MASK- EMPAT DELAPAN
"Bagaimana? Apa ada perkembangan?"
Kugelengkan kepalaku atas pertanyaan Dane yang ditujukan padaku dan melihat dia menghembuskan napas panjang.
"Kau yakin? Apa yang dikatakan dokter Chen?" Tanyanya lagi.
"Hanya menyuruhku untuk bersabar juga terus memantau perkembangannya dan juga bayi kami." Jawabku
Tidak hanya Dane atau aku yang merasakan kegelisahan menunggu peluang Lea bisa mendapatkan ingatannya lagi tapi seluruh keluargaku juga merasakan hal yang sama. Saat ini usia kandungan Lea sudah menginjak usia 28 minggu dan semakin hari Lea semakin khawatir jika disaat dia melahirkan nanti, dia masih juga belum mengingat apapun hanya Jerry yang lebih dia percayai. Tiap kali dia merasakan kekhawatiran maka Jerry akan menjadi orang pertama yang akan dia hubungi dan pria itu akan langsung datang jika Lea yang menghubungi.
"Apa tidak ada cara lain? Maksudku kita bisa membuat kepalanya terbentur lagi, mungkin." Usul Dane yang serta merta langsung mendapatkan lemparam pulpen ke wajahnya.
"Kau gila ya! Apa kau mau istriku melupakan diriku seumur hidup?"
Dane membalasku dengan tertawa. "Maaf sepupu, hanya mengusulkan"
"Dan usulanmu itu tidak masuk akal"
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Tidak ada. Hanya menunggu hingga otaknya bisa mengingat kembali." Jawabku. "Itu juga yang dikatakan oleh dokter Chen. Jika kita tetap memaksa Azalea untuk mengingat semuanya, bukan tidak mungkin itu akan berakibat fatal pada dirinya apalagi saat ini dia sedang mengandung. Aku lebih memilih untuk tidak mengambil resiko itu."
Aku dan Dane kemudian sama- sama terdiam.
Memang tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mengembalikan ingatan Lea saat ini. Tapi melihat wanitaku dengan pria lain begitu akrab membuat perasaanku seperti ditikam rasa cemburu yang sangat dahsyat dan sialnya lagi Jerry seperti tidak mempermasalahkan akibat dirinya. Sejak awal kami memang tidak pernah bisa akrab dan berteman baik.
"Setidaknya kau bisa mengenal Lea versi remaja." Imbuh Dane menampilkan seringainya.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Well, dibandingkan Lea yang dulu. Aku lebih menyukai Lea yang sekarang. Lea yang sekarang jauh lebih berwarna dibandingkan Lea yang dulu."
Aku terdiam dalam hati membenarkan. Sejujurnya aku juga menyukai Lea yang sekarang. Lea yang sekarang sangat senang tersenyum ataupun tertawa dan lebih menampilkan sisi cerianya. Lea juga lebih terus terang dalam mengungkapkan apa yang dikatakannya. Khas remaja, dia juga lebih kelihatan kekanak- kanakan dan juga manja.
Contohnya saja beberapa hari yang lalu ketika aku pulang dari kantor dan mendapati dirinya duduk dilantai dapur hanya dengan handuk yang masih menempel di tubuhnya. Dia duduk sambil memegang pergelangan kakinya dan ketika kudekati tanpa kuduga dia menangis bahkan sampai terisak- isak ketika mengatakan kalau dia terpeleset dan mengkhawatirkan bayi dalam kandungannya.
Setelah menelpon dokter Chen dan memberitahukan keadaan Lea, dokter Chen segera berangkat dari rumahnya yang notabene sangat jauh dari tempat tinggal kami dan tiba tiga puluh menit kemudian.
Lea langsung menghembuskan napas leganya ketika dokter Chen mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada kandungannya dan hanya mengatakan kalau pergelangan kakinya terkilir.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani membuatnya terpisah lagi dari anaknya, Anderson"
Sejujurnya aku masih belum mengerti kenapa waktu itu Lea memutuskan untuk ikut tinggal bersamaku. Maksudku, waktu itu Jerry sudah menyatakan dirinya untuk merawat Lea dikarenakan Lea yang paling mengenal dirinya, bukan berarti aku mau jika istriku tinggal bersama pria lain tapi aku lebih mempertimbangkan Lea waktu itu dan terkejut ketika mendengar jawaban yang dilontarkannya.
"Aku akan pulang dengan suamiku, Jerr."
"Kau yakin? Kau bisa tinggal di tempatku." Jerry masih merasa belum yakin dengan jawaban Lea dan sekali lagi menanyakan pertanyaan yang sama padanya.
Lea menggeleng sebagai balasan penolakan. "Bukankah kau bilang kalau aku sudah menikah? Sudah jelas aku lebih membutuhkan Jullian dibandingkan dirimu. Terlepas apakah aku mengingatnya atau tidak."
"Ah, aku seperti merasa pernah mendengar ini di suatu tempat."
