MASK- EMPAT DUA



"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, J"

Aku memasang wajah paling datar padanya. Nyaris empat bulan semenjak peristiwa itu terjadi dan setiap detiknya aku selalu berusaha untuk tidak mencabik- cabik tubuhnya, membalaskan apa yang sudah dia lakukan pada Lea tapi aku bukanlah orang yang akan melakukannya dengan cara yang kasar. Aku lebih senang menikmati permainan, pelan tapi aku yakin akan membuahkan hasil yang sangat manis dan kurasa sudah saatnya aku memetik hasilnya.

"Kenapa tidak bisa, Carolku sayang?" Aku pura- pura menampilkan wajah polos tapi tetap tidak melepaskan tatapan intimidasi yang kukirimkan padanya dan tersenyum ketika diam- diam aku melihatnya menelan ludahnya sendiri.
Lalu dia sengaja berpindah posisi dan duduk disampingku tapi tidak berani menyentuhku.

Good choice!

"Aku minta maaf atas apa yang kulakukan? Maafkan aku." Ucapnya sangat manis.

"Ya. Aku mendengar kalau kau mengatakan pada para paparazzi itu kalau kau tidak sengaja. Kau mengatakan kalau kau tersandung heelsmu dan tidak melihat kalau ada orang lain yang berdiri di dekatmu, iyakan?"

Sekali lagi dia berusaha meneguk ludahnya. "Aku sungguh minta maaf, J. Maafkan aku"

Sejenak aku terdiam lalu tersenyum.

"Baiklah. Aku memaafkanmu." Jawabku yang seketika membuat matanya berbinar.

"Benarkah? Kau sungguh memaafkanku?" Lalu dia kembali tersenyum. "Aku tahu jauh didalam lubuk hatimu kau masih mencintaiku." Kusunggingnya senyumku dan melihat dia terdiam.

"Kau... kau tidak akan mencabut semua ini kan?" Dia mulai bertanya ragu dan aku senang kali ini dia menggunakan otaknya.

Aku menggeleng.

"Kau tetap akan melihatku tanpa pekerjaan lagi?"

Aku mengangguk. "Seperti yang baru- baru ini kau ketahui, akulah pemegang saham terbesar dalam dunia yang kau geluti dulu, Miss Simpson dan aku sama sekali tidak berniat untuk menarik kembali apa yang sudah kuputuskan dulu."

"Tapi kau sudah memaafkanku? Kau mengatakan itu tadi."

"Aku memang sudah memaafkanmu tapi bukan berarti aku akan membuatmu seperti dulu lagi, iyakan?"

"Kau..."

"Dan jangan coba- coba berusaha untuk menemuiku lagi, Miss Simpson karena aku tidak peduli apakah karirmu dalam dunia yang kau senangi ini hancur atau tidak dan sudah kupastikan akan hancur atau mungkin saja... sudah hancur. Kudengar kau bahkan terpaksa menjual beberapa barang yang kau miliki hanya untuk menyokong kehidupanmu yang glamor itu."

"JULLIAN ANDERSON!" Teriaknya berdiri. Wajahnya memerah karena amarah.

Aku ikut berdiri, masih tersenyum. "Aku sudah memperingatkanmu sebelum kejadian itu terjadi, Carol. Jangan. Pernah. Lagi. Menganggu. Hubunganku. Dengan. Lea. Karena. Kalau. Tidak. Aku. Tidak
Akan. Segan- segan. Menghancurkan. Apapun. Yang. Berhubungan. Dengan. Dirimu" lalu aku terdiam, melihat ekpresinya yang sungguh membuatku sangat muak. "Tapi sepertinya kau tidak cukup menyadari apa yang kukatakan waktu itu dan nekad melaksanakan misimu."

"Aku tidak..."

"Kau membunuh anakku, Caroline Simpson dan kau tahu apa yang akan kulakukan jika orang lain melenyapkan apa yang sudah jelas menjadi milikku."

"Ju-Ju... Jullian..."

"Dan kau tadi sudah menyebutkan nama panjangku. Jullian Anderson. Kuharap itu sudah menjelaskan seberapa besar pengaruhku di negara ini." Aku baru saja akan pergi ketika dia menahan tanganku.

"Kumohon Jullian. Jangan lakukan ini. Aku- aku mencintaimu dan aku begitu marah karena wanita jalang itu..." kalimatnya terpotong ketika kuhempaskan tangannya dari tubuhku.

"Sekali lagi kau mengatakan Azalea wanita jalang maka akan kupastikan kau tidak akan mengenal lampu blitz lagi." Dan aku pergi meninggalkan tempat kami bertemu, mengindahkan lolongan darinya dibelakangku.

