MASK- EMPAT EMPAT
Aku bisa merasakan kakiku sudah tidak dapat menemukan tempat pijakan lagi dibelakang.
"Berhentilah menolakku terus menerus, sayang." Ucapnya penuh seringaian di wajahnya. "Kau sudah terjebak."
"Kau gila!" Collin mengeluarkan suara tawa yang menurutku sangat mengerikan sementara matanya tetap menatap padaku.
"Ya. Aku memang gila tapi gila karenamu." Ucapnya.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Sadarlah. Kau saudaraku." Pintaku memohon sementara kedua kakiku bergetar dengan sangat hebat di ujung balkon.
"Saudara?" Dia kembali tertawa. Tawa yang serta merta membuat bulu kudukku merinding di keheningan malam. "Kau tidak pernah kuanggap sebagai saudara dalam hidupku, sayang dan aku yakin kau pun mengetahui itu."
Setiap langkah yang dilakukannya selalu membuatku mundur ke belakang. Kugelengkan kepalaku, menahan air mata yang berebut untuk keluar.
Jerry? Jerry, dimana kau? Tolong aku!
Aku menjerit dalam hati, berdoa supaya dia berada disini dan menyelamatkanku. Sebagian bajuku bahkan sudah koyak di sisi sebelah kiri, memperlihatkan bra hitam yang kukenakan.
Aku tidak tahu bagaimana Collin bisa mendapatkan kunci apartemen ini dan datang dalam keadaan mabuk ketika aku sedang tertidur pulas. Jerry mengatakan kalau dia akan terlambat pulang atau mungkin tidak pulang sama sekali, mengingat malam ini dia berada di suatu tempat bersama dengan teman- temannya.
"Ijinkan aku mencicipimu. Sedikit saja. Aku yakin kau sudah terbiasa melakukannya dengan teman satu flatmu itu."
"Tinggalkan aku, Collin atau aku akan..."
"Teriak?" Kembali ia tertawa. "Tidak akan ada yang mendengarmu. Aku sudah menyuruh penyewa yang berada satu lantai denganmu untuk pergi. Ah, butuh waktu lama untuk menyakinkan mereka kalau tempat ini akan di renovasi dan meminta mereka untuk mengosongkan tempat ini sampai besok pagi."
Aku terdiam. Seharusnya aku curiga ketika tidak menemukan satu orang pun yang berada di lantai 5 ini. Angin musim dingin meniup tubuhku yang nyaris terbuka, membuatku yang tadi gemetar semakin gemetar. Kukerjapkan mataku agar bisa menyakinkan diriku akan keputusan yang baru saja melintas dalam pikiranku.
"Tidak. Aku akan melompat."
"Melompat?" Collin kembali tertawa. "Ayolah, sayang. Aku yakin tanah dibawah sana sangat dingin. Bagaimana kalau kita kembali ke tempat tidurmu yang hangat dan mungkin saling menghangatkan diri?"
Aku tidak peduli lagi. Kupanjat balkon tempatku berpijak dan melihat Collin untuk terakhir kalinya ketika dia memberiku pandangan ragu sekaligus kaget.
Dan hal terakhir yang aku dengar sebelum melompat kebawah adalah teriakan Jerry yang memanggil namaku dan segalanya menjadi buram ketika tubuhku membentur sesuatu yang keras disertai dengan pecahan kaca.
*
"Aku tidak tahu apakah itu ide yang baik atau tidak."
"Aku yakin Jullian tidak lantas akan menceraikanmu jika dia tahu siapa kau."
"Entahlah, Jerry. Aku hanya tidak tahu harus memulai dari mana."
Sebenarnya Jerry menghubungiku hanya untuk mengatakan kalau dia akan datang seperti yang dulu dia katakan tapi entah mengapa, pembicaraan kami berlanjut ke masalah diriku.
"Meskipun menjengkelkan mengatakan ini tapi harus kuakui dia memang sangat mencintaimu." Aku tertawa membayangkan raut wajahnya mengatakan kalimat tadi.
"Aku penasaran. Kenapa kau seperti sangat membencinya?"
"Well, tidak secara khusus tapi kau bisa menganggap ini ada hubungannya dengan masa lalu"
"Masa lalu?"
"Sudahlah. Lupakan tentang kami. Bagaimana keadaanmu?"
Kupindahkan ponselku ke sisi telinga sebelah kiriku. "Aku baik- baik saja dan oh ya, ada yang ingin kuminta darimu."
"Katakan saja."
"Bisakah kau membelikanku permen kapas yang dulu selalu kau berikan padaku? Kurasa aku ingin memakan itu."
"Kenapa? Kau ngidam ya. Kenapa tiba- tiba kau meminta itu?" Aku mengangguk malu- malu atas pertanyaannya yang tepat ketika menyadari dia tidak bisa melihatku.
"Sebenarnya aku ingin merahasiakan hal ini tapi kau sudah keburu menebaknya jadi...."
"Tunggu... tunggu. Kau benaran hamil?"
Aku kembali mengangguk. "Ya. Enam minggu tapi jangan katakan pada Jullian dulu. Aku ingin menjadikan ini sebagai kejutan jika dia menjemputku nanti."
"Jadi aku orang pertama?" Entah mengapa ada nada bangga ketika aku mendengar suaranya barusan.
"Ya."
"Kuharap suamimu itu cemburu padaku."
"Hmm..."
"Apa masih ada yang kau sembunyikan dariku?"