Dan disinilah kami, tinggal dan berada di atap yang sama. Sesekali keluargaku atau Jerry atau Dane dan Mia datang hanya untuk menjenguk Lea. Lea kutempatkan di kamar yang terpisah denganku karena aku yakin dia tidak akan mau jika harus tidur di ranjang yang sama sekalipun kami telah menikah. Dia hilang ingatan dan sudah jelas dimatanya kalau aku hanyalah orang asing.
Aku pulang dari kantor agak lebih sore dari biasanya dan mengernyit ketika mendapati sebuah mobil berwarna hitam sedang terparkir di pekarangan rumahku. Aku baru saja melangkah masuk ke dalam rumah ketika mendengar suara- suara penuh bujukan di telingaku.
Sial.
"Kumohon Lea. Katakan pada Jullian untuk menghentikan semuanya."
"Aku tidak mengerti Ma. Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kami minta maaf atas apa yang sudah terjadi tapi kau tidak mungkin berbuat tega pada keluargamu, bukan? Collin hanya..."
"Hentikan Bertha!" Aku langsung menghentikan Bertha sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
Bertha dan Oliver tampak terkejut ketika mendapatiku telah berada di antara dirinya dan Lea sementara Lea hanya memandangi kami dengan tatapan bingung di wajahnya.
"Jullian apa yang....?"
"Kuharap kalian keluar sekarang juga" kataku penuh penekanan pada mereka berdua, memotong ucapan Lea barusan.
"Jullian kami..."
"Apa aku perlu menghubungi polisi lebih dahulu?"
Baik Bertha maupun Oliver sama- sama memalingkan wajahnya. Aku tahu arti dari tatapan yang mereka lontarkan. Setelah berkali- kali berusaha membujukku untuk mengembalikan perusahaan mereka beserta si brengsek itu. Sekarang dia berusaha untuk membujuk Lea agar bisa berada di pihak mereka? Cih, mereka pasti sudah tahu keadaan Lea yang sekarang. Itulah sebabnya mereka berani datang ke tempat ini.
"Sekarang!" Kataku lagi.
Sejenak mereka berdua saling berpandangan lagi dan sebelum Bertha mengucapkan kalimat yang aku tahu apa yang akan dia katakan, aku langsung memotongnya.
"Dan kuharap kalian tidak datang lagi kemari."
"Jullian!" Hardik Lea di sisiku dan sekali lagi aku memilih untuk mengindahkannya.
"Sekarang Mr dan Mrs. Smith."
Mereka berdua sama- sama terdiam lalu kulihat Oliver menganggukkan kepalanya kearah Bertha dan hanya dibalas oleh helaan napas wanita disampingnya.
"Tidak apa- apa, Lea. Cobalah pikirkan apa yang tadi kami...."
"Jawabanku tetap sama seperti dulu kalau anda ingin tahu Mrs. Smith" ujarku melupakan sopan santun jika bersama mereka.
Aku dan Lea sama- sama terdiam hingga mendengar suara deru mobil meninggalkan pekarangan rumah kami dan berbalik ketika mendapati Lea sudah menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Kau benar- benar sangat sopan, Mr. Anderson". Ucapnya penuh amarah.
Sudah lama aku tidak melihat sikapnya yang seperti ini lagi.
"Jika kau lupa, kau baru saja mengusir kedua orang tuaku dengan sangat kasar tadi" lanjutnya.
Aku tahu dia akan marah dengan sikapku tapi tidak ada cara lain selain menghindarkan dirinya dari bahaya yang bisa saja mencengkramnya.
"Dengarkan aku, Azalea. Kau boleh menemui siapa saja tapi tidak mereka". Kataku.
"Kenapa? Apa yang sudah mereka lakukan? Dia keluargaku, Jullian. Kau tidak bisa melakukan hal itu pada mereka!"
Harus bagaimana menjelaskan ini padanya.
"Tentu saja aku bisa. Sekali lagi jangan menemui mereka"
"Kau egois!"
"Kau tidak tahu apa yang baru saja kau katakan"
"Aku tahu dan kau sangat egois! Bagaimana mungkin kau hanya tidak memperbolehkan orang tuaku untuk datang menemuiku"
"Karena aku tahu orang seperti apa mereka"
"Sekalipun mereka jahat tapi mereka tetap keluarga yang kumiliki"
"See? Kau sendiri yang mengatakan dia jahat"
"Apa kau tidak mendengar bagian akhir dari ucapanku? Mereka tetap keluarga yang kumiliki"
Aku tahu, sayang tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku tahu alasan mereka menemuimu.
"Kau benar- benar pria brengsek, Jullian"
Tanpa memperdulikanku dia keluar dari rumah dengan menghentakkan kakinya.
"Mau kemana?" Kutahan lengannya sebelum dia melangkah lebih jauh lagi.
"Bukan urusanmu" sentaknya
"Jelas ini urusanku. Kau istriku dan sedang mengandung anakku"
Kedua matanya segera tertuju pada gundukan besar di perutnya lalu kembali melihatku. Masih sarat dengan kemarahan.
"Aku tidak mengerti kenapa aku bisa mengandung anak darimu, Jullian"
***

Semoga saja lea cepet sadar
ReplyDelete