MASK- TIGA SATU
Ketika aku terbangun, mataku langsung bersirobok dengan mata Jullian tapi entah kenapa ada yang aneh dengan tatapannya. Dia hanya diam tanpa sama sekali berniat untuk menyentuhku.
Apa dia marah?
Tapi kenapa?
Apa yang sudah kulakukan kali ini?
Kualihkan pandanganku untuk melihat jam yang terletak dibelakangnya dan terlonjak kaget.
Sial. Penerbangannya!
"Kita masih akan tinggal selama beberapa hari disini." Katanya
Eh?
"Aku juga sudah memberitahu Mia tentang kepulanganmu." Lanjutnya.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanyaku sedikit khawatir.
Jullian menggeleng. "Tidak. Bagaimana keadaanmu?"
Eh apa maksudnya?. "Aku baik." Jawabku sedikit bingung dengan maksud kalimatnya yang ambigu.
"Aku akan menelpon pelayan hotel untuk menyiapkan kita sarapan." Dan dia langsung bangkit dari tempat tidur setelah sebelumnya mengecup keningku dengan hati- hati.
Selama beberapa saat, kupandangi langit- langit kamar hotel dan merasa gamang. Dia pasti marah padaku. Mendadak aku merasa seperti ingin menangis. Dia tidak bisa melakukan ini padaku... apalagi setelah apa yang kami lakukan bersama... dia tidak bisa mencampakkanku begitu saja.
Dengan pelan, kuambil napas kemudian menghembuskan dengan perlahan, begitu terus selama lima menit penuh hingga kuputuskan untuk melangkahkan kakiku ke dalam kamar mandi. Aku bahkan tidak mau melihat bentuk tempat tidur kami, saksi semalam.
Setibanya di kamar mandi, aku langsung melihat diriku di cermin. Penampilanku bahkan terlihat lebih mengerikan dari yang bisa kubayangkan. Bibir yang membengkak karena ciuman yang dia berikan tapi dibandingkan itu semua, mataku terlihat berbinar dan bercahaya. Kemudian mataku beralih memperhatikan tubuh telanjangku, tidak ada yang salah dengannya selain beberapa tanda di bagian payudara tapi semuanya baik- baik saja. Tubuhku memang terasa remuk begitu pula dibagian selangkangan yang terasa sakit tapi aku sudah dapat menduga hal ini akan terjadi. Aku dengar memang akan sakit di permulaan.
Mendadak pemikiran ngeri melintas dibenakku. Apa dia marah karena ini? Karena aku tidak bisa mengimbanginya? Karena aku tidak berpengalaman?. Kedua mataku mendadak panas, bagaimana bisa dia melakukan ini padaku? Aku tidak akan memaafkannya!
Berharap perasaanku menjadi baik, kuputuskan untuk berendam didalam bathtub ketika mendadak yang kulihat bathtub itu sudah berisi air lengkap dengan kelopak mawar diatasnya plus beberapa lilin aromatheraphy disekelilingnya.
Apa- apaan ini? Apa dia yang menyiapkan semuanya? Tapi jika yang menyiapkan semuanya, kenapa dia malah bersikap dingin padaku?
Setelah mengambil napas panjang, kubiarkan untuk menikmatinya saja. Aku perlu pengalih perhatian untuk meredam emosiku saat ini. Kulangkahkan kakiku memasuki bathtub itu dan mengerang nyaman merasakan sensasinya. Aroma mawar bercampur citrus membantu otak dan syarafku menjadi rileks.
Aku menyerah dan keluar dari kumpulan kelopak mawar itu lima belas menit kemudian, tidak ingin membuat kulitku menjadi kisut karena terlalu lama berendam dan langsung meraih kaos sebatas paha didalam lemari yang sudah ku susun semalam. Aku perlu mencari tahu apa yang terjadi dan jika Jullian marah karena ini, maka tidak ada cara lain selain pergi segera dari tempat ini.
Aku masih muda tapi entah mengapa aku merasa jauh lebih tua dari yang seharusnya. Kulangkahkan kakiku keluar dari kamar setelah cukup mengeringkan rambutku, aku bahkan tidak peduli jika rambutku hanya setengah kering dan menemukan Jullian sudah berada di balkon tempat semalam lengkap dengan meja yang berisi makanan.
Wow. Dalam hati aku mengagumi bagaimana pelayanan hotel ini pada tamu VVIP-nya.
"Aku tidak tahu kau mau makan apa. Aku memesan semuanya." Ucapnya setelah menyadari kehadiranku dan berbalik. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tapi aku bisa melihat dia mengambil napas panjang sebelum menarik sebuah kursi agar aku bisa duduk lalu kembali menarik kursi untuk dirinya sendiri.
"Jangan khawatir. Aku akan memakan semuanya." Balasku sepenuh hati dan merasa yakin kalau tadi aku sempat melihat dia yang tersenyum geli atas apa yang kupakai, bukan pada apa yang kuucapkan.
Mengindahkan tatapan anehnya, kuraih beberapa pancake, memberinya saus stroberi diatasnya dan langsung melahapnya kemudian dilanjutkan dengan beberapa Waffle dan Croissant.
"Aku senang melihatmu makan." Sahutnya yang langsung membuatku memutar mata sengaja.
Aku harus makan untuk mengumpulkan tenaga. "Ada banyak makanan yang sudah kau pesan, sia- sia jika tidak kuhabiskan." Balasku menahan diri agar tidak segera melayangkan sendokku ke kepalanya itu.
Ada apa dengannya? Beberapa menit yang lalu dia tampak marah dan sekarang dia tampak puas. Apa dia terkena penunggu menara Eiffel?
Aku tidak tahan lagi. Keheningan ini membuatku merasa sesak dan kuputuskan untuk memulai percakapan lebih dulu sebelum aku mati karena jengkel.
"Maaf karena telah membuatmu kecewa." Ucapku yang langsung mendapat tatapan bingung darinya. "Aku tahu kau kecewa padaku tapi kau juga melukaiku, Jullian."
Ekspresinya menunjukkan keterkejutan yang nyata kemudian beralih ke wajah tidak mengerti. Dia meletakkan kopinya dan menatapku.
"Kecewa? Apa maksudmu? Kau sama sekali tidak membuatku kecewa."
"Kalau begitu kau marah padaku." Tuduhku.
"Aku juga tidak marah."
Sikapnya yang tenang itu membuatku semakin merasa malu juga marah disaat yang bersamaan. Aku berdiri dari tempat dudukku dan memberinya tatapan sengit.
"Ya. Kau marah." Ucapku jengkel. "Kau mendiamkanku tadi. Kau juga bahkan tidak mau lagi menyentuhku... ". dia ikut berdiri. "Kalau memang kau tidak menyukainya maka jangan lakukan. Aku bahkan tidak pernah memaksamu melakukannya tapi... ini menyakitiku."
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan?" Kali ini kami sudah berhadapan dengan dirinya yang hanya berjarak tiga jengkal dan langsung mencium aroma tubuhnya. Tubuhnya beraroma campuran antara kayu dan tanah basah sehabis hujan. Menggoda selera.
Sial. Aku bisa kehilangan kendali jika jarak kami sedekat ini.
Kugelengkan kepalaku berusaha untuk fokus. "Aku tidak mengerti kenapa kau marah tapi tidak bisakah kau berpura- pura? Maksudku ini pengalamanku yang pertama. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus melakukannya dengan baik tapi melihat sikapmu tadi, membuat perasaanku...." ucapanku terhenti ketika merasakan bibir Jullian berada di bibirku dan langsung membuat jantungku memompa dengan cepat dan oh Tuhan, aroma tubuhnya benar- benar membuatku mabuk kepayang. Mengikuti naluri, kutarik tubuhnya agar lebih dekat denganku dan membalas ciumannya.
"Maaf karena telah membuatmu berpikir seperti itu." Katanya lirih sementara aku mengap- mengap mencari napas. "Tapi aku tidak mau menyakitimu. Aku melihat bagaimana wajahmu ketika aku memasukimu dan..."
Jadi apa itu berarti bahwa tidak ada lagi seks untukku?. Pemikiran itu semakin membuatku marah dan tanpa sadar aku melepaskan diri darinya dan menaruh kedua lenganku di dada.
"Hanya karena penismu masuk kedalam vaginaku, bukan berarti kau bisa melakukan ini padaku, Jullian." Balasku sakit hati. "Aku tidak terbuat dari kaca yang akan langsung pecah tiap kali kita berhubungan. Aku juga sudah tahu konsekuensi yang akan aku terima jika melakukannya untuk pertama kalinya. Aku yang memintanya jadi sekalipun kau tidak puas denganku. Pura- puralah kalau kau puas!"
