MASK- SPECIAL COLLlN SMITH
Brengsek...!
Bagaimana mungkin?
Tidak mungkin dia hamil dengan... dia. Pria itu.
Fuck!
Collin masih tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengarnya waktu itu dan masih tidak percaya setelah melihat buktinya. Bukti yang tercetak sangat jelas dalam sebuah kertas foto.
Tok... tok...
Terdengar suara ketukan pintu di ruang kantornya, menampilkan sosok wanita yang selama ini diketahuinya sebagai adik yang paling menjengkelkan yang pernah dia miliki.
Carla mungkin anak yang paling manja yang pernah lahir dalam keluarga Smith dan wajar saja mengingat dia adalah yang paling bungsu tapi sisi baiknya, Carla tidak suka mencampuri urusan orang lain, sangat jauh berbeda dengan adik keduanya- Marissa yang terlalu sering merecokinya dengan kalimat- kalimat datarnya apalagi jika itu menyangkut orang yang Collin cintai.
"Apa yang kau inginkan?" Collin bertanya dengan nada datar. Dia cukup bisa menduga maksud kedatangan adiknya ini dan sudah pasti dia akan mencampuri urusannya lagi.
Sekilas Marissa melihat pada foto- foto yang tersebar diatas meja Collin kemudian menyunggingkan senyum penuh cemooh pada Collin.
"Sepertinya kau masih tidak mempercayai kalau dia hamil" ujar Marissa seraya berjalan mengambil tempat duduk di sofa yang berada di tengah ruangan.
Ya. Foto yang baru saja Marissa lihat adalah foto dimana Lea sedang berjalan bersama Jullian, mungkin sedang membeli makanan. Di situ Lea berdiri disamping Jullian dengan senyum paling menawannya sementara Jullian sedang memegang perut Lea yang sudah menginjak usia hampir 6 bulan.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Collin sekali lagi, masih dengan nada datar miliknya.
Marissa mengendikkan bahunya, cuek. "Berusaha menyadarkanmu kalau obsesi yang selama ini kau pegang teguh, sia- sia belaka"
Collin terdiam. Dia ingin melempar adiknya itu. Meninjunya bahkan membuatnya babak belur tapi itu semua percuma. Marissa tipe orang yang sangat pandai mempermainkan emosi orang lain.
"Bukankah kau membencinya?" Collin berusaha untuk memprovokasi Marissa. Dia tahu kalau Marissa juga membenci Lea.
Sejenak Marissa terdiam dan Collin berpikir kalau adiknya itu baru saja memakan umpannya ketika melihat Marissa berdiri dari duduknya sambil menghela napas.
"Kau benar," Collin hampir saja tersenyum puas ketika mendengar jawaban Marissa ketika kembali dia mendengar kalimat selanjutnya. "Aku membencinya karena wanita jalang itu sudah keluarga kita." Tepat setelah Marissa mengucapkan kalimatnya, sebuah tamparan menyusul di pipinya hingga menimbulkan warna merah di pipinya yang putih sempurna.
"Jangan pernah menyebut wanitaku sebagai wanita jalang" Collin menekankan setiap kata dari kalimatnya, "aku sudah pernah memperingatkanmu tentang ini dulu"
Marissa mengeluarkan tawa sumbang ketika meringgis merasakan luka perih disudut bibirnya. Sembari menyunggingkan senyum mengejek, dia meludahkan darah ke lantai.
"Kurasa sudah lama kau tidak menamparku lagi, kakakku sayang dan harus kukatakan kalau tenagamu jauh lebih banyak berkurang semenjak itu"
Hening.
"Berhentilah mengharapkan sesuatu yang bukan milikmu lagipula apa tidak ada wanita lain yang bisa kau kencani? Aku sangat yakin ada beribu- ribu wanita diluar sana yang dengan senang hati melemparkan dirinya kepadamu"
Collin tertawa sinis. "Beribu- ribu wanita, heh? Apa Lea salah satu dari ribuan wanita itu?"
Marissa terdiam. Dia tidak mengerti alasan dibalik hingga Collin bisa memiliki perasaan khusus pada anak yang ibunya telah menghancurkan keluarganya padahal jika ditelaah dengan akal sehat, mereka adalah saudara satu ayah.
"Kau sakit, Collin. Seharusnya kau dimasukkan ke rumah sakit jiwa."
Sebuah tamparan kembali menerpa kulitnya tapi satu hal yang membuat Marissa bergeming adalah karena sorot mata yang ditampakkan Collin sangat jauh berbeda dengan yang tadi. Kali ini jauh lebih dingin dan juga.... terluka?
