MASK- TIGA DUA
Jullian PoV...
"Jadi kalian sudah menikah?"
Ada nada tidak setuju ketika dia mengatakannya tapi apa peduliku, dia sama sekali tidak berhak atas hidup wanitaku.
"Kutebak kau sudah mendengarnya." Balasku tidak kalah sinis.
"Pria yang bersamamu kemarin sudah menceritakan semuanya. Itulah sebabnya aku tidak mengejar dan langsung menghajarmu."
Wow. Apa dia baru saja mencari masalah denganku?
"Jerry, hentikan!" Ucap Lea dengan suara keras. "Ada apa sih dengan hormon kalian?" Ujarnya kesal.
"Itu karena kau sama sekali tidak mengatakan apa- apa ketika kita bertemu kemarin." Balas pria itu kesal.
"Kau tiba- tiba memaksaku untuk tampil, ingat? Bahkan sebelum aku mengucapkan sepatah kata."
Aku terperangah melihat sikap Lea yang tidak seperti dirinya yang kukenal. Maksudku sikap dingin yang pernah ditunjukkannya seakan raib tak berbekas dan aku menyukainya sikapnya yang seperti ini.
"Dan Jullian, " Lea langsung memberiku tatapan tajam, sementara dibelakangnya pria bernama Jerry itu memberiku seringaian seakan senang kalau aku juga mendapat amarah dari wanitaku. "Kau tidak seharusnya membalas apa yang dikatakannya."
"Jadi kau menyuruhku untuk diam saja sementara dia mengejekku?" Tanyaku sakit hati. Aku tidak datang kesini untuk melihat dia membela pria lain didepan mataku sendiri. "Sudah jelas kau memilihnya dibandingkan diriku." Tentu saja aku hanya sekedar mengucapkannya dan tidak terpengaruh ketika dia membelalakkan matanya kepadaku. Butuh darah dan pukulan jika ada yang coba- coba merebut milikku.
"Kau konyol." Komentarnya kemudian. Lagi- lagi pria bernama Jerry itu tersenyum penuh kemenangan.
"Aku tidak peduli jika kau menjadi janda, Lea." Sahutnya yang langsung mendapat jitakan dari wanitaku. Rasakan!
Kini giliran aku yang tersenyum penuh kemenangan. Setidaknya dari yang aku lihat, jitakan yang diberikan oleh Lea pada Jerry benar- benar sakit.
"Kau berjanji tidak akan melakukannya lagi." Seru Jerry seraya mengusap kepalanya.
"Aku memang berjanji tidak akan menjitakmu tapi aku juga tidak berjanji kalau akan menolerir sikap kekanak- kanakanmu itu."
"Sudah jelas kau lebih membela suamimu dibandingkan aku yang sahabatmu."
Aku bisa melihat Lea memutar matanya sebelum senyum tiba- tiba merekah di bibirnya sementara tangannya terulur kearah Jerry.
"Apa?!" Hardik Jerry masih kesal.
"Menagih utang." Jawab Lea masih dengan senyumnya.
"Aku merasa tidak punya utang denganmu." Balasnya yang langsung membuat Lea kembali mengepalkan tinjunya, hendak menjitak Jerry lagi.
Sejujurnya aku tidak setuju jika Lea datang kesini lagi. Bagaimana tidak, setengah jam sebelum kemari, aku baru mengetahui kalau pria dihadapanku ini adalah ciuman pertama wanitaku. Darimana aku tahu? Tentu saja dari oknum itu sendiri, Lea. Aku memaksanya untuk menceritakan hubungan mereka dan ketika melihat wajahnya yang memerah ketika aku asal menebak, disitulah aku yakin kalau hal yang kukatakan adalah benar.
Aku bukannya cemburu tapi mengetahui ada pria lain dari masa lalumu datang dan kau hendak menemuinya meskipun alasannya hanya ingin menagih utang tetap saja itu tidak dapat diterima. Aku bahkan rela menggantinya berkali- kali lipat.
"Utang?"
"Yep." Lea mengangguk seraya menjepit rambutnya dengan asal. "Jerry berutang beberapa pound padaku."
"Kapan dia melakukannya?"
"Kemarin malam sebelum kau menyeretku pergi. Dia berjanji akan memberiku tiket kelas pertama dan beberapa uang saku jika aku masih bisa bermain gitar. Bukankah itu menakjubkan?"
Sejujurnya aku masih tidak mengerti dengan cara kerja otaknya. "Jadi kau ingin pergi ke tempat dimana mantan pacarmu berada? Menagih utang?"
"Aku juga ingin mengenalkanmu padanya."
"Aku sudah tahu namanya. Tidak perlu perkenalan lagi."
"Ayolah, Jullian."
"Kami tidak akan menjadi teman baik, sayang mengingat dia adalah pria yang pertama kali menciummu."
Dia terkekeh. "Itu hanya ciuman, Jullian."
"Sama saja menurutku."
Mendadak aku terdiam ketika tiba- tiba dia sudah berada di pangkuanku seraya tubuh dan wajahnya menghadap kearahku. "Tapi kau pria pertamaku."
Kuangkat alisku pura- pura tidak tertarik karena faktanya, posisinya saat ini benar- benar menantang insting kelaki- lakianku.
"Apa kau sedang berusaha mengalihkanku?"
Dia mulai mengelus wajahku dengan jari- jarinya yang lentik. "Tergantung bagaimana kau menyikapinya, Mr. Anderson."
Kutarik tubuhnya agar lebih dekat dan mencium pundaknya yang telanjang ketika merasakan tubuhnya yang mendadak tegang, membuatku terkekeh.
"Kurasa itu membuatmu salah memilih lawan, iyakan sayang?"
"Eh... oh... kurasa... aku perlu bersiap- siap." Dia baru akan berdiri ketika secara bersamaan aku menarik tangannya membuatnya langsung berada diatasku. Kutahan tubuhnya membuatnya tidak bisa bergerak.
"A-apa yang mau kau lakukan?" Wajahnya benar- benar memerah. Sangat menggemaskan.
"Hanya ingin meluruskan satu hal. Apa kau masih memikirkan ciuman pria itu?"
"Tentu saja tidak!"
Okey, terlalu cepat.
"Tapi kau menemuinya ketika pertama kali menginjak tempat ini."
"Karena dia yang menemukanku ketika aku baru saja kehilangan dompet dan ponsel."
"Ya. Alih- alih kau langsung menghubungiku tapi kau malah asyik bernyanyi dan bermain gitar dengan pria lain."
"Itu karena aku pikir besok pagi aku akan kembali."
"Wrong answer." Kukecup bibirnya membuat matanya membelalak kaget.
"Jangan membuat ekspresi seperti itu sayang. Bukan tidak mungkin aku akan mengurungmu disini selama masa bulan madu kita."
Kedua matanya lalu beralih menjadi menyipit. "Apa kau tidak bosan?"
"Wrong question." Kembali kukecup bibirnya. Kali ini lebih lama dan dalam. "Selama itu bersamamu, kurasa aku tidak akan pernah bosan dan juga....puas."
Oh. Dia sangat menggoda dengan wajah merah padamnya ini.
"Kuharap dia berutang banyak padamu. Aku tidak mau menyesal karena telah menyia- nyiakan waktuku bersamamu untuknya."
"Sekarang urusan kita sudah selesai." Sahut Lea riang seraya menepuk- nepuk tangannya. Jelas wanita ini baru saja memenangkan pertempuran.
"Ini namanya perampokan, kau tahu?"
"Perampokan atau tidak. Aku tidak peduli. Oh ya, bisakah kau menukar tiket kelas pertamanya dengan uang saja? Aku dan Jullian masih akan ada di sini sampai tiga hari kedepan."
"Aku harap dia bisa tahan denganmu."
"Kau bosan hidup ya?"
"Aku tidak akan berani."
Aku hanya bisa terdiam melihat interaksi mereka berdua terutama Lea. Dia benar- benar terbuka ketika berbicara dengan Jerry, hal yang sama sekali tidak pernah diperlihatkannya diawal pernikahan kami dulu.
Apa ini memang sifat aslinya?
"Mau kemana?" Ucapan Jerry membuyarkan apa yang ada dalam pikiranku.
"Mencari sesuatu yang bisa dimakan di dapur kafemu." Jawab Lea berdiri dari tempatnya duduk.
"Apa dia tidak memberimu makan?" Jerry mengarahkan telunjuknya padaku yang langsung kutangkis dengan tanganku.
"Kau ini. Jullian sudah membawaku makan tadi."
"Terus?"
"Terus apa? Aku lapar lagi." Jawab Lea enteng. "Usahakan jangan saling membunuh, okey?"
"Jangan khawatir. Sepertinya dia bukan orang yang mudah dibunuh." Balasnya yang langsung dibalas dengan delikan tajam dari Lea.
"Aku akan kembali. Jangan saling membunuh, okey?" Kali ini Lea mengatakan itu padaku seraya mengecup bibirku lembut.
"Akan kuusahakan." Balasku yang dibalasnya dengan senyuman darinya. Tuhan. Aku benar- benar mencintai wanita ini.
Aku memperhatikan Lea hingga dia menghilang di koridor belakang yang ku tebak adalah dapur kafe ini. Waktu masih menunjukkan pukul 9 malam dan musik yang mengalun masih tergolong lembut tapi meskipun begitu pengunjung tempat ini sudah sangat ramai.
"Jadi kau Jullian Anderson." Ujarnya. Terus memperhatikan diriku dari atas hingga bawah seakan menilai dan asumsiku mengatakan dia jelas tahu tentang aku sama seperti aku yang mengetahui tentang dirinya.
"Dan kau... Jeremiah Culton. Pewaris tunggal Culton Music Institute." Dia membelalakkan matanya terkejut, tidak menyangka kalau aku mengetahui jati dirinya.
"Kutebak informasi ini bukan berasal dari Lea." Aku mengernyit tidak mengerti dan Jerry menghembuskan napasnya, kesal. "Lea tidak tahu siapa aku. Lebih tepatnya tidak percaya. Aku pernah mencobanya dan yang dilakukannya hanya tertawa terbahak- bahak."
Tunggu. Ada yang aneh disini. "Sudah berapa lama kau mengenal Lea?" Tanyaku.
"Kurasa lebih lama darimu." Jawabnya kembali dingin.
Brengsek
Kuindahkan tatapan senyum penuh kemenangannya. Ada yang ingin kutanyakan, sesuatu yang jauh lebih penting dari ucapan Lea mengenai hormon.
"Apa Lea memang seperti ini? Sejak dulu?"
Kedua kening Jerry seketika bertaut. "Apa maksudmu?"
"Ceria, mudah tertawa dan bukannya dingin?"
"Kau bercanda ya? alasan banyak pria yang menyukai Lea termasuk aku. " untuk yang terakhir tadi aku berusaha untuk tidak memperdulikannya. " Adalah karena Lea sama sekali ramah dan mudah tersenyum."
Aku terdiam.
"Dan dingin? Yang benar saja. Yang kau lihat tadi adalah dirinya yang sebe.... tunggu, apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Kini gantian Jerry yang memandangku, tatapannya seakan ingin melaser isi kepalaku.
"Aku tidak tahu." kuputuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. "Awal pertemuan kami tidak seperti ini. Dia dingin dan terkesan tidak peduli."
"Aku tidak mengerti. Apa maksudmu?"
"Kami menikah karena bisnis"
Kedua matanya membelalak. "Bisnis? Apa yang kau katakan? Jadi bukan karena kau mencintainya? Sial."
Secara tidak langsung aku terpancing dengan kalimatnya tadi. "Apa itu penting? Okey. Mungkin diawal aku tidak menyukainya tapi sekarang aku mencintainya. Sangat dan jika kau berani berpikir kau bisa mendekatinya lagi, aku tidak akan melepaskanmu." Ancamku penuh penekanan. Bukan tidak mungkin jika pria ini masih menyukai wanitaku sekalipun Lea mengatakan kalau hubungan mereka hanya sebatas sahabat.
Dan kenapa dia terlihat sangat marah? Apa salahnya menikah karena bisnis? Toh, pada akhirnya aku mencintainya.
"Hahahaha lucu sekali. Seharusnya kalimat itu diucapkan olehku, Mr. Jullian Anderson."
"Kuperingatkan sekali lagi. Jangan sekalipun berpikir untuk mendekatinya lagi." Aku harus tenang menghadapinya. Aku tidak boleh kehilangan kendali disini.
"Tergantung dari apa yang akan kau lakukan padanya."
Brengsek. "Apa kau mulai menunjukkan sikap permusuhan padaku?"
"Kurasa diawal pertemuan kita, masing- masing dari kita sudah menunjukkan sikap permusuhan."
Itu benar.
"Jadi sudah jelas kita tidak akan berteman baik." Aku menegaskan maksudku.
"Hal yang sama juga berlaku untukku."
Kami berdua saling melempar tatapan setajam pisau belati ketika kembali dia mengeluarkan suara.
"Usahakan jangan melepaskan tangannya." Ujarnya.
"Kenapa aku harus melepaskannya?"
"Karena sekali kau melakukan itu maka aku akan langsung mengambilnya."
Brengsek!
***

Enaknyaaa punya sahabat kaya jerry 😮
ReplyDelete