MASK- TIGA TUJUH
Lea PoV.
"Hai sister." Suaranya terdengar pelan dan lambat hingga kupikir keberadaannya hanya halusinasi ketika aku melihat dia menyeringai kearahku.
Prangggg....
Segera saja suara dari gelas yang kupegang meluncur bebas ke lantai, menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Langkahnya setengah pelan, setengah terburu- buru seakan menikmati setiap momen yang sengaja dia berikan padaku.
"Kau harusnya lebih hati- hati, sister." Katanya lalu berjongkok agar bisa berpura- pura memungut pecahan gelas- gelas yang saat ini berhamburan ke lantai.
"Lea...?" Kuacuhkan pandangan kebingungan Mia disampingku dan ikut berjongkok agar bisa berhadapan dengannya ketika tiba- tiba Jullian muncul memegang kedua tanganku seakan memeriksa.
"Kau tidak apa- apa? Apa kau terluka?" Tanyanya penuh kekhawatiran.
Aku menggeleng. "Aku tidak apa- apa Jullian." Aku menjawab. "Maaf, kurasa tanganku licin." Lanjutku beralasan. Dari sudut mataku, Collin terdiam memandangi aku dan Jullian kemudian kearah tanganku yang dipegang Jullian lalu menyeringai.
"Kurasa aku tidak sengaja mengagetkannya. Maaf Jullian." Ujar Collin.
"Tidak masalah. Kurasa itu karena Lea sedang hamil jadi dia mungkin mudah lelah." Jawab Jullian seraya membantuku untuk berdiri. "Biarkan saja pecahannya disitu. Aku akan membereskannya." Aku tidak yakin tapi entah mengapa sedetik yang lalu aku merasa kalau tubuh Collin terlihat tegang yang kemudian berubah menjadi senyum tidak peduli.
"Biar aku yang bereskan."
"Baiklah. Akan kusuruh Dane membantumu." Collin mengangguk.
"Aku benar tidak apa- apa. Jullian." Renggutku ketika dia sama sekali tidak mengindahkan ucapanku dan justru membawaku ke sofa dimana Laura dan Jackie juga menatapku dengan raut wajah yang khawatir.
"Oh sayang, kau berdarah." Ujar Laura memekik.
Kualihkan wajahku kearah bawah, tepatnya ke betisku dan benar saja ada darah yang mengucur. Sepertinya ketika gelas tadi jatuh, serpihannya ikut mengenai betisku tanpa aku sadari.
"Duduk disini." Perintah Jullian, "Aku akan mengambilkanmu obat." Lanjutnya. Kuhela napasku karena sikap berlebihannya ketika menyadari tatapan tidak setuju yang tergambar jelas di wajahnya dan dengan terpaksa mengangguk.
Jullian pergi dan kembali beberapa menit kemudian seraya menenteng sebuah kotak obat ditangannya. Selagi Jullian mengobati lukaku, aku mengambil kesempatan ini untuk melihat keluargaku yang tersayang dan seperti yang telah kuduga, mereka menatapku dengan berbagai ekspresi di masing- masing wajah mereka.
Aku cukup terkejut ketika mengetahui Marissa juga berada disini. Dia adalah adik Collin dan juga kakak Carla, usia kami juga tidak terpaut jauh hanya setahun. Dibandingkan dengan seluruh keluarga Smith yang selalu menatapku seakan aku adalah kecoak yang perlu dibasmi. Marissa lebih sering menatapku dengan ekspresi bosan. Dia juga satu- satunya orang yang tidak peduli apakah aku ada atau tidak ada, selama aku tidak menganggu privasinya maka tidak ada alasan lain baginya untuk mengajakku berbicara.
Dulu, ketika aku dibawa untuk pertama kalinya di rumah keluarga Smith. Marissa lah orang yang kusukai, pembawaannya tenang juga ceria. Setahun kemudian, pembawaan itu berubah. Dia tidak lagi tenang dan sering mengamuk jika aku sekedar lewat dihadapannya. Terakhir dia benar- benar menampilkan sikap cuek pada diriku.
