BTY - DELAPAN BELAS



Anna tidak pernah merasa segugup sekaligus sesenang ini. Dia merasa sempurna dan juga malu- malu berada dalam pelukan pria telanjang disampingnya.
Sambil menggigit bibir bawahnya kuat- kuat, Anna menggerakkan sebelah tangannya sepelan mungkin agar tidak membangunkan Jerry yang sedang tertidur dan mendongak ketika kembali melihat wajah Jerry yang tampan.
"Aku pasti sudah gila." Gumamnya sambil mendesah panjang. "Tapi aku menyukainya."
"Aku juga menyukainya." Balas Jerry dan membuka kedua matanya, membuat Anna terperanggah. "Hai, sayang." Pria itu mengecup bibir Anna lembut dan sengaja berlama- lama disana.
"Kau sudah bangun?" Pertanyaan tolol. Tambah Anna dalam hatinya, membuatnya meringgis. "Aku harus pergi." Katanya sembari menghentakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan baru menyadari kalau dia juga tidak mengenakan pakaian apapun didalamnya.
Anna ingin menarik selimut agar kembali menutupi tubuhnya tapi jika ia melakukannya, maka tubuh Jerry juga akan terekspos sama seperti dirinya dan hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi jika tubuh mereka berdua telanjang.
Sambil mendesah kuat- kuat, Anna mencoba tidak memperdulikan tubuhnya dan beranjak dari tempat tidur ketika berbalik dan menyadari Jerry sedang bersandar dengan santainya dengan sebelah tangan di telinganya.
"Aku selalu menyukai tubuhmu yang telanjang di depanku." Komentarnya yang membuat Anna harus menahan napasnya beserta darah yang mulai menjalar ke pipinya. Malu, sudah pasti.
"Aku senang kau menyukainya." Anna membalas berusaha tampil biasa- biasa saja padahal dalam hatinya ingin kembali ke tempat tidur dan mungkin sedikit bisa... Anna menggeleng sekuat tenaga. Sebenarnya ada apa denganku? Ada hal lain yang harus kulakukan selain bergelung dalam selimut dengan dirinya.
"Aku tidak masalah jika kau ingin kembali kesini." Untuk satu hal yang Anna tidak bisa mengerti. Jerry, entah bagaimana bisa tahu apa yang dipikirkannya. Jerry menyunggingkan senyum menggodanya yang bahkan penyihir pun bisa berubah haluan. "Kurasa kita bisa melakukan kembali apa yang beberapa jam yang lalu sudah kita lakukan."
Anna yakin pipinya sekarang sudah berubah menjadi udang rebus.
Sesaat Anna berdehem, mencoba tidak membayangkan kegiatan yang dimaksud Jerry barusan.
"Tawaran yang menarik tapi aku harus bekerja hari ini." Katanya.
Anna berbalik, mencari benda miliknya. Entah bagaimana barang- barangnya seperti berpencar ke seluruh penjuru ruangan. Tidak menyadari perubahan di wajah Jerry sedetik yang lalu.
"Kau tidak perlu bekerja."
Anna kembali membalikkan tubuhnya. Jerry tidak lagi bersandar dengan sebelah tangannya melainkan duduk, masih dengan selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya.
Sejenak dia mengangkat kedua alisnya dan berkata. "Ya. Aku harus."
Sejenak Jerry menghela napasnya, ikut menyentakkan selimutnya dan mau tidak mau Anna harus menelan ludah ketika tubuh Jerry terekspos seluruhnya. Dalam hati Anna bersyukur setidaknya dia sudah mengenakan pakaiannya, meskipun masih terlihat sedikit berantakan. Paling tidak mereka berdua tidak telanjang. Anna menyakinkan dirinya sendiri.
"Menyukai apa yang kau lihat?" Seringai Jerry seakan menyentak tubuh Anna dan baru menyadari kalau sejak tadi dia memperhatikan tubuh pria itu.