"Jangan biarkan ada satu sutradara manapun atau PH yang menerimanya. Biarkan dia hancur tak bersisa. " Perintahku tanpa membiarkan orang yang kuhubungi menjelaskan lebih lanjut.

Jika ada orang yang berani menentangku maka bisa kupastikan dia tidak akan bisa melanjutkan bisnisnya lagi alias bangkrut dan tidak ada seorangpun di dunia ini ingin bisnis yang sudah dilakukannya seketika menjadi lenyap tak bersisa.

Lea sudah kembali ke aktivitasnya yang sebelumnya meskipun kadang dia tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya akibat kehilangan anak dan juga ibu kandung dalam waktu yang bersamaan. Itulah sebabnya aku berencana untuk mengajaknya untuk melihat rumah baru kami. Rumah yang sudah jauh- jauh hari telah kupersiapkan bahkan setelah Lea dinyatakan hamil dulu.
Sebenarnya hari dimana ketika kejadian itu berlangsung, rencananya aku ingin memperlihatkan rumah yang hampir sepenuhnya jadi itu pada Lea dan memberikannya sebagai hadiah. Lea sangat menginginkan apa yang disebut sebagai rumah dan tidak nyaman ketika berada di apartemen.
Sisa dua lampu lintas lagi sebelum tiba di kantor Lea ketika aku mendengar nada dering yang berasal dari Iphoneku dan dengan terpaksa mengeraskan suaranya.

"Hai Anderson. Apa kabar?" Aku tahu suara menyebalkan itu.

"Culton." Jawabku datar. "Kutebak kau berhasil mendapatkan nomorku."

Sejenak aku mendengar suara tawa. "Tidak sulit menemukannya, Anderson."

"Apa yang kau inginkan?"

"Kudengar kau akan bertemu dengan, Angelku."

Aku berusaha menahan diri untuk tidak menekan gas kuat- kuat ketika dia mengatakan panggilan khusus untuk Lea darinya.

"Apa tunanganmu tidak marah jika kau memanggil wanita lain dengan panggilan tak berguna seperti itu?"

"Jangan khawatir. Tunanganku bukanlah tipe orang yang pemcemburu."

"Ada apa kau menghubungiku?"

"Aku akan kesana akhir bulan ini."

"Aku tidak merasa kita sedekat itu hingga harus memberitahukan apa yang akan kita lakukan diakhir bulan."

Dia tertawa. "Memang tidak. Tapi aku hanya ingin membuatmu tahu jika sewaktu- waktu aku membawa Angel-ku pergi."

Brengsek!

"Sayang sekali, dia sudah menjadi milikku, bukan?" Butuh usaha yang sangat keras untuk mengendalikan diri.

Kudengar dia menghembuskan napasnya. "Harusnya aku segera menikahinya dulu. Mungkin dengan sedikit paksaan akan membuatnya lebih dramatis."
Mendengar ucapannya barusan seketika memunculkan pertanyaan yang selama ini menjadi pikiranku.

Apa Jerry tahu tentang masa lalu Lea?

"Hei Culton."

"Apa?"

Aku bisa mendengar dia agak terkejut dengan perubahan nada bicaraku barusan. Bertemu banyak orang dengan berbagai karakter bisa membuatku segera tahu apakah dia termasuk orang yang bisa di percaya atau tidak. Dan dari pertemuan pertamaku dengannya, membuatku berpikir kalau dia mengetahui apa yang tidak kuketahui tentang wanitaku dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia yang berusaha membuat emosiku naik- turun.

"Apa yang kau sembunyikan?" Tanyaku langsung.

"Apa?"

"Aku tahu kau mengetahui apa yang tidak kuketahui tentang istriku."

Hening. Tidak ada jawaban.

"Seberapa banyak kau mengenal Lea?" Okey, ini bukanlah yang kuharapkan tapi tunggu dulu, dia memanggil Lea dengan namanya dan bukan....
"Kalau begitu kau tidak tahu apa- apa. Tetaplah seperti itu karena jika kau mengetahuinya. Tidak hanya aku tapi kita berdua yang akan melakukannya... sekalipun Lea tidak menyukainya."

Apa yang dia katakan?

"Sampai bertemu akhir bulan ini, Anderson dan tetaplah bersamanya sampai aku... tiba."

Klik.

Sialan, apa maksud semua ini?

***

Comments

  1. Cassiee! Jerry mu mau ketemu Lea ini? Kamu nggak niat ngelarang atau apa gitu? 😄 #tibatibakeingetcassie

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS