan seperti yang kau..."
Detik selanjutnya aku sudah terlempar hingga kepalaku membentur sisi meja dan segera saja aku merasakan sakit kepala yang tak berkesudahan.
"Jangan pernah menyebutkan nama pria lain dihadapanku."
Dia meraihku, merengkuhku lalu melemparku lagi.
"Sekarang tidak ada lagi yang bisa menolongmu. Tidak seorangpun... hanya aku... hanya aku yang bisa menolongmu. Kau adalah putri dalam dongeng yang hanya diciptakan untukku."
"Kau.... gila."
Pandanganku mulai terlihat kabur seiring aku yang merasakan sensasi dingin yang menjalar di keningku.
"Dulu pria yang bernama Culton itu tidak bisa berbuat apa- apa ketika melihatmu lebih memilih untuk terjun bebas dari balkon tempat tinggalmu." Dia tertawa. "Tapi sekarang tidak ada si Culton itu lagi, sayang... dan berita bagusnya tidak ada balkon yang bisa kau pakai untuk melompat lagi."
"Kau... sinting."
Dengan sisa kekuatan terakhirku. Aku menendangnya hendak melepaskan diri tapi tanpa kuduga aku kembali terlempar bahkan jauh lebih keras dari yang sebelumnya.
Bayiku.
Pemikiran tentang ada kehidupan lain yang sedang tumbuh dalam diriku, menyentakku jauh lebih keras. Kali ini aku tidak akan menyerah. Kusentuh perutku, berharap aku masih bisa merasakan pergerakan janin didalamnya tapi tidak terjadi apa- apa. Tadi siang, dokter hanya mengatakan kalau aku positif hamil tapi belum bisa melakukan USG dan memintaku untuk datang beberapa minggu lagi.
"Berhentilah menolakku terus- menerus, sayang."
"Aku... tidak... mau"
Kutendang dia sekali lagi hingga aku mendengarnya meringgis dan hal itu aku pergunakan untuk melarikan diri. Mungkin jika aku berhasil masuk ke dalam lift, akan ada orang di bawah yang akan menolongku.
Ya. Aku harus berhasil. Setidaknya sampai aku mencapai lift.
Ya. Aku pasti bisa.
Aku berdiri, tertatih- tatih merangkak hendak meraih gagang pintu ketika kembali merasakan rambutku yang ditarik dari belakang dan secara tiba- tiba aku mulai terlempar keatas, yang kuduga adalah meja karena bersamaan dengan itu aku mendengar suara pecahan kaca disusul dengan tubuhku yang terasa semakin terkoyak.
Aku tersedak.
Ini benar- benar menyakitkan. Seakan memori tentang dulu terulang kembali.
Uhuk.
Tolong aku...
"Sial, aku melakukannya lagi." Kudengar suara Collin mengutuk tapi terasa sangat jauh di telingaku. "Maafkan aku sayang, aku melakukannya lagi. Maaf." Aku merasakan kalau dia mulai merengkuh tubuhku yang terkena serpihan kaca dan erangan kesakitan lolos dari bibirku ketika merasakan serpihan itu di tarik paksa dari tubuhku.
Selanjutnya yang aku rasakan adalah adanya benda kenyal yang mulai mengusap bibir bawahku.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan padanya?!
Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi kembali kepalaku terjatuh dan membentur entah apa itu. Aku tidak tahu dan... tidak peduli.
"Lea... hei Lea... sadarlah."
Siapa itu?
"Oh shit. Dia mengeluarkan banyak darah."
Darah?
Darah apa?
Dan...
"Jullian, Hentikan! Kita harus membawa Lea ke rumah sakit!"
"Brengsek!"
"Azalea..." suaranya terdengar penuh kekhawatiran.
Selanjutnya yang aku rasakan adalah tubuhku diangkat dengan sangat hati- hati dan aroma parfum bercampur karat serta amis seketika menyeruak ke udara.
"Panggil polisi sebelum aku benar- benar memutuskan untuk membunuhnya."
Dan kegelapan mulai mengambil alih seluruhnya.
***

Colliiin!! 😲
ReplyDelete