MASK- TIGA ENAM



Jullian PoV...

Aku tahu Lea sangat senang mengetahui dirinya hamil. Wajahnya tidak pernah berhenti menyunggingkan senyum lebar dan ini kali pertama aku melihat senyumnya yang secerah itu. Aku bahkan rela menukar dengan apapun agar bisa melihatnya seperti ini. Selamanya.

"Jullian, apa tidak apa- apa kalau nanti tubuhku seperti ikan paus?" Tanyanya disela ia menyantap salad buahnya. Dia suka sekali menyantap sesuatu yang manis.

Kukendikkan bahunya, terlihat cuek. "Asal pausnya seksi kurasa tidak masalah bagiku." Dan astaga, apa aku pernah bilang kalau aku menyukai rona merah pada pipinya? Baiklah. Akan kukatakan lagi. Aku menyukainya. Itu membuatku semakin mencintainya.

Sudah seminggu sejak kejadian itu dan sungguh. Aku marah sekali ketika melihatnya melukai dirinya seperti itu. Terlepas dari siapa yang bertanggung jawab, aku akan membunuh siapa saja yang berani membuatnya terluka.
Seperti halnya dia yang tidak menyukai obat, aku juga baru tahu kalau dia juga tidak menyukai rumah sakit. Terbukti ketika dia tanpa pikir panjang melepas I.V dari tangannya. Jika saja aku tidak langsung memberitahu tentang kehamilannya, mungkin aku sudah melihat dia berlarian keluar dari rumah sakit. Dua hari yang lalu, dokter Chen baru bisa memberikannya ijin pulang, yang langsung disambut dengan wajah lega dari Lea. Setelah mengucapkan terima kasih pada dokter Chen, dia langsung meraih tanganku agar langsung pergi. Dia bahkan tidak mengganti pakaiannya dulu.

Dan disinilah kami. Didapur apartemenku, sedang melihatnya menghabiskan hampir sebagian besar isi dapur. Yang kukatakan isi dapur adalah buah dan beberapa waffle dan pancake. Beberapa jam yang lalu Lea bahkan sudah menghabiskan beberapa macaroons.

"Aku bertanya- tanya, kenapa banyak sekali wortel di tempat sampah padahal seingatku kau sangat menyukai makanan yang satu itu." Akhirnya pertanyaan yang selama ini menganggu dibenakku kukeluarkan juga. Aku tahu dia sangat menyukai wortel jadi aku agak heran ketika melihat wortel- wortel itu telah berada didalam tempat sampah, masih dalam keadaan bagus.

Sejenak kulihat Lea mengernyitkan hidungnya. "Wortelnya basi. Aku tidak tahu. Yang jelas aku mual ketika memakannya dan ayamnya juga."
Kuanggukkan kepalaku kemudian aku mendengarnya terkesiap dan aku juga yang terkesiap.

"Oh." Wajahnya mendadak memerah dan aku tidak tahan untuk tidak menggodanya.

"Hmm kupikir bukan salah wortel dan ayamnya." Aku tertawa ketika melihatnya menyembunyikan wajahnya di sela rambutnya. "Aku rasa di malam ketika aku pulang kantor dan kau yang menggodaku waktu itu adalah tanda kau sudah hamil." Wah wah wah wajahnya semakin memerah. "Hmm jadi apa itu berarti kelinciku sudah bukan kelinci lagi?"

"Aku mau mandi. Sampai nanti, Jullian." Sahutnya seraya berdiri dari kursinya yang langsung kutahan. Kutarik dia hingga sekarang dia berada diatas pangkuanku. "A- apa yang kau lakukan?" Aku menyukai raut wajah gugup miliknya ketika dia tidak siap. Sangat menggemaskan.

"Hanya ingin menyentuh dirimu." Kubawa tanganku untuk menyentuh pipinya lembut. "Dan aku juga bertanya- tanya bagaimana kau akan mandi jika tanganmu masih diperban seperti itu?"