Beberapa menit kemudian aku ditinggalkan seorang diri. Laura kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya yang tertunda dibantu oleh Bertha dan Mia. Para lelaki membicarakan bisnis meskipun beberapa kali aku sempat mendengar Laura menggumankan kalimat, tidak ada bisnis di meja makan. Carla, aku tidak tahu dia kemana. Kutebak dia menyelinap ke suatu tempat melihat- lihat semua isi apartemen ini, mungkin juga kamarku dan Jullian. Aku tidak tahu sementara Marissa duduk di sofa tidak jauh dariku sambil memainkan sesuatu di ponselnya.
"Pantas saja kau tidak pernah kembali." Komentarnya pelan dan aku harus menolehkan kepalaku agar bisa menyakini kalau dirinyalah yang baru saja berbicara dan bukannya suara televisi meskipun tidak sekalipun dia mendongakkan kepalanya kearahku. "Kau diperlakukan bak putri di sini." Ucapnya.
Kembali kualihkan tatapanku ke arah televisi di depan, "Apa itu membuatmu cemburu?" Tanyaku sinis
Sejenak aku mendengar suara dengusan rendah darinya. "Aku tidak akan cemburu pada anak tak diinginkan sepertimu."
Kucengkaram jari- jariku yang tidak diperban dan dan takut jika sebentar lagi akan ada perban baru yang muncul. Kutarik napasku pelan kemudian menghembuskannya. Aku juga harus bersikap tenang.
"Akan tetapi," ujarku lambat- lambat. "Karena anak tak diinginkan inilah hingga bisa membantu bisnis keluarga, iyakan?"
Dia tertawa, tawa yang lebih tepat dikatakan sebagai tawa yang dibuat- buat.
"Kau tidak sedang memuji dirimu sendiri, bukan?"
"Kurasa itu yang kulakukan."
"Hmm jadi kau berpikir karena dirimulah hingga perusahaan tidak mengalami kebangkrutan."
"Lebih tepatnya aku meminimalis kebangkrutan itu sendiri."
Dia terdiam selama beberapa saat kemudian kembali bersuara.
"Dari yang kudengar tadi, kau hamil?"
Perubahan pembicaraan, huh?
"Telingamu tidak menipumu kalau begitu."
Dia tertawa. "Jadi sebentar lagi akan ada makhluk kecil tak berdosa yang akan menanggung kesialanmu lagi?"
Kutahan diriku untuk tidak meneriakkan sumpah serapah. Percakapan yang kulakukan dengan Marissa lebih seperti sedang melakukan pertandingan bulu tangkis, kami berdua seperti sama- sama saling melemparkan pukulan smash. Sangat tenang, hati- hati tapi mempelajari satu sama lain.
"Kurasa semua yang ada di ruangan ini termasuk dirimu tahu siapa keluarga Anderson itu."
"Ah, aku mengerti. Karena mereka kaya raya."
Aku mengangguk. "Tidak ada yang tidak menyukai uang kan?"
"Sayang, kurasa makanannya sudah siap." Mendadak Jullian datang dan mengecup kepalaku lembut. Dan semua itu tidak luput dari perhatian Marissa.
Andaikata aku bukanlah bagian dari keluarga Smith, apa Marissa lah orang yang seharusnya berada di posisiku saat ini? Memikirkan hal itu entah mengapa membuatku merasa sakit. Aku tidak ingin Jullian merasakan ketidakbahagiaan tapi apakah dia akan bahagia jika bersamaku?
Acara makan siang itu berlangsung dengan meriah dengan banyaknya tawa dan suara tapi bagiku ini seperti aku sedang berada di acara reality show dimana aku harus berpura- pura menikmatinya. Jullian tidak henti- hentinya menanyakan apa yang ingin kumakan karena nyaris sebagian makanan diatas meja tidak bisa ku kunyah dengan baik. Rasanya seperti sedang mengunyah karpet meskipun aku yakin aku tidak pernah sama sekali mengunyah karpet selama aku hidup. Aku tidak tahu siapa yang mencetuskan kalimat itu pertama kali tapi kurasa orang itu sudah melakukan usaha yang keras dengan membandingkan makanan dengan karpet.