"Kau memamerkannya di depanku dan aku tentunya tidak ingin menyia- nyiakannya." Balas Anna tidak mau kalah.
Dalam hati, Jerry tersenyum. Wanita yang berdiri didepannya ini memang sejak dulu selalu bisa mendapatkan jawaban atas segala yang dikatakannya. Hal itu membuatnya menyakini satu hal bahwa meskipun wanita itu tidak mengingat masa lalunya tapi sikap dan pembawaannya masih sama, walaupun ada saat dimana Jerry seakan bisa melihat kaca yang sebentar lagi akan pecah dan dia tahu apa penyebabnya.
"Senang rasanya kau menikmatinya." Jerry melihat kedua pipi Anna memerah dan dia semakin menyukai hal itu.
"Kenakan celanamu dulu, Jerry."
"Untuk apa? Toh nanti akan kubuka lagi."
Anna memutar kedua matanya, membuat Jerry harus menahan tawanya. Meskipun Anna terlihat biasa- biasa saja tapi dia bisa melihat kalau wanita itu gugup.
"Aku harus pergi bekerja."
Seketika Jerry mengernyit. Jerry tidak ingin melihat wanita itu bekerja. Anna tidak pernah melakukan pekerjaan seperti yang dilakukannya sekarang. Wanita itu dulunya selalu tampil cantik dan memukau di setiap kesempatan, sangat berbeda dengan sekarang meskipun Anna masih tetap cantik tapi Jerry tidak ingin wanitanya melakukan pekerjaan berat itu lagi.
"Hei," Jerry tidak tahu kapan Anna melangkah kearahnya. Tahu- tahu wanita itu sudah berada didepannya dan melingkarkan kedua tangannya di sekeliling leher Jerry sementara wajahnya menengadah menatap Jerry. "Aku tidak bisa langsung memutuskan kehidupanku yang sekarang begitu saja meskipun aku tahu sudah ada dirimu didekatku."
"Aku tidak suka dengan kalimat yang kau katakan." Ucap Jerry jujur, menaruh kedua tangannya di belakang punggung Anna. "Kurasa hal itu masih bisa dibicarakan."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Jerr."
"Aku tidak akan mendebatnya."
Anna tersenyum. "Tentu saja kita tidak akan berdebat. Begitu pula kau." Jerry tahu kalau Anna sama sekali tidak setuju dengan apa yang barusan dikatakannya. Biar bagaimanapun wanita itu terlalu menggebu- gebu dan juga panas disaat yang bersamaan. Jerry sudah membuktikannya. "Well, ini aneh."
"Aneh?" Jerry mengerutkan keningnya. "Apanya yang aneh?"
Wanita itu membalas dengan tawanya. "Tentu saja ini aneh, Jerr. Apa kau tidak sadar? Posisi kita saat ini."
Jerry sekilas menunduk, mungkin jika dilihat oleh mata ketiga. Posisi mereka berdua memang aneh. Anna sudah mengenakan pakaiannya meskipun rambutnya masih terlihat berantakan sementara dirinya tidak mengenakan apapun. Ikut tertawa dan tidak lama kemudian membawa bibirnya ke bibir Anna dan menciumnya disana.
Anna mengerang lembut dan itu membuat Jerry semakin memperdalam ciumannya.  Anna terengah- engah sementara matanya masih melihat Jerry yang berada diatasnya.
"Jerry, aku..."
"Aku bisa melakukannya dengan cepat." Lalu Jerry kembali melumat bibir merah muda itu. Memuaskan keinginan mereka berdua.
.
.
Masih ada satu masalah yang harus Anna bereskan dan itu menyangkut dengan sikap Patricia akhir- akhir ini.
Beberapa hari ini Patricia bersikap sangat menyulitkan, sesuatu yang bahkan Anna sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Betrice tentu saja tidak menyadarinya tapi Anna tahu kalau semenjak hari itu, Patricia mulai berubah. Patricia tidak lagi ingin mendengarnya dan cenderung membangkang.
