MASK- EMPAT SEMBILAN
Tepat pada saat kupikir hatiku tak mungkin lebih buruk lagi, aku melihat orang mati duduk di dihadapanku. Jerry tengah menatapku seakan aku baru saja menumbuhkan dua buah tanduk dari atas kepalaku, yang mana sama sekali itu tidak mungkin.
"Jerry, ayolah. Kau mendengarkanku kan? Maksudku dia baru saja datang tapi seketika menjadi marah. Tapi bukan itu intinya. Intinya adalah dia mengusir kedua orang tuaku tepat didepan kedua mataku"
Aku mencoba menjelaskan alasan kemarahanku pada Jullian hari ini. Kemudian, setelah jeda yang hanya satu tarikan napas, akhirnya Jerry mulai mengeluarkan suaranya yang bahkan entah bagaimana membuatku merasa kalau dia akan mendukungku.
"Aku setuju dengan apa yang dilakukan Jullian pada mereka"
Aku melonggo, semakin tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
"Kau bercanda, kan?" Tanyaku sekedar memastikan kalau dia hanya ingin membuatku semakin marah lagi tapi yang kulihat Jerry bahkan tidak mengubah ekspresinya padaku.
"Mereka beruntung bukan aku yang mereka temui. Aku bahkan tidak yakin jika tidak harus menyeret mereka" Tukasnya dengan nada jengkel.
Aku semakin melonggo. Tidak biasanya Jerry mengungkapkan kejengkelannya pada orang- orang yang kukenal. Bahkan dengan aroma persaingan yang biasa terasa di udara jika dia bersama dengan Jullian. Ini justru terasa pekat lebih pekat.
"Apa terjadi sesuatu sebelum aku hilang ingatan?" Kutautkan kedua alisku, penasaran.
Jerry memberiku jeda yang lebih panjang daripada yang pertama ketika akhirnya dia berbicara.
"Jujur. Aku menyukai dirimu yang sekarang maksudku yang dulu. Arghh... pokoknya ketika kita masih bersama"
"Kita pernah berpisah?" Aku terkejut. Sungguh. Ku pikir Jerry selamanya ada denganku.
"Jangan pikirkan itu." Jerry mengibaskan sebelah tangannya, "Ya. Kita berpisah, entahlah mungkin sekitar dua tahun atau lebih. Aku tidak ingin memikirkannya dan kita kemudian tidak sengaja bertemu di Paris dan dari apa yang kau katakan waktu itu. Kalian sudah menikah dan sedang menjalani bulan madu"
Aku terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa- apa.
"Intinya adalah, kau terlihat sangat bahagia bersamanya" ujarnya kembali. "Kau bahkan sangat suka tersenyum dan tertawa. Bukan berarti kau dulu tidak suka tersenyum dan tertawa tapi pokoknya kau menyukai ketika bersamanya"
"Aku pasti sudah gila waktu itu'. Gumanku dan membuatnya terkekeh.
"Kau tahu, kupikir juga begitu. Aku bahkan mengira kalau dia sudah mencampurkan sesuatu pada minumanmu ketika kau lengah tapi begitulah. Kalau tidak, kenapa kau memintanya agar dia menyentuhmu ketika di rumah sakit dulu? Itu berarti jauh dari dalam dirimu kau juga menginginkannya"
Aku terdiam dan mengernyit.
"Apa kau baru saja salah makan?" Tanyaku memastikan dirinya atau ini bukanlah Jerry yang kukenal melainkan orang lain yang berpura- pura sebagai dirinya.
Sekilas Jerry memberiku tatapan mendelik. "Kau tahu, salah satu ciri khas pada masa remajamu adalah kau seperti berani melawan dunia. Kau tertawa seakan kau tidak lagi bisa tertawa keesokan harinya dan tidak hanya itu, kau jauh lebih berani menyuarakan apa yang kau pikirkan"
"Apa itu salah?"
"Tidak salah. Hanya saja sekarang aku mengerti apa maksud pertanyaan Jullian tempo hari"
Hah? Aku menunggu hingga Jerry mau menceritakannya tapi setelah dua menit penuh tidak ada suara darinya, kuputuskan untuk menyerah saja lagipula kepalaku juga mulai terasa sakit memikirkan semua ini.
"Kau mencintainya"
Aku mendongak. Kembali melihatnya.
"Apa?"
"Kau mencintainya, Azalea Rosianna" ulangnya yang serta merta membuatku mengerjapkan kedua mata.
Entah mengapa mendengar seseorang mengucapkan namaku jauh sebelum aku diangkat dalam keluarga Smith membawa perasaan getir di dalam hatiku. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Dengarkan aku," ada penekanan dalam suaranya yang bisa kutangkap. "Apa kau ingat alasan kau memutuskan untuk pergi dari rumah itu, kan? Mencari tempat tinggal hanya dengan uang yang sangat minim agar tidak bersama mereka. Kau tahu apa yang telah mereka lakukan padamu hm... di usia yang hmm... aku tidak perlu menjelaskan apa yang kau dapat di sekolahmu yang dulu"
Aku mengangguk hingga tanpa sadar aku tertawa.
"Pasti kau menganggap ini lucu, iyakan?"
Aku mengangguk mantap. "Aku tidak percaya kau banyak berubah"
"Kaulah yang kehilangan ingatan dan mengira kalau kau masih delapan belas tahun lagipula harus ada yang menjadi orang dewasanya diantara kita berdua dan karena aku tidak hilang ingatan maka akulah yang harus mengambil tanggung jawab itu"
Aku semakin tertawa dan dalam hati membenarkan kalimat Jerry. Aku juga merasa kalau aku banyak berubah karena setiap kali aku melakukan sesuatu, Jullian pasti akan langsung melihatku dengan ekspresi yang sulit kujelaskan. Dibandingkan itu semua, seluruh keluarga Jullian terutama Laura selalu memberiku pelukan yang sama sekali tidak ku mengerti dan mengatakan kalau dia senang bertemu dengan diriku yang versi remaja.
Seburuk itukah sosialisasiku dulu?
Jerry mengantarku pulang dan menurunkanku tepat di depan rumah Jullian setelah hampir lima jam bersamanya. Waktu telah menunjukkan hampir pukul setengah sepuluh dan mendapati kalau rumah yang aku dan Jullian tempati dalam keadaan hening. Kuusap perutku yang terlihat semakin membesar dan menghela napas panjang.
Ada alasan kenapa dia harus melakukannya, Angel dan apapun itu. Jullian pasti sudah memikirkan konsekuensi dari sikapnya padamu tadi. Seperti kataku tadi, mereka beruntung bukan aku yang bertemu mereka melainkan Jullian dan suamimu itu cukup bisa mengendalikan diri. Masih ingat apa yang selalu kau katakan dulu padaku? Percaya pada apa yang kau yakini dan lihat. Lihat apakah Jullian pernah berlaku kasar padamu? Oh, kuharap dia pernah. Aku sudah tidak sabar ingin menonjoknya karena itu.
Kalimat Jerry terus saja terngiang- ngiang di kepalaku. Jujur aku akui kalau selama aku tidak mengingatnya, Jullian sama sekali tidak pernah membuatku kesulitan. Yang ada dia justru sangat memperhatikan diriku dan berusaha untuk tidak menyentuhku.
Intinya yakini pada apa yang kau percayai. Kau cukup bijaksana ketika memutuskan sesuatu dan apapun yang menjadi pilihanmu, itulah yang terbaik untukmu begitupun saat ini. Tidak peduli apakah kau hilang ingatan atau tidak. Hatimu tidak dapat membohongi dirimu sendiri.
Apa yang dikatakan oleh Jerry benar.
Awalnya aku bingung ketika Jullian justru menempatkanku di kamar yang berbeda dengannya dan jawabannya cukup membuatku tercengang. Dia tidak mau kalau aku merasa tidak nyaman jika harus satu kamar dengannya dan kupikir dia ada benarnya juga. Aku mungkin akan histeris jika merasakan tangan orang asing di tubuhku sekalipun dia adalah suamiku yang tak kuingat.
Apa aku mencintainya?
Mencintainya
Aku mencintainya?
Jantungku terasa semakin berdetak yang aku yakini tidak ada hubungannya dengan perasaan seperti akan memasuki rumah hantu dikarenakan lampu yang tidak menyala.
Langkahku terhenti ketika melihat tubuhnya yang menghadap keluar dan sedang melihat di sekitar taman buatan miliknya dimana berbagai macam bunga berhasil kutanam disana. Bagian belakangnya terlihat sangat sedih dan aku mulai berpikir, apakah kata- kataku tadi sangat menyakitinya?
Kulangkahkan kakiku kearahnya dan dengan ragu melingkarkan kedua tanganku ke tubuhnya meskipun sedikit terhalang dengan perutku tapi ini sudah cukup.
"Maafkan aku". Entah kenapa aku merasakan kerinduan yang sangat nyata terhadapnya, "Aku sungguh minta maaf, Jullian. Maafkan aku"
Bisa kurasakan kalau tiba- tiba tubuhnya menegang dan dengan pelan dia membalikkan tubuhnya untuk melihatku.
"Kau menangis?" Diulurkannya tangannya ke sudut mataku dan menyekanya disana. "Kenapa?" Suaranya bahkan terdengar sangat sedih.
"Itu karena aku sudah bersikap kejam padamu" jawabku. Kali ini aku menempatkan kedua tanganku di masing- masing sisi bajunya.
Dia menatapku, seakan mencari sesuatu disana dan tiba- tiba sebuah ciuman hangat menempel di puncak kepalaku.
"Jangan menangis, sayang. Kau tidak bersikap kejam padaku"
Jantungku seakan berdetak semakin kencang dan semakin bertambah kencang ketika dia melepaskan ciumannya dan kembali menatapku.
Kutelan liurku dengan susah payah dan menghirup udara banyak- banyak
.
.
"Kurasa... aku mencintaimu, Jullian"
Dia terdiam.
Okey, ini bukanlah yang kuharapkan.
"Maksudku... ini... bukanlah karena aku hilang ingatan" aku mulai merasakan panas dingin di sekujur tubuhku. "Ini... sama sekali tidak ada hubungannya dengan aku yang hilang ingatan tapi kurasa... kurasa aku sudah jatuh cinta padamu jauh sebelum aku kehilangan ingatan." Okey, kurasa aku akan menyalahkan Jerry atas semua ucapannya tadi. Aku sudah kepalang basah, jadi mungkin sekalian mandi tidak masalah.
"Katakan lagi"
Aku terdiam. Entah kenapa otakku sulit merespon sesuatu hari ini.
"Eh? Hilang ingatan?"
Sudut mulutnya berkedut aneh menahan tawa dan aku jengkel karena mengerti alasan dibalik tawanya itu. Dia pasti menganggap ucapanku sekedar lelucon baginya. Aku hendak melepaskan tanganku dari tubuhnya ketika dengan sigap dia tetap menahannya disana.
Ku putar kedua mataku, merasa jengkel. "Oh baiklah. Aku mencintaimu... mencintaimu... sangat mencintaimu, Jullian. Nah, sekarang kau boleh tertawa. Silahkan!" Ketusku dan hal selanjutnya yang terjadi adalah dia mendaratkan bibirnya ke bibirku.
Kedua mataku membelalak kaget atas tindakannya yang tiba-tiba tiba barusan.
"Tahukah kau berapa lama aku harus menunggu kau mengatakan ini? Ya. Aku juga mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu"
Aku terdiam. Otakku seakan ikut menjadi encer karena kecupannya tadi. Jika aku menginginkan lebih dari sekedar kecupan darinya apa aku tidak akan terbentuk lagi? Tidak ada cara lain selain mencari tahunya, bukan?
Kuarahkan kedua tanganku dan menempatkannya di sekeliling lehernya lalu menarik wajahnya agar aku bisa mencium bibirnya. Bibirnya terasa manis di bibirku ketika pelan- pelan dia membuka mulutnya dan membalas ciumanku.
Wow. Aku bahkan bisa mengimbanginya. Pasti dulu aku sering mendapatkan ciuman seperti ini. Aku semakin merekatkan lenganku di lehernya sementara tangannya berada di pinggangku, menahanku agar tidak terjatuh ketika pada akhirnya dia melepaskan pagutannya.
"Wow". Komentarku merasa sangat luar biasa, mengindahkan diriku yang megap- megap kehabisan napas karena intensitas ciuman kami.
Kedua matanya ikut berbinar lalu mengecup pangkal hidungku.
"Aku mencintaimu, Azalea"
Aku juga.
Tanpa melepaskan diriku darinya, aku mulai mengutarakan apa yang paling inginkan darinya.
"Um... Jullian?" Panggilku pelan. Dia meresponku dengan memberi sedikit jarak diantara kami. Masih dengan kami yang saling menatap. "Jika aku menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Bisakah aku mendapatkannya?
***

Akhirnyaaaa... 😍
ReplyDelete