Sejenak dia melihat kearah tangannya lalu memutar kedua matanya. "Tentu saja aku bisa. Bukankah itu yang kulakukan selama seminggu belakangan ini?"
Kugelengkan kepalaku dengan dramatis. "Dan membiarkan perban itu basah lagi? Kurasa itu akan menimbulkan kemarahan dokter Chen lagi. Pantas saja lukanya tidak mau sembuh- sembuh juga."

"Jadi apa solusimu, Jullian?" Dari nada suaranya dia mulai terdengar jengkel.
Aku tersenyum. "Solusi yang sangat pintar menurutku." Dia memberiku tatapan penasaran, yang langsung meningkatkan keinginanku untuk mencicipinya juga. "Kurasa tidak ada masalah kalau aku mandi lagi." Yang kulihat kedua matanya mengerjap aneh yang disusul rona merah yang merambat dari lehernya ke pipinya. Hmm yummy...

Kuraih bibirnya dan kukecup ringan. Selama seminggu ini aku berusaha untuk menahan diri karena tidak ingin membuatnya terluka, belum lagi kehamilannya yang masih tergolong rentan, membuatku tidak ingin terjadi apa- apa dengan dirinya. Baru ketika aku berkonsultasi dengan dokter kandungannya dan menanyakan tentang boleh tidaknya aku melakukan seks dengan Lea, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala dan pesan agar berhati- hati dan tidak terlalu keras. Barulah aku merasa seperti tanah di musim kemarau yang dibebaskan dengan air hujan.
Kucium leher dan bahunya yang sudah setengah telanjang dan mendengar erangan halus dari bibirnya.

"Jullian." Desahnya.

"Ya, sayang?"

"Aku menginginkanmu."

"Aku juga menginginkanmu." Dan tanpa menunggu lagi, kuangkat dia dan kubawa ke kamar kami.

*
Hari sudah hampir menjelang siang ketika tiba- tiba ibu, ayah dan juga kakekku mendadak muncul di depan pintu apartemen kami dengan beberapa kantong berisi bahan- bahan makanan.

"Aku tidak ingin kau membuat Lea kesulitan dengan harus membuatkanmu makan siang." Jawab ibuku ketika kutanya maksud dari kedatangannya. "Dan dimana Lea?"

Lea muncul semenit kemudian dengan dress kuning selututnya dan rambut yang jepit asal- asalan. Jelas dia berusaha menjepit rambutnya dengan sebelah tangan dan tidak berhasil.

"Sini kubantu." Kuraih jepitannya dan tersenyum ketika rambutnya sudah terikat rapi.

"Terima kasih, Jullian." Ujarnya tersenyum membuatku mendaratkan bibirku ke bibirnya lagi.

"Anak ini." Gerutu Laura tidak tahan dan kurasa Lea baru menyadari kehadiran keluargaku di apartemen kami.

"Ya ya sayang. Kami datang untuk menjengukmu dan juga calon cucu kami. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Laura pada Lea yang masih terlihat bingung.

"Ba- baik. Maaf. Aku tidak tahu kalau kalian akan kemari."

"Jangan khawatir sayang." James mulai berkata. "Kami hanya khawatir Jullian tidak memberimu makan, mengingat kau baru saja keluar dari rumah sakit."
Oh tentu saja keluargaku tahu. Tidak semuanya, cukup dibagian Lea yang terkena kaca dikantornya.

"Jangan khawatir James. Jullian merawatku dengan sangat baik." Ucap Lea tersenyum.

"Senang rasanya melihat kalian akur." Ujar Laura yang dibalas dengan senyum Lea dan aku yang memutar mata jengah.

Lea memilih untuk membantu ibuku di dapur dan hanya menyuruhku menemani James dan Jackie sementara dia menemani Laura menyiapkan makanan ketika tiga puluh menit kemudian Dane datang bersama Mia. Aku tahu mereka berdua mempunyai hubungan kemudian disusul oleh kedatangan keluarga Smith. Dua puluh menit kemudian Lea muncul dari arah dapur sambil tertawa- tawa dengan Mia ketika terdengar suara pecahan gelas.

Prangggg.....

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS