MASK- TIGA SEMBILAN
Jullian PoV...
"Bangunlah, sleeping beauty." Kuelus pipinya lembut berharap dia akan terbangun dengan sentuhanku seperti yang biasa kulakukan padanya. "Sudah dua hari kau tertidur seperti putri. Bangunlah, sayang." Pintaku memohon juga mencium jari- jarinya lembut.
Jiwaku serasa direnggut paksa dari tubuhku ketika melihatnya terjatuh menuruni tangga seperti itu. Belum lagi ketika melihat dia tersedak kemudian mengeluarkan cairan berwarna merah dari mulutnya, benar- benar membuat otakku terasa buntu. Aku tidak tahu siapa yang menghubungi rumah sakit pertama kali tapi siapapun itu, aku sangat berterima kasih padanya.
Mengenai wanita itu, aku akan membuat perhitungan padanya dan kali ini aku tidak main- main dengan apa yang kuucapkan. Waktu itu aku masih berbaik hati padanya dengan memberikan segala kelonggaran tapi kali ini tidak akan ada kesempatan kedua.
Lea tidak tahu kalau selama tiga bulan belakangan ini, aku selalu membuntuti kemana dia pergi dan terkejut ketika melihat wanita paruh baya yang tidak pernah kulihat setelah bertahun- tahun lamanya duduk diatas kursi roda dengan Lea yang asyik berbicara dengannya.
Belakangan aku tahu kalau Lea adalah anak dari wanita itu. Wanita yang tidak lain adalah ibu dari gadis kecil yang selama ini kucari. Hanya satu yang membuatku bertanya- tanya dan itu adalah warna rambut Lea. Seingatku, rambutnya waktu itu berwarna hitam tapi kenapa sekarang warnanya berubah merah? Sementara dari penuturan Lea selama kami menikah bahwa dari dulu merah adalah warna rambut aslinya. Lalu bagaimana dia bisa menjadi bagian dari keluarga Smith? Apa Oliver menikah lagi? Atau Lea adalah anak yang diadopsi?
"Kurasa kau berutang banyak penjelasan padaku, sayang jadi kumohon... bangunlah." Pintaku sekali lagi.
Jika aku boleh jujur. Aku hanya ingin melihatnya membuka mata. Aku ingin melihat mata birunya lagi, pipinya yang meronah dikala dia malu dan mendengar suaranya. Hanya itu yang kuinginkan darinya.
Kumohon Tuhan, kembalikan dia.
"Jullian?"
Kutolehkan kepalaku untuk melihat orang yang baru saja memanggilku. "Aku tetap tidak akan meninggalkannya, Dane. Kau tahu itu." Hardikku kembali melihat sosok Lea.
"Aku tahu tapi kau harus mendengar ini."
"Aku sudah memberikanmu otoritas penuh untuk mengurus perusahaan selama istriku dirawat. Apa kau tidak memahami setiap kalimat yang kuucapkan?"
Hening. Tidak ada jawaban darinya hingga kupikir dia sudah pergi ketika kembali aku mendengar suaranya.
"Ini tentang wanita itu."
Satu kalimat yang seketika membuat darahku kembali mendidih. Kalau bukan karena wanita itu, Lea tidak akan berbaring disini. Kalau bukan karena dia, kami tidak akan kehilangan bayi kami. Aku bahkan tidak ingin memikirkan apa yang akan dilakukan Lea jika mengetahui kalau bayinya tidak bisa diselamatkan, mengingat dia sangat senang ketika mengetahui dirinya hamil.
"Kita bicara diluar. Aku tidak ingin Azalea mendengar pembicaraan tentang wanita itu sedikitpun."
Dane mengangguk.
"Aku akan kembali, sayang." Kukecup keningnya lembut dan berjalan keluar kamarnya di rumah sakit dengan Dane disampingku.
"Jangan khawatir, Jullian. Lea tipe wanita yang kuat. Dia pasti bisa melaluinya." Ujar Dane sambil memegang pundakku.
"Entahlah, Dane. Dia sangat senang dengan bayi ini. Apa yang akan kukatakan jika dia tahu kalau aku lebih memilih menyelamatkan dirinya dibandingkan bayi kami?" Kuusap wajahku, frustrasi.
Ya. Ketika Lea tiba di rumah sakit, keadaan Lea tidak bisa dibilang lumayan. Dia tersedak kemudian mengeluarkan banyak darah baik dari mulutnya, tidak hanya sekali tapi hampir empat kali. Belum lagi ditambah ketika bagian bawah perutnya juga ikut mengeluarkan darah.
Aku beruntung dokter Chen masih bertugas di rumah sakit dan tidak perlu waktu lama untuk menangani Lea hingga kemudian dia menyatakan kalau aku harus memilih satu diantara dua pilihan. Jika aku memilih bayi kami, maka bayi kami akan masuk ke ruang inkubator mengingat usia kandungan Lea masih tujuh bulan. Belum lagi bayi kami nanti akan menjadi bayi yang paling lemah dan bisa saja akan meninggal sewaktu- waktu. Sementara untuk Lea, dia hanya memprediksi kalau Lea hanya akan mengalami tidur panjang kurang lebih empat atau seminggu dan akan bangun jika otaknya sudah bisa merespon kembali. Jadi sudah jelaslah pilihan apa yang akan ku pilih.
"Jadi apa yang diinginkan wanita itu?" Tanyaku setelah kami telah berada di koridor tidak jauh dari ruangan Lea.
"Dia ingin bertemu."
"Apa dia ingin cepat mati?" Aku sudah ingin membunuhnya ketika dia tanpa ragu mendorong tubuh Lea dari tangga atas dan keinginan itu semakin bertambah besar.
"Dia mengatakan pada pers kalau dia tidak sengaja menyentuh Lea karena waktu itu dia tersandung heels-nya sendiri."
Aku terdiam. Memicingkan mataku agar bisa mencerna ini semua.
"Kalau begitu aku akan membuatnya jatuh menggunakan heels kesayangannya itu." Aku mengatakan itu dengan nada tajam juga dingin. Aku sudah jauh- jauh hari memperingatkannya dan dia memilih untuk melakukan hal yang bertentangan dengan itu.
Dia salah memilih.
Dane tahu apa yang akan kulakukan dengan itu. Itulah sebabnya dia memilih untuk tetap diam. Dane tahu berapa banyak aset yang sudah kukeluarkan untuk Carol secara diam- diam dan itu adalah dengan semua sponsor, Production House. Jika dia ingin bermain- main denganku maka, tidak ada cara lain selain menerima undangannya. Sangat disayangkan, mengingat dia jauh sudah lebih baik daripada dulu.
Aku tidak ingin memikirkan tentang Carol lagi dan memutuskan untuk mengubah topik.
"Dan bagaimana dengan informasi yang kuminta darimu?"
"Lea adalah anak kandung Oliver tapi tidak dijelaskan disini apakah Oliver menikah dengan Rose yang adalah nama ibu kandung Lea." Jelas Dane padaku. "Dan oh, apa kau tahu kalau Lea meminjam uang dari bank sebesar 300 juta dollar?"
"Apa?"
"Jadi kau tidak tahu ya. Tidak ada informasi apapun tentang untuk apa dia menggunakan uang sebanyak itu."
"Mungkinkah untuk perawatan Rose?" Tanyaku menerka.
"Melihat rumah sakit yang dipilihnya, kurasa perawatannya tidak mencapai sebanyak itu."
Aku tahu apa yang dipikirkan oleh Dane. Aku pun baru tahu mengenai hal itu. Sepertinya masih banyak hal yang tidak kuketahui tentang Lea.
"Oh dan satu lagi, aku dengar dia pernah dirawat di rumah sakit tapi kemudian keluar ketika seseorang menjemputnya."
"Siapa yang..." belum sempat aku menyelesaikan ucapanku ketika mataku tidak sengaja menangkap sosok yang kukenal. masih dengan pakaian rumah sakit berlari dan masuk ke dalam lift.
Kedua mataku membelalak melihat dia yang berlari menekan tombol lift hingga terbuka ketika melihat tatapannya yang sarat penuh amarah sekaligus juga kosong. Sebelah tangannya menyentuh bagian tempat operasinya berada yang sekarang berwarna merah darah, merembes ke baju rumah sakitnya sementara tangan satunya memegang sesuatu yang kuyakini adalah ponselnya dan sengaja kuletakkan disamping mejanya dalam keadaan menyala.
"Lea... sudah... sadar?" Kudengar Dane berguman dibelakangku. Sudah jelas dia melihat apa yang baru saja kulihat dan tercengang.
***

Nggak kebayang sakitnya Lea
ReplyDelete