Seperti hari ini. Patricia sudah pergi ke sekolahnya bahkan sebelum Anna membuka matanya dan Anna sangat peduli dengan apa yang terjadi dengan adik satu- satunya itu.
Apa sesuatu terjadi di sekolahnya?
Anna tidak ingin memikirkan penindasan yang biasa diterima pada anak- anak seusia Patricia. Seingatnya dulu Patricia pernah mengalami hal itu dan dia sudah cukup berat melihat keadaan Patricia ketika itu terjadi. Jika hal itu terjadi lagi, bukan tidak mungkin jika Patricia memilih untuk menyembunyikan hal itu lagi dan lebih memilih memendamnya.
Kedua kaki Anna menyelusuri sisi jalan yang akan membawanya ke sekolah Patricia. Biar bagaimanapun hari sudah menjelang waktu makan siang dan Anna berniat membawa gadis itu ke McDonald untuk makan siang.
Membayangkan akan menghabiskan sisa waktu dan makan siang dengan adiknya saja sudah membuat hati Anna melonjak penuh kegirangan. Betrice pasti akan sangat marah jika mereka berdua lebih memilih makanan cepat saji dibandingkan makanan bergizi lainnya. Tanpa sadar Anna tersenyum sendiri memikirkan hal itu.
Dan saat itulah langkahnya juga ikut berhenti seiring ia yang melihat sekumpulan remaja yang berdiri di sisi jalan- masing- masing memegang sebatang rokok di tangannya dan salah satunya adalah Patricia.
Seperti sebuah film yang diputar, Patricia sepertinya menyadari kehadiran Anna dan berpaling ketika matanya langsung bersirobok dengan kedua mata kakaknya dan terdiam.
"Siapa dia, P?"
Selama sesaat Patricia tidak menjawab dan hanya menatap Anna lalu kembali memalingkan wajahnya. "Bukan siapa- siapa."
Anna begitu marah hingga tanpa sadar ia berlari kearah Patricia dan meraih sebelah tangan gadis itu, menyeretnya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan?" Patricia menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman Anna.
"Inikah yang kau lakukan selama ini?!" Hardik Anna benar- benar kesal. "Sebenarnya apa yang kau pikirkan?"
"Bukan urusanmu."
"Oh begitukah?" Anna terlalu kesal hingga tidak ingin peduli dimana mereka sekarang. "Kenapa kau tidak sekolah?"
"Kubilang itu bukan urusanmu." Patricia mulai terlihat semakin kesal. "Tidak akan pernah menjadi urusanmu."
"Ini akan menjadi urusanku selama aku yang membiayai sekolahmu."
"Kalau begitu aku tidak mau sekolah lagi."
Sekuat tenaga Anna mengatup rahangnya mendengar kalimat Patricia padanya. "Kita pulang." Sekali lagi Anna meraih tangan Patricia ketika Patricia kembali menyentaknya.
"Kenapa kau tidak kembali saja ke pacarmu itu?!"
"Pacar? Apa yang kau bicarakan?"
Patricia mengeluarkan tawa sinis. "Jangan kira aku tidak tahu kalau kau sering bertemu dengannya. Kau juga pasti sudah tidur dengannya. Pastikan dia memberimu banyak uang untuk membayar utang- utangmu."
"Patricia!" Anna meninggikan suaranya saking emosinya. "Kita pulang. Sekarang!"
"Aku tidak-"
"Cassandra?"
Baik Patricia dan Anna sama- sama berbalik kearah suara yang memanggil ketika dilihatnya seorang pria dan wanita paruh baya justru memberi Anna tatapan terkejut tak percaya.
"Ya Tuhan. Itu dia memang dia." Seru si wanita.
"Oh bagus! Apa lagi sekarang?" Anna mendengar Patricia mengguman jengkel.
"Ya Tuhan. Ya Tuhan." Si wanita berjalan kearah Anna dan serta merta memeluk tubuhnya dan Anna sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. "Ya Tuhan. Kau- kau masih-"
"Cukup!" Tanpa diduga Patricia menarik tubuh Anna agar menjauh dari jangkauan si wanita baru. "Nyonya. Anda salah orang. Dia kakakku."
Si wanita baru itu mengerjap, seakan baru saja melihat Patricia dan hal itu semakin membuat Patrcia marah.
"Tapi dia-"
"Tessa," si pria paruh baya itu memegang pundak si wanita untuk menghentikannya tapi kedua matanya tidak luput memperhatikan Anna dan Patricia secara bergantian lalu kembali melihat si wanita itu. "Mungkin akan lebih baik jika kita mencari tempat untuk berbicara dengan kedua wanita muda ini. Halo, namaku Howard dan ini," dia memegang sebelah tangan si wanita. "Tessa, istriku. Kami sedang berjalan- jalan disekitar sini dan berharap akan bertemu dengan anak kami ketika istriku melihatmu." Dia mengarahkan pandangannya kearah Anna. "Kau terlihat sangat mirip dengannya."
"Aku-"
"Hal itu sudah biasa." Sergah Patricia meraih tangan Anna dan Anna kebingungan karenanya. "Kami akan pergi."
"Tunggu sebentar." Tahan Howard sebelum Anna dan Patricia berbalik. "Kami tidak tahu berada di daerah mana. Apa kalian bisa memberitahu kami dimana kami saat ini? Agar anak kami bisa menemukan kami."
Anna baru akan menjawab ketika Patricia kembali memotong ucapannya. "Disudut jalan sana ada pos polisi. Kalian bisa bertanya disana."
"Patricia!" Hardik Anna karena ketidaksopanan Patricia barusan, dan meringgis ketika Howard justru memberinya senyuman seakan memaklumi.
Patricia mendengus.
"Maafkan sikap kami, Howard, Tessa tapi adikku benar, kami harus pergi."
Anna sangat yakin Tessa ingin mengucapkan sesuatu ketika tangan suaminya menahannya.
"Baiklah kalau begitu." Ujar Howard tersenyum. "Tapi apa kau keberatan memberitahukan namamu?"
"Anna, ayo pergi." Patricia mulai menarik tangan Anna tidak sabar.
"Senang bertemu denganmu, Howard. Tessa." Anna menyunggingkan senyumnya dengan terpaksa ketika ia merasakan sesuatu yang menariknya dan kembali memalingkan wajahnya ketika melihatnya.
"Sialan! Aku benci ini." Patricia menyentakkan tangannya dengan marah.
"Sayang?" Jerry tampak sangat terkejut melihat Anna yang berada di tempat yang sama dengannya. "Apa yang-?"
"Jerry? Kau sudah bertemu dengan Cassandra?" Tessa memotong ucapan putranya. Patricia semakin mengeluarkan berbagai macam sumpah serapah yang hanya bisa didengar oleh telinga Anna.
Jerry memalingkan wajahnya dan seperti juga Anna. Dia juga terlihat bingung tapi kebingungan itu masih bisa dikendalikannya.
"Anna! Ayo pergi!" Patricia membentak Anna tidak tahan dan mau tidak mau membuat semuanya terlonjak kaget terutama Anna yang dirinya dibentak. "Oh sialan! Terserahlah!"
Anna tidak tahu harus bersikap bagaimana. Semua ini masih sangat membingungkan baginya dan Patricia yang mendadak bersuara sangat keras padanya padahal Patricia tidak pernah melakukan itu sebelumnya semakin membuat Anna kebingungan sekaligus kaget.
Dan saat itulah, entah bagaimana kedua mata Anna tertuju pada sebuah mobil yang melaju kencang dan Patricia terlalu kesal hingga tidak menyadari datangnya mobil itu.
Tanpa memperdulikan hal lainnya selain keselamatan adiknya, Anna berlari dan melompat sebelum mobil itu menggilas tubuh kecil adiknya dan brukkk... Cyitttt...
"Cassandra!"
***

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS