MASK- EMPAT TIGA
Lea PoV
"Bagaimana? Apa kau suka?"
Bibirku mendadak kelu, tidak mampu tuk berkata apa- apa ketika aku kembali berbalik untuk melihat Jullian dibelakangku. Wajahnya menunjukkan ekspresi ragu dan tidak yakin ketika melihatku.
"Jullian, ini...." aku bisa merasakan air mata mengenang di pelupuk mataku ketika dia mengulurkan tangannya dan menghapus air mataku yang sempat terjatuh.
Kenapa aku mudah sekali menangis akhir- akhir ini?
"Maafkan aku." Ucapnya lirih. "Jangan menangis... aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku bisa melenyapkannya lagi nanti. Kumohon jangan..."
Kuhentikan perkataannya dengan langsung mengecup bibirnya. Aku bisa merasakan kalau Jullian kaget dengan sikapku yang tiba- tiba tapi aku tidak akan melepaskannya. Kukalungkan kedua lenganku di lehernya dan memasukkan lidahku ke dalam mulutnya, terlalu bahagia dengan apa yang baru saja dia lakukan ketika aku merasakan dia mulai membalas ciumanku dan aku yang semakin mendekatkan tubuhku ke tubuhnya. Aku baru berpisah ketika akhirnya dia membiarkanku untuk mengambil napas tapi tetap dengan kening kami yang bersatu.
"Aku mencintaimu, Azalea." Lirihnya dan aku tersenyum membalasnya. "Jadi kau menyukai apa yang kuberikan padamu atau tidak?" Tanyanya lagi.
Kutangkup wajahnya dengan kedua tanganku dan menatap mata hijaunya. Entah sejak kapan aku menyadari kalau mata itu mengingatkanku pada sesuatu.
"Terima kasih. Ini... ini luar biasa dan kau menakjubkan. Aku sangat menyukainya." Jawabku dan dia menghadiahiku dengan ciuman di kening.
"Aku senang kau menyukainya, sayang." Balasnya tersenyum. "Aku hanya ingin melihatmu bahagia."
"Aku bahagia, Jullian. Kau tidak tahu sebahagia apa aku melihat ini semua. Apa kau yang menanam bunga- bunga ini?" Tanyaku kembali menatap hamparan bunga mawar di depanku sementara Jullian mulai mendekapku dari belakang.
"Ya."
"Ini luar biasa. Aku sudah tidak sabar melihat mereka semua mekar. Pasti kelihatan cantik dan bukankah itu, bunga forget-me-not?" Aku menunjuk bunga berwarna hijau yang berada tidak jauh dari kami.
"Ya."
"Terima kasih." Kataku benar- benar tulus.
Begitu banyak yang telah ia lakukan terutama di empat bulan belakangan ini. Dia begitu baik, sederhana, perhatian dan tidak egois. Kupikir kalimat yang pernah kukatakan dulu mengenai tentang putri dalam dongeng benar adanya atau bisakah aku menjadi seperti itu? Seorang putri yang mengharapkan seorang pangeran. Aku hanya ingin pria didepanku inilah yang menjadi pangeranku.
Jullian mengatakan kalau kami bisa pindah ke rumah baru kami minggu depan. Sesuatu yang membuatku sudah tidak sabar. Maksudku, rumah yang dipilih oleh Jullian benar- benar luar biasa dengan hamparan taman penuh bunga- bunga yang masih belum sepenuhnya mekar di sisi samping rumah.
Jullian mengatakan dia memilih konsep moderen yang dipadu padankan dengan sentuhan pedesaan dalam pembangunan rumah ini. Disebelah taman- taman kecil itu terdapat air mancur kecil dengan beberapa ikan hias dibawahnya serta tidak jauh dari situ terdapat sebuah ayunan yang kupikir bisa membuat kami bersantai dengan segala aktivitas sehari- hari kami.
Sangat indah.
Dan aku sudah tidak sabar menunggu minggu depan segera tiba.
Kami baru saja menikmati makan malam di sebuah restoran stek di pusat kota setelah berbelanja berbagai furniture rumah baru kami ketika mataku menangkap sosok yang tidak asing di pinggir jalan.
Sosok itu terjatuh membentur jalan ketika secara tiba- tiba sebuah motor dengan kecepatan tinggi sedang melaju dengan sangat kencang dan sepertinya Jullian juga melihat kejadian itu karena dia juga langsung berdiri setelahku.
Kutembus kerumunan orang di sisi jalan trotoar untuk melihatnya. "Marissa?" Aku bertanya khawatir seraya duduk agar bisa berhadapan dengannya.
Sekilas matanya melihatku kemudian kembali beralih ke kakinya yang ternyata mulai mengeluarkan darah.
Aku selalu benci darah. Itu selalu membuatku harus mengingat sesuatu yang sangat kubenci tapi melihat Marissa, adikku terluka seperti ini. Aku berusaha untuk menyampingkan kebencianku. Aku berusaha mencari sesuatu yang bisa menutupi sebagian tubuhnya karena sepertinya dia ingin menuju ke sebuah pesta sebelum motor itu menabraknya ketika mendadak Jullian muncul dan menyampirkan jasnya ke tubuh Marissa. Entah mengapa melihat Jullian yang melakukan itu apalagi setelah dia mengangkat tubuh Marissa ke dalam gendongannya, membuat perasaanku menjadi aneh dan sekelebat tentang siapa yang seharusnya menikah dengan Jullian mendadak muncul.
Jullian membawa Marissa ke rumah sakit terdekat dan langsung ditangani oleh dokter. Aku lega ketika dokter mengatakan kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Marissa hanya mengalami luka memar dan beberapa tulang yang harus di beri gips serta istirahat yang panjang.
"Kau butuh sesuatu?" Tanyaku disela menunggui Jullian yang menebus obat Marissa di apotik.
"Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu." Jawabnya tanpa sama sekali melihatku.
Kuhela napasku panjang. "Baiklah. Tapi setelah aku mengantarmu. Dimana kau tinggal? Kudengar kau menyewa sebuah tempat disini."
Alih- alih menjawabku, Marissa justru menatapku dengan raut wajah datar hingga Jullian datang dari apotik bersama dengan seorang pria yang terlihat seperti preman.
"Astaga baby. Kau baik- baik saja?" Seru pria itu mendekati Marissa dan aku terpaksa harus menyingkir dan berjalan mendekati Jullian.
"Kurasa mereka berdua memiliki hubungan." Bisik Jullian sebelum aku bertanya padanya.
Kembali kualihkan tatapanku dari Jullian ke pria itu. Memperhatikan dari bawah keatas. Penampilannya benar- benar sulit dikatakan, dengan celana robek- robek dengan berbagai rantai besar di sekeliling celana. Dia memakai kaos tanpa lengan dengan tulisan nama sebuah grup musik rock yang sangat terkenal. Mungkin jika dia melepas antingnya, dia akan kelihatan jauh lebih tampan. Aku tidak tahu apakah dia merasakan atau tidak tapi mendadak dia berbalik dan langsung berhadapan denganku.
"Terima kasih, Mam telah membawa Risa ke rumah sakit." Ucapnya.
Mam? Risa?. Kedua keningku serta merta berkerut mendengarnya.
"Kami tadi sempat berkelahi hingga dia pergi." Lanjutnya.
Hah?
"Sudahlah, Leon. Tidak perlu menjelaskan hal yang tidak- tidak padanya." Sahut Marissa jengkel.
"Apa... hm hubungan kalian?" Tanyaku penasaran, mengindahkan tatapan Marissa yang ditujukan padaku.
"Kami pacaran." Jawab pria yang bernama Leon itu.
"Kami sudah putus." Timpal Marissa bersamaan.
Sekilas Leon menatap Marissa lalu kembali kearahku. "Ya. Kami memang sempat putus tadi." Ujar Leon seraya mengusap tengkuknya. Sangat jelas kalau dia tidak menyetujui apa yang dikatakan Marissa tadi. "Oh aku baru sadar. Sejak tadi kita belum berkenalan. Aku Leon, anda?" Dia mengulurkan tangannya kearahku.
Aku tersenyum, membalas uluran tangannya. "Aku Lea dan ini suamiku, Jullian. Aku kakak Marissa." Kataku dan Leon beralih untuk menjabat tangan Jullian ketika kembali Leon menatapku dengan kening yang bertaut.
"Jadi kau anak..."
"Leon! Hentikan!" Sergah Marissa sebelum Leon menyelesaikan ucapannya dan aku tahu apa yang tadi dia ingin ucapkan.
Leon memberiku tatapan meminta maaf yang kubalas dengan anggukan singkat.
"Jullian, ayo kita pergi. Sudah ada Leon disini." Ajakku pada Jullian.
"Kau yakin?" Jullian tampak berusaha menutupi rasa penasarannya yang sebenarnya tidak perlu.
Aku mengangguk. "Ya." Lalu aku berjalan ke dekat Marissa setelah sebelumnya mengambil obat untuk Marissa dari tangan Jullian. "Usahakan meminum obatmu tepat waktu. Jangan pergi dengan pakaian minim jika kau marah, kau tidak tahu bagaimana kehidupan diluar sana jika malam tiba..." Marissa tampak ingin menyelaku tapi langsung kuhentikan. "Aku akan membayar tagihan rumah sakitmu. Istirahatlah Marissa." Dan tersenyum. "Ayo Jullian. Jaga dia baik- baik, Leon." Pesanku dan Leon membalasku dengan anggukan kecil.
Kugenggam tangan Jullian, berusaha menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya ketika mendadak dia berhenti setibanya kami di depan mobilnya yang terparkir.
Jullian membalikkan badanku agar bisa sejajar dengannya dan menatapku lekat.
"Aku tidak tahu apa masalahmu, sayang tapi kau tampak sangat sedih." Lalu dia terdiam sejenak untuk melihat ekspresiku. "Tidak bisakah kau menceritakannya sedikit padaku?" Tanyanya.
Aku terdiam. Aku bahkan tidak tahu harus darimana untuk menceritakannya.
"Maafkan aku." Aku mulai terisak tak terkendali didepannya dan merasakan kalau dia baru saja membawaku kedalam pelukannya.
Sejujurnya hanya ini yang kuinginkan darinya. Sebuah pelukan yang bisa menjadi pertahanan akan situasi yang akan kualami kelak.
Apakah aku terlalu egois jika ingin menjadi putri dalam dongeng?
Dan... bisakah dongeng dan kenyataan berjalan beriringan?
***

Comments
Post a Comment