MASK- TIGA LIMA
Plakkk
What the....
Kedua mataku serta merta membelalak ketika tiba- tiba Caroline datang ke ruang kantorku dan menhadiahiku sebuah tamparan mulus tanpa kata.
"Apa yang baru saja kau lakukan?!" Kutahan diriku untuk melakukan hal yang sama meski tanganku sudah gatal.
"Mengingatkan posisimu agar kau tidak lupa."
"Apa?"
"Ya. Kau adalah wanita jalang tidak tahu malu yang pernah kutemui. Kau mengatakan kalau kau sama sekali tidak mempunyai perasaan pada Jullian tapi dengan entengnya kau pergi berbulan madu dengannya. Apa sudah tidak ada lagi pria yang bisa kau ajak tidur hingga terpaksa kau harus menggoda Jullian agar mau tidur denganmu, hah?!"
Apa?!
"Kuperingatkan kau, bitch. Kau hanya benalu disini. Parasit yang hanya menumpang ketenaran Jullian dan untuk mendongkrak popularitas keluargamu yang tidak berguna itu. Oh! Kudengar ibumu yang sebenarnya adalah penjaja vagina, yang kerjanya hanya menggoda pria- pria elit dan berduit."
"Apa kau bilang?"
"Kubilang ibumu pelacur. P.E.L.A.C.U.R yang berarti kau juga sama pelacurnya dengan dirin..."
Plakkk.
"Sekali lagi kau mengatakan sesuatu tentang ibuku, maka aku akan membunuhmu." Aku menekankan maksudku dengan sangat dalam pada artis sok satu ini.
Caroline memberiku tatapan paling tajam yang kubalas sama tajamnya dariku. Jika dia ingin bermain api, maka tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya meskipun harus ada salah satu diantara kami yang mati.
Lalu kemudian aku melihatnya menyunggingkan senyum sinisnya. "Apa kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu barusan?"
Kuangkat alisku dan tertawa dingin. "Tentu saja tidak." Lalu mataku menangkap kaca lemari dan tanpa berpikir panjang, aku langsung meninjunya. Tidak peduli dengan suara memekakkan telinga ketika kaca itu berhamburan ke lantai.
Bersamaan dengan itu, mendadak Mia membuka pintu ruanganku. "Lea, apa yang....?." Dan terdiam.
"A-apa yang akan kau la-lakukan?" Terdengar suara gemetaran Caroline ketika aku menunduk untuk mengambil serpihan kaca itu dan mengenggamnya erat.
"Menekankan maksudku." Ujarku singkat dengan suara dingin.
"Ja- jangan bo-bodoh. Apa kau pi-pikir kau bisa menakutiku de-dengan i-itu?"
Aku tertawa. "Tentu saja kau tidak akan takut dengan benda kecil seperti ini kan?" Kuperlihatkan benda yang sudah kupegang erat. Tidak peduli dengan darah yang mengalir saat ini.
"Lea, hentikan." Terdengar suara memohon Mia. "Kau tidak harus mengotori tanganmu dengan ini, Lea."
"Hm benarkah?" Aku pura- pura berpikir tapi melangkah dengan pelan kearah Caroline. "Akan aku pikirkan setelah merasakan hasilnya."
"Kau?!"
Kepalaku rasanya ingin meledak dan begitu marah ketika wanita ini datang dan tanpa sebab yang jelas langsung menamparku sebelum memberiku kalimat pembuka.
"Kenapa kau tidak mendatangi Jullian saja? Bukannya dia yang mencampakkanmu dan bukannya aku? Atau... jangan- jangan kau menaruh perasaan padaku. Alih- alih kau yang mendatanginya, kau justru malah menemuiku."
Kedua mata Caroline membelalak mendengar ucapanku dan aku tertawa, menertawai diriku sendiri. Bisa- bisanya aku bercanda di situasi saat ini.
"Jullian?"
Ya. Panggil dia dan tinggalkan aku sendiri.
"Stay away, Carol." Suaranya tidak asing dan penuh penekanan di telingaku ketika mataku mendapati Jullian sedang menatapku dengan waspada. Dibelakangnya Dane dan Mia melihatku dengan takut juga khawatir.
Ada apa dengan mereka?
"Kau lihat sendiri, J. Wanita ini gila. Dia mau membunuhku."
"I said, stay away, Carol!" Kali ini Jullian membentak tanpa sama sekali melepaskan tatapannya dariku. "Sayang, lihat aku."
Aku melihatmu.
Ada apa dengannya?
"Ini aku jadi lepaskan kaca itu sekarang." Pintanya dengan nada pelan.
Kukernyitkan alisku bingung dan melihat ke bawah. Ke tangan kananku dan mengangkatnya ketika menyadari kacanya sudah berwarna merah, bercampur dengan darahku.
"Pergilah, Carol." Ucap Jullian.
"Apa?"
"Pergi. Nanti aku akan menemuimu."
Oh ini akan memakan waktu yang lama.
"Tidak." Sepertinya sudah berabad- abad lamanya aku tidak mendengar suara dingin tanpa ekpresi milikku ini. "Biarkan dia mendengar ini juga, Jullian."