Tepat jam lima sore, baik keluarga Anderson maupun keluarga Smith bersiap- siap untuk pergi. Kedua orang tuaku, Oliver dan Bertha dengan sangat baik hati memberikan aku pelukan ringan yang kurasa membuatnya jijik karena Bertha berkali- kali menggumankan di telingaku kalau dia terpaksa melakukan hal ini dan harus kembali mensterilkan tubuhnya segera, Oliver hanya memberiku pelukan ringan yang terasa kaku, Marissa hanya menganggukkan kepalanya dan bercanda kalau dia tidak suka memeluk diriku. Sejujurnya itu adalah kebenaran, Carla memberiku pelukan pura- pura antusias yang kelewat batas hingga Dane terpaksa menahanku agar tidak sampai terjatuh dan Collin. Sejenak Collin menatapku, sejak dia mengetahui kalau aku hamil. Dia sering menatapku dan mendadak tubuhku kaku ketika dia memelukku.
"Kurasa masih banyak yang harus kita bicarakan, baby." Suaranya terdengar dalam dan sarat makna ditelingaku dan bergidik ketika merasakan hembusan napasnya di tengkukku lalu tanpa kuduga dia mengecup puncak kepalaku. "Jaga dirimu baik- baik, sister." Lalu memberikan senyum khasnya pada Jullian dan mengulurkan tangan. "Sekali lagi selamat, Jullian." Bisa kurasakan kalau sebelah tangan Jullian telah berada dipinggangku.
"Terima kasih, Collin." Jullian membalas tanpa sama sekali melepaskan tangannya dariku dan menjabat tangan Collin juga.
Lima belas menit setelah kepergian keluarga Smith, Dane dan Mia pamit pulang juga. Dari tatapan Mia yang diam- diam dia berikan padaku, aku tahu kalau dia ingin menanyakan sesuatu dan aku tidak berniat sama sekali untuk menceritakan sebuah dongeng padanya.
Laura, James dan Jackie juga ikut pamit dan aku memberikan pelukan penuh terima kasih karena telah berbaik hati mengunjungiku. Aku tidak tahu sebabnya tapi mendadak aku melihat Laura meneteskan airmata yang membuat aku dan Jullian sama- sama mengernyitkan dahi bingung tapi James mengatakan kalau Laura sangat senang dengan kehamilanku.
"Well, kurasa yang terakhir tadi cukup dramatis." Komentar Jullian yang membuatku tersenyum lalu mengambil gelas ketika sebuah tangan menahanku. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya dengan dahi yang berkerut.
"Membersihkan, tentu saja. Memang apa yang kau lihat?" Tanyaku balik, bingung dengan ekspresinya.
"Tapi kenapa kau melakukannya?"
Hah?. "Tempat ini berantakan, Jullian." Kubentangkan kedua tanganku, memperlihatkan sisa- sisa pesta padanya. "See? Aku tidak mungkin membiarkanmu mengurus ini sendirian."
Jullian tersenyum lalu menaruh gelas yang kupegang tadi kembali keatas meja lalu menarikku dalam pelukannya. "Tidak perlu."
"Tidak perlu?"
Dia mengangguk. "Kau lelah. Istirahatlah."
"Jullian..." kata- kataku terhenti bahkan sebelum aku sempat mengutarakannya. Dengan cepat Jullian menempelkan bibirnya di bibirku dan tersenyum ketika aku justru terhipnotis dengan dirinya.
"Aku sudah menghubungi pelayan rumah tangga dan kurasa sebentar lagi mereka datang."
"Mereka? Hmm kurasa ini lebih dari satu. Baguslah jadi mereka tidak terlalu lelah membereskan kekacauan ini."
Jullian tertawa dan aku tidak mengerti letak kelucuannya.
"Istirahatlah. Aku tahu kau sangat lelah."
Aku mengangguk.
Ya. Aku memang lelah. Tidak hanya fisik tapi juga batin.
***

Comments
Post a Comment