"Begitukah yang kau pikirkan?"
Aku mengangguk, masih marah. "Itu yang kurasakan. Kupikir aku akan terbangun dengan perasaan gembira, kau yang memelukku, tapi apa kenyataannya? yang ada kau malah memberiku tatapan seperti ingin menghindariku."
"Aku tidak menghindarimu sayang." Dia menarikku agar kembali ke dekatnya dan memberikan kecupan- kecupan kecil di sudut bibirku dan membeku.
"Maaf." Awalnya dia mengecup kedua mataku secara bergantian. "Karena" Kemudian beralih ke hidungku. "Membuatmu" Kedua pipiku... "Berpikir seperti itu." Terakhir bibirku.
Ciumannya bukan ciuman menggebu- gebu seperti tadi tapi lembut bahkan sangat lembut seperti semalam dan byurr seperti tanaman yang disiram, amarahku lenyap tak berbekas.
"Kurasa aku kalah dalam pertempuranku sendiri." Gumanku membuatnya terkekeh.
"Tidak sayang. Kau menang. Mungkin jika kau tidak mengatakannya, aku tidak akan tahu apa yang kau pikirkan."
"Aku menyukainya." Ungkapku terus terang. "Maksudku aku menyukai apa yang sudah kita lakukan bersama."
Jullian tersenyum menatapku. "Aku juga. Bagiku itu adalah yang paling berkesan selama aku hidup."
"Benarkah?" Aku tahu ini terlalu berlebihan tapi mendengarnya dia merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan membawa kegembiraan tersendiri bagiku.
Dia mengangguk. "Bahkan aku rela mati hanya untuk mendapatkannya lagi."
Aku merasakan pipiku mulai memanas karena ucapannya.
"Dan sekedar info, aku sudah menginginkanmu sejak melihatmu bangun tidur tadi."
Oh!
"Tapi aku tidak ingin menyakitimu lagi." Ucapnya pelan.
"Aku baik- baik saja dan bukankah maksudmu menunda kepulangan kita karena ingin menghabiskan waktu denganku?"
"Lebih tepatnya aku ingin kita berbulan madu."
Wow!
"Berapa hari?"
"Sebanyak yang kau inginkan tapi aku mengatakan pada Dane dan Mia kalau hanya 3 hari."
"Kurasa itu sudah cukup."
"Jadi kau setuju?"
"Aku tidak mungkin menyia- nyiakan waktu liburanku menjelajahi kota Paris kan?"
Kedua matanya seketika menyipit. "Hanya kota Paris?"
"Tentu saja. Ini bulan madu kita dan akan sangat menyenangkan kalau kita melakukannya bersama- sama." Hatiku rasanya ingin meledak saking bersemangatnya.
"Tuhan, aku suka melihat ekspresimu saat ini. Kau sangat cantik dan aku semakin mencintaimu."
Aku tersenyum. Ini hal terbaik yang pernah aku dapatkan.
"Dan aku menyukai pakaian yang kau kenakan sekarang. Bukan berarti aku merekomendasikan ini untuk kau pakai keluar rumah."
Aku tersenyum. "Aku tidak memikirkan pakaian apa yang kukenakan. Pikiranku hanya terfokus padamu."
"Jadi karena kau marah padaku, kau jadi berpenampilan seseksi ini. Harusnya aku sering membuatmu marah."
Aku tertawa. "Mungkin tapi mungkin juga tidak. Tergantung bagaimana perasaanku."
Jullian memberiku tatapan penuh arti dan aku tahu kalau dia menginginkanku sama seperti aku yang menginginkannya.
"Bukankah kita masih dalam situasi dimana kita berbulan madu?"
Kedua mata Jullian mengerjap. "Tuhan, kau memang wanita penggoda."
"Aku hanya menggoda pria yang menjadi suamiku."
Jullian tertawa seraya membawa bibirku ke bibirnya dan aku langsung memekik kaget ketika tahu- tahu kakiku sudah tidak ada di lantai dan terkait dipinggangnya.
"Kurasa sudah saatnya aku mencicipi makanan penutup." Ujarnya yang langsung membuatku tertawa.
***

Sweet sekali 😶, tanam benih yang banyak julian 😉
ReplyDeleteSweet sekali 😶, tanam benih yang banyak julian 😉
ReplyDelete