"Aku tidak peduli bahkan jika aku harus membunuh orang dan kau tentunya tidak ingin menjadi bagian dari itu, bukan?" Kata Collin sarat nada dingin sementara tangannya mengenggam erat lengan Marissa sangat erat, "sekali lagi aku memperingatkanmu, adikku sayang. Jangan pernah mencampuri urusanku lagi."
Marissa terdiam.
"Jangan kira aku tidak tahu apa yang selama ini kau lakukan untuk memisahkan aku dengannya," dengusnya tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Marissa. "Kau membuat drama yang sangat bagus dulu hingga tak seorangpun akan menyadarinya. Membuat Lea tidak betah dan mengambil keputusan untuk pergi meninggalkanku, iyakan?"
"ITU KARENA KAU GILA!" Teriak Marissa tidak tahan. "KAU TEROBSESI PADA SESEORANG YANG TELAH MENJADI PENGHANCUR KELUARGA KITA DAN AKU TIDAK INGIN DIA SEMAKIN MENGHANCURKAN KITA"
"TIDAK TAHUKAH KAU KALAU KELUARGA KITA SUDAH HANCUR SEJAK AWAL" balas Collin tidak mau kalah. "BERHENTILAH MEMIMPIKAN SESUATU YANG SUDAH TIDAK BISA DIKEMBALIKAN LAGI. APA YANG KAU LIHAT SELAMA INI ADALAH NYATA. APA KAU PIKIR PRIA- PRIA ITU ADALAH REKAN KERJA IBU? TIDAK ADA REKAN KERJA YANG BERADA DALAM SATU KAMAR HINGGA PAGI"
Marissa terdiam. Dia ingin menangis tapi semua air matanya sudah habis sewaktu dia masih kecil, tidak ada lagi yang tersisa.
"Kau kejam, Collin" suara Marissa terdengar parau tapi tidak tanda- tanda dia akan menangis. "Kau tidak seharusnya mengatakan itu lagi padaku"
"Kaulah yang terobsesi mengharapkan keluarga yang sempurna. Kita berdua bahkan tahu, Carla mewarisi siapa"
"Jangan coba- coba, Collin"
Collin tertawa. "Aku tidaklah sejahat itu, sister apalagi ayah kita sepertinya tidak berniat mengusut hal yang sebenarnya tapi setelah itu aku harus memperingatkanmu. Jika sekali lagi kau menghalangi jalanku maka aku tidak akan segan- segan melakukan hal yang kejam"
Marissa terdiam.
Aku tidak membencimu, Marissa. Sungguh! Tapi bisakah aku mempercayaimu? Aku tahu mungkin ini terdengar klise di telingamu tapi ibuku pernah mengatakan ini padaku ketika aku kecil. Tidak peduli seperti apa keluargamu, mereka tetap keluargamu. Aku tidak pernah mengenal ayahku sebelumnya dan kaget ketika seseorang tiba- tiba mengatakan kalau dia adalah ayahku. Kau tahu apa yang kupikirkan saat itu? Aku senang karena pada akhirnya aku memiliki seorang ayah yang mau mengakuiku sebagai anak dan coba tebak, tidak hanya ayah. Aku juga memiliki ibu, kakak dan adik yang sangat cantik seperti dirimu. Dan aku ingin menjaga itu jadi bisakah kau melakukan hal yang sama untukku? Hanya menjaga. Sisanya akan aku urus.
Itu adalah kalimat pertama Lea ketika Marissa memutuskan untuk menghindari Lea dan Lea benar- benar melakukan apa yang dikatakannya dulu. Dia mengambil alih semua hukuman yang diberikan Bertha tiap kali Marissa melakukan kesalahan. Puncaknya ketika Marissa tidak sengaja memecahkan guci antik milik Bertha ketika dia sedang bermain dengan teman- temannya. Ketika itu Lea baru saja pulang dari sekolah dan mendapati Marissa menangis sambil memandangi guci yang sudah berserakan di lantai dengan ketakutan. Tanpa berpikir dua kali, Lea menarik Marissa ke kamarnya dan menguncinya di dalam kamar beserta teman- temannya.
Marissa tidak tahu apa yang dilakukan Lea diluar kamarnya tapi setelah beberapa jam pintu di buka oleh pelayan rumah atas suruhan Lea. Marissa tidak mendapati Lea dimanapun, tepat seminggu dia baru mengetahui, itupun dari bisik- bisik pelayan yang tidak sengaja di dengarnya kalau Lea dikurung di dalam gudang. Betapa terkejutnya Marissa ketika membuka gudang dan mendapati Lea dengan luka terbuka hasil cambukan. Semenjak itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka.