Kugelengkan kepalaku. "Tidak. Aku hanya takut. Apa aku bisa memilikinya? Aku takut ini akan diambil lagi." Lama tidak ada jawaban dari Jerry ketika lambat laun aku mendengar suara desahan napasnya.
"Kau akan memilikinya, Angel. Seorang bayi yang secantik dirimu. Aku akan membunuh siapa saja yang berani mengambilnya darimu. Aku janji"
"Terima kasih." Kataku tersenyum lebih lebar. "Oh iya, jam berapa pesawatmu tiba? Mungkin aku bisa sekalian mengundangmu ke rumah kami. Kau akan terkejut jika melihat taman kami. Sangat luar biasa."
"Apa kau ingin memamerkan rumah barumu padaku?" Sarkasmenya membuatku seketika tertawa. "Kau banyak berubah ya sekarang. Kuharap suamimu itu tetap membuatmu sebahagia sekarang karena kalau tidak aku tidak akan segan- segan menghancurkan wajah tampannya itu."
Kucebikkan bibirku. "Terima kasih atas tawarannya tapi aku masih sanggup melakukannya seorang diri."
"Kau tidak akan sanggup. Kau juga terlihat sangat mencintainya."
Apa yang dikatakan Jerry betul. Entah sejak kapan aku mulai merasakan perasaan seperti ini pada Jullian. Apakah ketika ciuman pertama kami ketika diacara orang tuanya dulu? Entahlah.
"Mau mendengar sebuah rahasia?"
Eh?
"Aku sudah berada di tempat biasa aku membelikanmu permen kapas." Dan dia tertawa disertai dengan sambungan yang sengaja dia putus.
Butuh dua menit penuh sebelum aku mencerna kalimat Jerry barusan dan memaki ketika dia dengan mudahnya dia membohongiku dengan mengatakan kalau dia masih berada di Paris.
Lantai tempatku bekerja sudah hampir sepi. Barusan Jullian mengirimiku sebuah pesan singkat yang mengatakan kalau dia akan sedikit terlambat. Mia juga ijin cuti hingga minggu depan karena mengunjungi ibunya. Aku baru saja meminum coklatku yang sudah dingin ketika merasakan seseorang sedang menatapku. Kudongakkan kepalaku dan terkejut ketika melihatnya berdiri dengan tubuh yang sengaja bersandar di pintu sementara tangannya dilipat di dada.
"Apa yang kau lakukan disini?" Serta merta aku berdiri dari kursiku, menjaga jarak darinya. Tatapan yang diberikan padaku seketika membuat masa laluku kembali muncul.
Wajah Collin tampak lebih kacau dari sebelumnya dan dia sudah membuka dua kancing teratas dari kemejanya. Terakhir aku bertemu dengannya adalah ketika dia mengetahui kalau aku hamil dulu dan wajahnya waktu itu menunjukkan ekspresi wajah dingin menakutkan tapi kali ini jauh lebih dingin daripada yang dulu.
"Pergilah, Collin. Aku juga harus pulang." Kataku berjalan mundur setiap kali dia melangkahkan kakinya kearahku.
"Kenapa kau menghindar, sayang?" Dia menampilkan senyum penuh seringainya padaku dan aku harus mengitari meja agar bisa mencapai pintu keluar.
"Aku tidak menghindar." Elakku mencoba fokus pada pintu yang terasa jauh dariku.
"Kalau begitu mendekatlah. Aku ingin memeluk adik kesayanganku yang sangat cantik ini. Kemarilah sayang." Ucapannya seketika membuatku merinding.
"Sebentar lagi Jullian akan datang menjemputku."
Melihat wajahnya yang langsung berubah keras, aku sadar kalau aku baru saja membuat kesalahan. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju pintu ketika tiba- tiba aku merasakan sakit di sekitar kepalaku. Entah bagaimana Collin berhasil mendapatkanku dan menarik rambutku. Detik selanjutnya aku sudah terjatuh di lantai.
"Aku tidak suka nama pria lain keluar dari mulut cantikmu itu, sayang." Ketiga jari- jarinya mulai menyusuri pipiku. "Dan aku tidak suka jika pria lain berani menyentuhmu."
"Kau gila!" Aku berteriak melepaskan diri darinya. "Aku sudah menikah. Kau sendiri yang menyetujuinya."
Collin kembali meraihku. Matanya bergerak liar antara nafsu dan keinginan untuk menyakitiku lebih dalam. Dari dalam mulutnya juga tercium bau alkohol yang sangat tajam.
"Tapi itu tidak berarti dia boleh menyentuhmu dan membuatmu hamil. Hanya aku! Hanya aku yang boleh menyentuhmu."
Aku gemetar akan sentuhannya dan dia membantuku berdiri. Selama aku berdiri, tatapan matanya tidak pernah lepas dariku dan berdecak tidak suka ketika melihat perutku.
"Aku tidak suka ada bayi pria lain di dalam tubuhmu." Gumannya terdengar sangat jelas di telingaku.
"A- apa yang kau lakukan?" Kedua tangannya mulai menyusuri garis- garis pita di bajuku hingga mencapai di perutku ketika dia mendongakkan wajahnya kearahku dan tersenyum.
"Tentu saja kita akan mengeluarkannya. " ucapnya pelan. "lagi."
Seketika mataku mengerjap hingga beberapa kali.
Lagi?
***

Comments
Post a Comment