MASK- EMPAT TUJUH
"Untuk sementara biarkan dirinya sendiri yang berusaha untuk mengingat. Kepalanya terbentur dengan sangat keras karena kejadian itu. Saya khawatir jika kita memaksa dirinya untuk mengingat semuanya, itu akan berdampak pada dirinya dan juga bayi kalian apalagi jika kita merujuk pada kejadian beberapa bulan terakhir ini. Kuharap kau mengerti apa yang kumaksud. Bersabarlah, nak."
Itulah kalimat yang diucapkan oleh dokter Chen ketika selesai memeriksa Lea secara menyeluruh.
Entahlah. Apakah melihat dirinya yang memberiku tatapan seperti orang asing masuk dalam kategori bersabar? Aku ingin menyentuhnya, berbicara padanya, menatap matanya, melihat dia yang tersenyum padaku tanpa terhalang oleh apapun.
Tapi mampukah aku? Sementara disisi yang lain aku juga tidak mau dia merasa takut padaku. Tuhan, aku mengharapkan dia membuka matanya tapi ketika matanya terbuka. Dia justru tidak mengarahkan pandangannya kearahku.
Ini sudah hampir tiga minggu. Wajahnya tidak lagi sepucat ketika dulu tapi kembali lagi, dia sama sekali tidak mengenalku dan hanya mengenal pria yang mengambil ciuman pertamanya, Jerry dan lebih buruknya lagi, dia bahkan mengira kalau bayi dalam kandungannya adalah anaknya dan Jerry.
Aku baru akan menggeser pintu ruangan dimana dia dirawat ketika sekali lagi aku mendengar suara tawa merdunya. Semenjak dia sudah sadar sepenuhnya, dia selalu bersikap ceria dan tanpa ragu tertawa terbahak- bahak atas pembicaraan antara dirinya dan Jerry itu. Sesekali Dane dan Mia juga datang dan kembali dia bersikap ceria. Dane pernah berbisik padaku kalau Lea yang sekarang jauh lebih bebas dan sangat polos khas remaja belasan tahun. Tentu saja, karena Lea yang sekarang adalah remaja berusia belasan tahun. Tepatnya ingatannya terhenti di usia yang ke 18.
Dan ngomong- ngomong tentang itu. Aku ingat kalau Jerry pernah memberiku tatapan bingung sekaligus tidak percaya ketika kutanyakan tentang sikap Lea yang biasanya sangat dingin, yang justru dijawab oleh pria itu sebagai bahan candaan.
Apa ini memang sifat Lea yang sebenarnya?
Apa yang sudah dialaminya setelah Jerry sudah tidak lagi bersamanya?
Apa yang membuat Lea pada akhirnya memilih untuk kembali pada keluarga Smith?
Apa karena dia diteror?
Dan semua jawaban dari pertanyaanku tadi ingin kudengar dari bibir Lea sendiri. Apa yang sudah dia alami? Kenapa dia harus menanggungnya seorang diri?
Jerry pernah mengatakan padaku kalau insiden Lea yang berakhir melompat dari lantai 5 adalah ketika Lea berusia 20 tahun dan itu adalah saat dimana Collin hampir saja menyentuhnya. Jujur aku juga bersyukur karena hilangnya ingatan Lea bukan berada di usianya yang ke 20 tahun. Bisa kau bayangkan jika ingatannya terhenti disana dan justru malah mengira kalau dia hamil anak brengsek itu? Bisa jadi aku akan langsung ke kantor polisi dan membunuh si brengsek itu. Tidak peduli aku berada dimana.
Kulihat Jerry dan Dane duduk diatas kursi yang sengaja mereka tarik ke samping tempat tidur sementara Lea dan Mia berada diatas tempat tidur. Tentu saja Mia yang duduk disisi ranjang sementara Lea bersandar di tepi tempat tidur dengan beberapa bantal dibelakangnya.
Mereka berempat sejenak melihatku tapi yang kuperhatikan hanyalah wanita itu dan ketika mata kami bertemu, serta merta dia memalingkan wajahnya dan tersenyum pada Jerry. Mungkin jika aku tidak mengingat keadaan Lea yang sekarang, sudah pasti aku akan menarik Jerry dengan paksa. Apalagi aku sering mendapati Lea yang mengenggam tangan Jerry dan dibalas oleh pria itu dengan perlakukan yang sama plus dengan mengelus jari- jari lentik milik wanitaku.
"Bagaimana?" Dane sepertinya mengerti kemana arah pandanganku terarah hingga dia memutuskan untuk mencairkan suasana yang tercipta tiap kali aku berada disini.
"Dokter mengatakan kalau Azalea bisa pulang lusa." Jawabku.
"Apa tidak bisa besok?"
Kali ini aku memalingkan pandanganku kearahnya. Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan kami setelah dia sadar kembali kudengar.
"Jerry mengatakan kalau aku menikah denganmu."
Aku mengangguk.
Memang jawaban seperti apa yang harus kuberikan padanya. Kurang dari kurun waktu dua jam, dokter Chen mengatakan kalau secara fisik, Lea sudah tidak apa- apa. Hasil tesnya juga sudah menunjukkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya saja Lea tidak mengingat apapun dan hanya bisa mengingat kalau saat ini usianya adalah 18 tahun dan aku masih sulit untuk menerima semua itu.
"Menikah karena bisnis?" Tanyanya lagi.
"Ya"
"Dan anak ini...?" Dia menunjuk gundukan di perutnya.
Aku mengerti apa yang berusaha dia katakan jadi aku menggeleng sebagai usaha untuk menjawab pertanyaanya.
"Tidak ada paksaan ketika kita melakukannya." Jawabku yang langsung serta merta melihat rona merah di pipinya sebagai sikap dia malu atas jawaban yang baru saja aku katakan.
Ingin rasanya aku menyentuh tubuhnya. Merengkuhnya dan menciuminya tapi aku harus bersabar. Aku tidak mau gegabah jika itu berkaitan dengan dirinya.
"Apa aku mencintaimu, Jullian?"
Dan semuanya mendadak sirna dengan keluarnya pertanyaan itu dari bibirnya
.
Ya. Aku memang tidak pernah mendengar Lea mengatakan kata cinta padaku. Lea tidak pernah sekalipun mengatakan kalau dia mencintaiku jadi apakah selama ini cintaku hanya bertepuk sebelah tangan? Hanya aku yang merasakan perasaan ini sementara dia tidak?
"Apa kau sudah mau keluar dari sini?" Tanyaku sekedar berbasa- basi. Aku hanya ingin percakapan diantara kami berlangsung lama.
Dia mengangguk. "Ya. Aku sangat bosan berada disini."
"Kalau begitu, kita perlu mendiskusikan ulang hal ini dengan dokter kandunganmu. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu." Kataku. "Dan bayi kita." Tambahku dalam hati.
Sejenak dia memandangiku. Entah apa yang dipikirkannya tapi aku ingin sekali menyentuhnya paling tidak sekedar menyentuh rambutnya dan hal itu datang.
Aku berjalan mendekatinya. Menarik laci disamping tempat tidurnya dan mengeluarkan jepit rambut dari dalam laci.
"Kau sepertinya tidak leluasa dengan rambutmu. Aku akan menjepitnya." Ucapku dan sebelum aku mendengar kalimat penolakan darinya. Aku meraih rambutnya dan menjepitnya dengan hati- hati.
"Te- terima kasih." Jawabnya gugup.
"Sama- sama." Balasku menyentuh anak rambutnya yang berhasil lolos dan dengan susah payah untuk tidak bersentuhan kulit dengannya. "Apa kau memerlukan sesuatu yang lain lagi?"
Dia menggeleng. "Tidak. Terima kasih. Jerry sudah menyiapkan segalanya untukku."
Aku mungkin akan langsung marah jika orang lain khususnya pria menyiapkan segala keperluan istriku tapi semenjak Lea sadar, hanya satu fokusku sekarang dan itu hanya padanya. Semua perasaan posesif dan cemburuku hilang entah kemana lagipula percuma jika harus cemburu pada Jerry. Toh, baik Lea maupun dirinya masing- masing memiliki masa lalu dan setiap orang berhak dengan masa lalunya terlepas apakah itu sesuatu yang baik ataupun yang buruk sekalipun.
"Aku janji akan membicarakan tentang keinginanmu untuk segera pulang pada doktermu." Dia mengangguk tanpa mengatakan apa- apa.
Dane dan Mia berpamitan pulang beberapa menit kemudian. Sementara baik aku maupun Jerry lebih sering menghabiskan waktu berada di rumah sakit untuk menjaga Lea.
Aku baru saja kembali dari luar ketika melihat Jerry yang sedang memperbaiki selimut Lea. Seperti biasa aku akan melihat keadaan Lea beserta gundukan di perutnya. Sudah tidak ada lagi ciuman yang biasa kulayangkan di perut dan bibir Lea ketika dia tertidur dulu ketika aku mendengar suaranya memanggil namaku.
"Jullian?"
Aku dan Jerry sama- sama menoleh. Ini kedua kalinya dia menyebut namaku setelah dia sadar dan berharap dengan dia yang sering menyebut namaku, akan mengingatkan diriku pada dirinya lagi.
Aku bahkan berjanji pada diriku sendiri untuk menghapus kenangan- kenangan buruknya selama ini dan menggantinya dengan kenangan indah tentang kami dan juga anak- anak kami kelak.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanyaku sementara Jerry masih berada disampingku. Biar bagaimanapun Jerry lah orang yang paling dekat dengan Lea.
Dia terdiam selama beberapa saat hingga kupikir terjadi sesuatu pada kandungannya ketika dia mengulurkan tangannya kearahku.
"Bisakah aku menyentuhmu?"
***

Comments
Post a Comment