"Lakukan apa yang harus kau lakukan, Collin dan aku... aku akan melakukan apa yang harus kulakukan." Marissa langsung menyentakkan tangannya dalam satu kali sentakan hingga tangan Collin terlepas dan melangkah keluar, meninggalkan Collin yang berusaha meredam amarahnya.
"Kau terluka lagi?" Seru Lea kearah Collin yang baru saja keluar dari mobil jemputannya.
"Hentikan, Lea. Kau membuat semuanya seakan aku tidak bisa berdiri lagi" balas Collin seraya berjalan menuju kamarnya. Di dalam otaknya tersusun sebuah rencana untuk membalas perlakuan seniornya yang sok itu.
Collin baru saja keluar dari kamar mandi dalam kamarnya ketika mendapati Lea sudah berdiri diatas tempat tidurnya dengan senyum lebar. Dipangkuannya terletak kotak obat yang tanpa sadar membuat Collin menghembuskan napas panjang.
Semenjak Lea memasuki kediaman Smith, tidak henti- hentinya dia memerankan sebagai dokter pribadi buat Collin. Oliver mengatakan kalau Lea dititipkan karena ibunya sedang sakit keras dan Collin tidak peduli, toh baik Oliver maupun Bertha jarang di rumah.
"Aku tidak mengerti kenapa kau selalu pulang dalam keadaan babak belur seperti ini." Ucap Lea seraya menempelkan salep di beberapa tempat di wajah dan bibir Collin.
"Kau tidak perlu tahu. Yang perlu kau tahu kalau akan segera membalas mereka. Ouchhh.... apa kau berniat menambah lukaku lagi?" Hardik Collin menahan rasa perih di bibirnya akibat tekanan yang diberikan Lea didaerah itu.
"Kalau kau begitu percaya diri ingin membalas mereka, seharusnya tekanan yang kuberikan padamu tadi tidak berdampak apa- apa. Sini kuobati lagi"
Dengan hati- hati Lea kembali mengobati luka Collin.
"Bagaimana kau bisa memiliki rambut merah?" Tanya Collin di sela Lea yang mengolesi wajahnya dengan salep.
"Gen, kurasa" jawab Lea.
"Jadi ibumu berambut merah?"
"Tepatnya pirang stroberi. Aku mewarisi rambut merah ini dari almarhumah nenekku"
"Kutebak nenekmu adalah nenek tergaul yang pernah kau temui dengan rambut merahnya"
Lea tertawa. "Kurasa begitu. Waktu aku kecil, aku sering dibawa olehnya ke perkumpulan musik country. Sampai sekarang aku masih tidak mempercayai betapa mudahnya aku dibodohi dulu"
Collin ikut tertawa. "Tapi kau tampak sangat cantik dengan rambut merahmu"
Tanpa diduga Collin, Lea menghela napasnya pendek. "Aku justru membencinya"
"Benarkah? Kenapa?
"Rambut merah ini memberiku banyak kesulitan"
"Kalau begitu aku akan mengangkat kesulitan itu. Aku janji"
"Jangan berjanji untuk sesuatu yang tidak bisa kau tepati, Collin"
"Eh kenapa?"
"Aku pernah di janji oleh seseorang tapi setelah lama menunggu, orang itu tidak kunjung datang"
"Aku akan menepatinya. Aku janji"
"Karena kau sudah berjanji maka kau tidak boleh meninggalkanku"
"Kaulah yang lebih dulu mengingkari janji kita, Lea dengan menikahi pria lain." Gumam Collin pelan.
Otaknya memikirkan langkah yang harus dilakukannya untuk memisahkan wanitanya dari Jullian ketika matanya kembali pada foto yang berserakan di lantai dan fokus pada satu titik yaitu perut Lea.
Mendadak senyum tercetak di bibir Collin ketika secara bersamaan dia melihat foto lain yaitu Caroline. Collin merasa seakan mendapatkan jackpot tak terduga ketika sebuah skenario mulai saling menyusun dalam otaknya.
"Akan kita lihat sampai sejauh mana kau bisa menghalangiku, adikku sayang"
***

Kenapa gk langsung bilang aja kalo suka sama lea, collin mah cara mencintainya ngeri 😏
ReplyDeleteKak, Rental GF bakal di post lagi gak? Kangen����
ReplyDeleteIya. Tgl 1 Juli ini
Delete