"Sayang..."
"Dengarkan aku, aku tidak peduli dengan status hubungan kalian. Sungguh. Tapi kau harus menetapkan dirimu, Jullian. Aku tidak mau semua wanita di negara ini datang ke kantorku dan tiba- tiba menamparku hanya karena kurangnya kau memberi penjelasan pada mereka."
Untuk pertama kalinya aku melihat Jullian menolehkan kepalanya kearah Caroline. "Kau menamparnya?" Suaranya terdengar dingin.
"Itu karena dia berani merebutmu dariku." Jawab Caroline lantang.
"Bukan itu jawaban yang kuinginkan, Caroline! Kenapa kau menamparnya?!"
"A-aku ingin dia ingat akan posisinya."
"Posisinya katamu? Apa kau lupa? Dia istriku. Azalea adalah istriku dan posisinya saat ini adalah Mrs. Anderson. Apa kau lupa dengan apa yang kukatakan tempo hari?"
"Apa? Kau tidak..."
"Aku memilihnya jadi berhenti melakukan hal konyol lagi."
"Apa?!"
Kutarik napasku lalu kuhembuskan dengan pelan. "Jika kalian ingin membicarakan tentang posisi, status atau apapun itu. Bisakah kalian melakukannya di tempat la..." tunggu apa ini? Kenapa aku merasa tempat ini seperti berputar.
"Azalea?"
Kugelengkan kepalaku menghilangkan perasaan pusing. "Intinya adalah jangan melibatkanku dengan kisah kalian. Hidupku sudah cukup sulit tanpa harus ditambah dengan hal tidak penting seperti ini lagi."
Okey, ini mulai terlihat tidak wajar. Kenapa semuanya terlihat kabur di mataku?
Hal terakhir yang aku dengar adalah suara panik Jullian dan aroma tubuhnya ketika ketidaksadaran mengambil alih tubuhku.
*
"Kapan dia sadar?"
"Bersabarlah, nak. Dia akan sadar jika dia merasa cukup siap dengan itu." Aku seperti pernah mendengar suara ini tapi dimana?. "Harus kuakui dia cukup kuat mengingat kondisi yang dialaminya saat ini." Tidak ada balasan. "Tunggulah beberapa menit lagi. Aku harus pergi memeriksa pasien lainnya, Jullian."
"Terima kasih, dokter Chen."
"Tidak masalah nak."
Satu menit....
Lima menit...
Dua puluh menit....
Entah berapa lama waktu yang kubutuhkan ketika perlahan aku merasakan mataku membuka.
"Azalea?"
"Ugh." Erangku.
"Kau mau minum?"
Aku mengangguk dan Jullian segera mengambilkan air yang dia letakkan diatas meja dan membantuku duduk.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya setelah aku menghabiskan hampir separuh air dalam gelas.
"Pusing dan sedikit... lelah." Jawabku jujur dan tertegun ketika melihatnya tersenyum.
Deg.
Kualihkan tatapanku, mengernyit ketika menyadari kalau sebelah tanganku terlihat lebih besar dari biasanya dan tertutup perban.
"Tanganmu harus diperban supaya kau cepat sembuh." Jelasnya.
Aku mengangguk. "Kutebak aku berada di rumah sakit." Ujarku ketika melihat juga infus terpasang di lenganku dan melihatnya tidak suka ketika mendadak Jullian menangkup wajahku dengan kedua tangannya, memaksaku untuk melihatnya.
"Kumohon jangan lakukan lagi."
Eh?
"Kau hampir saja membuatku mati karena jantung meskipun aku sangat yakin dalam catatan kesehatanku, aku sama sekali tidak memiliki diagnosa penyakit jantung. Berjanjilah Azalea."
Suaranya bagai magis di indra pendengaranku.
"Ya. Aku berjanji." Aku membeku ketika merasakan bibirnya berada di keningku. Refleks aku menaruh kedua tanganku di pinggangnya dan memeluknya.
"Aku senang kau sudah bangun."nAku tersenyum dan melepaskan dirinya.
"Apa kau lapar?" Tanyanya kemudian.
Kugelengkan kepalaku. "Tidak." Lagi- lagi aku mengernyit. "Dan aku ingin pulang." Kulepas infusku dengan paksa, tidak memperdulikan tatapan kaget Jullian. "Rumah sakit ini membuatku mual." Lalu berdiri ketika merasakan keseimbanganku yang belum sempurna, nyaris saja menyentuh lantai sebelum Jullian dengan sigap menahanku.
"Kau masih lemah, sayang." Ucapnya seraya membantuku untuk duduk diatas ranjang. "Kau juga bisa melukai bayi kita."
"Aku tidak suka bau rum...tunggu bayi?" Kedua mataku mengerjap. Apa aku baru saja mendengar Jullian mengatakan bayi kita?
"Ya. Kau hamil dan usia kandunganmu saat ini sudah memasuki 5 minggu." Ucapnya seraya menyunggingkan senyum paling bahagianya.
***

Comments
Post a Comment